gaya hidup

Pindahan Oh Pindahan

Sewaktu saya tinggal di Jakarta, seingat saya, saya cuma pindah rumah  3 kali : dari daerah Pasar Minggu ke daerah Condet, lalu ke daerah Pancoran, terakhir ke daerah Cibubur , semuanya dalam kota dan tidak pernah rasanya heboh-heboh amat. Seingat saya, kami selalu dapat bantuan, ayah ibu tetap kerja seharian, tahu-tahu kita pindah ke tempat baru.

Yang jelas namanya hidup ya, pindahan kadang tidak bisa dihindari – idealnya ketemu rumah yang sreg, terus tinggal di situ sampai kakek nenek deh ….

Nah, waktu saya imigrasi ke Amerika, terus terang hal-hal seperti ini tidak terbayang sebelumnya, maklum, tidak terbiasa hidup sendiri, semua-muanya cuma tahu beres, karena selalu tinggal dengan ortu. Baru di Amerika ini saya ‘ngeh’ dan belajar tahu ini itu masalah pindahan. Sejak saya di Amerika tahun 2005 hingga 2014, saya sudah merasakan pindahan itu 5 kali, sementara suami ada kali 10 kali pindahan!

Pindahan pertama kali lumayan gampang, cuma pindah dari apartemen 2 kamar ke rumah yang notabene lebih luas. Barang-barang yang kita miliki tidak terlalu banyak dan cuma perlu sewa satu truk Uhaul ukuran sedang.

Suami sendiri yang nyetir truk, yang ngepakin barang-barang ya kita berdua saja, masalah angkut barang-barang, ada dua teman suami yang bantuin kita gotong mebel-mebel yang lumayan berat: dari apartemen ke truk, dari truk ke rumah.

Setelah pindahan ini, pikirnya ya sudah dong, kita bakalan menetap di sini sampai tahunan, tidak kepikiran mau pindah ke tempat lain.

Itu tahun 2006.

Ternyata keadaan tidak memungkinkan kami untuk menetap di rumah kami, di tahun 2010, suami dapat kerja di negara bagian lain, Ohio. Berhubung dia harus berada di Ohio secepatnya, jadi dia langsung berangkat dengan mobil satu-satunya kami dengan pakaian dan barang-barang keperluan rumah tangga seadanya.  Rencananya saya dan anak (waktu itu dia umur 4 tahun), akan menyusul belakangan dimana suami akan minta cuti untuk pulang ke Montana, bawa kami semua ke Ohio.

Tapi, saya, setelah pikir ini itu, ditambah bawaan diri yang memang agak-agak petualang dan pemberontak, saya nekat bilang ke suami kalau dia tidak usah pulang karena saya sendiri yang akan bawa truk ke Ohio.

Suami amat sangat tidak setuju, tapi dia tahu bininya ini keras kepala dan tidak mau dibilangin sampai dia kejeduk sendiri- akhirnya setuju dengan rencana saya.

Jadilah si Jeng sibuk mengatur rencana kepindahan ke Ohio sorangan dewe.  Cerita kepindahan ku bisa dibaca disini dan disini.
Nah, sejak pindah ke Ohio itu, kami boleh dibilang ‘hobi’ pindahan, baik pindahan antar negara bagian maupun pindahan dalam kota, asli keblenger!!!

Tapi ya mau gimana lagi, kadang kita harus pindah karena pekerjaan, jadi ya lakoni aja.

Dari pengalaman ‘jutaan’ pindahan itu, jadilah di blog ini, saya mau berbagi tips pindahan untuk teman-teman:

Pertama : pilih perusahaan truk yang akan di sewa.

Yang beken di sini itu Uhaul, salah satu perbedaan truk Uhaul dengan truk-truk dari perusahaan lain adalah dek Uhaul lebih rendah, jadi memang agak lebih mudah untuk wara-wiri ke/dari truk.  Tapi Uhaul jauuuuuuuuuuuuh lebih mahal dibanding merek lain.  Berhubung saya orangnya agak-agak pelit, saya pilih truk dari BudgetSelain harga dasar lebih murah, selalu ada diskon untuk sewa dari Budget. Saya dapat kupon 20% , jadi untuk sewa truk saja, bedanya bisa $200 dibanding ambil dari Uhaul.

Masalah ukuran truk, baik Uhaul maupun Budget punya pilihan ukuran yang relatif sama. Harga truk akan tergantung dari ukuran yang dipilih, berapa lama truk akan disewa. Bensin dan resiko kecelakaan harus ditanggung sendiri.

Karena ukuran keluarga kami (& jumlah barang yang kami miliki), biasanya kami harus menyewa truk ukuran 16 kaki dan waktu yang kami ambil untuk pindahan antar negara bagian itu minimal 10 hari (berapa hari di perjalanan, berapa hari istirahat sebelum bisa bongkar truk di tempat baru). Selama pindahan kami (4 kali), rata-rata pengeluaran untuk sewa truk ini tidak kurang dari $1,000.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA Truk pindahan ukuran 16 kaki,muat 3 penumpang

Kedua : beli kotak-kotak penyimpan barang.

Ini bisa di beli dari Home Depot ,Lowe’s,dari perusahaan truk sendiri (untuk kotak-kotak baru) atau Craiglist, atau dari tempat kerja untuk kotak-kotak bekas. Pertama pindahan ini, saya coba ngirit dengan ambil kotak-kotak bekas dari tempat saya kerja. Memang gratis, cumaaaaaaaaaaaaa, waktu penempatan di truk, ini bisa jadi masalah.

