Realita

Beberes Beberes

Akhir2 ini saya koq tambah senewen sama yang namanya barang2 menumpuk

Ya memang salah saya juga sik. Dulu suka beli ini itu.

Mungkn karena sekarang sudah lebih tua?.atau juga ada ketakutan jadi penimbun barang karena tahu banget ada kecenderungan dari ortu.

Kebetulan pas menggulir utasan2 di IG nemu utasan ini

Boleh juga ni dibuat jadi motivasi?

Yang jelas saya sudah buka jualan barang2 sama lewat aplikasi namanya Depop..

Lumayan sudah berhasi jual 10 biji.

Minggu lalu saya donasikan sekantong plastik besar barang2 ke Goodwill.

Asli kebanyakan barang itu bikin pusing ternyata!

Mungkin mulai 5 barang/hari dulu kali ya?

Jurnal Pramenapouse

Minggu malam, November 16, 2025, sebelum tidur sudah minum magnesium seperti biasa.

Jam 2 pagi terbangun. Dan gak gampang untuk balik tidur lagi sementara ini kan hari Senin, saya mau ke kantor.

Akhirnya bisa tertidur lagi setelah 1 jam-an berusaha.

Bangun jam 630 an.

Untunglah beban kerja minggu ini sudah setengahnya saya selesaikan minggu lalu.

Berhasil berangkat pada waktunya

Di jalan hampir di tabrak mobil. Alhamdulillah waspada.

Sudah tiba di kantor. Mulai bekerja.

Mudah2an hari ini berlalu dengan baik❤️

Jurnal Pramenapouse

Jumat . November 14, 2025

Nyalakan kompor, mau goreng telor .

Telpon kantor bunyi . Matikan kompor.

5 jam kemudian. Koq lapar ya. Eh iya ada nasi dingin kan

Ambil nasi di kulkas, ke kompor.

Astaga. Telor setengah matang masih nangkring

Sabtu/Minggu November 15-16, 2025.

Pulang kerja, masak nasi, rebus sayur-sayuran untuk gado-gado, bikin semur ayam, rebus ampla.

Jalankan mesin cuci piring. Masukkan sayuran , ayam kulkas.

Besok paginya?

Lapar. Kan ada nasi. Cari2 nasi di kulkas.

Koq gak ada? Astaga. Kelupaan simpan nasi.

Terpaksa harus buang.😱😭😭😢

Pojokan Kalem

Jadi ni..salah satu gak enaknya tinggal di negara 4 musim, adalah masalah pengungsian tanaman dari teras ke dalam ruang

Nah masuk bulan Oktober tahun ini, suhu udara cepat menurun. Jadilah saya harus masukkan tanaman2 saya ke dalam ruang. Tahun lalu saya telat masukkin tanaman2 saya, yang ada banyak yang mati…😭. Ugh. Nyesel banget. Makanya tahun ini saya lebih was was memperhatikan cuaca

Masalahnya ruang yang kena matahari di apartemen saya itu cuma sedikit sekali. Harus putar otak cara penempatannya supaya semua tanaman bisa masuk.

Kebetulan kapan itu, saya lihat tetangga atas saya mau buang rak/meja. Terus saya bilang. Eh mau dibuang ya? Buat saya saja boleh?. Dan ternyata mereka membolehkan. Saya tahu banget rak tersebut akan saya gunakan untuk menaruh tanaman2 saya.

Dan ternyata rak yang gak seberapa besar itu muat untuk kurleb 12 pot tanaman. Tanaman2 lainnya ada yang saya gantung, ada yang saya taruh di kursi lipat (yang juga di ambil dari tempat sampah apartemen) , taruh di bangku dekorasi.

Untuk mengakali sedikitnya sinar matahari , saya memang pakai grow light. Ini juga harus diakali penempatannya. Yang jelas ruang vertikal benar2 saya manfaatkan, ya untuk gantung tanaman maupun menggantung lampu2.

Saat ini boleh dibilang “hutan” kecil saya sudah komplit. Hampir semua tanaman2 yang harus masuk, sudah masuk. Lampu2 sudah ditempatkan sedemikian rupa supaya semua tanaman mendapatkan cahaya tambahan selain cahaya matahari dari pintu teras.

