Author: Irus

Ala Amerika : Belanja Saat Black Friday

Setelah 10 tahun tinggal di Amrik, ternyata saya bosan berpartisipasi dalam kehebohan Black Friday (BF).

Kalau ada teman-teman yang belum tahu apa Black Friday itu, buat saya BF ada dasarnya adalah ‘gong’ dimulainya kehebohan berbelanja untuk menghadapi tradisi penghadiahan di hari Natal.

BF awalnya di mulai hari Jumat pagi-pagi subuh, setelah hari Thanksgiving. Tapi dua tahun belakangan, tradisi belanja BF DEAL dimulai di hari Thanksgiving.

Buat saya agak-agak keterlaluan, karena Thanksgiving kan hari libur yang tidak bernuansa keagamaan dan lebih umum, sekudunya ya di liburkan saja lah, tapi ternyata masyarakat banyak juga yang belanja di hari Thanksgiving, jadilah pergeseran waktu ini mulai menjadi hal yang ‘lumrah’.

Tahun 2007, pertama kali saya kerja di ritel, saya mulai kenal BF dan tradisinya. Toko tempat saya kerja kalau tidak salah ingat buka jam 3 pagi! Lumayan ‘gila’ untuk skala kota tempat saya berdomisili yang notabene kota kecil tapi karena tempat saya kerja boleh dibilang satu-satunya tempat belanja yang cukup ‘mentereng’ (fancy gitu), meskipun toko buka jam 3 pagi, pengunjung ya ada saja.

Sebagai pekerja ritel (waktu itu), terus terang saya ‘menderita’ saat BF, apalagi di tahun 2011 waktu suami tinggal di negara bagian lain, anak saya saat itu berumur 6 tahun, kelabakan saya mencari bantuan untuk menjaga anak saya selama saya kerja di jam zombie.

Sebagai konsumen, saya tidak pernah melakoni kelakuan beberapa orang yang sampai-sampai buka tenda segala untuk menunggu toko-toko dibuka untuk bela-belain beli BF Deal atau ngantri dari jam 10 malam menunggu toko di buka. 

Paling-paling waktu saya tinggal di Cleveland tahun 2010, saya pernah pagi-pagi sekali berangkat ke Outlet atau jam 12 malam ngacir ke Toys R Us seberang apartemen untuk beli hadiah ultah si kecil di bulan Januari nanti. 

Setelah saya tinggal di KY dan kerja di institusi keuangan boleh dibilang saya tidak lagi kebagian ber BF-ria karena saya selalu harus kerja di hari Jumat setelah Thanksgiving.

Tapi ya tidak apa-apa, karena setelah bekerja di ritel bertahun-tahun, saya ‘ngeh’ kalau tidak selalu BF Deal itu paling murah. 😉

Hari ini saya ya di rumah saja, tadinya mau melihat keramaian dan ambil foto buat teman-teman, tapi koq malas ya?

Jadilah saya dan anak sibuk membuat LEGO dengan tema Black Friday Madness has begun…..

Silahkan gunakan imaginasi masing-masing dalam meninterpretasikan LEGO  kami :

Update

Setelah melihat iklan toko Target, ada XBox, saya dan anak yang ada tergoda ngacir ke Target, di tambah memang saya punya 14 kartu hadiah (gift card) yang bisa di belanjakan di Target.

Kami parkir di sisi gedung – bukan di depan gedung- yang waduh….kendaraan bersliweran – langsung dapat parkir, lalu ke bagian elektronik, ambil XBox, dan langsung bayar di kasir di lokasi – dibanding di kasir utama yang antriannya sudah seperti ular naga panjangnya!

Resmilah kami sebagai korban BF Deal :

 

 

 

 

Jalan-Jalan : Melanjutkan Perjalanan Menyusuri KY Bourboun Trail

20151122_164422

Halagh!

