Author: Irus

Mudik 2015 : Kebingungan Kebingungan

Kebingungan Pertama :

Bingung waktu saya mau pesan makanan untuk dibawa pulang.

‘Mas, mau pesan untuk bungkus dong.’

” Maaf Bu, kita tidak terima untuk bungkus hari ini.”

‘Lho, kenapa Mas?’

” Kotak buat bungkus habis Bu”

(Memang tidak bisa  pinjam dari tetangga sebelah ya? atau minta di bawakan sama pemilik???)

Kebingungan Kedua :

Jam 10 pagi, di resto cepat saji Amerika. Pesan makanan untuk anak dengan minum aqua botol. Makanan sudah diberikan, tapi minuman belum. Setelah 5 menit menunggu, akhirnya saya kembali ke meja pesananan.

“Mbak, maaf, botol airnya saya belum dapat”

Mbak-mbak pelayan sibuk nyerewetin rekan lainnya, tidak sengaja saya dengar percakapan mereka :

‘Kamu gimana sih? air mineral kita sudah tidak ada!!’/ Tadi masih ada 4?!/’Sudah dari pagi tidak ada!!’/

‘Maaf Bu, kita tidak ada air mineral botolan’

(toko baru buka 10 menit yang lalu dan botol air sudah habis?? memang dari semalam tidak di stok ya???)

Kebingungan Ketiga :

Dari pertama tahu akan mudik, saya semangat mau beli baju batik. Jadilah waktu melihat ada bazar di mal, saya sibuk mencari-cari baju batik untuk diriku.

Coba punya coba berbagai ukuran, ternyata ukuran M tidak lagi muat untuk saya, sementara ukuran L terlalu gombrong juga.

Saya : ‘Yah mbak, ukuran L ini muat di bagian ini, tapi saya tidak senang di bagian ini’

Mbak :’ Ya Ibu makanya, kurusin badan ya supaya bajunya muat’

Saya :’????????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!’

Mudik 2015 : Cerita Teman SMA

Di mudik saya ke Jakarta bulan Januari lalu, saya tidak sengaja bertemu dengan teman SMA saya. Tambah cantik dan langsing dia, tapi gaya bicaranya masih seperti yang saya ingat di jaman SMA. Jadilah kita sibuk ngobrol ngalor ngidul.

Dari hasil ngobrol dengan teman Saya ini, banyak pelajaran yang saya ambil dan terus terang Saya salut sekali dengan dia.

Agak mirip dengan kondisi Saya, kedua orang tua si teman juga sudah menua. Seperti halnya ibu saya, ibu si teman juga sempat terkena stroke ditambah penyakit lainnya yang cukup parah. Kalau saya hanya berdua dengan kakak laki-laki saya, dia hanya berdua dengan kakak perempuan dia.

Teman saya ini bercerita bagaimana proses dia memutuskan untuk menjadi tulang punggung orang tuanya. Dia mengakui kalau sempat ada waktu dimana dia mengacuhkan kondisi keluarganya dan tidak mau peduli.

Tapi akhirnya dia sadari kalau kenyataannya dialah yang diberikan rejeki oleh Yang Maha Kuasa untuk merawat orang tuanya.

Dia menyadari kalau tidaklah adil untuk meminta anggota keluarga lain untuk merawat sementara kitanya tidak mau melakoni sendiri.

Dan itu bukanlah karena yang bersangkutan tidak mau bertanggung jawab atau lepas tangan, tapi karena sejujurnya tidaklah mudah untuk seseorang hidup selama 24 jam sehari semata-mata mengurus orang tua.

Teman saya ini membuka hatinya untuk mengerti dan menghargai kejujuran dan kenyataan di sekelilingnya.

Terus terang , untuk saya itu adalah hal yang tersulit.

Tidaklah mudah untuk siapapun, dimana kita harus ikhlas dengan kenyataan, dimana kita harus membulatkan hati untuk menjadi pihak yang MAMPU mengatasi keadaan. Bahwa dia harus mengobarkan banyak hal-hal pribadi, dia ikhlaskan tanpa dia merasa marah dengan siapapun.

