Author: Irus

Kenalkan : I Heart Life Photography

Hayo siapa yang tidak suka difoto??

Pasti tidak ada yang mengacung jarinya deh. Semua senang difoto, terutama para wanita.

Nah, ini ada orang Indonesia yang tinggal di Cleveland, Ohio yang membuka usaha fotografi, nama bisnisnya ‘I Heart Life Photography’.

Di awali dari senang berfoto untuk keperluan dokumentasi keluarga, Valerie, ibu dua anak kelahiran Bandung, Jawa Barat, lama-lama tertarik untuk mendalami fotografi. Jadilah si Jeng mengambil kursus fotografi di Cleveland Photographic Society dan kursus photoshop online

Setelah 2 tahun membangun portfolio, akhirnya si Jeng meresmikan I Heart Life Photography menjadi perusahaan terbatas di Musim Gugur 2013.

Coba deh tengok bisnis Valeri di facebook atau di situsnya langsung di I Heart Life Photography.

Keren kan? Kalau kebetulan ada teman-teman yang tinggal di Cleveland, Ohio dan kepengin punya foto keluarga yang keren, coba hubungi Iheart.

Jangan lupa beri jempol ya sebagai tanda dukungan kita untuk bisnis sesama teman Indonesia!!

Image

 

Kenalan berikutnya : Lemari Rini pernak pernik cantik buatan tangan

Informasi menjual barang (bekas) di Amerika (dan dapat uang jajan tambahan) – Bagian Kedua

Selain toko-toko tradisional yang Saya sebutkan di tulisan Saya sebelum ini ada konsinyasi musiman yang bisa Anda manfaatkan dalam menjual barang-barang bekas Anda.

Tipe konsinyasi ini biasanya diadakan 2 tahun sekali – di awal tahun untuk barang-barang musim Semi dan musim panas dan di akhir tahun untuk barang-barang musim gugur dan musim dingin.

Pada dasarnya tipe konsinyasi ini ibarat jualan garasi borongan, si organisir menyiapkan tempat untuk barang-barang kita, menjual ke masyarakat lalu membagi hasil ke kita. Si organisir biasanya sudah mempunyai tempat yang regular mereka gunakan dan tanggal yang notabene hampir sama tiap tahunnya. Biasanya di fair ground dan di akhir pekan.

Cara kerja konsinyasi ini adalah Anda mendaftar di situs mereka untuk barang-barang yang Anda mau jual, ada biaya keanggotaan, dan Anda harus menggunakan format tertentu untuk mencetak label harga barang-barang Anda.

Harga barang Anda tentukan sendiri, tapi ada harga minimum yang ditetapkan si organisir- biasanya $3.00. Porsi Anda dari penjualan adalah 70%, biasanya penjualan dilakukan selama 2 hari.

Di hari kedua, organisir melakukan pemotongan harga, Anda berhak tidak mau memotong harga barang-barang Anda, untuk itu Anda harus mencantumkan dalam label ‘Tidak ada potongan’ .

Untuk barang-barang yang tidak terjual, Anda boleh pilih untuk mengambilnya kembali atau merelakan organisir untuk menyumbang barang-barang tersebut.

Di sistem ini, intinya kita harus pintar-pintar menghargai barang, karena ada penjual-penjual lainnya yang berjualan di tempat yang sama dan kemungkinan menjual barang yang sejenis dengan kondisi lebih baik dari barang kita.

Tip dari Saya adalah menggabungkan barang-barang lebih dari satu, misalnya daripada menjual satu baju bayi atau mainan anak atau buku seharga $3 – yang menurut Saya agak mahal untuk barang bekas-, Saya gabungkan 3-5 baju/mainan/buku seharga $3 tanpa potongan.

Waktu Saya tinggal di Bozeman, Montana, Saya hobi ikutan konsinyasi tipe ini, judulnya The Exchange. Kalau Saya tidak salah, di musim dingin terakhir sebelum Saya pindah, cek yang Saya terima dari hasil penjualan $90. Lumayan kan?

Di Louisville, Kentucky Saya ketemu konsinyasi yang mirip, namanya Kidsstuffsale, Saya mau ikutan tahun ini, untuk melego mainan si anak yang sudah kadaluwarsa untuk kategori umurnya.