Kenapa gitu? karena ukuran kotak tidak seragam dan lebih sulit untuk menumpuk kotak-kotak dengan stabil.  Dan juga seringkali kotak-kotak bekas ini sudah terlalu beat-up, jadi resiko jebol lebih besar.

Kotak-kotak yang dijual di Home Depot atau Lowe ini, biasanya ada beberapa ukuran : kecil, sedang, besar, super besar dan khusus untuk pakaian.

Kotak kecil akan paling banyak di gunakan, terutama untuk mengepak barang-barang berat seperti : buku-buku, peralatan tukang, barang-barang pecah belah.

Secara pribadi saya tidak rekomendasi kotak ukuran besar, kecuali untuk simpan bantal, guling atau boneka-boneka. Karena tho meskipun ukurannya besar, kita tidak bisa memuati terlalu banyak, karena resiko jebol.

Pindahan terakhir kami menggunakan tidak kurang dari 100 kotak. (banyak!!!)

packingprogress-001 Lihat lemari kosong, lega rasanya!
newapart20141 tumpukan kotak-kotak siap diangkut! Truk siap di bongkar!

Ketiga : cari bantuan untuk mengangkut barang-barang

Kalau pindahan pertama dan kedua kita cukup angkat telpon dan minta bantuan teman-teman, pindahan berikutnya kita tidak bisa melakukan hal yang sama. Pertama karena suami orangnya risih minta tolong ke orang (gratisan), kedua, suami tidak di lokasi, saya boleh dibilang tidak ada teman laki-laki.

Waktu pindahan dari Ohio ke Montana, saya pilih perusahaan Mergenthaler – layanan yang saya pilih benar-benar cuma bantu angkut barang-barang besar dari rumah ke truk.

Untuk memilih ‘layanan kuli angkut’ ini boleh dibilang yang paling rumit dan tidak murah!

Perusahaan-perusahaan seperti Margenthaler ini banyak jenisnya di Amerika. dan layanan servis mereka beragam : dari mulai layanan penuh : pengepakan barang, pengangkutan, pembongkaran, pemindahan atau bisa pilih satu layanan tertentu saja.

Yang membuat rumit itu karena masing-masing perusahaan punya kebijakan sendiri yang membuat harga bisa beda.

Secara umum pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka ajukan adalah :

  • jenis barang-barang yang akan diangkut – jadi kita harus memberi tahu mereka satu per satu barang-barang yang akan mereka angkut : berapa banyak kotak, mebel apa saja, tempat tidur ukuran apa, dsb
  • berapa jauh mereka harus transpor barang-barang kita (kalau memang kita mau mereka untuk transpor barang-barang kita)
  • apakah ada barang-barang yang unik : piano, kotak penyimpan barang berharga ukuran besar
  • berapa besar asal properti kita dan berapa besar properti baru kita – dan tipenya : rumah atau apartmen
  • apakah ada barang-barang lain yang harus diangkut yang tidak berada di lokasi yang sama

Waktu pindahan kedua kami di Kentucky, saya telpon 3 perusahaan jasa angkut barang. Dua dari tiga perusahaan ini selain saya tahu dari melihat di jalan, saya juga tahu mereka karena mereka klien di tempat saya kerja .

Pilihan saya waktu itu Two Men and a Truck, Margaret Moving dan Edward Neutz Sons & Daughters.

Yang satu bertanya sangat detail mengenai kepindahan kami : apartemen awal kami di lantai berapa dan apartemen tujuan di lantai berapa, konon ini membuat perbedaan harga yang signifikan untuk mereka. Ada juga yang mengenakan biaya transportasi lebih dari 1 jam.

Semuanya memang tergantung dari ‘sreg’ atau tidaknya kita ya. Intinya harga layanan ini berdasarkan jumlah orang-orang yang mereka kirim dan berapa lama mereka bekerja.

Yang jelas, saya belajar dari pengalaman bongkar barang-barang waktu pindahan dari Montana ke Kentucky, saya tidak lagi pilih perusahaan abal-abal alias bukan franchise, bukan kenapa-kenapa, karena saya perhatikan mereka cuma bermodal otot, tapi tidak ada strategi, yang ada waktu pembongkaran bisa jadi lebih lama, meskipun awalnya mereka kenakan harga relatif lebih murah per jamnya, yang ada saya jadi BT.

Pindahan dari Bozeman ke Cleveland, kita pakai 3 orang , 1 orang membungkus mebel-mebel sebelum diangkut, yang 2 memindahkan barang-barang dari rumah ke truk. Seingat saya mereka selesai dalam waktu 3-4 jam.

Untuk pindahan di Kentucky, berhubung ukuran rumah dan jumlah barang-barang berkembang, perusahaan yang kami pilih : Two Men and a Truck mengirim 3 + 1 orang untuk membantu kepindahan kami.

Terus terang saya cukup puas dengan pilihan kami, meskipun secara teknis ada 4 orang yang membantu , kami hanya di kenakan biaya untuk 3 orang. Kerja mereka juga lumayan efisien dan santun. Mereka datang jam 8.30-an, selesai mengangkut barang-barang kami dari apartemen lama jam 12-an. Total biaya yang kami harus bayar itu $910 (berikut tip untuk 4 orang)

Keempat : tetapkan waktu pindahan

Karena itu akan berefek ke harga sewa truk dan harga jasa kuli! Sabtu dan Minggu harga bantuan angkut bisa $30-$50 lebih mahal dibanding hari biasa.

Kadang karena jadwal kerja, kita mau tidak mau harus pilih akhir pekan, kalau memang ini jadi pilihan ya siap-siap buka kantong lebih dalam..;-)

Kelima : beli peralatan tambahan.