Tanaman2 saya selain berwarna hijau, ada yang daunnya berpigmen putih dan merah jambu hingga keunguan /merah anggur. Saya juga isengnya kumat, menyelipkan boneka2 binatang kecil di sela2 tanaman2 saya. Whimsical banget lah.

Yang pasti saya tu senang banget dengan “hutan” kecil saya. Setiap kali saya tengok, hati saya adem dan bahagia.❤️

Padahal cuma kecil banget gitu loh.

Eh  ternyata yaaaa.., dari segi regulasi emosi, memiliki pojokan kalem itu bagus untuk membantu kita menenangkan sistem saraf kita loh. Kebetulan koq nemu utasan di IG di bawah ini.

Jadi ternyata tanpa saya sadari “hutan” kecil saya itu pojokan kalem saya juga!

Teman2 ada yang punya pojokan kalem juga?

Miskin Itu …

Teman2 pembaca yang baik.

Saya mau bilang blak2 an ni:

MISKIN ITU GAK ENAK!

Mau miskin di Indonesia, di Amerika, di Jerman, di Inggris, di Australia, dimanapun, secara umum, kalau penghasilan kita dianggap dibawah tingkat kemiskinan negara, tetep gak enak. Mungkin cuma segelintir negara2 yang boleh dibilang gak ada penduduknya yang miskin.

Kalau ada yang komentar, tapi kalau di Jerman , Aussie kan dikasih bantuan sama pemerintah.

Iya bener, di banyak negara2 asing, pemerintah kasih bantuan. Dari mulai makanan, fasilitas kesehatan, alat2 sekolah dsb

Tetep. Miskin itu gak enak.

Hidup kita jadi terbatas. Pilihan gak akan sebanyak kalau kita gak miskin. Makanan yang kita masak mungkin gak akan banyak variasinya.

Mau belanja kebutuhan sehari2, uang yang kita bisa belanjakan ya tergantung jatah bantuan yang kita terima kan.

Jadi coba deh kita usahakan gak usah membanding-bandingkan penghasilan seseorang di LN dengan penghasilan di Indo.

GAK BISA!

Jangan komentar, miskin di Amrik masih bisa beli rumah, mobil, ada angkutan umum tersedia.

Rumah “murah” ya memang ada, tapi lingkungan tempat tinggalmu ya kemungkinan besar tingkat keamanannya rendah. Maksudnya? Bukan gak mungkin bakal dengar tembak-tembakan, kericuhan, pencurian, perampokan. Lingkungan sekitar gak terurus.

Seringkali beli mobil di Amrik itu menjadi KEHARUSAN karena??? Angkutan umum TERBATAS.

Di Indo, ada ojol, kereta, bis , bajaj, angkot, bemo, taksi.

Di Amrik gak semua kota menengah pun kota besar ada sarana angkutan umum yang bisa diandalkan buat wara wiri sehari-hari.

Sekali lagi ya.

Miskin dimanapun itu gak enak.

Tapi biar miskin kan lihat salju?

Percakapan Saya dengan Anak Saya

Semalam anak saya “ketiduran” di tempat saya. Besok paginya ternyata dia gak kerja , jadi balik lagi dia ke tempat saya.

Pas makan siang, saya bangunkan supaya dia makan siang karena saya sengaja masakkan dua potong paha ayam atas untuk dia.

Pas selesai makan, saya lihat tulang2 ayamnya masih “berdaging”. Saya celetukin.

“Duh kamu makannya gak :bersih”, masih banyak dagingnya itu! Sayang kan.:

Yang dijawab sama anak saya

It’s ok Mom..I know you grew up poor” (sambil bercanda tentunya, dalam arti dia bukan bermaksud menghina)

Saya ngakak sambil “nampol”, eh enak aja lu bilang g poor, g grew up privileged tahuuu”

…………….

Tapi dalam hati, saya jadi mikir juga. Eh apa bener ya saya “miskin” sampai ngelihat ada sedikit daging di tulang ayam saja rasanya gak rela?

Saya jadi celingukan lihat kiri kanan saya.

Sofa, meja makan, piring2 , lampu di ruang TV, pyrex semua itu pemberian teman2.

