Halo pembaca!
Coba tebak si Ibu FOMO (Fear Of Missing Out) ikutan apa lagi bulan Februari ini?
Latihan otak kali ini , saya ikutan kelas bikin gantungan pot macrame.
Kenapa pilih kelas ini?
Karena memang saya sendiri sudah punya beberapa gantungan pot macrame yang saya pajang di pojokan tenang saya saat musim dingin, saya memang suka dengan gantungan pot ini.
Nah, kenapa juga gak sekalian ‘tahu’ gimana sik proses membuatnya?
Jadi kelas ini diadakan di toko tanaman Mahonia yang juga baru pindah lokasi dari pusat kota ke bagian timur kota yang notabene lebih dekat dengan tempat tinggal saya.
Harga kelas ini $52 , rata-rata harga kelas2 seni disini memang berkisaran di harga segitu sik. Durasinya biasanya 2 jam an. Kebetulan juga jadwal kelasnya di hari Minggu, di mana saya libur, jadi seneng banget lah ada kegiatan asah otak.
Ada 4 peserta total dan satu pengarah. Si gantungan macrame digantung di struktur yang seperti rak jaket gitu, kreatif juga memakai gantungan jaket jadi buat kegiatan seperti ini.
Ada total 16 tali yang panjangnya kira-kira 2 meter ya. Pertama-tama kita ambil 4 tali, dan dari 4 tali ini kita mulai membuat knot, jumlah knot nya 10. Setelah selesai 10 knot, kita ambil 4 tali berikutnya, buat 10 knot sampai semua tali terangkai dengan jumlah yang sama.
Setelah itu, ambil jarak kira-kira 8 inci ke bawah, mulai rangkaian baru. Setelah selesai 4 rangkaian, ambil jarak 4 inci ke bawah lagi, kali ini cukup buat satu knot. Di sini kita akan membuat ruang untuk meletakkan pot yang bersangkutan.
Dari tali yang terikat dengan 1 knot tadi, kita lalu akan menyambung semua tali menjadi satu kesatuan, tidak lagi, terpisah empat bagian. Kita sambunglah tali yang satu ke samping ke tali lainnya, juga cukup dengan 1 knot.
Setelah selesai semua tali tersambung, instruktur melilit bagian bawah tali-tali, tandanya gantungan kita selesai!
Peserta juga di kasih satu pot keramik untuk gantungan ini.
Seru gak?
Saya sih senang ya. Pertama , karena saya gak pernah belajar macam-macam jenis ikatan (knot) , kedua ya karena saya punya rumah baru untuk tanaman saya di musim semi besok!
Selain mengasah otak dengan hal baru, saya juga mendapat barang yang pastinya akan saya pakai!




























Dari situ kami langsung menuju ke lokasi Natural Bridge. Pertama kita coba di trail di tempat parkiran dekat fasilitas kolam renang. Trail nya seru karena melewati jembatan goyang aka suspension bridge.Tapi setelah kami baca, trail ini agak-agak panjang, jadilah kita balik ke tempat parkir dan mulai hiking kita dari trail yang lokasinya dibelakang Hemlock Lodge.Di awal trail di tulisnya ini trail terpendek dan termudah.Kenyataannya…haduh..naik-naik ke puncak gunung deh! Mana lupa bawa tongkat jalan ! Tapi paling enggak, pemandangan sepanjang trail itu apik lah..
Pas sudah sampai di bawah jembatan alam..legaaaaaaaaaa rasanya! Puih!
Jadi trail ini akan membawa kita di bawah bentangan jembatan. Untuk berada di atas jembatan, kita harus melewati ‘gang’ sempit diantara batuan, lalu diteruskan dengan naik tangga dan gak terlalu banyak lah anak tangganya.And it is sooo worth it !Sampai di atas jembatan, rasanya sejuk, dan teduh melihat warna warni pepohonan di kejauhan.
Dari atas jembatan pengunjung bisa hiking ke beberapa trail lainnya untuk balik ke parkiran. Anak saya dan bapaknya pilih naik sky lift buat turun, saya pilih jalan yang sama. Waktu pertama kali kami ke tempat ini, kami semua naik sky lift naik dan turun. Cuma kali ini karena saya bawa si anjing kecil, saya tidak bisa gunakan sky lift .Sampai di tempat parkir , kami lanjutkan perjalanan dengan mengeksplorasi Natural Bridge/Red River Gorge :berhenti di danau Mill Creek,
berhenti di jembatan alam lainnya,menyeberang jembatan goyang Sheltowee,
ngecek lokasi tree house yang disewakan oleh Red River Gorgeous
sampai anak merengek minta pulang..ha..ha…ha…Yang jelas kami sekeluarga sangat senang dengan Natural Bridge/Red River Gorge. Seperti memang lokasi ini lebih cantik untuk dikunjungi saat musim gugur, karena udara lebih sejuk, tidak banyak serangga dan pemandangan juga lebih warna warni.
Nah, akhir pekan Labor day ini, di kota tempat saya tinggal ada acara tahunan, namanya World Festival. Saya sudah sering mampir sik ke festival ini sejak kami pindah di tahun 2012, meskipun tidak setiap tahunnya.Pada dasarnya acara ini seperti bazaar terbuka, cuma temanya internasional, jadi selama 3 hari pengunjung bisa melihat parade dari bermacam-macam negara, pentas tarian Flamenco, Salsa, bagpipe players dll dan menikmati makanan dari berbagai negara.Tapi tahun ini spesial, karena tahun ini ada pentas tari Pendet dan tari Panji Semirang!Saya sebagai orang Indonesia yang kurang beruntung tidak bisa sering-sering mudik , langsung dong semangat 45 pengen hadir dan nonton.Ditambah kedua tarian ini saya tahu banget auranya, wong pas kelas 5 SD saya dimasukkin ke sanggar tari Bali oleh almarhum ibunda.Jam 11 saya sudah nangkring di meja Indonesia yang dihias dengan taplak batik, peta Indonesia versi batik, sepasang boneka wayang, angklung mini, congklak, topeng Rama dan Sinta, boneka kerbau, buku-buku masakan Indonesia, buku-buku anak-anak 2 bahasa dan buku-buku tentang Indonesia.

Jreng jreng …jam 2:30 PM waktu setempat, anak-anak blasteran Indo-Amrik yang cantik-cantik mulai menari tarian Pendet.Selama saya merekam pertunjukan mereka, saya seakan-akan dibawa kembali ke hari-hari saya berlatih di sanggar tari Bali dan berpentas menari Pendet untuk ujian kenaikan kelas ke tingkat Panji Semirang.Senang? Banget!Karena itu salah satu kenangan manis yang mau saya ingat terus.Perasaan saya yang berbunga-bunga karena akhirnya bisa ditindik 3 bondolan di kedua kening dan dahi.Mencium bau bunga kamboja di bokorMendengarkan musik Bali dimainkan dengan gamelan langsung bukan dari kaset terdengar sangat mistis di telinga…Ah…kenangan masa kecil memang indah ya.Yang jelas saya bersukur sekali punya teman-teman yang sangat bangga sebagai orang Indonesia dan mau bersusah payah melatih anak-anak mereka untuk ikut melestarikan budaya IndonesiaIni foto-foto cantik para penari dan video nya…
