Saya hampir yakin, di kota-kota besar di Amerika, ada system serupa. Untuk cari informasi seperti ini, coba cari di majalah-majalah atau buklet-buklet gratis di supermarket. Saya ketemu info tentang kidstuffsale dari buklet tersebut.

Untungnya dari tipe konsinyasi ini adalah karena sifatnya yang musiman, biasanya masyarakat menanti-nanti kapan si bazaar dibuka. Jadi minat masyarakat tinggi, dibanding dengan toko-toko tradisional yang bisa dikunjungi setiap saat.

Mudah-mudahan informasi Saya kali ini berguna yaaaaaaaaa…

Informasi menjual barang bekas di Amerika (dan dapat uang jajan tambahan) – Bagian Pertama

Kalau ada rekan-rekan yang suka membaca blog Saya, tulisan ini boleh dibilang sambungan dari tulisan ‘Contohlah…’ dan informasi ini sebelumnya Saya tulis di cerita itu, tapi koq ya setelah Saya pikir-pikir kurang cocok, jadi Saya revisi tulisan Saya tersebut dan ini tulisan murni mengenai informasi berjualan barang-barang (bekas) di Amrik.

OK? Mari kita mulai!

Nah, setelah Anda tinggal di Amrik, ada kemungkinan Anda mengalami salah satu situasi di bawah ini :

  • Anak Anda sudah bukan bayi lagi, dan sekarang Anda punya banyak barang-barang bayi yang sudah tidak terpakai lagi
  • Anda akan pindah ke tempat baru, banyak barang-barang yang Anda sudah bosan dan tidak mau pakai lagi
  • Tiba-tiba Anda menjadi kurusan atau lebih makmur, sehingga baju-baju Anda mendadak tidak muat lagi
  • Anda ingin mengganti perabot, tapi koq perabot lama masih bagus ya? mau dikemanakan dong?
  • Ternyata Anda atau salah satu anggota keluarga Anda penderita shopoholic tanpa disadari banyak barang-barang tidak karuan di tempat Anda tinggal, sementara Anda tidak selera lagi
  • Anda butuh uang sementara gajian masih jauh dan ada tagihan yang kudu dibayar
  • Mau renovasi ruangan, itu pintu kabinet, kerangka jendela yang lama, sisa cat, sisa bahan bangunan di kemanakan dong?
  • Anda mahasiswa yang sudah selesai belajar di Amerika dan sekarang mau pulang ke tanah air
  • dan lain-lain

Solusinya? Gampang.

Selain yang Saya sudah tulis di tulisan Saya sebelumnya, ini Saya berikan informasi lebih detail (dan sebagian besar Saya juga lakoni sendiri)

Langkah pertama adalah cari (baca : google) toko konsinyasi (consignment store) di kota Anda.

Nah, toko konsinyasi ini juga beragam jenisnya dan juga tergantung jenis barang yang Anda mau titip jual.

Ada konsinyasi yang berani bayar uang tunai dimuka, ada konsinyasi yang akan membayar setelah barang terjual.

Berikut Saya beri daftar yang Saya tahu pasti cara kerjanya.

  • Bayar Tunai di Muka :

Tipe konsinyasi seperti ini untungnya Anda terima uang tunai di tempat saat Anda berikan barang Anda dan setelah mereka mensortir barang Anda yang mereka anggap bisa dijual di toko mereka.

Porsi Anda bisanya hanya 30% dari harga jual yang mereka tetapkan dan tidak ada biaya pendaftaran anggota. Cukup mengisi formulir.

Contoh : Anda bawa sepatu merek Charlotte Russe, mereka terima sepatu Anda, dan dalam anggapan mereka, sepatu ini akan dijual seharga $ 10.00, berarti mereka hanya akan membayar Anda sebesar $3.00

Kecil memang, tapi Anda terima uang langsung dan tidak ada resiko tidak mendapakan uang sama sekali nantinya.

Toko-toko yang menerapkan sistem ini

Saya pribadi pernah menjual barang-barang ke toko-toko tersebut diatas.  Berikut informasi tambahan lainnya :

Di toko pakaian wanita, banyak baju-baju Saya yang ditolak, mereka sangat ‘teliti’ dalam menyortir barang-barang.

Cek baju-baju Anda sebelum dibawa ke 2 tempat diatas. Cek :sobek, pudar, hilang kancing, baju berwarna hitam, noda, cabikan meskipun kecil , boleh dipastikan tidak akan dihargai.

