cerita saya

Cihuy Saya Dapat Penghargaan

Sekitar bulan Oktober tahun 2014, kantor cabang tempat saya bekerja menyelenggarakan acara. Disitu saya ketemu rekan kerja dari cabang lain. Ngobrol punya ngobrol dia celetuk ‘Eh, kamu ada di daftar 3 besar loh’. Saya dengarnya bingung. ‘Tiga besar apa gitu?’. Tapi saya tidak sempat bertanya lebih lanjut ke si rekan karena kita larut dalam acara saat itu.

Beberapa hari setelah acara lewat, saat saya baru datang ke tempat kerja, atasan saya memanggil saya dengan wajah serius. Dia bilang ‘S, kamu ada masalah’, waduh langsung ketar ketir saya dengarnya, eh tahu-tahu muka si atasan berubah berseri-seri, dia bilang ‘S, kamu di rangking 3 besar di penilaian kinerja tahunan!!’

Saat itu saya cengengesan saja, karena kurang mengerti tentang penilaian kinerja ini. Setelah saya baca, baru saya tahu apa yang atasan saya bicarakan. Intinya setiap tahun perusahaan menilai kerja pegawainya : berdasarkan jumlah penjualan dan penilaian pelanggan. Nah di wilayah tempat saya bekerja (ada 13 kantor cabang), ternyata saya ‘lolos’ babak penyisihan. Karena ini baru bulan Oktober, rangking saya bisa berubah di akhir tahun, bisa-bisa saya malah tidak masuk daftar 3 besar lagi.

Meskipun saya senang juga, tapi saya ogah ke-ge-eran. Saya pikir ‘halah, belum tentu juga. Wis lah, santai saja’. Yang ada saya menolak kalau ada rekan membicarakan daftar ini. Akhir tahun masih jauh, many things could happen.

Masuk tahun 2015, tidak ada kabar berita tentang penghargaan ini. Ya sudah saya diam saja, saya asumsikan saya tidak lagi masuk daftar teratas.

Maret 2015, awal bulan kita kumpul untuk ikutan rapat dengan pimpinan wilayah. Di situ saya dengar pengumuman resmi kalau saya adalah pemenang penghargaan MARKET ALL STARS 2014 dalam kategori ‘Teller’.  Wah senang sekali, karena waktu awal saya bekerja di bank 2012, saya benar-benar bloon dan tidak punya pengalaman di perbankan sebelumnya. Sukurlah saya mampu berprestasi dalam jangka waktu tidak terlalu lama.

Untuk penghargaan ini saya di undang ke makan malam bersama pemenang lainnya di bulan Mei 2015.

Setelah pengumuman itu, atasan saya sekilas bilang ‘Kamu bisa dapat Circle of Excellence’ – haduh apa lagi gitu? saya kurang mengerti. Setahu saya CofE itu ibaratnya dari sekian banyak pemenang MARKET ALL STARS, perusahaan akan pilih satu dari masing-masing wilayah. Saya pikir ‘Yah tidak mungkin lah..mimpi kali…’ . Dapat penghargaan MARKET ALL STARS saja saya sudah senang koq.

Eh……bulan April 2015, pimpinan wilayah datang ke kantor cabang saya dan beliau mengumumkan kalau saya adalah peraih penghargaan Circle of Excellence 2015!!! Percaya tidak percaya rasanya!

Hari ini saya mendapat email resmi tentang perjalanan yang akan saya lakoni sebagai pemenang Circle of Excellence! Saya diundang ke Tampa Florida selama 3 hari!!

Banjir!

Seperti halnya kota-kota di penjuru dunia, kota-kota di Amrik tidak luput dari kebanjiran. Sampah yang dibuang sembarangan, pengaliran air yang tidak tertata baik, volume air hujan yang melebihi rata-rata, lokasi kota bersebelahan dengan sungai besar menjadi faktor penyebab banjir.

Ini foto di taman di tengah kota Louisville. Diambil hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015.Selain tengah kota, dibeberapa tempat lainnya banyak jalan-jalan di tutup karena kebanjiran.

Ternyata banjir bukan cuma milik negara berkembang ya.

0314151919

Main Lego Sepuasnya Di Lego Kids Festival, Indianapolis, Indiana

Lego Kids Festival itu acara tahunan yang digelar oleh LEGO untuk anak-anak penggemar LEGO. Saya sendiri baru ‘tahu’ tentang acara ini sejak pindah ke Louisville. Karena dua hal : pertama karena punya anak maniak LEGO dan sudah agak besar untuk bisa diajak ke acara seperti ini, kedua karena akhirnya tinggal di kota yang termasuk di daftar kota-kota LEGO Kids Festival.

