Saya pribadi gak terlalu heboh masalah kram perut, tapi saya tahu ada teman yang bisa sampai kesakitan saat kram.
Kalau kita pilih mau hamil, beda lagi “penderitaan” yang akan kita alami. Mual2, tekanan darah melejit, jerawatan, rambut rontok, bahkan ada yg harus istirahat di tempat tidur selama hamil.
Saat melahirkan? Widih itu yang namanya kontraksi, berasa retak-retak badan dan berasa semua remuk berkepinh-keping.
Selesai melahirkan beres?
Salah besar!
Saya malah mengalami pendarahan yang gak berhenti-henti karena pemakaian alat kontrasepsi selama 1 tahun lebih. Sampai sempat anemia.
Astaga, sudah umur setengah abad lebih masih cerita soal masa pendewasaan?
Ya ho-oh. Karena baru sadar kalau yang namanya menjadi dewasa atau istilah bahasa Inggrisnya adulting itu ternyata gak sekali jadi yak?
Sungguh, saya itu baru-baru ini saja ngeh, kalau ternyata saya baru belajar menjadi dewasa dan matang (ceileee…pisang kali…) itu baru 20 tahun terakhir? Belajar matang pemikiran? Ini lebih baru lagi deh.
Pendewasaan pertama itu ya juga terpaksa ya? karena pindah ke Amrik, gak ada siapa2.
Eh tapi ya sebenarnya dewasa itu apa sih? Apa semata-mata mengerjakan apa2 sendiri? Belajar bertanggung jawab atas hidup sendiri ? Belajar menghadapi konsekuensi pilihan?
Kalau cuma dilihat dari misalnya, bisa masak sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, saya baru dewasa 20 tahun lalu.
Kalau dilihat dari kemampuan seseorang membiayai diri mereka sendiri, saya ibaratnya masih balita. Karena baru di tahun 2021 akhir saya bisa menghidupi saya sendiri setelah bertahun-tahun ngendon orang tua, lanjut dengan ngendon suami.
Satu hal yang saya sendiri takjub akan proses pendewasaan diri saya sendiri adalah saya perhatikan saya jadi lebih resourceful. Apa ya bahasa Indonesianya? Intinya saya berusaha memakai dulu apa yang saya miliki sebelum saya beli baru.
Mungkin ya karena kantong pas-pasan juga kali….tapi ni… memang saya kalau baca tentang betapa bejibunnya sampah konsumsi manusia, saya suka panik sendiri. Ditambah juga waktu merasakan sendiri pas pindahan , haduh, koq barang banyak sekali ya??
Selain malu dan rasanya bersalah banget kalau buang-buang barang, juga kepikiran, nanti kalau saya tiba-tiba meninggal, kasihan gak sih yang harus urus barang-barang saya??
Selain itu saya mau lebih sadar lingkungan juga lah. Jadi kombinasi antara kantong pas-pasan dan mau lebih sadar lingkungan, saya jadi lebih mawas diri kalau mau beli ini itu.
Jadi ya dari mulai hal yang keperluan seperti memasak, sampai hal sepele , seperti cari dekorasi, saya sebelum ngacir ke toko, celingukan dulu di sekitar rumah.
Kalau masalah dapur, saya minimal selalu sedia : nasi, telur, tahu, sayuran beku, kecap manis, kecap asin, garam merica, bawang putih bubuk, mi instan.
Kalau masalah hal-hal tersier, ‘untung’nya saya di masa lalu itu boros. Jadi saya punya banyak barang reblekan.
Minggu lalu sempat jalan sama anak saya, dia mau beli ini itu untuk bikin kostum Halloween dia, yang ada saya senewen ‘ngapain sik beli? Pakai yang ada dulu aja gak bisa?? ‘ Karena saya pun membuat kostum Halloween sendiri, tapi cuma beli 1 bahan baru, yang lainnya memakai bahan-bahan yang saya sudah miliki.
Hasilnya? Pahlawan khayalan dan dinobatkan sebagai pemenang kostum paling kreatif di kantor.
Contoh lain ni. Saya gatel ingin buat dekorasi di depan pintu, karena saat ini area depan pintu saya yang tadinya penuh dengan tanaman-tanaman rumah, sekarang agak kosong melompong.
Beli dekorasi? eMoH deh. Keluar duit lagi? (Jiwa pas-pasan saya bergejolak). Celingukanlah saya di apartemen.