Plato Closet lebih diutamakan untuk konsumen anak remaja, sementara Clothes Mentor untuk konsumen lebih dewasa.

Jangan pergi untuk menjual barang di hari Sabtu atau Minggu karena banyak sekali orang-orang yang menjual barang di hari itu.

Dan meskipun Anda diperbolehkan pergi meninggalkan barang-barang untuk disortir petugas, Anda diharuskan balik ke toko sebelum toko tutup, kalau tidak maka Anda tidak akan dibayar dan barang-barang anda yang di drop menjadi milik toko sepenuhnya.

Toko-toko yang Saya sebutkan diatas itu franchise, artinya ada kemungkinan Anda akan menemukan toko-toko tersebut di kota besar di manapun di Amerika.

  • Bayar setelah barang terjual

Untuk toko-toko yang menerapkan sistem ini, biasanya ada biaya pendaftaran, sepengetahuan Saya, di dua toko yang sudah pernah Saya lakoni, biaya pendaftaran $5 untuk satu tahun.

Untungnya toko seperti ini, porsi penjualan untuk Anda, cukup besar, 40%-60% dari harga terjual, tapi Anda hanya akan dibayar setelah barang benar-benar terjual.

Jadi selalu ada resiko Anda bisa-bisa tidak akan dibayar sama sekali, karena penjual toko biasanya menetapkan jangka waktu maksimum barang Anda ‘boleh’ dipajang di toko dan Anda masih mendapat porsi penjualan.

Yang Saya pernah alami, maksimum barang di pajang ditoko itu 3 bulan, setelah itu, toko berhak melakukan tindakan apapun terhadap barang Anda dalam arti mereka boleh memotong harga hingga 90% atau ‘melego’ barang anda ke tempat lain tanpa Anda memperoleh porsi penjualan.

Di Louisville, Kentucky ada 2 toko lokal yang Saya tahu pasti:

– Sugar Baker – untuk wanita

-The Attic – untuk perabotan rumah tangga

sedangkan di Bozeman, Montana, Saya pernah menjual di Recouture untuk baju, perhiasan, tas bermerek. Toko ini juga menerima perabotan antik.  Di Bozeman juga, bekas tetangga Saya mempunyai toko barang bekas untuk bayi dan anak-anak; nama tokonya Growth Spurts Retail Boutique. 

Untuk barang-barang olah raga, sepeda, trailer bayi, bisa dijual di Play it again Sports.

Berdasarkan pengalaman pribadi Saya, Saya cenderung lebih pilih ke sistem konsinyasi bayar setelah barang benar-benar terjual, terutama kalau Anda tahu pasti barang Anda ini bermerek, dalam kondisi prima, dan trendy.

Jadi pilihlah konsinyasi tipe ini untuk barang-barang Anda yang lebih ‘bermutu’. Terus terang juga Saya agak-agak ‘glek’ waktu menerima uang dari konsinyasi tipe tunai…’lha..koq cuma segini yak? he…he…he…tapi karena BU alias butuh uang, jadi ya mau gimana lagi.

Untuk konsinyasi tipe tunai, Anda berhak menolak tawaran mereka, dan memilih ambil kembali barang-barang Anda.

Tapi kalau dipikir-pikir intinya, daripada menumpuk barang, lebih baik di lego kan? 😉

Kenalkan : Pretty Batik Boutique

64173_10152038051008022_1979263615_n

Siapa yang tidak kenal batik?

Tekstil bermotif asli Indonesia, tepatnya dari pulau Jawa, karena kalau di Sumatera namanya Songket kan ya? 😉

Dari dulu Saya senang batik, tapi terus terang sejak pindah ke Amerika, jadi tambah rindu dengan batik.

Nah, ingat tidak tulisan Saya sebelum ini , yang intinya mendorong rekan-rekan imigran Indonesia untuk kreatif dalam beride, yang siapa tahu bisa jadi peluang bisnis?

Salah satu orang Indonesia yang berhasil membuka bisnisnya lewat facebook adalah  Jeng Kissy. Dia berdomisili di New York, ibu dua anak yang manis dan ganteng.

Jeng Kissy ini buka usaha berjualan batik sejak 2012. Nama usahanya ‘Pretty Batik Boutique‘ yang bisa kalian cari di facebook. 

Alasan si Jeng membuka usaha ini adalah karena dia ingin mempromosikan budaya Indonesia yang cantik  ke dunia internasional oleh orang Indonesia sendiri.