LEGO Kids Festival kali ini adalah, LEGO Kids Festival kedua yang kita datangi. Tahun lalu, diselenggarakan di kota Louisville, di Kentucky Exposition Center. Tahun 2014 ini, kami harus ke luar kota sedikit, ke Indianapolis untuk menghadiri acara ini.

LEGO Kids Fest selalu diadakan di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Untuk acara hari Jumat, cuma ada satu sesi yaitu 4 pm-8:30pm, sementara hari Sabtu dan Minggu, selalu ada 2 sesi yaitu sesi pagi dari jam 9 hingga jam 1:30 siang dan sesi sore dari jam 3 hingga jam 7 malam.

Harga tiket itu lumayan tidak murah, $22 untuk orang dewasa dan $20 untuk anak-anak usia 3-17 tahun. Untunglah cuma setahun sekali!

Berhubung kami bukan tipe suka bangun pagi, dan kerja di hari Jumat,  kami selalu pilih sesi kedua di hari Sabtu.

Jadilah kami berangkat hari Sabtu sekitar jam 10 pagi dari Louisville, di perjalanan tidak secepat yang kami harapkan karena banyak konstruksi di jalan Interstate 65 yang kami lewati.

Sesampai di hotel, itu sekitar jam 1:30 siang, setelah pikir ini itu, kami putuskan untuk langsung ke lokasi LEGO Fest, karena pertimbangan lalu lintas dan cari parkir di lokasi.

Benar saja, karena lokasi LEGO Fest kali ini di pusat kota Indianapolis (di Indiana Convention Center) , stadium yang berlokasi dalam kompleks yang sama juga ada acara cukup besar.  Antrian mobil mencari tempat parkir sudah panjang. Kami ambil jalan 2 blok dari lokasi, di jalan McCarty , ada tempat parkiran $5 yang masih kosong. Aha! tanpa pikir panjang lagi kami ambil parkiran ini, lah, parkiran lain yang sedikit lebih dekat ke lokasi itu dipingit $10 euy!

Masalah parkir di Amerika saat ada acara-acara besar seperti ini memang lumayan nyebelin. ‘Preman’ parkir rata-rata mematok harga minimal $10, terutama yang lokasinya dekat. Saran kami, parkir agak sedikit jauh dari lokasi acara, biasanya akan ketemu tempat parkir yang lebih murah, meskipun akan jalan sedikit lebih jauh.

Jalan 2 blok, sampailah kami di lokasi. Masih pagi, jam 2:15 pm. Tapi kami sudah boleh masuk ke dalam gedung dan lumayan antrian tidak panjang! Panitian menyediakan 8 jalur tunggu, kami pengunjung pertama di jalur ke tiga. Jadi kami bisa melihat langsung arena LEGO Fest sambil menunggu.

Di hadapan kami itu arena LEGO museum, dimana patung-patung LEGO raksasa dipajang. Ada Emmet, Wild Style, Lightning McQueen, Batman, harimau, zebra dan banyak lagi.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy

Sambil menunggu, kami mempelajari peta. Belajar dari tahun lalu, antrean untuk masuk ke salah satu arena itu bisa lumayan lama. Jadi sekarang kami coba lebih terencana.

Yang baru di LEGO Fest kali ini : arena LEGO Movie, Mixels, LEGO Fusion.

Yang tetap : LEGO Challenge, Creation Nation, LEGO Friends, Lego Chima, Lego Ninjago, Lego Race Ramps, Lego Wall, LEGO Duplo. 

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy13

Beberapa Zona Bermain Anak-Anak di LEGO Festival Indianapolis 2014

Collages25

Setelah bolak balik melirik jam, akhirnya jam 3:00 pm datang juga! LEGO Master Builder, Dan, datang menyambut pengunjung yang sudah tidak sabar untuk masuk ke arena. Setelah bermain bola LEGO beberapa menit, LEGO Kids festival resmi dibuka!!! Suara pengunjung (termasuk anak saya) hiruk pikuk hebbbbbbbbohnya minta ampun!!!

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy2

Pembukaan Festival Oleh Master Builder

Nah, sekarang kami sudah resmi masuk di festival.

Sekarang, yuk, mari saya ceritakan tentang kegiatan yang kami lakukan di berbagai zona di LEGO Festival ini :

Secara umum, setiap zona ada keunikan masing-masing dan beberapa ada yang bertema sesuai dengan produk LEGO di pasaran.