Dan jadilah dekorasi sederhana dari bunga kering dan bunga kertas peninggalan entah tahun kapan.
Masih kurang puas. Maklum saya konon tipe maksimalis. Ya puter otak lagi.
Saya punya ide di kepala. Yang jelas pengen pakai lilin kecil gitu. Romantis kayaknya. Tapi selain lilin apa lagi dong?
Lihat utasan si ibu bule yang suka bertanam bunga dan bikin dekorasi dari bahan-bahan alami. Pine cone lucu juga? Bisa kali di dapat dari pas jalan-jalan di taman. Gak perlu keluar duit kan?
Jadilah saya bertekad untuk mencari pine cone , eh hari ni nemu dong! Dekat tempat tinggal lagi! Gak perlu jauh-jauh.
Dan kebetulan saya punya pot kaca yang tebal dan bagus , saya beli pas saya lagi hobi bikin terarium. Ini pot agak-agak terbengkalai gitu. Kasihan kan?!
Saya tatalah itu pine cone, eh kurang oke? Eh kan punya sisa pasir? Kan punya sisa rumput palsu? Kan punya gelas kaca pendek bekas yogurt?
Dan jadilah center piece lucu-lucuan di bawah ini…
Jadi ni..salah satu gak enaknya tinggal di negara 4 musim, adalah masalah pengungsian tanaman dari teras ke dalam ruang
Nah masuk bulan Oktober tahun ini, suhu udara cepat menurun. Jadilah saya harus masukkan tanaman2 saya ke dalam ruang. Tahun lalu saya telat masukkin tanaman2 saya, yang ada banyak yang mati…😭. Ugh. Nyesel banget. Makanya tahun ini saya lebih was was memperhatikan cuaca
Masalahnya ruang yang kena matahari di apartemen saya itu cuma sedikit sekali. Harus putar otak cara penempatannya supaya semua tanaman bisa masuk.
Kebetulan kapan itu, saya lihat tetangga atas saya mau buang rak/meja. Terus saya bilang. Eh mau dibuang ya? Buat saya saja boleh?. Dan ternyata mereka membolehkan. Saya tahu banget rak tersebut akan saya gunakan untuk menaruh tanaman2 saya.
Dan ternyata rak yang gak seberapa besar itu muat untuk kurleb 12 pot tanaman. Tanaman2 lainnya ada yang saya gantung, ada yang saya taruh di kursi lipat (yang juga di ambil dari tempat sampah apartemen) , taruh di bangku dekorasi.
Untuk mengakali sedikitnya sinar matahari , saya memang pakai grow light. Ini juga harus diakali penempatannya. Yang jelas ruang vertikal benar2 saya manfaatkan, ya untuk gantung tanaman maupun menggantung lampu2.
Saat ini boleh dibilang “hutan” kecil saya sudah komplit. Hampir semua tanaman2 yang harus masuk, sudah masuk. Lampu2 sudah ditempatkan sedemikian rupa supaya semua tanaman mendapatkan cahaya tambahan selain cahaya matahari dari pintu teras.
Tanaman2 saya selain berwarna hijau, ada yang daunnya berpigmen putih dan merah jambu hingga keunguan /merah anggur. Saya juga isengnya kumat, menyelipkan boneka2 binatang kecil di sela2 tanaman2 saya. Whimsical banget lah.
Yang pasti saya tu senang banget dengan “hutan” kecil saya. Setiap kali saya tengok, hati saya adem dan bahagia.❤️
Padahal cuma kecil banget gitu loh.
Eh ternyata yaaaa.., dari segi regulasi emosi, memiliki pojokan kalem itu bagus untuk membantu kita menenangkan sistem saraf kita loh. Kebetulan koq nemu utasan di IG di bawah ini.
Jadi ternyata tanpa saya sadari “hutan” kecil saya itu pojokan kalem saya juga!
Masih topik yang sama dan masih ada sangkut pautnya dengan tulisan saya sebelumnya,
Hijrah ke Amrik berati juga…..
Kemungkinan besar kita akan kehilangan momen2 penting di keluarga besar di Indonesia, dari mulai perkawinan, kelahiran anak dan kematian.
Lagi2 ya, ini salah satu dari sekian banyak hal yang saya tidak pikirkan.
Buat saya yang kenyataan paling memilukan gak bisa pulang saat itu juga adalah saat kematian orang tua.