Sebagian besar barang-barang di toko Kissy untuk anak-anak dan barang-barang untuk orang dewasa, wanita terutama, seperti tas, selendang dan perhiasan. Produk yang paling top dari Pretty Batik Boutique adalah tu-tu batik untuk anak perempuan. Imut – imut sekali!!

Coba deh tengok toko Kissy di facebook, siapa tahu ada yang naksir atau memberi ide untuk pembaca!

Hidup Indonesia!

O iya, jangan lupa dukung usaha batik Jeng Kissy dengan menengok halaman Pretty Batik Boutique di facebook dan memberi jempol!!

Kenalan berikutnya : Usaha Fotografi oleh Jeng Valerie. Di tunggu yaaaaaa!!

Contohlah Amerika dalam hal..

Waktu tinggal di Jakarta, Saya ingat betapa Saya kewalahan setiap Saya beres- beres ruangan, bingung mau dikemanakan ini barang-barang yang Saya sudah bosan pakai, kesempitan, tidak perlu lagi dll.

Begitu pula waktu Saya bersiap-siap pindah ke Amerika di tahun 2005, banyak sekali barang-barang Saya yang masih bagus, tapi tidak bisa Saya bawa ke Amrik.

Saat itu kebetulan Saya punya kenalan yang bekerja sebagai sukarelawan di panti asuhan, dia bisa terima limpahan barang-barang Saya untuk kemudian dia bagi-bagikan ke tempat dia bekerja.

Tapi sebagian besar barang-barang tersebut berakhir di tempat sampah. 😦

Nelongso juga kalau di-ingat-ingat, bukan karena rakus, tapi karena merasa menyia-nyiakan barang dan tidak bisa memanfaatkannya lagi.

Hal yang sama bisa dialami sewaktu pindahan rumah, atau semata-mata ingin membeli perabot baru sementara perabot lama masih berfungsi.

Di Amerika, masalah seperti itu boleh dibilang mudah solusinya.

– Yang paling mudah, gelar jualan di garasi atau garage sale istilah bulenya. Bermodal stiker, spidol, uang kembalian, Anda bisa jual barang-barang Anda di halaman rumah. Uang masuk kantong sendiri, tidak perlau bayar komisi dll

– Kalau punya banyak waktu, buat akun di craiglist atau ebay , daftarkan barang-barang, beri harga dan siap dijual.

– Kalau tidak punya waktu dan tidak berminat mendapat uang tambahan,  tinggal sumbangkan ke toko-toko barang bekas seperti Salvation Army, Goodwill, Habitat for Humanity Restore. 

Dari baju, sepatu, alat-alat rumah tangga. pernak-pernik hingga mobil bisa anda sumbangkan di 2 tempat ini. Dan besar sumbangan Anda bisa digunakan untuk pemotongan pajak saat Anda mengisi pajak tahun berikutnya .

– Kalau Anda pikir barang-barang Anda masih ada ‘harganya’ dan layak jual, Anda bisa cari toko konsinyasi (consignment store) dimana Anda bisa mendapat porsi uang dari barang yang Anda titip jual di toko tersebut.

Tipe konsinyasi ada 2, yang sepanjang tahun atau yang musiman. Yang sepanjang tahun biasanya berwujud toko atau kios, sementara yang musiman wujudnya bisa berupa ‘farmers market’, pasar loak (flea market) atau bazaar musiman yang dikelola organisasi tertentu.

Tidak perlu malu atau sungkan untuk menjual atau menyumbangkan barang-barang di tempat ini.

Lebih baik barang-barang kita menjadi berguna untuk orang lain daripada dibuang jadi sampah tho?

O iya, Saya tidak tahu apakah toko-toko seperti ini ada di Indonesia, maklum sudah 7 tahunan tidak mudik.

Sebelum Saya hijrah, Saya tahu ada 1 toko barang bekas di Bandung yang menerapkan sistem konsinyasi, kalau tidak salah namanya Ba-be alias barang bekas.

Dan menurut Saya budaya menjual dan menyumbang barang seperti ini selayaknya kita contoh, tidak mubazir!

Sebelum migrasi ke Amerika, perlu bawa apa ya?