Setelah nyasar di Jim Beam, saya ‘kecanduan’ ingin melihat tempat-tempat penyulingan lainnya di KY Bourbon Trail! Sekali lagi bukan kecanduan dengan bourbonnya, tapi saya penasaran dengan cara pemasaran mereka : dari sekian banyak tempat penyulingan di KY, bagaimana masing-masing merek membedakan diri mereka dengan pesaingnya? Itu yang lebih membuat rasa ingin tahu saya membuncah, kalau masalah rasa, blaaaaaaaaaaaahhhhh tetap saya tidak doyan. 😉

Minggu, tanggal 24 November 2015, saya loncat-loncat kegirangan karena matahari bersinar cerah dan suhu udara lumayan bersahabat.

Maklum, di Amerika, kalau sudah masuk bulan November itu artinya sudah harus bersiap-siap menghadapi suhu dingin bahkan salju. Setiap kali ada hari dimana udara lumayan hangat dan matahari bersinar, sebagian besar orang sini langsung memanfaatkan dengan pergi ke luar menikmati udara bagus sebisanya. Demikian juga saya.

Jadilah kami ngacir menuju lokasi Maker’s Mark. Saya pilih MM karena botol-botol MM itu ditutup dengan menggunakan lilin merah – yang saya ingat pernah saya lakoni waktu kerja di perusahaan Jepang tahun 1997 dimana bos saya mengelem amplop berisi dokumen penting dengan lilin merah – kesannya ‘keren’ dan aristrokat gitu…ha….ha….ha.

MM lokasinya di selatan kota Louisville, untuk menuju MM, kami melewati 2 tempat penyulingan lainnya : Jim Beam dan Four Roses – yang lokasinya di jalan utama. Saya pikir dong lokasi MM juga di jalan besar, ternyata salah besar. Untuk ke lokasi MM, kami masuk ke ‘pedesaan’ , istilahnya di tempat ‘jin buang anak’ atau out of nowhere gitu.

Seperti juga lokasi Jim Beam and Woodford Reserve, kampus MM juga apik dan asri (dan tidak bau!!)

Seperti halnya Jim Beam, di MM juga tersedia tur, di MM harga tiket untuk dewasa itu $9, anak-anak dibawah usia 21 tahun gratis.

Kampus MM relatif lebih kecil dibanding Woodford Reserve, tapi itu karena MM punya kampus lebih dari 1 lokasi. Tur kami kali ini , seorang wanita dan kita tidak dibekali radio, tapi cukup mendengarkan suara si pemandu tur.

MM konon menggunakan tipe gandum yang berbeda dengan merek lainnya, disamping itu seperti juga Woodford yang mempunyai produk ‘khas’ disamping produk utama mereka, MM punya Maker’s Mark 46, bourbon untuk produk ini menyerap tambahan kayu tertentu disamping tong kayu yang digunakan untuk produk utama. Warnanya menjadi lebih gelap dan konon rasanya lebih ‘dalam’.

Dibanding Woodford, tempat penyimpanan tong kayu MM lebih kecil dan juga di MM, tong-tong kayu ini diputar dengan tangan untuk menjamin ‘kematangan’ merata dari si borbon. (di Woodford mereka mengandalkan perubahan musim untuk pematangan borbon mereka)

Yang beda lagi, di MM, pengunjung dibolehkan menco’el jari mereka untuk mencicipi si borbon saat dalam proses fermentasi – dimana semua bahan-bahan setelah selesai ditumpuk, dituang ke tong kayu raksasa terbuka. Ewwwwwwww!!

Ruang icip-icip di MM juga terlihat lebih ‘mewah’, karena dindingnya kaca. Pengunjung mencicipi 4 jenis borbon : dari tipe pertama yang warnanya sangat terang (hampir bening) hingga tipe nomor 4 yang warnanya paling gelap.

Beda dengan kunjungan di Woodford dimana ada 2 ibu-ibu yang juga ‘memble’ setelah menegak borbon, disini cuma saya yang mukanya berkerut-kerut setelah mencicipi borbon, pengunjung lainnya sepertinya semua penggemar borbon, karena saya mendengar suara ‘aaaaaahhhhhh’ dari mereka.

O iya, kalau di Woodford coklat disediakan saat pencicipan, di MM, coklat bisa diambil setelah pencicipan. (Jelas, saya ambil sebanyak mungkin!! 😉

Setelah pencicipan, pengunjung masuk ke toko suvenir, dimana pengunjung bisa me’wax botol ataupun gelas pilihan mereka.