Misalnya :

Di Zona Brick Battle, anak-anak ditantang untuk membuat gedung setinggi dan sekuat mungkin dalam waktu 5 menit! Setelah berhasil di bangun, kekuatan gedung harus dicoba, dimana anak-anak harus memindahkan gedung dari lantai ke meja juri. Lalu Juri akan mengukur tinggi gedung masing-masing. Senangnya lagi semua anak-anak, di beri hadiah!!  Hadiah yang didapat di zona ini adalah LEGO City  Mini Set Seaplane 30225.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy5

Sibuk Membangun Gedung

Sementara di zona Building Challenge, pengunjung diberi tantangan yang berbeda-beda, tergantung kemauan si Lego Personel. Waktu kami masuk, tantangannya adalah membuat mahkota, sementara grup sebelumnya diminta untuk membuat Dino. Waduh, terus terang saya kelabakan, tapi anak saya mah tenang-tenang saja. Dalam waktu yang ditentukan, voila! Si kecil sudah jadi membuat mahkota. Setelah selesai bermain, lagi-lagi, pengunjung dibolehkan mengambil hadiah gratis. Kali ini hadiahnya dari seri Chima.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy6

Si Kecil dan Mahkota LEGO buatannya

Di zona Creation Nation, pengunjung diperbolehkan membangun apa saja tanpa ada persyaratan tertentu dan tanpa dibatasi waktu. Setelah selesai membangun, hasil kreasi kita akan di letakkan di ‘peta’ Amerika Serikat’ terbuat dari LEGO dan diberi hadiah!! Berhubung saya ikutan membangun -kreasi saya itu : New-Age Temple – saya juga boleh ambil hadiah. He…he…he… Hadiah disini masih dari seri Chima.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy7

Sementara di zona Chima, Ninjago, Mixels, Friends, pengunjung membangun LEGO dengan menggunakan satuan-satuan LEGO dari produk tersebut. Di LEGO Friends contohnya, satuan-satuan LEGO yang digunakan ya berwarna ungu, merah jambu, sesuai dengan seri Friends.

O iya, di zona LEGO Friends ini, pengunjung juga di beri hadiah meskipun kita hanya membangun bebas tanpa dibatasi waktu ataupun jenis bangunan. Hadiah kali ini LEGO City Mini Set Small Police Helicopter 30222 dan LEGO Disney Princess Rapunzel’s Market Visit (untuk saya!!)

Selama 4 jam lebih kami wara wiri ke sana ke mari membangun Lego ini itu. Percaya atau tidak, kami tidak sempat mendatangi semua zona!!  Untung juga waktu bermain dibatasi, kalau tidak bisa-bisa kami menginap di festival dan tidak pulang-pulang!

Di akhir kunjungan, kami lihat satu persatu hadiah-hadiah gratis yang kami dapat dari Lego Festival.

Asli banyak! Tidak bohong kalau saya senang lihat hadiah-hadiah ini, karena selain membuat anak senang, juga membuat harga tiket yang dibeli menjadi ‘worth’ it. Dibanding tahun lalu, saya agak-agak ‘gelo’ karena merasa harga tiket yang tidak murah, dan saya merasa si anak semata-mata hanya main-main tho’.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy12

Kesimpulannya : Lego Festival kali ini lebih seru dan berkesan dibanding tahun lalu. Karena ada beberapa hal yang berbeda di festival tahun ini :.

Pertama : adanya pemberian hadiah gratis untuk anak-anak di beberapa zona tertentu.  Di Zona Brick Battle, Building Challenge, Creation, Nation, LEGO Friends, LEGO Magazine, anak-anak mendapat hadiah kantong LEGO gratis yang harga retailnya itu sekitar $4.

Kedua : ada undian untuk memenangkan LEGO Master Builder Set

Ketiga : sesi foto gratis dengan latar belakang LEGO Spiderman.signedpic

Untung juga saya putuskan untuk tetap datang ke festival tahun ini.  Sampai jumpa lagi LEGO Festival!

Ketemu Teman-Teman Baru Lewat Blog

Bertemu teman baru pasti senanglah. Ketemu orang Indonesia yang kebetulan baca blog Saya lalu jadi beneran ketemu muka, jalan-jalan bareng, lebih senang lagi!

Bulan Agustus 2014 lalu, ada komentar pembaca masuk di halaman. Dia bilang kalau dia baru datang di kota tempat saya tinggal. Dari komentar di blog, kita kontak-kontakan di email. Dari email, kita bertemanan di Facebook.  Namanya Mbak Indri. Dia cerita kalau dia lagi ikut suami yang lagi pelatihan di sini dan barengan dengan satu ibu Indonesia lainnya

Berhubung saya kerja, dan teman baru ini sibuk eksplorasi negara Amerika di akhir pekan, kita baru akhirnya kopi darat di mall Oxmoor bulan September 2014. Dari ketemuan pertama itu, saya bukan kenalan cuma dengan si Mbak Indri, tapi juga kenalan dengan mbak Ratna.