Tips ini terutama untuk teman-teman yang seperti Saya, yaitu yang notabene tidak pernah tinggal sendiri, tidak pernah ber-kos ria, tidak pernah masak, selalu wara wiri sendiri…

1. Siapkan ijazah universitas seakan-akan Anda mau sekolah lagi – supaya pas di negara baru, meskipun tadinya tidak terpikir mau kuliah lagi, tapi setidaknya kalau ternyata mau sekolah, semua sudah di siapkan. Bawa ijazah SMA juga.

2. Bekalilah koper dengan bumbu-bumbu khas Indonesia, meskipun bisa beli lewat belanja online, atau kalau dirimu beruntung bisa langsung beli di tempat baru, tidak ada salahnya buat bulan-bulan pertama

lengkuas

kunyit

gula jawa

asam jawa

kencur

cara membuat tempe atau tahun – terutama kalau dirimu senang makanan tersebut

kemiri

teh/kopi tubruk kalau suka

cobek – kalau dirimu hobi masak dan ngulek

3. Kalau Anda bisa menyetir mobil, usahakan bisa bersepeda, karena tidak semua kota di Amerika ada kendaraan umum dan anggaplah suami bukan tipe kelebihan uang, jadi belum langsung membelikan Anda mobil.

4. Kalau belum bisa menyetir mobil ya siap-siap belajar yak….lihat alasan di atas

5. Belajar masak kali ya?

6. Belajar kreatif : membuat hiasan, fotografi, nyulam, dll deh, siapa tahu loh bisa jadi sumber penambah uang jajan…

7. Kalau ada waktu sebelum berangkat ke Amerika, coba belajar : menjahit, montir mobil, pertukangan

8. Cek kota tempat Anda akan tinggal di Amerika, kalau akan tinggal di kota agak besar, coba deh cari sekolah/kursus lokal – community college istilahnya. Ambil kursus-kursus singkat untuk mengasah otak dan bekal di resume.

9. Setelah sampai, jangan lupa ajukan perubahan status, dari spouse visa menjadi permanent resident supaya bisa dapat ijin kerja, meskipun dirimu tidak terpikir untuk kerja

10. Kalau mampu, bilang suami untuk sisihkan uang untuk beli laptop untuk Anda sendiri, lalu pasang Skype deh, supaya bisa bertelponan dengan keluarga di Indonesia murah (asumsi Anda tipe pengirit seperti Saya)

11. Bagaimana cari teman sesama Indonesia? Ngidam makanan Indonesia? coba ke facebook, lalu cari grup Selera Indonesia Food

12. SELAMAT DATANG DI AMERIKA!

Kenapa sih Amerika?

Buat Saya jawabannya ya sederhana : Karena suami kebetulan orang Amerika yang tinggal di Amerika.

Jadi intinya kata ‘Amerika’ bisa diganti dengan kewarganegaraan dan negara manapun.

Terus terang Saya bukan ‘pengagum’ bule (baca : demennya sama bule). Mau bule mau pribumi ya sama-sama manusia:ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang ganteng, ada yang kurang ganteng, ada yang keren, ada yang penuh pesona, ada yang membuat hati deg-degan, ada yang  membuat kita mau kabur…

Saya juga bukan pengagum negara Amerika dalam arti Saya tidak menganggap semua yang ala Amerika itu selalu lebih baik, lebih okeh.

Saya sekarang di Amerika bukan karena Saya kabur dari keluarga di Indonesia atau bukan karena merasa di Indonesia hidup Saya sengsara dan merasa harus memperbaiki diri di luar negeri.

Sewaktu di Jakarta, Alhamdulillah Saya punya pekerjaan yang cukup bagus, 1 minggu sebelum berangkat Saya ditawari menjadi Manager di salah satu konsultan properti yang terpaksa Saya tolak karena Saya harus hijrah ke Amerika.

Sekarang Saya tinggal disini, Saya tidak merasa jadi lebih ‘tinggi’ dari teman-teman di Indonesia. Amerika sudah menjadi negara kedua Saya, dan hingga kini Saya masih berkewarganegaraan Indonesia.

Kalau ada yang tanya, ada rencana balik?

Terus terang menurut Saya pertanyaan itu agak-agak ‘aneh’, karena terus terang hal itu bukan ‘pilihan’ saat ini. Kenapa? karena keluarga Saya, yaitu, suami dan anak, mereka dua-duanya warga negara Amerika, dan inilah tempat tinggal kami.