Karena teman saya ini tahu, bahwa marah tidak akan membuat hal menjadi lebih baik ;bahwa dia harus menjadi DEWASA dan legowo.

Terima kasih SS untuk berbagi ceritamu ke aku.

Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi nanti.

Mudik 2015 vs Mudik 2006

Terakhir saya mudik ke Jakarta itu di tahun 2006, alias sudah 8 tahun lebih saya tidak mudik.

Tulisan ini bukan mau cerita kenapa saya baru bisa mudik sekarang, tapi iseng-iseng mau lihat perbedaan mudik saya di tahun 2006 dan mudik 2015.

Persamaan M06 dan M15 (seperti kode penting saja layaknya..he….he…he..), saya mudik berdua dengan anak saya, suami tidak ikutan – maklum anggaran terbatas.

Waktu itu anak saya berumur kurang dari 1 tahun, sekarang anak saya usia 9 tahun. Boleh dibilang anak saya tidak ingat apa-apa tentang perjalanan ke luar negeri pertama dia, sementara di M15 anak saya sangat ‘aware‘ kalau dia akan mengunjungi negara ‘asing’ yang amat sangat berbeda dengan negara kelahirannya.

Waktu M06 saya tidak terlalu pusing kepala mengenai siapa yang akan menjemput kita berdua di bandara.

Di M15, terus terang saya tidak PD untuk menggunakan jasa taksi saat kedatangan, meskipun tahu kalau saya harus pakai taksi tertentu, tapi karena kedatangan saya yang tengah malam, bawa anak yang pasti teler, bawa koper segambreng, saya akan pulang ke tempat yang sama sekali baru (bukan ke rumah orang tua yang dulu saya tinggali), saya keder kalau-kalau si taksi yang aman dan bereputasi baik belum tentu tersedia, juga ada ketakutan akan nyasar tidak jelas. Paranoid lah intinya.

Tapi saya amat beruntung karena banyak teman-teman yang menawarkan bantuan untuk menjemput saya di bandara. (Terima kasih amat banyak untuk Bona Ray, Mona B, Krisna K, Eva D yang sudah menawarkan bantuan untuk diriku di hari pertama!)

Dari sekian banyak teman-teman yang menawarkan bantuan, memang Tuhan Maha Baik ya, ada teman di Louisville (terima kasih banyak Jeng Rini M), yang ibunya baik sekali bersedia menjemput di bandara. Puih. Lega rasanya.

Perbedaan lainnya, kalau di M6 si anak di keloni sama ayah dan ibu, kali ini anak saya cuma bisa ketemu dengan Eyangnya, yaitu ibu saya. 😦

Sampai detik ini anak saya masih suka celetuk ‘Mom, I wish Kaik is still alive’ (kaik – kakek dalam bahasa Banjar). 

Nah, terus terang keluarga kami bukan keluarga yang sangat berada, dan juga beberapa kali keluarga kami di terpa musibah dan baru satu tahun belakangan ini keluarga kami mulai bisa berbenah dan bangkit dari kesulitan.  Artinya kami tidak akan selalu bisa mudik ke Indonesia setiap tahun.

Karena alasan itulah saya harus berpikir realistis di mudik saya kali ini ; dalam arti saya harus berpikir masalah anggaran yang akan saya belanjakan dan waktu yang akan saya gunakan.

Tujuan mudik saya kali ini ada 4 :

  1. Menengok Ibu yang sejak terkena stroke di tahun 2010

  2. Menengok makam ayah yang meninggal di bulan April 2014

  3. Mengenalkan anak ke tempat kelahiran saya

  4. Bertemu teman-teman baik saya

Kalau di M06 saya tinggal di rumah orang tua di lokasi Cibubur, M15, saya akan tinggal di dua tempat, yaitu di tempat tinggal ibu saya itu di Parung :50 kilometer lebih jauh ke arah Bogor dari Cibubur dan di apartemen di tengah kota Jakarta.

Apa gitu pertimbangannya?