Saya tidak ‘ngeh’ kalau boleh memilih me-wax gelas, jadilah saya pilih borbon paling kecil untuk di lilinkan. (kalau boleh milih, saya mending ‘melilin’ gelas daripada botol borbon, karena lebih murah dan juga saya tidak tahu mau dikemanakan si borbon itu yak???)

Pengunjung harus memakai celemek, kacamata pengaman, sarung tangan dan sarung lengan sebelum masuk ke tempat waxing.(waxing bahasa Indonesianya apa ya????)

Proses waxing ini di MM sepenuhnya dilakukan dengan tangan – bukan mesin. Konon pemilik MM sempat berargumen untuk mengubah proses ini dengan menggunakan mesin, tapi sang istri berketetapan untuk melanjutkan tradisi dan dia menang. Jadilah hingga detik ini semua botol-botol MM di tutup dengan lilin merah yang tidak ada satupun yang sama.

Proses pelilinan dengan tangan ini lucunya membuat beberapa botol menjadi bahan koleksi – karena sifatnya yang unik. Ada beberapa botol yang ‘kebanyakan’ lilin hingga meleleh ke label – yang tidak seharusnya’- tapi oleh MM dibuat menjadi ‘one of a kind‘.  Semakin ‘ngawur’ lelehan si lilin, semakin ‘keren’ si botol jadinya. Ada-ada saja ya??

Di akhir tur, penunjung boleh berjalan kaki kembali ke gedung utama atau naik troli ke tempat parkir. Saya dan si kecil pilih naik troli, karena si kecil hobi naik troli!

20151122_163526

Jadi apa dong perbedaan antara satu penyulingan dengan yang lainnya?

  • Strategi pemasaran jelas memegang peranan penting dalam pembedaan masing-masing penyulingan
  • Jim Beam satu-satunya tempat penyulingan (diantara 2 lainnya : Woodford dan Maker’s Mark) yang punya tempat makan yang cukup mengenyangkan (bukan cuma makanan ringan)
  • Jim Beam dan Woodford menjual coklat, tapi tidak di MM
  • Jim Beam juga satu-satunya tempat penyulingan yang melakukan pencicipan dengan cara ‘dispenser’. Pencicipan di Jim Beam itu lucu, ada kira-kira 5 stasiun dispenser bourbon dengan berbagai rasa dimana pengunjung tinggal menggunakan kartu yang mereka dapat dari pembelian tiket untuk mencicipi borbon. Seperti dispenser soda di tempat makan cepat saji.
  • Cuma di MM pengunjung bisa melakoni pelilinan botol untuk dibeli.
  • Di MM yang saya senang itu di gedung pembelian tiket ada dinding bergambar menggunakan ubin-ubin kecil warna warni. Cantik sekali, jadilah saya ngeceng di dinding tersebut berkali-kali 😉
  • Juga di gedung terakhir sebelum masuk ke toko suvenir, di langit-langit mereka buat keramik warna-warni yang masing-masing warna melambangkan proses pembuatan borbon : merah -warna kayu, biru warna air, kuning warna saat peragian.

Puaskah saya jalan-jalan ke tempat penyulingan borbon?

You’ll never know! ;-))

 

 

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Mengunjungi Tempat Penyulingan Bourbon

Negara bagian Kentucky, tempat saya tinggal sekarang, boleh dibilang terkenal akan dua hal :

  • Balapan Kuda dan
  • Minuman Bourbon (sejenis wiski)

Waktu pertama kali pindah ke Louisville, Kentucky saya bingung karena melihat patung kuda dimana-mana, diberitahu suami kalau di Kentucky balapan kuda itu tradisi orang sini. Di kota Louisville sendiri, setiap tahun ada festival Kentucky Derby, acara tahunan yang heboh dan ditunggu-tunggu kalangan elit di sini.

Selain kuda, KY juga terkenal akan bourbon-nya. Bourbon itu sejenis wiski, boleh dibilang wiskinya Amerika lah, karena pakemnya bourbon hanya boleh di produksi di Amerika. Konon sumber air alam di KY membuat bourbon lebih khas rasanya dibanding di tempat lain.