Terus ketemuan lagi di bulan Oktober, sekalian ketemu sama beberapa teman-teman Indonesia lainnya disini dan sekalian bantuin teman yang lagi butuh penonton untuk kuliah bicara di umumnya.

Lha..tahu-tahu saya baru nyadar kalau Mbak Ratna sudah akan balik di akhir minggu pertama bulan November! Jadilah saya sempatin ajak mbak-mbak ini jalan-jalan ke Outlet di Simpsonville. Untung juga saya ada hari libur di tengah minggu dan ibu-ibu ini bebas.

Jadilah hari ini, kita bertiga jalan-jalan di mall, ditambah juga ketemu satu teman Indonesia lainnya.

Sedih, karena cepat sekali waktu berjalan dan merasa belum sempat ajak mbak Indri dan mbak Ratna ‘berhura-hura’ lebih sering.

Selamat mudik ke Indonesia ya Mbak Ratna! senang sudah bisa ketemuan walau cuma sebentar!

Terima kasih banget oleh-olehnya!

Insha ALLAH kalau ada rejeki dan kesempatan kita bisa ketemuan lagi yaaaaaaaaaaaaa……….

blog6

Sebentar tapi tidak terlupakan!

Adaptasi Setelah Tinggal di Amrik

Adaptasi setelah tinggal di Amrik? wuiiih tak terhitung…ha…ha..ha..sampai sekarangpun – hampir sepuluh tahun – masih banyak hal-hal yang Saya ‘bandel’ ogah beradaptasi atau kurang bisa beradaptasi.

Contohnya :

Masalah kamar mandi, bilas berbilas. Tetap cenderung ke cara Indonesia, yaitu memakai air, dibanding memakai tisu. Tapi mau gimana lagi, disini ya tidak ada air lah.

Saking geregetan harus bilasan dengan air, sampai-sampai minta dikirimin gayung dari tanah air.

Jadilah Saya di tahun pertama kemana-mana bawa botol air kosong ; sampai sekarang masih sering dilakukan terutama kalau pergi piknik atau kemping di hutan.

Atau masalah makan nasi memakai garpu. Duh. Gak lah, tetap makan pakai sendok, meskipun ini sendok buat sup, pura-pura bego saja, yang penting sendok. Mau diketawain terserah, yang penting hati puas makan nasi pakai sendok.

Hal-hal lainnya yang Saya cukup berhasil (dan masih terus) beradaptasi adalah :

1. Nonton TV tanpa ada terjemahan bahasa Inggris.

Maklum kan di Indonesia, semua film-film berbahasa Inggris yang kita tonton selalu ada terjemahan bahasa Indonesia kan? Bulan-bulan pertama nonton film, agak-agak panik…Eng…terjemahannya mana ya? – Oh iya..ini kan di Amrik ya..bukan di Jakarta.

Jadilah konsentrasi penuh dengarin percakapan si bule. Sekarang ini, kalau ada pilihan ‘subtitle‘ di dvd, Saya selalu pasang. Maklum, antara mengerti lewat pendengaran dan mengerti lewat bacaan, Saya lebih cepat mengerti lewat bacaan.

2. Mengetahui lokasi dengan menggunakan arah kompas : Utara, Selatan, Timur dan Barat.

Hadweeeh…..secara Saya itu terbelakang kalau masalah 3 dimensi dan kebiasaan di Jakarta, cukup bilang ‘arah blok M’, arah kota, belok kiri, belok kanan, disini orang-orang bilang ‘dari arah utara, selatan dari kota X dsb. Terpaksalah Saya memaksakan diri untuk mengerti dimana SEBUT. Kalau boleh memilih sih, tetap pakai belok kiri, belok kanan dll…hi..hi..hi..

3. Menyetir di sebelah kanan dan mengerti penamaan jalan di Amrik.

Kalau di Indonesia, jalan-jalan tol itu dinamakan sesuai dengan nama wilayah ; Jalan tol Cawang-Tg. Priok, Jalan tol lingkar luar Kebon Jeruk dsb, disini jalan-jalan semua ditandai dengan nomor.
I-90, I265, US40, SR65 dsb.

Dimana I artinya Interstate, jalan yang menghubungkan negara bagian yang satu dengan negara bagian yang lain.

Kalau ada 2 digit nomor setelah huruf I, itu biasanya jalan bebas hambatan (freeway)antar negara bagian.

Semua negara bagian di Amerika boleh dibilang ‘disambung’ dengan jalan interstate ini,dari barat ke timur dan dari selatan ke utara.