Yang jelas saya tidak bisa lagi mengandalkan orang tua seperti saat M06. Tidak bisa mengharap akan di jemput, tidak bisa mengharap akan diantar kesana kemari. 

Berarti saya akan banyak mengandalkan jasa transportasi umum, yang dalam hal ini : taksi.

Logikanya saya akan bawa anak saya melihat ini dan itu, bertemu teman-teman yang memang sudah meminta untuk bertemu dari jauh-jauh hari, akan berat di ongkos kalau saya tinggal di tempat tinggal Ibu selama 2 minggu penuh saya di Indonesia – diperlukan ongkos taksi Rp. 1,000,000 pulang pergi dari Parung ke pusat kota Jakarta.

Kenyataannya tidak ada donor yang mau membayari ongkos saya pulang pergi Parung-Jakarta, dan kenyataannya saya tidak akan sanggup membayar ongkos PP sebesar 1 juta selama 14 hari saya tinggal di sini, maka saya putuskan untuk tinggal di tengah kota di minggu kedua saya mudik.

Banyak rekan-rekan yang bertanya-tanya soal keputusan saya memilih tinggal di apartemen.

Well, terus terang saya bingung juga, wong keputusan saya tidak melibatkan orang lain, kecuali anak saya dan suami saya, tapi koq banyak yang ribut ya???

MENGHITUNG HARI MUDIK KE JAKARTA: HARI KEBERANGKATAN

Minggu, tanggal 18 Januari 2015, Saya dan anak memulai perjalanan mudik kami ke Jakarta, Indonesia. Total penerbangan 21 jam lebih. Kami akan mendarat di Soekarno Hatta sekitar tengah malam tanggal 20 Januari 2015.🎒🛄✈

Kami semua bangun jam 4 pagi, mandi, setelah minum teh, saya paksakan dandan biar kelihatan manis meskipun rasa seperti zombie karena tidal bisa tidur malamnya. Baju yang mau dipakai sudah disiapkan malam sebelumnya : celana jeans,baju lengan panjang,syal,sepatu slip on,baju dingin. Masalah pakai baju apa selama di perjalanan ini agak-agak riweh; riweh karena tempat keberangkatan masih musim dingin, pesawat terbang biasanya lumayan adem,sementara tempat kedatangan tropis. Mau tidak pakai baju dingin, alias coat koq ya tidak mungkin juga, dibawa buat berat bawaan.

Dilema deh 😱😱😱😱😱

Si kecil pakai baju lengan panjang, celana panjang dan hoodie, sementara diriku pakai baju lengan panjang ditambah baju hangat dan scarf plus jeans andalan khusus beli untuk mudik ini. (pas dapat murah,cuma $16 an).

IMG_20150118_060222

Sampai di bandara Louisville, kita agak – agak kepagian, meskipun ada mesin pemindai tiket elektronik, karena kita ada bagasi, jadi kita tidak bisa langsung cetak tiket, jadi harus tunggu petugas loket. Nah karena loket pesawat sendiri belum dibuka hingga jam 6-an lebih, jadilah kita nangkring-nangkring di bandara.

IMG_20150209_054532

Jam 6 lewat, baru petugas datang, tiket si kecil ada sedikit kesalahan pengejaan namanya, jadi si petugas harus secara manual mengecek tiket dan paspor dia. Untunglah semua beres.

Jadilah kita masuk ke dalam ruang tunggu sekitar jam 7 pagi. Pesawat pertama kita itu United Airlines, dengan tujuan Chicago. Tidak ada keterlambatan keberangkatan, semuanya Alhamdulillah lancar.

Pesawat yang kita tumpangi ini boleh dibilang pesawat kecil (dan sempit), tipe-tipe pesawat yang penumpang harus titipkan koper bawaan mereka di luar pintu pesawat, karena penyimpanan di dalam pesawat tidak cukup besar untuk beberapa koper bawaan penumpang.

Sampai di Chicago, kita harus jalan ke pintu yang lumayan agak jauh untuk menunggu pesawat kedua kita, yaitu ANA dengan tujuan Narita, Tokyo.