Hah? apaan tuh?

Setelah 5 kali pindahan saya lumayan paham akan pentingnya pernak-pernik tambahan yang diperlukan :

  • Dolly atau dongkrak angkut – meskipun waktu kita sewa truk, sebagian besar perusahaan menyediakan dolly di truk ybs, tidak ada salahnya kalau kita juga punya Kenapa gitu? dengan punya dolly sendiri, ini memudahkan kita memindahkan kotak-kotak dari ruang-ruang ke satu ruang tertentu yang nantinya akan memudahkan pengangkutan akhir ke truk. (lebih efisien)
  • Tali : bisa tali rafia, bisa tali tambang biasa, bisa tali elastis (bungee) : gunanya untuk membuat jala laba-laba di dalam truk, supaya dalam pengangkutan, kotak-kotak yang sudah tersusun di dalam truk tidak goyang ke sana ke mari .
  • Penahan pintu : ya menahan pintu supaya selalu terbuka, jadi tidak repot harus bolak balik buka tutup pintu selama pengangkutan barang-barang dari truk ke rumah dan sebaliknya.
  • Padding – seperti juga dolly, padding biasanya disediakan dari perusahaan truk, tapi jumlahnya terbatas – terutama kalau kita tidak menyewa jasa kuli. Jadi tidak ada salahnya untuk sedia tambahan – padding ini bisa berupa selimut atau bantal lama yang sudah tidak terpakai lagi.

Tips-tips lain yang kali berguna :

  • Ruang pengemudi dan penumpang relatif sempit, isi dengan minuman dan makanan kecil untuk perjalanan, dan koper ukuran sedang yang muat di taruh dibagian kaki penumpang di paling pinggir, untuk ganti di perjalanan atau ganti di hari-hari awal di tempat baru
  • Pakai pakaian yang tidak nyesal kalau sobek atau kotor selama di perjalanan, maklum akan banyak berhenti dan atau angkut ini itu
  • Gunakan sprei lama untuk melindungi kasur dari kotor selama di truk/pengangkutan- jadi biarpun si sprei ini sobek misalnya dalam perjalanan, kita rela untuk membuang.
  • Kalau mau nyetir truk sendiri, jangan lupa lengkapi penumpang dengan DVD player supaya tidak bosan
  • Isi gas waktu penunjuk gas tidak kurang dari 1/4 kapasitas – terutama kalau pindah antar negara bagian, karena pompa bensin tidak selalu berdekatan di Interstate.
  • Hindari mundur – terutama kalau nyetir truk besar
  • Kumpulkan kotak-kotak yang sudah rapi di satu tempat tertentu – ini akan menghemat waktu pengangkutan dari apartemen/rumah ke truk
  • Jangan sungkan sumbangkan barang-barang yang tidak pernah terpakai lagi, aturannya kalau kita sudah tidak pernah pakai barang yang bersangkutan selama 1 tahun , ya wis sumbangkan saja, daripada menuh-menuhin truk.  Lokasi sumbangan bisa ke Goodwill, Salvation Army, toko-toko barang bekas lainnya. Kalau buat buku-buku, bisa dijual lagi di toko buku Half Price Book Store, lumayan dapat uang beli kopi
  • Beli satu kotak plastik ukuran sedang yang disini barang-barang kepeluan selama hari-hari pertama di tempat baru : sabun, sampo, sisir, barang-barang pribadi lainnya yang bisa dipakai sekeluarga, piring, gelas kertas, sendok, garpu plastik, pisau, talenan, makanan kaleng, pembuka kaleng, 2 gulung paper towel, 3 gulung toilet paper. Simpan kotak ini paling dekat dengan bukaan di truk, jadi mudah diambil dimana perlu.

Hah. Heboh ya?  Banget! dan yang pasti, pindahan itu selain menguras tenaga juge menguras kantong, karena tidak pernah murah (kecuali ada yang bayarin ya). Dan meskipun kami sudah pindahan berkali-kali, tetap saja stres waktu kami harus melakukannya lagi.

Yah wis, sampai disini dulu cerita dari saya,  mudah-mudahan cerita saya kali ini bisa membantu teman-teman yang mau pindahan….

blog4-002

Ulang Tahun Belle of Louisville ke 100

Kali ini tulisan saya mau cerita tentang atraksi lokal di kota Louisville.

Salah satu atraksi turis di kota Louisville itu adalah kapal uap bernama Belle of Louisville yang berlayar di sungai Ohio di tepi kota Louisville.

Bulan Oktober 2014, bulan spesial buat kapal uap Belle of Louisville, Belle berumur 100 tahun di bulan ini. Untuk ulang tahun Belle ke 100, kota Louisville mengadakan festival untuk merayakan hari jadi Belle selama 6 hari sejak tanggal 14 Oktober 2014 hingga hari Minggu, tanggal 19 Oktober 2014.

100yearsbelle

Meskipun kami sudah tinggal di Louisville selama 2 tahun lebih, antara cuaca, cari waktu luang (karena saya kadang kerja di akhir pekan) dan anggaran rumah tangga,  keluarga kami sendiri belum sempat naik Belle. Maklum, untuk ukuran keluarga kami, harga tiket hari biasa itu lumayan tidak murah, $24 per orang dewasa untuk berlayar (tanpa makanan), kalau kita mau makan di kapal, harga tiket menjadi $ 34 per orang dewasa. (untuk informasi tiket bisa dilihat di situs ini)

Sedangkan untuk festival kali ini, harga tiket per orang bervariasi dari $41 (tiket di pagi hari, termasuk sarapan) hingga $77 (tiket di malam hari, termasuk makan malam). Kalau kita mau beli tiket untuk 3 orang, waduh lumayan tekor ya kantong ini…he….he….he..