Nah, kalau jalanannya bernomor 3 digit, itu biasanya jalan lingkar luar kota atau jalan cabang dari jalan utama yang 2 digit. Contoh di Kentucky, salah satu jalan interstate utama di sini itu I64, di I-64, jalanan bercabang menjadi I264. Gampangnya, kalau bingung kita ada dimana, lihat 2 nomor terakhir, jadi kita tahu kalau kita di jalan cabang dari I64.

Terus terang Saya masih keder menyetir di tengah kota. Maklum, pertama kali tinggal di Amrik itu di kota cilik, yang jalannya hanya liner dan 1 grid blok.

Waktu pindah ke Cleveland Ohio, asli bingung; tinggal di Louisville, Kentucky entah kenapa lebih bingung lagi….ha….ha…ha..parah!

Masalah jalan-jalan di Amrik ini nanti Insha ALLAH Saya bahas lebih heboh lagi yak.karena beda-beda di tiap kota.

4. Makanan

Tetap nasih favorit sepanjang masa. Bisa sih makan cereal buat sarapan, tapi yang ada satu jam kemudian peruk keroncongan, karena sudah lapar lagi!

Hore! Upahku naik!

Tahun 2014, kalau tidak salah baca, Pemerintah Amerika menyetujui kenaikan upah minimum dari $7.25 per jam menjadi $10 per jam. Upah minimum baru ini efektif diberlakukan di tahun 2016. 

Sebagai pekerja biasa, yang sudah mengalami sendiri dibayar dengan upah yang berbeda-beda, Saya mengerti sekali betapa berita ini melegakan banyak hati pekerja-pekerja lainnya, terutama mereka-mereka yang hanya mengandalkan hidup sehari-hari dari satu penghasilan saja. 

Saya ngerti sekali betapa ‘upah’ minium sebelumnya itu tidak akan cukup untuk ‘hidup’ layak sehari-hari. 

Dulu sewaktu Saya awal-awal bekerja, Saya tidak ‘ngeh’ dengan kenaikan upah per jam. Di Jakarta, kenaikan gaji kan terlihat bulanan, misalnya dari Rp. 2,000,000 menjadi Rp 2,500,000, alias Rp 500.000 naik gajiku! Jadi waktu pertama kali Saya dapat kenaikan upah disini cuma 15 sen, Saya nelongso. Idih kecil amat sih?

Tanyalah Saya ke suami : Koq naik gaji disini kecil amat sih? (ps : ini ngomongin gaji buruh loh ya..kalau gaji kantoran ya lain lah). Lalu suami jelaskan, kalau itu kan hitungan per jam. Kalau ditotal kenaikan 15 sen itu relatif berarti lah di kantong. 

Berhitunglah Saya :

Upah awal $8.00 per jam, kerja 40 jam per minggu, di sini rata-rata perusahaan membayar pegawai 2 mingguan, berarti total upah yang Saya terima = $8.00 x 40 x 2 = $ 640.

Dengan upah baru $8.15 per jam, total bayaran Saya menjadi $8.15 X 40 x 2 = $ 652.

Total tambahan memang ‘hanya’ $12 – tapi untuk sebagian besar pekerja Amerika, $12 ini = tambahan uang belanja sehari-hari yang cukup signifikan. 

Itu cuma 15 sen perbedaan, kebayang perbedaan upah dengan $1.75 kenaikan. 

Banyak pihak yang melihat kenaikan upah ini sebagai tambahan beban, karena dijamin harga barang-barang akan naik, perusahaan tambah akan mengurangi fasilitas dan lain sebagainya.  

Saya melihatnya sebagai sesuatu yang patut di syukuri, mudah-mudahan kenaikan upah ini akan membuat banyak keluarga-keluarga menjadi lebih mandiri, tidak tergantung dengan subsidi pemerintah. 

IT’S TIME TO GIVE AMERICA A RAISE”

 

Salah Kaprah Tentang Amerika : Masyarakat Berpendidikan Tinggi & Berwawasan Luas

Di Jakarta, rekan-rekan kerja Saya itu rata-rata lulusan Universitas. Sarjana S1 lah istilahnya. Dari universitas beken pula. UI, ITB, Trisakti, Pelita Harapan, Pancasila, Pajajaran, Parahyangan, dan seterusnya. Selain universitas lokal, tidak sedikit rekan-rekan kerja yang lulusan universitas luar negeri. Saya juga tahu banyak teman-teman kuliah yang melanjutkan sekolah, untuk mendapat gelar Master. Pokoknya educated lah.