Tahun 2010, Ibu saya kena stroke saya cuma bisa manyun, jangankan mudik, saat itu pasangan saya baru mulai kerja kembali setelah setahun tidak bekerja.
2014, Bapak meninggal, saya terima kabar pas lagi kerja, sepupu saya di NY telpon buat kasih tahu. Nangis lah saya di tempat. Pulang ke apartmen, lagi2 saya cuma bisa nangis di kamar.
2019, ibu meninggal, saya cuma bisa doakan dari jauh.
Bukan cuma masalah gak bisa menghantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhir yang bikin pahit, pilu dan pedih, siap2 juga diomongin sama keluarga besar.
‘Dasar anak gak tahu diri, masa orang tua sakit gak bisa ditengok?
‘Sudah lupa sama keluarga/budaya ya? Masa segitu gak ada duitnya ?? ‘
‘Memang suaminya kerja apa sih?’
Yang nyebelinnya lagi , yang berisik itu orang2 berada loh..yang bisa jalan2 keluar negeri cuma buat ikutan lomba lari, nengokin anaknya yang sekolah/tinggal di luar negeri.
Saya gak bilang kondisi itu berlaku buat semua imigran Indo di luar negeri loh ya. Seperti yang saya bilang di tulisan saya sebelumnya, banyak juga orang2 Indo yang gak ada masalah buat angkat koper saat itu juga saat ada musibah di kampung halaman, ada hajatan atau sekedar berlebaran/bernatalan atau merayakan hari besar lainnya dengan keluarga besar di Indo.
Saya salah satu contoh yang gak bisa.
Realita berikutnya
Kita benar2 hidup sendiri tanpa keluarga.
Maksudnya? Gak semua punya pasangan yang punya keluarga besar misalnya. Tidak ada mertua, atau kakak/adik ipar.
Kita benar2 nikah dengan si bule tanpa ada keluarga tambahan lainnya
Ini berat juga loh. Apalagi kalau kita pas di Indo biasa dikelilingi dengan sepupu, Oom, tante segambreng.
Beratnya dimana gitu?
Contoh. Buat pasangan yang memilih untuk mempunyai anak, siap2 pas melahirkan kamu gak ada yang nolong. Gak semua pasangan bersifat kebapakan, banyak juga yang cuek atau gak ngerti mengurus anak.
Atau saat pasangan sakit dan harus masuk rumah sakit atau kena musibah lain padahal anak masih kecil dan kita tidak bekerja. Artinya kehilangan penghasilan.
Saya baru ngeh kalau orang-orang bule lokal pun bisa dibilang lebih beruntung. “I am moving in with my mom_sister/brother..
Ada tempat untuk menampung saat “jatuh” itu ternyata privileged banget.
Dan gak bohong waktu saya sadar kalau saya gak punya siapa2, ya pedihlah.
Mudah2an setelah baca tulisan realita seperti ini, orang2 gak comel lagi ya bisa lebih empati.
Jam 2.20 an, hari ini lagi asik2 dengerin lagu di TV, eh koq lampu kamar mandi kedip2 ya? Beberapa detik kemudian..blas…mati.
Lhaaa…mati listrik??? Yang bener?! Sejak tinggal di sendiri, saya gak pernah ngalami mati listrik. Memang Alhamdulillah daerah saya lumayan jarang kena mati listrik meskipun habis kota habis kena badai..
Memang semalam, kota saya kena hujan besar dengan angin kencang 80 mil/jam. Saya pas lagi gak di rumah. Badainya cuma 20 -30 menit.
Tapi pas kita keluar, berasa gimana kencangnya itu angin. Pagi2 pas kita jalan olah raga ke taman dekat rumah..wuih pohon2 tumbang di sekeliling taman.
Ini pohon batangnya kelihatan besar loh, tapi tumbangGak kena si lampu,🫢
Lha..badai kemarin koq mati lampunya sekarang? Yang paling repot masalah isi kulkas kan??!
Saya keluar, tetangga juga pada keluar, nanyain hal yang sama.
Cek peta mati listrik . Waduh..memang sekomplek dan sekitar kita mati. Pas saya text buat cek kondisi..jawabannya
Haaaa??!! Listrik baru nyala lagi hari Rabu??? Gimana makanan2 ??
Cek tempat anak tinggal. Oh ternyata tempat mereka gak mati. Ya sudah berarti bisa kasih makanan ke dia.
Cek tempat kerja (ada kulkas soalnya). Mereka aman. Ok. Langsung aku text bos. Kasih tahu kondisi.