Nah, meskipun belum mampu berlayar dengan Belle, hari ini kita putuskan buat melihat festival perayaan ulang tahun ke 100 si Belle. Maklum hari terakhir, dan kalau menunggu 100 tahun lagi, belum tentu kita ada umur lah!

Jadilah setelah pulang saya pulang kerja, kita langsung menuju pusat kota (downtown) Louisville, dimana Belle berlabuh. Selain Belle, ada 4 kapal uap lainnya yang juga berlabuh disini, sebagai tamu si Belle : Spirit of Jefferson, dan River Queen dan dua kapal uap lagi dari negara bagian lain : , Belle of Cincinnati, Ohio,  Spirit of Peoria dari negara bagian Illinois.

Collages18

Seru juga, karena selain melihat-lihat kapal-kapal uap ini, pengunjung bisa menikmati musik dan makanan dari pengusaha lokal, dari mulai pop corn, funnell cake, corn dog, gyro, bourbon, pancake Meksiko semua ada disini.

Ini beberapa foto dari festival 100 tahun Belle of Louisville.

Selamat Ulang Tahun Belle! Semoga dirimu terus berlayar!!

100yearsbelle2-001

School Supplies Nightmare!!!

Terpaksa judulnya harus berbahasa Inggris, karena kalau di Indonesiakan kurang greget rasanya. 

Setiap tahun ajaran baru dimulai itu, salah satu kesibukan para orang tua yang memiliki anak usia sekolah adalah mengecek daftar keperluan sekolah si anak alias school supplies. Daftarnya sih biasa ya, pensil, buku, penghapus, crayon, spidol dan seterusnya.

Tahun pertama anak sekolah, Saya masih nurut-nurut saja dengan daftar ini. Lama-kelamaan, setelah ngobrol sana sini dengan sesama orang tua, mulai hati bertanya-tanya.

Pertama, dari tahun ke tahun daftar ini makin lama makin panjang dan tidak murah! Dari mulai pensil sampai kantong ziploc. Anak Saya cuma satu, bayangkan orang tua yang punya anak lebih dari satu.

Kedua, setelah Saya perhatikan, tidak setiap guru efisien menggunakan perlengkapan sekolah ini selama tahun berjalan.

Contohnya ya anak Saya sendiri. Waktu dia kelas 1, semua pekerjaan rumah, aktivitas dia di sekolah menggunakan perlengkapan yang kita beli di awal tahun ajaran, dan diakhir tahun ajaran, si guru mengembalikan perlengkapan sekolah yang tidak terpakai ke si anak. 

Tapi waktu dia di kelas 2, wis Saya bingung. Si anak tidak pernah pakai buku ataupun perlengkapan lain yang sudah dibelikan dari awal, 

Kemana larinya itu 20 jenis perlengkapan sekolah yang kita beli di awal tahun? 

Ketiga apa harus gitu kita selalu membeli barang baru buat perlengkapan sekolah? crayon contohnya. Halah. Aku ada se-ember penuh crayon yang masih bisa dipakai. Spidol juga sami mawon. Pensil? memang beberapa pensil sudah lebih pendek ya, tapi kan masih bisa dipakai dong? Tempat pensil, dari 2 tahun lalu masih utuh deh.  Mbuh.

Akhirnya tahun ketiga ini, Saya pura-pura ‘bego’ tidak lagi buru-buru ngacir ke toko untuk membeli perlengkapan sekolah. Obrak-abrik dulu apa yang kita punya di rumah, baru setelah itu kami akan beli yang memang kita tidak miliki untuk si anak. 

DSCN4405[1]Dan juga setelah Saya amat-amati, setiap tahun ada jenis perlengkapan yang selalu diminta (pensil, map, binder), yang ada Saya tunggu setelah masa awal tahun ajaran lewat, baru deh Saya beli, karena harganya di potong, alias lebih murah….tho tahun depan bakal di minta lagi….

Tapi ya terus terang, masalah perlengkapan sekolah ini adalah salah satu ‘kebingungan’ Saya dengan sistem sekolah di Amrik. Buat Saya terlalu konsumtif dan tidak efisien, tapi apa boleh buat…kadang kita kudu tunduk dengan aturan…

Salah Kaprah Tentang Amerika : Masyarakat Berpendidikan Tinggi & Berwawasan Luas

Di Jakarta, rekan-rekan kerja Saya itu rata-rata lulusan Universitas. Sarjana S1 lah istilahnya. Dari universitas beken pula. UI, ITB, Trisakti, Pelita Harapan, Pancasila, Pajajaran, Parahyangan, dan seterusnya. Selain universitas lokal, tidak sedikit rekan-rekan kerja yang lulusan universitas luar negeri. Saya juga tahu banyak teman-teman kuliah yang melanjutkan sekolah, untuk mendapat gelar Master. Pokoknya educated lah.

Entah darimana Saya dapatkan pola pikiran Saya, yang jelas di pikiran Saya itu orang-orang Amerika pastilah semua kuliahan. Katanya kan negara adikuasa, bisa ke bulan, polisi dunia; apa-apa kita ‘bercermin’ ke Amerika. Harusnya mereka pintar-pintar dong.

Kebetulan memang Suami Saya yang notabene orang Amerika itu termasuk nerd lah. Kacamata tebal, hobi membaca buku matematik di kamar mandi, dan kalau ditanya soal kimia-biologi, langsung nyerocos sampai membuat Saya ngantuk.