Dari segi praktisnya, lebih mudah untuk Saya berganti kewarganegaraan daripada Saya harus menjadi sponsor suami dan anak di Indonesia, atau Suami harus mencari kerja di Indonesia.

Sewaktu Saya menikah dengan suami Saya, Saya mengerti konsekuensi pilihan Saya, walaupun jujur, berat rasanya jauh dari keluarga, dan suka nangis sendiri karena tidak ada dukungan dari kerabat di saat-saat susah, tapi semua harus Saya telan bulat-bulat, karena ini adalah bagian dari hidup Saya sekarang……

Katanya tinggal di Amerika, koq blognya bahasa Indonesia?

Hi..hi..hi.

Salah satu teman SMP di halaman Facebook Saya sempat protes kenapa koq Saya selalu menulis status dalam bahasa Inggris. Istilahnya ‘duh si Mpok kebule-bulean banget seh??’

Apa benar ya si Dayang sekarang sudah kebule-bulean?

Sibuk berbahasa Inggris, karena tinggal di Amerika dan sudah berbaur, beradaptasi menjadi ‘bule’ juga?

Alhamdulillah Saya dibesarkan oleh orang tua yang cukup ‘keras’ dalam masalah mencintai negeri dan budaya sendiri.

Alasan Saya berbahasa Inggris di halaman facebook adalah karena ada teman-teman (termasuk Suami) yang hanya bisa berbahasa Inggris dan Saya ingin mereka bisa membaca tulisan Saya.

Sebetulnya Saya termasuk orang yang ‘gemas’ kalau membaca tulisan rekan-rekan Indonesia yang campur aduk tidak karu-karuan , antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa memakai aturan menulis (yaitu menggunakan huruf miring untuk istilah asing yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) yang benar.

Contoh : Kemarin kami pergi ke zoo, tidak lupa pakai sepatu sports, karena akan waiting for bus.

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….

Apa benar ya berbahasa Indonesia itu susah? tidak keren? tidak populer?

Jadilah blog Saya ini dibuat hampir sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia yang meskipun tidak terlalu baku, tapi tetap berpedoman pada EYD yang Saya masih ingat dari jaman sekolah dulu.

Menulis dengan bahasa Indonesia itu asik dan enak dibaca juga koq! (benar tidak?!)

Bertemu teman-teman dari Indonesia…….

Salah satu harapan dan kebahagiaan ‘pengungsi’ Indonesia di luar negeri adalah bertemu teman-teman sesama dari Indonesia.

Ya pastilah.

Senang dapat teman senasib.

Senang bisa ngerumpi dalam bahasa Indonesia dari A sampai Z, tidak perlu mikir tata bahasa, lidah tidak perlu melintir-melintir berbahasa Inggris.

Senang bisa bernostagia, meskipun dulu pas di Indonesia tidak pernah bertemu muka sama sekali.

Senang bisa makan masakan Indonesia gratis!! – ha-ha-ha..ini mah Saya banget!!! (maklum, tidak suka masak)

Senang bisa motret-motret, cengengesan seperti di tanah air.

Yet………….

Bisa kena gosip yang aneh-aneh. Hadweeeeeeeh!!!!!!!!

Contoh : Saya dan anak jalan-jalan di mal saat ada ‘summer clearance’ , ada banyak kegiatan, salah satunya lukisan di muka. Karena anak Saya ogah dilukis, jadilah Saya yang di lukis, pilih gambar kupu-kupu di pipi kanan, warna ungu.

Eh alah…ada salah satu anak Indonesia melihat Saya – mending negur, cuma lihat dari jauh- beberapa hari kemudian ada yang tanya ‘Day, kamu gak kenapa-napa kan? ada yang bilang kamu mukanya biru dipukul suami……’???!!!????!!!

Kalau salah ‘pergaulan’, bisa-bisa ‘kecemplung’ ke grup

‘Suamimu berapa gajinya?’ atau

‘ Kemarin Saya pergi ke toko ini, beli tas merek ini’,

‘Kasian deh si anu gak punya mobil’,

Eh, dia berobat ke klinik loh!,

‘Aku dong dibeliin mobil sama suamiku’

dan berbagai percakapan sekitar materi lainnya-

Wuih…belum lagi kalau tidak tahan, harus ikutan ‘bergengsi’ memakai barang-barang bermerek. (kan suaminya bule!!) wakakakak…………….