Nah di KY, saking banyaknya tempat penyulingan bourbon di sini, pemda setempat membuat atraksi turis, namanya Kentucky Bourbon Trail. Saya yang meskipun bukan penggemar minuman beralkohol;berhubung bukan penduduk asli Kentucky terus terang penasaran dengan si bourbon ini.

Setelah minggu lalu tidak sengaja melewati salah satu tempat penyulingan bourbon, Jim Beam, saya bernegosiasi dengan suami untuk melakoni KY bourbon trail tanpa dia tergoda ingin minum melampau batas.

wpid-wp-1447896474236.jpeg

Jadilah hari ini, Minggu tanggal 15 November 2015, kami memulai petualangan kami menyelusuri KY bourbon trail.

Dari 9 tempat penyulingan di Kentucky, kami pilih penyulingan di timur Louisville, yaitu di kota Lawrenceburg, dimana ada 4 tempat penyulingan yang lokasinya berdekatan ; Four Roses, Wild Turkey, Woodford Reserve dan Town Branch.

Bukan jadi mau singgah ke-empat-empatnya, tapi paling tidak kami ada rencana cadangan lah, karena siapa tahu kami ternyata tidak suka yang satu, bisa pergi ke tempat yang lain.

Pilihan pertama kami adalah Wild Turkey, eh alah waktu sampai di lokasi, ternyata tutup (padahal waktu di cari di Google, tertulis jam operasi untuk hari Minggu). Tu kan?!! Untung kita pilih jalur yang ada 3 pilihan lainnya. Setelah mengecek lewat telpon kami putuskan untuk ke Woodford Reserve.

Seperti halnya lokasi Jim Beam, Woodford Reserve ini lokasinya juga apik, bersih dan ‘tenteram’.

Di gedung utama, pengunjung bisa duduk di lobi yang luas untuk menunggu bus tur berikutnya, sambil melihat-lihat toko suvenir yang menjual produk Woodford Reserve, dari mulai bourbonnya sendiri, bumbu-bumbu dapur, gelas-gelas, sampai pernak-pernik khas Woodford Reserve.

Di gedung utama ini, pengunjung juga bisa membeli tiket untuk tur : $10 per orang, anak-anak dibawah 18 tahun gratis dan mengambil paspor KY Bourbon Trail.

20151115_145855

Jeda antara tur yang satu dengan yang berikutnya itu sekitar 30 menit, tidak terlalu lama. Setiap pengunjung diberikan radio pendengar lengkap dengan ear set jadi si pemandu turis tidak perlu berbicara dengan suara keras tapi masing-masing pengunjung bisa mendengar penjelasan dengan baik.

Dari gedung utama, kami naik ke bis untuk pergi ke lokasi penyulingan.

wpid-wp-1447639431035.jpeg

Gedung pertama yang kami kunjungi adalah gedung dimana awal pembuatan bourbon dimulai. Ada 5 hal penting dalam pembuatan bourbon, seperti yang tercantum dalam diagram ini :

IMG_20151115_141903

Di gedung ini juga, bahan-bahan utama di campur dan di giling bersama-sama untuk kemudian di fermentasi di dalam tong kayu (barrel) raksasa.

Proses selanjutnya adalah proses penyulingan, di ruang penyulingan ada 3 ‘botol’ ukuran besar yang mengingatkan saya dengan botol si jin ‘Jinnie’.

20151115_142526

Selesai penyuingan, tahap berikutnya adalah tahap yang paling penting dalam pembuatan bourbon : yaitu tahap pematangan (aging). Bourbon yang sudah disuling, dituang kedalam tong-tong kayu, lalu di simpan di dalam gedung khusus untuk menyimpan si tong kayu ini.

Masing-masing tong kayu tertera tanggal awal penyimpanan. Untuk mencapai rasa yang diinginkan rata-rata bourbon disimpan tidak kurang dari 6 tahunan.