Jadilah waktu Saya hijrah ke Amrik, persepsi Saya itu orang Amerika pintar-pintar, tahu segalanya.

Kenyataannya?

Seperti layaknya Indonesia, orang-orang Amerika ada yang pinter, ada yang bego, ada yang bergelar doktor, ada yang jebolan SMA. Di kota kecil seperti Bozeman, Montana, rekan-rekan kerja Saya rata-rata jebolan SMA. Dan tidak seperti yang Saya asumsikan, mereka tidak ada niat untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, malah cenderung mereka merasa tidak perlu untuk berpendidikan tinggi meskipun di Bozeman ada MSU alias Montana State University.

Saya sempat bingung sendiri, karena mereka ‘bingung’ waktu mengetahui kalau Saya lulusan universitas. Lebih bingung lagi, waktu mendengar pertanyaan ‘Kamu koq bisa berbahasa Inggris?’ (emm…belajar di sekolah kan??!!) atau waktu teman dekat suami bilang ‘Indonesia itu India kan ya?’

Pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar ‘aneh’ lebih banyak lagi di lontarkan terutama waktu mereka tahu kalau Saya tidak merayakan hari Natal.

OMG. Kamu tidak bernatalan? Tidak membelikan hadiah untuk anak kamu (di hari Natal)??

Kamu harus berdoa lagi?  Kamu tidak makan dan minum seharian??

Islam? Apaan tuh?

Cuma sedikit sekali rekan-rekan yang tahu mengenai keberadaan agama lain (Islam tepatnya), sebagian besar cuma melongo.

Lho…apa mereka tidak mendengerkan stasiun berita mereka sendiri ya? FOX gitu? membaca buku? majalah? berita di internet?

Piye?

Baru perlahan-lahan Saya menyadari kalau asumsi Saya tentang orang-orang Amerika adalah salah. Untuk mereka-mereka yang tinggal di kota besar dan lebih beragam penduduknya, penduduk lokal terbiasa terekspos dengan keragamana, ketidakseragaman. Tapi di kota-kota kecil, ya sama seperti di Indonesia, agak-agak ‘kacamata kuda’, terbatas pengetahuan dan wawasan.

Bersyukurlah Saya waktu kecil sudah membaca buku-buku Ramayana, Mahabarata, Tom Sawyer, Moby Dick, Tintin, Lima Sekawan dll. Nonton Unyil, Little House on the Prairie, Sin Tia Eng Hiong, Sin Tiaw Hiap Lu. Belajar tentang Kristen, Buda, Hindu dan sejak kecil sudah sadar kalau tiap orang bisa berbeda keyakinan.

Jadi teman-teman, tidak usah tidak berkecil hati karena tidak berjiwa ala Amerika.

Kita tidak kalah pendidikan dan wawasan koq. Yang penting hayo belajar terus!!!

 

Fasilitas Kerja : Indonesia vs. Amerika

Ha. Enak Indonesia kemana-mana! Di Indonesia selalu ada supir kantor yang siap membawa pegawai ke mana saja. Hampir semua pekerja kantoran di Jakarta, Indonesia ya pekerja penuh waktu yang artinya ada asuransi kesehatan yang dibayar kantor, semua pekerja bergaji bulanan (plus bonus). Makan siang mau berapa jam juga cuek, wong dibayar koq. Sakit? koq bingung ya istirahat di rumah, gaji tidak akan berkurang koq.

Hamil? tenang. Cuti melahirkan 3 bulan – gaji tetap mengalir. Setelah bekerja 1 tahun penuh, dijamin mendapat jatah liburan, 12 hari setahun dibayar.

Di Indonesia dunia Saya itu dunia pekerja kantoran. Jam 9 pagi hingga 5 petang. Saya selalu bekerja penuh waktu, hampir tidak pernah tahu yang namanya kerja paruh waktu – kecuali Ibu Saya sendiri yang bekerja 2 pekerjaan dan salah satunya adalah kerja paruh waktu.

Baru di Amerika Saya kenal dengan yang namanya pekerja jam-jaman. Yang hanya dibayar berdasarkan lamanya kita bekerja dikurangi makan siang. Yang hanya dibayar kalau kita bekerja, kalau kita absen bekerja karena alasan apapun, ya hilanglah penghasilan hari itu.

Waktu Saya kerja pertama kali, Saya agak-agak bingung waktu tahu kalau jatah makan siang 1 jam dan itu tidak dibayar. Heh? serius??

Kalau kita bekerja penuh 8 jam sehari, kita dapat 2, 15 menit istirahat yang dibayar. Dan untuk beberapa jenis pekerjaan, hal ini termasuk kemewahan, karena tidak selalu pekerja mendapat istirahat.

Di Amerika akhir-akhir ini sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan-perusahaan besar sibuk mengurangi biaya kepegawaian mereka. Salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah tidak lagi mempekerjakan pegawai penuh waktu.

Kenapa? Karena pekerja penuh waktu itu = asuransi kesehatan harus ada, ada fasilitas hari sakit, ada fasilitas cuti hamil yang semuanya harus dibayar oleh perusahaan.

Terus terang baru kali ini Saya bekerja paruh waktu mendapat fasilitas asuransi kesehatan dan mendapat fasilitas libur dibayar. Sebelumnya sebagai pekeja paruh waktu Saya harus cukup puas dengan upah jam-jaman.

Kadang kalau kita tidak mengalami sendiri tidak terbayang ‘apa sih bedanya mendapat paid sick days atau paid holidays? Why it’s such a big deal?