Saya juga gak rela buang2 toples kaca bekas yogurt, selai dll, saya pakai lagi jadi toples bumbu dll.

Ini barusan saya menggoreng krupuk, trus disimpan di kemasan bekas cemilan yg saya pesan dari orang Indo, karena kemasan dia bagus, kedap udara.

Saya suka sisihkan sabun2, sampo dari hotel buat “bekal” si anak kalau dia sudah siap tinggal sendiri.

Mungkin ada benarnya ya saya miskin?.

Mungkin lebih tepatnya saya pas-pasan, gitu ya? Atau ya berkecukupan?

Gak tahu juga sik.

Ada memang di suatu masa, saya benar2 harus irit dan gak belanja kebutuhan tersier sama sekali dan bukan cuma sekali ya. (Waktu saya masih tinggal dgn bapaknya si anak & dia kehilangan pekerjaan & wakti saya putuskan untuk berpisah & tinggal sendiri dengan pendapatan saya murni).

Jadi memang scarcity trauma saya pernah alami.

Tapi yang jelas sik…saya gak mau anak saya hidupnya lebih sulit dibandingkan saya.

Secara gitu loh. Seperti kata anak umur 8 tahun :

Saya kan hidup di Amerikaaaaaaa (sarkastik mode on!)

Pasar Loak

Jauh2 tinggal di Amrk bukannya bergaya pakai tas Tory Burch, Kate Spade, Coach dll, saya koq malah demen yang namanya jalan-jalan ke pasar loak, atau istilah bulenya Vintage Market/Flea Market.

Agak beda dikit dengan toko jual barang2 bekas seperti Salvation Army, Goodwill yang jualan barang2 dari donasi masyarakat , Vintage Market lebih ke pasar dimana banyak booth sewaan si pemilik barang yang naro barang2 mereka dan kasih harga seberapa yang mereka mau untuk dijual. Jadi seperti consignment.

Di kota saya ada lah beberapa toko seperti ini.

Yang serunya kalau ke toko-toko seperti ini saya koq jadi banyak nemu barang-barang yang mirip seperti ibu atau sanak keluarga di Indo punya.

Jadi bukan cuma belanjalah, tapi bernostalgia juga

Pernah saya iseng pergi buat cari figur gajah. Eh nemu ukiran gajah kayu buatan Thai, keren banget kan?.dan cuma $10.

Pernah lihat pembatas ruang yang ala2 ukiran Jepara gitu. Pengen banget beli!

Hari ini iseng-iseng kami pergi ke salah satu vintage market di kota.

Saya pengen cari piring-piring kristal untuk tatakan buat pot-pot tanaman saya.

Sempat lihat “kursi rotan” ala2 pejabat tahun 80 an versi mininya. Trus lihat toples kue kristal, tas pesta metal, tempat garpu kecil kalo gak salah dari belalai gajah yang diukir yang seperti almarhum ibu punya.

Belum lagi musik yang dimainkan juga musik jadul. ABBA yang almarhum bapak suka pasang pagi-pagi circa 80 an.

Ah..tenyata saya sudah menua ya.

Yang ada saya beli vas cilik 2, yang rencananya mau saya kasih bunga segar, sendok bertuliskan Bismillahi rahmanni rahim dan piring kristal segi 4 buat tatakan pot.

Tempat Duduk Terbaik

Waktu di Indo, masalah tempat duduk oke saya cuma tahu kalau nonton bioskop, opera, teater dan pertunjukkan2 lainnya yang pakai bayar lah. Tahunya ya karena harga tiketnya suka beda (kecuali bisokop ya).

Kayak bulan lalu dapat tiket gratis nonton Broadway kursi kami H17-18..asi banget karena dekat dengan panggung. Bandingkan dengan Orkestra HH misalnya, yang jauh di belakang.

Saya juga baru tahu tentang “best seat” di pesawat terbang , yaitu dibagian emergency exit karena dapat ruang kaki lebih luas, tapi juga harus mau nolongin penumpang lain saat keadaan darurat.

Nah pas di Amrik, dikasih tahulah saya kalau ternyata di rumah makan dan acara kawinan ada istilah best seat juga.