Saya cukup terkesan dengan dekorasi di bandara O’Hare, Chicago, terlihat sangat artistik dan tidak membosankan seperti bandara-bandara lainnya.

017016

Sayangnya saya tidak sempat mengambil banyak foto karena si kecil sudah kebelet ingin pergi ke pesawat berikutnya.

Di pesawat kedua ini, sempat beberapa kesalahan ‘teknis’, status saya tertera sebagai anak, sementara anak saya tertera sebagai dewasa. Juga tempat duduk saya dan anak saya sempat terpisah, untunglah saya ‘ngeh’ dan bisa diubah menjadi sebelah-sebelahan.  Mereka juga ‘sibuk’ menanyakan visa kami, untuk di Jepang dan untuk di Indonesia. Setelah saya jelaskan kalau kami hanya transit 3 jam di Jepang dan saya akan ambil visa on arrival di Jakarta, mereka berhenti bertanya.

Ini pertama kalinya saya menggunakan maskapai penerbangan ANA, sejauh ini saya cukup senang dengan pelayanan mereka  pramugarinya ramah dan baik-baik, meskipun terlihat mereka agak-agak kesulitan dalam berbahasa Inggris.

Yang saya agak panik adalah waktu kita terima makanan ; memang saya memesan makanan khusus untuk kami berdua (muslim meal) ; ternyata kali ini makanannya itu berbau kari dan lumayan pedas! Jadilah saya sibuk membilas daging ayam kari supaya bisa dimakan anak saya.

Waktu terima makanan kedua di perjalanan, terpaksa saya minta makanan biasa untuk anak saya, karena lagi-lagi masakannya kari pedas. Maklum si kecil belum bisa makan yang pedas-pedas. Untunglah mereka punya makanan ekstra yang menunya ikan. Phew!

Sampai di Narita, Tokyo kami ada waktu tunggu sekitar 3 jam.

022

Sempat berkeliling bandara untuk melihat ini itu, tapi kondisi kami berdua sudah sangat lelah, jadilah kami mengaso di pintu keberangkatan saja.

Mudik_Jan18Feb39

Lega sekali rasanya saat waktu boarding tiba, tempat tujuan hanya tinggal 6 jam lagi!

027-001

Halo Jakarta!

Menghitung Hari Mudik Ke Jakarta! – Proses Menabung Dan Menuggu

Setelah 8 tahun tidak bertemu dengan keluarga di Jakarta (termasuk tidak bisa menghantar almarhum Ayah ke tempat peristirahatan terakhir beliau), Insha ALLAH saya dan anak akan mudik ke Jakarta selama 2 mingguan bulan Januari 2015!!

Terus terang anggaran mudik ini amat sangat ‘ketat’, sejak Ayah meninggal di bulan April 2014, saya mulai menyisihkan uang bonus hasil kerja saya. Untuk perjalanan mudik saya kali ini anggaran saya itu $3,000 alias pas-pasan. Ha…ha…ha. Yang penting tiket terbeli dulu deh!

Di Amerika, saya kerja di perbankan paruh waktu. Artinya saya hanya kerja 26 jam per minggu. Kalau hanya mengandalkan penghasilan kerja saya, setelah di potong asuransi kesehatan, terus terang akan lama sekali untuk saya bisa mengumpulkan uang untuk mudik. Minta dibayarin suami juga koq tidak mungkin ya? satu karena penghasilan suami ya untuk bayar tagihan dan keperluan sehari-hari dan kedua saya orangnya males ‘ngerepotin’ orang lain, meskipun itu suami sendiri. Ketiga…suami tidak ada extra uang juga….ha…ha…ha.

Tapi untunglah di tempat kerja ini pegawai ada kesempatan untuk mendapat bonus dari hasil penjualan produk.

Nah disinilah saya kerja mati-matian. Bonus ini dibayar setiap 3 bulanan. Yang nyebelin, meskipun saya berhasil mengumpulkan bonus hingga $500 misalnya, pajak bonus ini juga lumayan besar : 40%. Jadi bonus ini terus terang sering kali ‘tidak berarti’ apa-apa.