Untuk mengetes apakah bourbon sudah siap untuk dipasarkan, dalam waktu tertentu, crafter akan mencicipi bourbon yang bersangkutan dari masing-masing tong. Bisa di lihat di beberapa tong, ada bagian yang terbuka, yang tandanya crafter sudah pernah cicipi tong tersebut.

Selesai penyulingan, semua bourbon yang sudah jadi sekarang siap untuk dibotolkan dan dikirim ke pemasok di seluruh penjuru Amerika.

Tur di tutup dengan pencicipan bourbon. Masing-masing pengunjung di beri 2 gelas kecil (shot) bourbon : satu bourbon biasa dan satu lagi bourbon double oak (bourbon yang mengalami proses lanjutan setelah proses utama selesai) dengan satu coklat isi bourbon.

Pengunjung diminta mencicip masing-masing 3 kali. Setiap selesai mencicipi, kami diminta untuk membayangkan rasa ‘awal’ yang kami rasakan. Bourbon, seperti halnya parfum, memiliki 3 tahap perasaan yang berbeda. Perasaan awal, menengah dan akhir.

Rasa awal yang lazim dirasakan oleh pengunjung itu adalah rasa ‘buah’, rasa tengah mulai dari kayu manis, daun mint, sedangkan rasa akhir itu mulai terasa aroma kayu oak, coklat, tembakau, kopi dsb. Diagram ‘rasa’ ini berbeda dimasing-masing bourbon, bisa dilihat di bawah ini.

WDF_Flavor-Wheel_RYE

Waktu saya cicip si bourbon, mblllaaaaaaaaaaaaaaah…..lidah ini langsung protes, dan ternyata bukan saya saja yang tidak bisa ‘menikmati’ rasa bourbon, ada 2 pengunjung wanita lainnya yang juga mengernyitkan dahi seusai mencicipi. Terus terang saya koq lebih senang membaui si wiski dibanding menegaknya. Hi..hi..hi..

Buat saya pribadi, menengok dengan kepala sendiri bagaimana proses pembuatan wiski memberi wacana sendiri buat saya. Dari mulai terkagum-kagum melihat tong setinggi rumah, tumpukan tong kayu setinggi langit dan ‘njelimetnya’ ‘merasakan’ aroma dan rasa si bourbon, saya lumayanlah jadi mengerti apa itu ‘bourbon‘ tanpa harus jadi penikmat ataupun pecandu. 😉

 2015-11-152

2015-11-151

2015-11-15

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Hutan Bernheim

Halo!

Sudah lama ya saya tidak cerita jalan-jalan, memang boleh di bilang bulan Oktober, kami tidak jalan-jalan kemana-mana, antara kerja dan acara pramuka si kecil, yang ada hari Sabtu dan Minggu cuma digunakan untuk beres-beres rumah, padahal bulan Oktober itu banyak acara Fall Festival yang seru-seru. Sedih juga karena kelewatan ikutan acara-acara seperti itu.

Hari ini, boleh dibilang satu-satunya hari Sabtu bebas untuk saya di bulan November. Saya wanti-wanti bilang ke suami untuk jalan-jalan ke hutan Bernheim. Kami terakhir ke Bernheim itu dua tahun lalu waktu ada acara Color of Leaf di bulan Oktober. Kenapa saya pilih jalan-jalan di alam? selain dipaksa berolah raga, juga relatif lebih murah dan juga saya tidak cuma jalan-jalan ke mal (dan yang ada belanja tidak karuan!!)

Hutan Bernheim itu lokasinya di selatan tempat kami tinggal, sekitar 30 menitan. Ongkos masuk kendaraan $5 per mobil, tidak mahal kan?!

Sampai di Bernheim, kami ke lokasi menara pengawas kebakaran, haduh..waktu naik ke atas menara, saya lumayan deg-degan juga..sepanjang menaiki tangga, saya dalam komat kamit ‘jangan lihat ke bawah! jangan lihat ke bawah!’

Meskipun tidak tinggi-tinggi amat, perasaan strukturnya ringkih gitu! (padahal enggak juga sih!!) dan agak-agak sempit (ternyata saya punya ketakutan terjebak di tempat terkukung). Setelah sampai diatas, DUH! leganya!