Kalau di acara kawinan disini, tamu2 itu semua duduk rapi di meja bersama tamu2 lain untuk makan sajian di kawinan. Semakin meja kita jauh dari pengantin, semakin kelihatan status kita ke si pengantin. Status dalam arti “kedekatan” saja sik, bukan $$. Jadi ya teman2 dekat si pengantin dapat meja paling depan dan seterusnya

Kalau di rumah makan, saya cuma mikir ogah dekat kamar mandi (karena pesing/hawa kamar mandi, bawaan dari Indo sik).

Atau mungkin kalau pas ke rumah makan yang pemandangannya oke, ya saya pilih dekat jendela supaya bisa lihat pemandangan. Atau dulu pas jaman masih gabung sama orang merokok, saya pilih di bagian gak merokok. Lebih dari itu saya gak repot.

Tapi ternyata ada hal lain, yaitu kitanya “menghadap” kemana.

Konon (saya bilang konon karena saya gak terlalu pusingin masalah ini), view paling oke itu kalau kita lihat seliweran orang2. View paling gak oke kalau kita lihat tembok.

Bawah sadar saya, sepertinya milih kursi dimana saya bisa rumpiin orang2 🤭 atau dulu pas muda ya supaya bisa ngecengin orang kali ya?

Tapi jujur saya gak jadi HARUS SELALU duduk di kursi yg paling oke atau ngotot minta kursi yang paling oke.

Karena buat saya, kalau acara makan, apalagi makan “intim” dalam arti cuma bedua, saya ya niatnya kan menghabiskan waktu dengan si yang bersangkutan tho? Ngobrol dengan siapa yang ada di depan saya.

Mungkin saya bodoh ya berpikir senaif ini.

Orang lebih sering melihat saya sebagai “tu kan dia lagi2 duduk di kursi yang paling oke!”

Padahal kalau diminta tukar, saya gak masalah deh.

Karena ya itu, wong saya sendiri gak “ngeh” sama yang namanya best view seat.

Capek ya kalau suka dianggap orang sebagai Ms Selalu Mau Yang Paling Oke.

Ah. Andai saya gak usah tahu masalah kursi menghadap mana seperti ni, karena yang ada saya jadi senewen kalau pas makan di resto, bukannya menikmati jadi malah bingung.

Buat saya tempat duduk terbaik ya saat saua duduk sama orang yang menikmati keberadaan saya disisi mereka. 

Act Of Pastry

Judul wis ngawur . Gak apa2. Abis gak nemu padanannya di bahasa Indonesia.

Pasangan saya saat ini orangnya frugal. Gak terlalu suka sama yang namanya belanja2, makan luar. Bagian gak suka makan luarnya lebih karena dia sendiri suka masak, dari mulai pizza sampai belajar bikin roti bao, ramen, nasi goreng, sate, rendang sama saya.

Nah sementara saya gak suka masak, suka belanja dan senang jajan alias makan di luar

Dia sempat kesal karena saya sering merengek-rengek minta ngopi setiap pagi pas saya lagi sama dia. Dia gak ngerti kenapa saya kudu ngopi diluar (baca pesan cappuccino) sementara dia punya mesin pembuat espresso terkini.

Dia juga sempat gak ngerti kenapa saya termehek-mehek pas nemu toko roti yang jual roti asin (savory). Jadilah saya jelaskan alasan di belakang obsesi saya sama cappuccino dan savory pastry .

Dia juga jelasin kalau dia sangat suka masak apapun buat saya kalau saya lagi sama dia. Kalau saya minta makan luar, dia merasa saya gak suka makanan bikinannya atau gak di”anggep” bisa buatkan saya makanan enak.

Sejak dia tahu kenapa saya suka sama roti asin, dia dengan manisnya suka bawakan saya roti pas saya kerja di akhir pekan untuk saya makan pas jeda 15 menit.

Sebelum saya sama dia dia, saya gak pernah ngeh “hal-hal kecil”seperti yg buat saya ternyata berarti banget.

Alias ya saya ngerasa di perhatikan sama dia dan juga saya jadi ngeh kalau keinginan dia buat masak ini itu buat saya itu bagian dari Act of service gitu istilahnya.

Imut banget gak siiikk??!🥰