Jadi saya putuskan, saya acuhkan itu pajak, setiap kali saya dapat bonus, saya langsung kurangi total jumlah pendapatan saya dengan gaji saya sehari-hari tanpa bonus.

Saya juga rajin melihat-lihat harga tiket pulang. Sempat ada tiket murah (dibawah $1,000) beberapa minggu setelah Ayah meninggal, sayangnya saat itu paspor saya sudah habis masa berlakunya dan harus menunggu 3 minggu hingga paspor selesai. Yang ada waktu paspor saya sudah diterima ditangan, harga tiket sudah melonjak lagi, karena sudah masuk masa liburan sekolah anak-anak. Dan terus terang saya tidak mampu untuk beli tiket saat harga sudah diatas $1,000, karena saya akan bawa anak saya mudik bareng.

Jadilah saya harus menunggu lagi. Saya pikir kalau memang rejeki, akan ada tiket murah lagi yang saya mampu beli.

Kuartal ketiga 2014, saya lumayan dapat bonus cukup bagus dan waktu lihat tiket, ada tiket murah di bulan Januari dari situs ini. Harga tiket per orang jatuhnya $800++ (total) dan waktu tunggu antara pesawat yang satu dengan yang lain cuma 3 jam.

Pikir punya pikir, tiket harga sekian kayaknya akan jarang-jarang nongol, jadiah saya putuskan untuk beli. Alhamdulillah ada anggarannya.

Nah, ada dua hal yang harus saya korbankan dalam rangka mudik saya kali ini. Yang pertama adalah hari-hari sekolah anak saya. Di perjalanan mudik ini dia akan kehilangan 11 hari sekolah. Apa boleh buat, pilihannya tiket murah di hari sekolah atau tiket mahal di hari libur, terpaksa saya harus pilih yang pertama.

Yang kedua jatah liburan dibayar (paid vacation) saya. Berhubung saya pekerja paruh waktu, jumlah liburan saya itu tergantung dari jumlah jam kerja yang saya lakoni tahun sebelumnya.  Rata-rata pekerja paruh waktu mendapat 7-14 hari libur dibayar.

Tahun 2014 jam kerja saya tidak sebanyak tahun 2013, hitungan kasar, saya pasti dapat seminggu liburan di bayar, tapi teman-teman tahu sendiri dong, kalau pergi internasional, seminggu tidak berasa apa-apa. Minimal harus 2 minggu, paling enak ya sebulan.  Apa boleh buat, saya kudu ambil libur tidak dibayar alias unpaid vacation. 

Artinya balik-balik dari Indonesia, siap-siap melihat rekening agak-agak kosong melompong…..:-)

Ya tidak apa-apa, Insha ALLAH adalah rejeki setelah pulang.

Sekarang saya lagi bingung……mau bawa uang tunai berapa ya??

Salah Mengeja

Siapa bilang bule itu selalu bisa mengeja lebih baik daripada kita-kita yang imigran?

Kalau teman-teman mungkin cuma lihat foto atau baca berita ringan di sosial media, saya sendiri sudah mengalami langsung salah eja kata-kata bahasa Inggris yang dilakukan oleh mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris.

Contohnya dibawah ini :

10373484_10152588958761267_4401330495858968946_n (1)

Saya yakin maksud hati menulis kata ‘healthy’

Sebetulnya masalah salah mengeja ini masalah sehari-hari di Amerika, bukan cuma anak-anak sekolah yang baru belajar mengeja, tapi orang-orang dewasapun banyak yang masih suka salah mengeja.

Kalau saya perhatikan malah orang-orang imigran cenderung lebih hati-hati dalam mengeja bahasa Inggris, mungkin karena di bawah sadar, kita tahu bahwa ini bukan bahasa kita, jadi kita lebih memperhatikan ejaan kata yang akan kita tulis?

Terus terang suami saya sendiri juga mengakui kalau dia bukan pengeja yang baik, seringkali saya yang memperbaiki ejaan kata-kata dia, meskipun secara tata bahasa saya masih ‘ngaco’ berat.