IMG_20151107_133601-001

Dari lokasi menara kami balik ke tempat pengunjung untuk makan siang di kafe Isaac. Selesai makan, kami ke jalan lagi ke Canopy Tree Walk dimana ada jembatan yang menjulur ke arah ngarai. Keren untuk tempat foto-foto yang jelas!

IMG_20151107_153657

2015-11-07

Selesai jalan di Canopy Tree Walk, kita coba satu jalan alam lagi : Rock Run Loop. Yang agak beda di jalur pendakian ini, di tengah-tengah jalur ada sungai kecil – yang karena musim, sungainya kering, hampir tidak ada airnya – tapi berarti kita bisa jalan di tengah-tengah ‘sungai’. Entah kenapa saya hobi jalan di sungai kecil, kecipak kecipuk.

Jadi buat saya jalur ini paling menarik! (tidak bohong kalau saya banyak berselfie ria disini…he…he…he)

2015-11-071

2015-11-073

Cukup 3 pendakian saja kami lakoni hari ini, bukan kenapa-kenapa, cuaca agak kurang mendukung dan juga karena pergantian musim, hari-hari di bulan November memang jadi lebih pendek, baru jam 4:30 pm, hari sudah agak gelap.

Tapi yang jelas, kami senang. Berjalan-jalan di alam itu memang menyenangkan hati (dan kantong!), menghirup udara segar, melihat daun-daun berjatuhan, melihat pemandangan indah, adem hati rasanya. 😉

Pengingat Hari Ini

Sebagian besar dari manusia, pasti berkeinginan punya banyak uang. Siapa yang tidak mau punya banyak uang? bisa beli ini itu, tidak pernah merasa kekurangan. Normal lah kalau kepingin punya banyak uang (termasuk saya). Tapi koq ya setelah mengalami kejadian ini, saya jadi berpikir dua kali ya??

———————————————————————————————————————————————————–

Baru datang di tempat kerja, saya langsung sibuk melayani pelanggan, selain menangani pelanggan yang datang, saya juga harus menjawab telpon dari nasabah.

Kring Kring. Telpon berdering. Saya angkat. Terdengar suara wanita.

Awalnya dia mau berbicara dengan Kepala Cabang. Saya beritahukan kalau beliau sedang ada rapat di luar kantor, apakah ada yang bisa dibantu dengan pegawai lain tanya saya. Yang bersangkutan terdengan agak segan, tapi akhirnya dia mulai bercerita:

Dia seorang perempuan, istri dari pengacara hukum. Umurnya sekitar 55 tahun ke atas. Dia cerita kalau rekening bank salah satu kenalannya ludes di bobol pencuri. Dan sekarang dia ketakutan (paranoid) kalau hal yang sama akan terjadi dengannya.

Saya coba jelaskan kalau kita sebagai institusi keuangan berusaha menjaga segala kemungkinan pembobolan rekening nasabah : dari mulai pembatasan uang yang boleh di tarik di ATM, keharusan menunjukkan 2 jenis kartu identitas yang legal untuk menarik uang di kantor cabang, penggunaan chip di kartu debit, pembatasan rekening yang bisa di akses di akun maya, pengiriman sinyal peringatan kalau ada transaksi yang dianggap mencurigakan dan lain lain.

Tapi si yang bersangkutan tetap saja panik tidak karuan, seakan-akan semua penjelasan saya cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Boleh dibilang saya gagal menentramkan hati ibu ini. Ya apa boleh buat.

Yang ada setelah pembicaraan saya berakhir, saya jadi tercenung sendiri.

‘Haduh, apa begini ya rasanya punya uang sebanyak itu? hati jadi tidak tenteram, selalu ketakutan, hari demi hari yang di pikirkan cuma bagaimana caranya menyelamatkan uang saya?’

Tidak bohong di hati ada sekelumit rasa ‘geli’

Ternyata punya uang pas-pasan enak juga ya…tidak usah pusing seperti si ibu.

remember-someone-is-happy-with-less-than-you-have

Diingatkan Untuk Bersyukur

Belakangan ini saya koq merasa Yang Maha Kuasa ‘menegur’ saya dengan mengirimkan sinyal-sinyalNya lewat kejadian-kejadian kecil yang saya alami sehari-hari.