Cek teman yang suaminya kerja di perusahaan listrik. Dia mau bawain aku cooler gede buat masukkin makanan, buat bawa ke tempat teman saya di kota yang listriknya gak mati.
Langsung ngepak laptop buat kerja, baju buat kerja di tempat kedua.
Jam 4 lampu nyala!!! Pas temen saya juga dateng dengan cooler nya!! Seperti ya mati lampu daerah kita buat memperbaiki daerah2 yang lebih parah.
Puiiih…Alhamdulillah banget!! Saya jadi gak usah ngerepotin orang ngungsi ke sana ke mari.
Saya text teman kerja yg juga tinggal di Louisville. Ya ampun dia juga kena mati lampu dan belum nyala lagi!
Saya tawarin dia buat kerja di tempat saya kalau dia mau (kita kerja dari rumah).
Karena saya berasa banget paniknya pas listrik mati. Bingung makanan. Bingung mau kerja gimana. Bingung tidur gimana?
Sekali lagi Alhamdulillah bangettt..mati listrik tempat aku gak lama2.
Beneran ih…hidup sendiri itu susah juga ya?!!
Belajar dari teman saya, dia bilang kalau dia langsung beli es beberapa kantong yang lalu dia taruh di kulkas, buat mendinginkan makanan sementara.
Repot banget yaaa kalau listrik mati!
Semoga temen2 gak ada yang harus mengalami mati listrik lama.!
Saya akui saja sejujurnya punya buanyaaak banget kebiasaan jelek.
Salah satu yang cukup parah adalah malas berberes dan bersih2 tempat tinggal.
Mana saya suka naruh barang tidak pada tempatnya, jadilah barang2 jadi berserakan dimana-mana.
Ada tas di ruang makan, botol minuman kosong di ruang TV, dan banyak lagi lah.
Sering kali ya tempat tinggal saya jadi berantakan.
Untungnya sik…saya lumayan sadar kalau mood saya kalau keadaan apartemen berantakan, saya jadi ngomel2 dan stres sendiri. Jadilah saya selalu paksain buat beberes.
Apalagi kalau ada teman yang bilang. Eh g mampir ya ke tempat elo.
Nah lo!??! Langsung secepat kilat sebisa mungkin saya beres2, meskipun sering juga teman2 harus menjadi saksi keberantakan saya.
Terus terang loh saya sering merasa kewalahan atau overwhelmed gitu, mana yang harus diberesin duluan, wong semua ruang kayak kapal pecah?
Berantakan abissss
Setelah hidup sendiri dan baca2 postingan tentang kesehatan mental, hidup sederhana, saya nemu langkah2 kecil yang saya terapkan pas puyeng karena apartemen berantakan sana sini
1. Saya pilih ruang yang paling gak terlalu berantakan. Alasannya. Ruang cepat di tata yang artinya saya bisa lihat progres cepat, mood saya juga cepat berubahnya.
Contoh. Bersihkan seluruh kamar mandi? Duh koq banyak amat? Ya sudah bersihkan dan beresin wastafel saja dulu
10 menit kemudian bisa koq rapihan
2. Saya paksain dari ruangan yang saya pilih, semua barang2 yang tidak pada tempatnya, saya langsung taruh pada tempatnya, bukan cuma mindahin ke ruang lain
3. Saya pilih kotak2 yang apik yang enak dilihat lah buat nyimpan barang2 sehingga biarpun kotak2 ini saya tidak masukka. Di ruangan tertutup tapi tetap emak dipandang mata
4. Saya tidak paksakan buat semua ruangan harus rapih sekaligus. Karena buat saya kalau saya maksa semua ruangan harus rapih saat itu juga, saya bakal senewen.
Untungnya karena tempat tinggal saya kecil, ruangan saya gak banyak : hallway pintu masuk, ruang TV, ruang cuci baju, teras, ruang kerja, ruang makan, dapur, kamar mandi, kamar tidur dan lemari baju.
5. Benerapa ruang, seperti dapur dan kamar tidur itu pun saya bagi lagi. Dapur saya terbagi atas area kompor, cucian piring, lemari penyimpanan makan. Jadi saya bisa cuma beberes bagian cucian piring dulu. Bagian2 lain bisa nanti.
Kamar mandi , bagian wastafel, bak mandi, WC.
Saya sendiri orangnya bukan yang super pembersih loh. Saya lebih santai akan ruangan berantakan.