Entah darimana Saya dapatkan pola pikiran Saya, yang jelas di pikiran Saya itu orang-orang Amerika pastilah semua kuliahan. Katanya kan negara adikuasa, bisa ke bulan, polisi dunia; apa-apa kita ‘bercermin’ ke Amerika. Harusnya mereka pintar-pintar dong.

Kebetulan memang Suami Saya yang notabene orang Amerika itu termasuk nerd lah. Kacamata tebal, hobi membaca buku matematik di kamar mandi, dan kalau ditanya soal kimia-biologi, langsung nyerocos sampai membuat Saya ngantuk.

Jadilah waktu Saya hijrah ke Amrik, persepsi Saya itu orang Amerika pintar-pintar, tahu segalanya.

Kenyataannya?

Seperti layaknya Indonesia, orang-orang Amerika ada yang pinter, ada yang bego, ada yang bergelar doktor, ada yang jebolan SMA. Di kota kecil seperti Bozeman, Montana, rekan-rekan kerja Saya rata-rata jebolan SMA. Dan tidak seperti yang Saya asumsikan, mereka tidak ada niat untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, malah cenderung mereka merasa tidak perlu untuk berpendidikan tinggi meskipun di Bozeman ada MSU alias Montana State University.

Saya sempat bingung sendiri, karena mereka ‘bingung’ waktu mengetahui kalau Saya lulusan universitas. Lebih bingung lagi, waktu mendengar pertanyaan ‘Kamu koq bisa berbahasa Inggris?’ (emm…belajar di sekolah kan??!!) atau waktu teman dekat suami bilang ‘Indonesia itu India kan ya?’

Pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar ‘aneh’ lebih banyak lagi di lontarkan terutama waktu mereka tahu kalau Saya tidak merayakan hari Natal.

OMG. Kamu tidak bernatalan? Tidak membelikan hadiah untuk anak kamu (di hari Natal)??

Kamu harus berdoa lagi?  Kamu tidak makan dan minum seharian??

Islam? Apaan tuh?

Cuma sedikit sekali rekan-rekan yang tahu mengenai keberadaan agama lain (Islam tepatnya), sebagian besar cuma melongo.

Lho…apa mereka tidak mendengerkan stasiun berita mereka sendiri ya? FOX gitu? membaca buku? majalah? berita di internet?

Piye?

Baru perlahan-lahan Saya menyadari kalau asumsi Saya tentang orang-orang Amerika adalah salah. Untuk mereka-mereka yang tinggal di kota besar dan lebih beragam penduduknya, penduduk lokal terbiasa terekspos dengan keragamana, ketidakseragaman. Tapi di kota-kota kecil, ya sama seperti di Indonesia, agak-agak ‘kacamata kuda’, terbatas pengetahuan dan wawasan.

Bersyukurlah Saya waktu kecil sudah membaca buku-buku Ramayana, Mahabarata, Tom Sawyer, Moby Dick, Tintin, Lima Sekawan dll. Nonton Unyil, Little House on the Prairie, Sin Tia Eng Hiong, Sin Tiaw Hiap Lu. Belajar tentang Kristen, Buda, Hindu dan sejak kecil sudah sadar kalau tiap orang bisa berbeda keyakinan.

Jadi teman-teman, tidak usah tidak berkecil hati karena tidak berjiwa ala Amerika.

Kita tidak kalah pendidikan dan wawasan koq. Yang penting hayo belajar terus!!!

 

Fasilitas Kerja : Indonesia vs. Amerika

Ha. Enak Indonesia kemana-mana! Di Indonesia selalu ada supir kantor yang siap membawa pegawai ke mana saja. Hampir semua pekerja kantoran di Jakarta, Indonesia ya pekerja penuh waktu yang artinya ada asuransi kesehatan yang dibayar kantor, semua pekerja bergaji bulanan (plus bonus). Makan siang mau berapa jam juga cuek, wong dibayar koq. Sakit? koq bingung ya istirahat di rumah, gaji tidak akan berkurang koq.

Hamil? tenang. Cuti melahirkan 3 bulan – gaji tetap mengalir. Setelah bekerja 1 tahun penuh, dijamin mendapat jatah liburan, 12 hari setahun dibayar.

Di Indonesia dunia Saya itu dunia pekerja kantoran. Jam 9 pagi hingga 5 petang. Saya selalu bekerja penuh waktu, hampir tidak pernah tahu yang namanya kerja paruh waktu – kecuali Ibu Saya sendiri yang bekerja 2 pekerjaan dan salah satunya adalah kerja paruh waktu.

Baru di Amerika Saya kenal dengan yang namanya pekerja jam-jaman. Yang hanya dibayar berdasarkan lamanya kita bekerja dikurangi makan siang. Yang hanya dibayar kalau kita bekerja, kalau kita absen bekerja karena alasan apapun, ya hilanglah penghasilan hari itu.