It is a big deal.(well, for our family at least)

Contohnya waktu suami tergelincir di es dan harus dioperasi lutut, saat itu hanya dia yang bekerja. Setelah operasi dia harus tinggal di rumah selama seminggu. Untungya suami pekerja penuh waktu. Jadi kita tidak perlu bingung karena gaji dia tetap akan dibayar penuh oleh perusahaan meskipun dia sakit.

Atau waktu si kecil liburan musim semi. Ongkos camp itu $120 per minggunya, kalau Saya cuma ‘tidak bekerja’ berarti Saya kehilangan kira-kira $200++.Artinya meskipun Saya tidak bayar $120, tapi Saya kehilangan $200++ alias masih ‘bolong’ $180++.

Nah Saya dapat cuti dibayar, berarti Saya irit $120 dan tidak harus pusing mikir minggu ini tidak dapat bayaran.

Maunya sih ya, Saya dan suami dua-duanya dapat kerja yang mendapat fasilitas penuh….

Insha ALLAH some day….

enjoy-the-little-things-for-one-day-you-may-look-back-and-realize-they-were-the-big-things-15

Untuk Apa Sekolah?

Tiga tahun pertama Saya tinggal di Amerika, terus terang Saya terlena. Suami kerja berpenghasilan cukup untuk kami bertiga.  Tahun pertama Saya pindah, Saya langsung mendapat kerja ‘kantoran’. Gaji $9 per jam buat Saya sih cukup saja, tidak ada rasa perlu menambah wawasan.

Lalu kami sekeluarga pindah ke negara bagian lain.  Pikir Saya , sip, disini lebih banyak jenis pekerjaan, kota lebih besar, pastinya banyak dong lowongan pekerjaan dan Saya PD kalau Saya bisa dapat kerja ‘lebih baik’ dibanding pramuniaga toko.

Setelah settling down setelah pindahan, semangatlah Saya mengirim lamaran. Saya ogah lamar jadi pramuniaga lagi, kata Saya, masa sih jadi pramuniaga terus, ini kan di kota besar. Jadilah Saya lamar ke tempat lain. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Berlembar-lembar lamaran Saya kirim tidak ada SATUPUN yang nyangkut.  Mulailah Saya panik….. heh?

Setelah daftar lamaran Saya hampir satu halaman penuh, Saya mengalah, Saya putuskan untuk melamar kembali jadi pramuniaga di tempat yang sama.  Dipanggil untuk wawancara – senang nya! tapi……………….setelah itu NIL. Tidak ada kabar sama sekali??!!

Not even for holiday helpers???!!

Celingak celinguk Saya perhatikan teman-teman Indonesia yang punya pekerjaan bagus, mereka semua mengenyam pendidikan di Amerika.

Ah….pahitnya kenyataan. Barulah Saya menyadari kalau Saya tidak memiliki modal apapun. Tidak ada pendidikan Amerika.  Bahasa Inggris Saya pas-pasan, hanya bahasa Inggris percakapan sehari-hari, bukan bahasa Inggris akademik…………..

Dari kepindahan Saya ke Ohio, terbukalah mata Saya. Saya tidak bisa lagi mengandalkan suami semata-mata. Mengandalkan ‘keberuntungan’. Persaingan dalam mencari pekerjaan semakin ketat setiap tahunnya. 20 tahun yang lalu, berbekal ijazah SMA cukup untuk mendapat kerja, sekarang?

Sayangnya Saya melewatkan kesempatan bersekolah ketika di Ohio.  Nah setelah Saya pindah ke Kentucky, salah satu hal yang langsung Saya cari itu adalah keberadaan Community College ataupun kursus-kursus lainnya.

Untuk bekal di hari esok.

Susah senang hidup di Amerika

Terus terang Saya bukan tipe orang ‘berencana’ , Saya lebih ke tipe ‘Just do it!’ tidak mikir panjang lebar, tidak mikir tentang masa depan.

Saya juga bukan orang yang cerdas dalam bidang akademik, biasa-biasa saja. Di SMA termasuk 5 besar di kelas, tapi kalau dibanding Kakak Saya atau sepupu Saya, duh jauh lah….

Nah sewaktu menikah dan hijrah ke Amerika, terus terang tidak mikir nanti mau bekerja di mana? nanti di Amerika mau jadi apa dll. Cuma mikir senang punya Suami.

Kebetulan Suami waktu itu punya pekerjaan bagus, kita tinggal di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk lah. Kenapa juga harus repot mikir kerja?

Bulan-bulan pertama, karena bosan di rumah, Saya iseng-iseng jadi sitter, lalu setelah mendapat ijin kerja resmi, Saya coba lamar ke perusahaan jual beli Timeshare, langsung diterima. Di situ Saya bekerja selama 3 bulan , karena Saya ingin membesarkan si anak. Untungnya ya saat itu penghasilan suami cukup untuk kita bertiga. Dari hasil uang bekerja selama 3 bulan, bisa Saya tabung untuk beli tiket mudik.

Setelah anak berumur 1 tahun lebih, Saya mulai bosan di rumah melulu, Suami suruh Saya melamar kerja di salah satu department store karena sedang musim liburan mereka butuh banyak pekerja tambahan. Jadilah Saya lamar, dan Alhamdulillah diterima. Kerja di malam hari setelah suami pulang kantor, jadi anak tetap dijaga kita berdua.

Idealnya kondisi seperti ini berlangsung selamanya ya……..tapi seperti yang kita tahu nothing last forever. Di awal tahun 2009, suami pulang memberi kabar buruk, dia di pecat. Memang beberapa bulan sebelumnya dia sempat bercerita tentang perubahan manajemen di kantornya.  Tapi Saya tidak berpikir sampai seburuk ini lah.