Masalah lantai, hampir tiap hari saya harus sapu, karena bulu2 anjing saya kelihatan bertebaran.
Lantai dapur, apalagi kan. Namanya tempat masak, pasti ada makanan jatuh, tumpahan ini itu wuihhh..cepat kotornya deh.
Ya jadi saya paksain buat bersih2 dan beberes.
Kendala terbesar saya adalah ruangan yang terbatas. Ini juga jadi faktor utama saya pas me.pertimbangkan beli ini itu. Mau taruh dimana?
Dan setelah saya telaah lagi, mending saya punya ruang kecil dan terbatas. Karena punya tempat tinggal luas ternyata gak selalu menjamin kerapihan, gak menjamin kita jadi pinter ngatur barang2. Bisa2 malah jadi keteteran harus berberes ruang2 yang lebih banyak lagi.
Saya perhatikan, ada kali sebulan sekali, saya beberes gede2 an. Dalam arti keluarin sapu, vaccum debu, ngepel lantai berkali2, ngelap debu sana sini, bersihkan pintu kaca, gosok kamar mandi.
Capek? Ya capek lag.
Nah disini memang kan gak ada asisten seperti di Indonesia ya. Tapi disini kita bisa sewa jasa pembersih dan pengatur ruangan.
Yang jelas jasa pelayanan seperti ini tidak murah sik, minimal $100/jam dan minimum 2 jam. Dari mulai franchise seperti Minute Maid atau pebisnis lokal.
Lumayan dalem juga kan harus merogoh kantong?!
Tapi ya…kadang kita ya memang perlu dan gak apa2 loh sewa jasa layanan seperti ini. Apalagi kalau dari segi keuangan kita mampu.
Rumah bersih, teratur, kita gak usah capek, gak stres dan bagi2 rejeki juga kan?!
Teman2 pembaca ada tips beberes rumah yang bisa dibagi? Bagi dong saran2 nya siapa tahu berguna buat pembaca lainnya kan
Cerita saya kali ini masalah sehari2 saja ya. Mudah2an tetap bisa menarik dibaca.
Baru2 ini ada yang nyeletuk gara2 saya “tiba2” suibuk majang foto2 makanan yang saya masak di IG. Koq tumben rajin masak? Gitu konon komentar ybs….yang lanjut merembet ke hal2 pribadi saya yang jelas2 bukan urusan si penanya…
Saya jadi geli sendiri dengar komentar seperti itu. Lah, gimana gak geli?
Begini lhooo………
Sejak Desember 2021, saya kan benar2 hidup seorang diri yang artinya saya sepenuhnya menggantungkan diri saya dengan penghasilan saya sendiri.
Mungkin menurut banyak teman2 hal ini biasa banget ya, tapi buat saya ini benar2 pertama kalinya.
Dari sekian banyak tetek bengek yang harus saya belajar lagi, salah satunya adalah mikirin belanjaan dan masak untuk makan sehari2.
Pertama2, saya sempat belanja kebanyakan, yang ada saya jadi banyak membuang makanan. Ini memang saya perhatikan kebiasaan saya pas masih hidup bareng2 pasangan dan anak.
Buang makanan berarti buang2 $$ dong? Gila mana bisa saya hari gini buang2 $??!
Akhirnya saya tetapkan untuk sebisa mungkin masak dengan menggunakan apa yang tersedia di kulkas dan lemari dapur.
Yang jelas ada bahan2 makanan yang selalu tersedia di dapur:
Nasi, macam2 mi : dari mulai bihun, Indomie, spaghetti, pasta, mi kuning, mi putih, mi udon, ikan kalengan, jamur kering, kaldu ayam di kaleng
Di kulkas:
Telur, tahu, sayuran beku :jagung, kacang polong, wortel, ikan beku separti salmon atau ikan putih atau udang beku atau udang yang sudah dimasak tinggal dipanaskan
Sebulan sekali saya ke Costco beli ayam 6 bungkus yang satu bungkus isinya 5 ayam, bisa paha bawah, paha atas, sayap, dada. Saya biasanya beli paha atau sayap.
Saus2 dasar:
Kecap asin, kecap manis, saus tiram, sambel oelek, garam, merica, bubuk kacang buat bikin saos kacang buat makan sate, gado2, ketoprak
Bumbu2 dapur : bawang putih (buah atau bubuk), bawang merah atau bawang bombay, jahe (segar dan bubuk), madu
Itu yang paling minimal deh yang saya punya. Ibaratnya kalau keuangan pas menipis, saya tetap bisa masak sesuatu: nasi dan telur dadar, mie ayam goreng pakai tahu, nasi goreng.