Waktu Saya kerja pertama kali, Saya agak-agak bingung waktu tahu kalau jatah makan siang 1 jam dan itu tidak dibayar. Heh? serius??

Kalau kita bekerja penuh 8 jam sehari, kita dapat 2, 15 menit istirahat yang dibayar. Dan untuk beberapa jenis pekerjaan, hal ini termasuk kemewahan, karena tidak selalu pekerja mendapat istirahat.

Di Amerika akhir-akhir ini sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan-perusahaan besar sibuk mengurangi biaya kepegawaian mereka. Salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah tidak lagi mempekerjakan pegawai penuh waktu.

Kenapa? Karena pekerja penuh waktu itu = asuransi kesehatan harus ada, ada fasilitas hari sakit, ada fasilitas cuti hamil yang semuanya harus dibayar oleh perusahaan.

Terus terang baru kali ini Saya bekerja paruh waktu mendapat fasilitas asuransi kesehatan dan mendapat fasilitas libur dibayar. Sebelumnya sebagai pekeja paruh waktu Saya harus cukup puas dengan upah jam-jaman.

Kadang kalau kita tidak mengalami sendiri tidak terbayang ‘apa sih bedanya mendapat paid sick days atau paid holidays? Why it’s such a big deal?

It is a big deal.(well, for our family at least)

Contohnya waktu suami tergelincir di es dan harus dioperasi lutut, saat itu hanya dia yang bekerja. Setelah operasi dia harus tinggal di rumah selama seminggu. Untungya suami pekerja penuh waktu. Jadi kita tidak perlu bingung karena gaji dia tetap akan dibayar penuh oleh perusahaan meskipun dia sakit.

Atau waktu si kecil liburan musim semi. Ongkos camp itu $120 per minggunya, kalau Saya cuma ‘tidak bekerja’ berarti Saya kehilangan kira-kira $200++.Artinya meskipun Saya tidak bayar $120, tapi Saya kehilangan $200++ alias masih ‘bolong’ $180++.

Nah Saya dapat cuti dibayar, berarti Saya irit $120 dan tidak harus pusing mikir minggu ini tidak dapat bayaran.

Maunya sih ya, Saya dan suami dua-duanya dapat kerja yang mendapat fasilitas penuh….

Insha ALLAH some day….

enjoy-the-little-things-for-one-day-you-may-look-back-and-realize-they-were-the-big-things-15

Susah senang hidup di Amerika

Terus terang Saya bukan tipe orang ‘berencana’ , Saya lebih ke tipe ‘Just do it!’ tidak mikir panjang lebar, tidak mikir tentang masa depan.

Saya juga bukan orang yang cerdas dalam bidang akademik, biasa-biasa saja. Di SMA termasuk 5 besar di kelas, tapi kalau dibanding Kakak Saya atau sepupu Saya, duh jauh lah….

Nah sewaktu menikah dan hijrah ke Amerika, terus terang tidak mikir nanti mau bekerja di mana? nanti di Amerika mau jadi apa dll. Cuma mikir senang punya Suami.

Kebetulan Suami waktu itu punya pekerjaan bagus, kita tinggal di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk lah. Kenapa juga harus repot mikir kerja?

Bulan-bulan pertama, karena bosan di rumah, Saya iseng-iseng jadi sitter, lalu setelah mendapat ijin kerja resmi, Saya coba lamar ke perusahaan jual beli Timeshare, langsung diterima. Di situ Saya bekerja selama 3 bulan , karena Saya ingin membesarkan si anak. Untungnya ya saat itu penghasilan suami cukup untuk kita bertiga. Dari hasil uang bekerja selama 3 bulan, bisa Saya tabung untuk beli tiket mudik.

Setelah anak berumur 1 tahun lebih, Saya mulai bosan di rumah melulu, Suami suruh Saya melamar kerja di salah satu department store karena sedang musim liburan mereka butuh banyak pekerja tambahan. Jadilah Saya lamar, dan Alhamdulillah diterima. Kerja di malam hari setelah suami pulang kantor, jadi anak tetap dijaga kita berdua.

Idealnya kondisi seperti ini berlangsung selamanya ya……..tapi seperti yang kita tahu nothing last forever. Di awal tahun 2009, suami pulang memberi kabar buruk, dia di pecat. Memang beberapa bulan sebelumnya dia sempat bercerita tentang perubahan manajemen di kantornya.  Tapi Saya tidak berpikir sampai seburuk ini lah.