Penghasilan utama hilang. Rumah kita masih dalam cicilan. Bagaimana membayar listrik? air? membeli makanan sehari-hari? Asuransi kesehatan hilang – karena Saya kerja paruh waktu dan tipe pekerjaan Saya tidak menyediakan fasilitas asuransi untuk sebagian besar pegawainya.

Runtuh rasanya dunia ini. Rasa takut dan panik menyelimuti pikiran Saya. Langsung hari itu juga Saya pergi menghadap ke bagian kepegawaian Saya. Alhamdulillah, ada rekan kerja yang mengundurkan diri, sehingga Saya bisa langsung ambil posisinya yang kebetulan penuh waktu. Resikonya Saya tidak bisa bersama anak Saya setiap hari. Tapi apa mau dikata, itu pilihan yang harus Saya ambil.

Masalah kedua, asuransi kesehatan, yang jelas, si kecil karena masih di bawah 5 tahun, HARUS ada asuransi, karena tiap tahunnya dia harus cek ke dokter. Buru-buru Saya lamar asuransi kesehata pemerintah untuk semua, tapi di atas kertas keluarga kami masih ‘tergolong tidak miskin’ untuk medicare karena kami masih memiliki rumah dan 1 mobil. Jadilah asuransi untuk Saya dan suami ditolak, tapi untungnya asuransi untuk anak, mereka punya batasan tersendiri, dan si anak masuk kategori layak mendapat asuransi dari pemerintah (CHIP) yang notabene akan membayar semua ongkos dokter si anak.

Minggu-minggu pertama terus terang berat sekali kita mengatur pengeluaran dibanding pemasukan yang tidak seberapa. Baru di minggu ketiga, kita bisa bernafas agak lega, karena suami sudah bisa mendapat unemployment insurance yang bisa dipakai untuk membayar cicilan rumah.

Suami tidak bisa langsung mendapat pekerjaan baru, karena di saat yang sama Amerika sedang dilanda resesi. Pengurangan pegawai, terjadi dimana-mana. Tempat kita tinggal itu sangat terbatas pilihan bekerja. Boleh dibilang cuma ada 2 tempat utama orang-orang disini bekerja, salah satunya ya tempat suami bekerja dulu.

Di bulan September, Saya masukkan anak ke HeadStart yang notabene program pra sekolah gratis untuk keluarga menengah bawah.

Saya bersyukur sekali akan adanya kedua program ini, Headstart dan Asuransi kesehatan untuk anak (CHIP). Paling tidak kami tidak perlu khawatir si kecil tertinggal pendidikannya dan kami tidak bingung dalam membayar ongkos dokter.

Dari pengalaman Saya ini, barulah Saya menyadari kalau Saya ‘HARUS’ bekerja, tidak bisa selamanya bergantung kepada Suami, tidak bisa bergantung pada sanak keluarga, teman-teman.

Bahwa hidup Saya disini tidak akan selalu indah, bertaburan uang, bergelimangan harta.

Kita dan telpon genggam

Hari gini, siapa sih yang tidak punya telpon selular, baik itu Iphone, Blackberry atau telpon canggih lainnya. Waktu Saya coba google untuk cari statistik pemakai telpon genggam, konon 91% penduduk Amrik memiliki telpon genggam. Di survey itu juga dinyatakan kalau sebagian besar penduduk sudah meninggalkan budaya telpon rumah. Memang benar kalau telpon genggam itu sudah menjadi budaya ‘harus punya’ buat sebagian besar orang.

Dimana-mana kita bisa lihat orang-orang sibuk wara wiri dengan telpon mereka, di antrian kopi, di lobi bank, di stasiun, di kamar mandi,  di toko, sambil jalan, sambil nyetir mobil!!, sambil makan di restoran, sambil kerja!! dan seterusnya……………..

telpon ibarat oksigen, tanpa telpon, ‘mati’ rasanya hidup di pemegang telpon.

Beberapa teman yang Saya kenal, bisa kebingungan tidak karuan kalau lupa membawa telpon. Pernah rekan kerja kelupaan bawa telpon, padahal hari itu kita cuma kerja 4 jam-an, halah, dia panik setengah mati, sampai2 dia telpon suaminya untuk datang ke tempat kerja membawa telpon dia. Ck..ck..ck..Saya sampai geleng-geleng kepala. Perasaan tempat kerja Saya bukan ruang darurat deh yang HARUS berkomunikasi setiap saat. Atau pebisnis yang super sibuk yang harus memantau klien setiap detik.

Saya pribadi bukan penggemar telpon genggam. Telpon genggam yang Saya miliki usianya lebih dari 2 tahun dan prabayar. Satu bulan Saya cukup bayar $15.00. Karena tipe telpon Saya yang jadul, ada rekan kerja yang meledeki Saya, telpon Amish katanya. Saya sih ketawa saja.

Saya butuh telpon genggam untuk berjaga-jaga, misalnya pas anak Saya kena diare di sekolah, pihak sekolah harus menelpon Saya, atau kalau Saya akan telat menjemput anak di tempat penitipan anak, atau suami akan telat pulang, dan mau memastikan Saya tidak menunggu2 dan sebagainya.

Sudah hampir 2 bulan telpon Saya entah dimana karena Saya lupa dimana Saya taruh. Saya tenang-tenang saja tuh. Hidup berjalan lancar, pekerjaan beres, ini dan itu tetap berlangsung tanpa ada hambatan berarti.

Terus terang juga rasa hormat Saya banyak pupus terhadap ‘pelakon telponku oksigenku’.

Kenapa? Sebagian besar tipe ini amat sangat terserap pikirannya terhadap telpon semata.