Saya juga bersyukur deh jadi orang Indonesia, yang terbiasa makan tumis2 an, nasi, ceplok telor bisa kenyang!
Setelah berkali2 gagal menahan diri buat pesan makanan luar dan belanja kebanyakan, saya akhir2 ini lebih bisa kontrol diri untuk masak apa adanya.
Untungnya juga sejak saya pindah ke Amrik, saya banyak belajar resep2 masakan dari negara2 Asia lain dari situ yang namanya Blok Kari Jepang, sambal fementasi Korea (Gochujang), kari merah Thai, miso menjadi bahan sehari2 di dapur saya.
Saya juga belajar menyederhanakan masakan. Kalau ada bumbu yang saya gak punya, saya cuek aja, improvisasi, gak ngotot harus pakai bumbu lengkap dari A sampai Z.
Dan saya juga gak malu memakai bumbu jadi, meskipun saya gak selalu pakai. Yang penting masakan saya enak dimakan!
Ini beberapa makanan yang sehari2 saya masak
Tumis wortel, tahu, bokchoy, nasi da krupuk, warteg banget gak sikkkk
Tengok kulkas. Ada apa ya? Sisa toge, tahu satu blok, mi putih, tahu, bubuk kacang? Bikin ketoprak kali……
Ketoprak, gak nyangka kan jajanan jadi makan utama
Eh ada kacang panjang, sisa kol putih, bubuk kacang tinggal seumprit, ya sudah direbus saja dan bikin bumbu kacang….
Kacang panjang dan kol rebus, plus timun disiram bumbu kacang, jadi makanan juga koq!
Pas rumpi2 sama teman2 kantor, ada yang nyebut kari Jepang sebagai makanan favorit, jadilah makan siang saya hari itu
Cemplungin wortel. Kol putih di kari Jepang, panasin udang goreng tepungAda stok salmon di lemari pendingin, yuk bikin!Mi Goreng saja buat makan siang ya gak apa2 juga
Kadang anak saya suka ngeledekin. Mom kapan terakhir makan daging? Ha..ha..ha..saya ketawa saja.
Kadang ide masak saya selain tengok kulkas lihat bahan2 yang ada, kadang saya dapat ide pas makan bareng. Contoh saya ada sisa kacang panjang yang harus saya masak secepatnya. Tadinya saya mau tumis pakai tahu, tapi keluar malas menggoreng si tahu…inget kemarin pas makan bareng2 di resto Thai ada yang pesan sup udang kari merah. Jadilah saya masak sup kari merah Thai pakai kacang panjang, wortel, tahu. Ada sayur, protein dan karbohidrat.
Kari merahnya pakai bumbu jadi, ringkes, cepat, enak!
Sup Kari Merah ala Thai
Saya juga paksakan beli sesuatu yang saya gak terlalu suka, selada contohnya. Saya cuma biasa makan selada di burger doang. Padahal gak suka burger?! Jadilah bikin ini
Selada bungkus tahu parut, kurang kenyang sik….harusnya pakai nasi euy…
Tapi ya kadang saya keluar deh malasnya, ya pesen makanan, atau makan di luar sama teman2 disini, tapi ya itu , gak bisa sering2 karena kenyataannya ya bisa bokek lah saya
Kadang juga belum tentu selera makanannya saya sreg atau pasti bikin kenyang.
Saya ingat perkataan almarhum ibu saya. Beliau bilang, kategori bisa masak itu bukan kamu bisa masak dengan semua bahan2 tersedia lengkap, tapi adalah saat kamu bisa memasak makanan dengan bahan2 terbatas tapi ‘jadi’.
Sepertinya sik saya sudah masuk kategori itu ya?
Jadi kesimpulannya…..Saya itu tetep gak suka masak. Buat saya masak itu kebutuhan sehari2 saja. Maunya sik punya bibi yang masakin..apa daya hidup di Amrik sebagai rakyat jelata 🥰
Saya sibuk foto2 makanan, karena saya mau nulis blog ini…..
Koq bisa yaaa ada orang segitu KEPO nya??
Ha..ha..haa..semoga tulisan saya bikin pembaca senyum2 dan terinspirasi dikit…