Kesimpulannya apa dong?

Kesimpulannya kita jangan takut belajar, jangan takut salah. Karena mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris pun masih banyak salahnya koq. Yuk..belajar bahasa Inggris lagi!!

Tradisi Amerika Yang Tidak Saya Lakoni : Tetap Menggunakan Nama Gadis

Sampai saat ini Saya belum ganti pemberian orang tua saya. Nama hukum saya masih seperti dulu. Meskipun tidak bohong kalau telinga ini ‘sakit’ setiap mendengar nama depan saya di ucapkan orang Amerika, tapi nama komplit saya belum berubah.

Kalau tho saya mau ubah nama saya, saya sudah punya nama ‘Amerika’ – yaitu nama saya yang lebih mudah diucapkan lidah bule plus nama suami – yang saya ‘ciptakan’ lebih karena alasan lebih mudah di gunakan dan diucapkan sehari-hari , dan saya pakai untuk keperluan tidak penting : email gaul, blog, sosial media, dll. Nama beken atau nama panggung istilah selebritinya. winking-smiley-face-clip-art-Smiley-Face-Clip-Art2

Alasan saya belum mau ganti nama secara  hukum, ada dua : malas urus berkas-berkas untuk ubah nama dan sentimen pribadi dimana saya merasa nama saya adalah identitas saya sebagai individu, saya sebagai pribadi yang lepas dari bayang-bayang suami dan juga ini adalah pemberian orang tua saya – mereka pilih nama saya dengan pertimbangan sebaik-baiknya. Saya koq ngerasa kurang ‘sreg’ mau mengubahnya kalau cuma semata-mata karena pernikahan.

Lagipula saya merasa janggal menggunakan nama belakang turunan Irlandia dari suami, wong muka wedok’ gini nama berbau Irlandia, kurang cocok deh ah.

Sebetulnya hal begini biasa di Indonesia, tradisi kita tidak ada ‘keharusan’ mengganti nama setelah menikah, tapi di Amerika ini, sebagian besar masih mengikut tradisi mengambil nama suami setelah menikah.

Teman-teman bule rata-rata usil nanya kenapa koq saya tidak ambil nama suami, malah sering mereka pikir kalau saya cuma hidup bersama dengan suami dan bukan menikah karena nama saya beda dengan nama suami. Lucu ya.

Ya tidak apa-apa, seperti kata pepatah

anjing-gonggong-dan-kafilah-berlalu

Beruntung Jadi Imigran Asia

Beruntung karena kita jadi sedikit lebih tahu geografi, terutama negara-negara di Asia dibanding kebanyakan orang Amerika.

Kemarin keluarga cuci mata di toko buku Half Price Books, eh ketemu buku murah tentang ‘fashion’. Berhubung saya kerja di toko baju, jadilah saya beli buku ini sebagain penambah wacana  gitu ceritanya.

Intinya buku ini tentang hal-hal di fashion yang klasik, ‘kudu dimiliki’ atau paling tidak kudu diketahui fungsinya.

Sampailah saya di bab ‘C’ . Di situ di terangkan masalah clutch atau tas kepit.

Waktu baca di salah satu paragraf tentang si tas kepit, saya jadi geli sendiri. Coba deh dibaca dibawah ini:

_20141214_192242

Meskipun saya bukan editor, tapi kayaknya kalimat ‘In Asia and Thailand’ agak kurang bener deh – karena seakan-akan Asia dan Thailand itu dua hal yang sama (sama-sama negara atau sama-sama benua), padahal kan Asia itu benua dan Thailand itu salah satu negara di Asia yak?

Karena buat pembaca awam, jadi timbul pertanyaan ‘ Where in Asia?’

Atau buat pembaca yang tahunya cuma Thailand itu negara, jadi mikir kalau Asia itu nama negara?

Mending di tulis : In Asian countries, such as Thailand.….. bukan sih?

Ternyata mbak penulis yang notabene fashionista, bukan berarti good traveler yak….;-)