Penghasilan utama hilang. Rumah kita masih dalam cicilan. Bagaimana membayar listrik? air? membeli makanan sehari-hari? Asuransi kesehatan hilang – karena Saya kerja paruh waktu dan tipe pekerjaan Saya tidak menyediakan fasilitas asuransi untuk sebagian besar pegawainya.

Runtuh rasanya dunia ini. Rasa takut dan panik menyelimuti pikiran Saya. Langsung hari itu juga Saya pergi menghadap ke bagian kepegawaian Saya. Alhamdulillah, ada rekan kerja yang mengundurkan diri, sehingga Saya bisa langsung ambil posisinya yang kebetulan penuh waktu. Resikonya Saya tidak bisa bersama anak Saya setiap hari. Tapi apa mau dikata, itu pilihan yang harus Saya ambil.

Masalah kedua, asuransi kesehatan, yang jelas, si kecil karena masih di bawah 5 tahun, HARUS ada asuransi, karena tiap tahunnya dia harus cek ke dokter. Buru-buru Saya lamar asuransi kesehata pemerintah untuk semua, tapi di atas kertas keluarga kami masih ‘tergolong tidak miskin’ untuk medicare karena kami masih memiliki rumah dan 1 mobil. Jadilah asuransi untuk Saya dan suami ditolak, tapi untungnya asuransi untuk anak, mereka punya batasan tersendiri, dan si anak masuk kategori layak mendapat asuransi dari pemerintah (CHIP) yang notabene akan membayar semua ongkos dokter si anak.

Minggu-minggu pertama terus terang berat sekali kita mengatur pengeluaran dibanding pemasukan yang tidak seberapa. Baru di minggu ketiga, kita bisa bernafas agak lega, karena suami sudah bisa mendapat unemployment insurance yang bisa dipakai untuk membayar cicilan rumah.

Suami tidak bisa langsung mendapat pekerjaan baru, karena di saat yang sama Amerika sedang dilanda resesi. Pengurangan pegawai, terjadi dimana-mana. Tempat kita tinggal itu sangat terbatas pilihan bekerja. Boleh dibilang cuma ada 2 tempat utama orang-orang disini bekerja, salah satunya ya tempat suami bekerja dulu.

Di bulan September, Saya masukkan anak ke HeadStart yang notabene program pra sekolah gratis untuk keluarga menengah bawah.

Saya bersyukur sekali akan adanya kedua program ini, Headstart dan Asuransi kesehatan untuk anak (CHIP). Paling tidak kami tidak perlu khawatir si kecil tertinggal pendidikannya dan kami tidak bingung dalam membayar ongkos dokter.

Dari pengalaman Saya ini, barulah Saya menyadari kalau Saya ‘HARUS’ bekerja, tidak bisa selamanya bergantung kepada Suami, tidak bisa bergantung pada sanak keluarga, teman-teman.

Bahwa hidup Saya disini tidak akan selalu indah, bertaburan uang, bergelimangan harta.

Bule senang kulit coklat?

kik..kik…kik…hayo ingat kan dengan stereotype ini?

Benar atau tidak sih kalau bule itu senang sama yang keling-keling?

Ternyata……………….

Ada benarnya!!
Dan ini bukan cuma laki-laki kulit putih yang suka dengan perempuan berkulit coklat. Tapi perempuan kulit putih pun terobsesi untuk berkulit coklat.

Suami sendiri lebih senang kalau kulit Saya coklat. Di musim panas, waktu Saya kerjaannya berenang hampir tiap hari, ini kulit yang ada gosong, eh malah di sayang-sayang sama Suami.
Eksotis istilah kerennya.

Nah itu kalau laki-laki.

Kalau perempuan; Manager Saya di tempat kerja itu ternyata langganan ke salon tanning, dia sendiri mengakui kalau dia pengen banget punya kulit seperti SayaDan dia bukan kenalan pertama Saya yang Saya tahu keranjingan ber-tanning di salon.

Ada kenalan yang sejak usia 20 tahun sudah menjadikan tanning ritual setiap bulan.

Pernah Manager Saya (perempuan) celetuk ‘Laki-laki suka perempuan seperti kamu, terutama warna kulitmu’

Ha…ha…ha…
Saya pribadi sih senang-senang saja, tapi tidak jadi keranjingan mandi matahari atau mandi sinar ulta violet di salon. Karena ternyata setelah Saya perhatikan, mereka yang waktu mudanya pergi ke salon UV, koq kulitnya jadi terlihat tidak alami, ibarat tas kulit yang sudah lama dipakai (very beat-up old leather bag)…

Jadi bersyukurlah kalau punya  kulit eksotis…tidak perlu ke salon kan…;-)