Lupa tata krama, sopan santun.

Berhadapan dengan sesama manusia menjadi tidak sepenting dengan memelototi telpon.

Keselamatan orang lain menjadi tidak sepenting mengirim text dikala mengendarai mobil.

Pelayanan terhadap konsumen bisa dinomor duakan karena harus balas pesan dulu di telpon.

Sebagai pekerja di bidang jasa, terus terang paling malas Saya menyapa pelanggan yang sibuk dengan telponnya. Buat apa gitu?Apakah karena Saya ‘kebetulan’ berada di sisi berbeda dengan mereka Saya patut diacuhkan? Saya kurang penting dibanding bermain dengan telpon?

Jujur deh, berapa dari kita sebetulnya benar-benar HARUS menggunakan telpon untuk hal-hal penting? bukan untuk foto-foto (baik selfie atau yang tidak puguh), bukan untuk kirim teks gak penting, bukan untuk main candy crush?, bukan untuk menjelajah status dan foto teman-teman di facebook, twitter dst?

Apa hal-hal tersebut di atas cukup dijadikan alasan kita untuk lupa tata krama? tidak peduli keselamatan orang lain?
lupa kalau berbincang dengan manusia di hadapan mata, fokuslah dengan dia bukan dengan telpon di genggaman?
lupa kalau ada hidup di dunia nyata, bukan dunia maya?

Adanya telpon canggih yang KONON bisa membuat hidup kita lebih mudah, bukan berarti kita harus menjadi orang yang lupa tata krama kan? Teknologi harusnya mengeratkan hubungan sesama manusia, bukan jadi mengasingkan sesama manusia.

Ah…Saya cuma bisa bersyukur karena hingga saat ini masih belum merasa perlu memiliki whatsapp ataupun pin BB atau ini dan itu lainnya. Kuno? ya tidak apa2, yang antik yang susah dicari dan mahal harganya kan? 😉

 

Pssst….jangan pernah beli barang harga penuh di Amrik!

Image

 

Aturan pertama belanja di Amrik:

Jangan pernah beli barang tanpa ada potongan!

Karena satu saat barang yang bersangkutan pasti akan ada promosi.

Tip belanja :

1. Di Macy – tunggu promosi ‘One Day Sale’ karena harga barang2 notabene paling rendah dan bisa kombinasi dengan kupon yang dikirim lewat pos

2. Banana Republic – paling tidak satu bulan sekali ada promosi extra potongan 40% untuk barang-barang yang sudah didiskon.  Sempat beli sepatu boots harga asli $225, cukup bayar $50, bahan material dari kulit.

3. JC Penney – daftar di program Rewards, dijamin dikirim kupon, maksimal 25%. Sering kali ada promosi gratis. Baru-baru ini dapat kupon gratis handuk (seharga $10), tidak nolak dong.

4. Stein Mart – daftar program Rewards, di email akan dapat extra potongan 20%-40% dari harga yang sudah didiskon. Koleksi sepatu Stein Mart boleh dibilang unik, tidak ada di toko lain, tapi jangan pernah beli kalau harga belum di diskon. Karena kalau tanpa diskon, ya harga jadi samimawon, mahal. Nemu sepatu merek EuroSofft yang notabene merek cukup bagus, seharga $25 – harga asli $60++

5.  TJ Maxx – harga pakaian boleh dibilang ‘biasa’ alias kita bisa temukan harga yang sama di departement store. Yang boleh dibilang miring di toko ini menurut Saya itu kosmetik dan pernak pernik perawatan tubuh. Kadang ada merek kosmetik beken seperti Estee Lauder, Shisedo, Elizabeth Arden dengan harga $10-$30 lebih murah. Contoh : Serum Idealist dari Estee Lauder, di situs harga minimal $62, di TJ Maxx cukup $32. Body Butter merek The Body Shop, harga termurah di toko asli $10 (promosi), disini cukup $4-$6.

Bule senang kulit coklat?

kik..kik…kik…hayo ingat kan dengan stereotype ini?

Benar atau tidak sih kalau bule itu senang sama yang keling-keling?

Ternyata……………….

Ada benarnya!!
Dan ini bukan cuma laki-laki kulit putih yang suka dengan perempuan berkulit coklat. Tapi perempuan kulit putih pun terobsesi untuk berkulit coklat.

Suami sendiri lebih senang kalau kulit Saya coklat. Di musim panas, waktu Saya kerjaannya berenang hampir tiap hari, ini kulit yang ada gosong, eh malah di sayang-sayang sama Suami.
Eksotis istilah kerennya.

Nah itu kalau laki-laki.

Kalau perempuan; Manager Saya di tempat kerja itu ternyata langganan ke salon tanning, dia sendiri mengakui kalau dia pengen banget punya kulit seperti SayaDan dia bukan kenalan pertama Saya yang Saya tahu keranjingan ber-tanning di salon.

Ada kenalan yang sejak usia 20 tahun sudah menjadikan tanning ritual setiap bulan.

Pernah Manager Saya (perempuan) celetuk ‘Laki-laki suka perempuan seperti kamu, terutama warna kulitmu’

Ha…ha…ha…
Saya pribadi sih senang-senang saja, tapi tidak jadi keranjingan mandi matahari atau mandi sinar ulta violet di salon. Karena ternyata setelah Saya perhatikan, mereka yang waktu mudanya pergi ke salon UV, koq kulitnya jadi terlihat tidak alami, ibarat tas kulit yang sudah lama dipakai (very beat-up old leather bag)…

Jadi bersyukurlah kalau punya  kulit eksotis…tidak perlu ke salon kan…;-)