Seperti yang terjadi hari ini :

Tidak seperti biasanya, saya enggan pulang ke apartemen waktu istirahat makan siang. Jadilah saya pergi ke salah satu rumah makan cepat saji ala Amerika, kebetulan ada sisa kartu hadiah dari acara anak di sekolah sebulan lalu.

Saya pilih pesan lewat kendara lewat, setelah pesan, setelah selesai memesan, saya melaju ke jendela berikutnya untuk membayar pesanan. Sang kasir yang melayani melihat stiker “B” di sisi mobil – stiker sekolah anak saya. Katanya :

‘Anak saya juga sekolah di B!’

‘O ya? Senang dia disana?’ tanya saya

‘Ya. B sekolah yang bagus Sebelum di B anak saya sekolah di C!’

(C itu sekolah dekat dengan tempat tinggal saya, dari segi kualitas sekolah B lebih baik)

‘Ya. Betul sekali! dan juga banyak aktifitas seru! Kelas berapa anakmu?’.

‘Kelas 4’

‘Wah sama dong dengan anak saya. Siapa gurunya?’

‘Saya tidak tahu. Terlalu sekali ya saya sebagai ibu, koq bisa tidak tahu? Waktu saya habis untuk bekerja, kakak saya semua yang urus anak-anak saya, jadi saya tidak tahu apa-apa.’

************************************************************************************************************************************************************

Setelah percakapan saya dengan Ibu kasir ini, saya menghela nafas panjang. Saya baru saja berinteraksi langsung dengan seorang perempuan yang harus bekerja demi keluarganya hingga dia hampir tidak punya waktu untuk anak-anaknya sendiri.

Ah Beruntungnya saya tidak perlu bekerja seharian dan masih punya waktu untuk si kecil.

Bahwa saya bisa menemani anak saya setelah dia pulang sekolah, mengantar anak saya di pagi hari dan sekali-sekali bisa datang ke acara sekolah anak saya.

Kadang kita lupa untuk berterima kasih, lupa melihat ke ‘bawah’, lupa untuk menghargai apa yang kita miliki.

Bulan November di Amerika -dimana warga Amerika merayakan hari libur ‘Thanksgiving‘ yang jatuh di hari Kamis minggu terakhir -boleh dibilang bulan untuk kita belajar berterima kasih, (dan memberi).

Yuk, mari bersyukur dan berterima kasih sama-sama!

Pelajaran Dari Al Anon

Halo.

Tulisan kali ini masih tentang perang saya dengan masalah alkohol di keluarga saya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya cerita bagaimana reaksi saya saat pertama kali membaca literatur di pertemuan Al Anon.

Pembaca akan lihat beberapa foto dengan cuplikan kalimat-kalimat yang saya baca yang ‘mengena’ sekali dengan diri saya pribadi (semua kalimat-kalimat yang saya warnai artinya saya alami sendiri sebagai kerabat pecandu alkohol)

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya yang bukan pecandu, malahan pihak yang lebih membutuhkan bantuan. Logikanya kan, si pecandu dong yang harus ditolong, mereka kan yang kecanduan, bukan saya???

Ternyata saya salah, yang saya tidak sadari adalah bagaimana kecanduan alkohol adalah penyakit yang memberikan dampak gangguan emosi ke pihak-pihak disekeliling si pecandu itu sendiri.

Kalau dipikir-pikir ya benar juga. Sementara si pecandu sih senang-senang saja minum setiap hari, lupa akan kesusahannya, kita yang tidak mabok, melihat kelakuan ybs jadi stres dan emosi.

wpid-wp-1444528807024.jpg

wpid-wp-1444529549018.jpg

Disitulah saya menyadari kalau saya boleh dibilang sudah ‘terjerumus’ ke kondisi yang tidak sehat. Apa-apa yang saya lakukan selama ini sebagai usaha saya untuk mencegah si pecandu untuk menghentikan kebiasaannya juga bisa saya baca di literatur yang saya dapatkan. Dan ternyata apa yang saya lakukan bukanlah langkah yang efektif, malah membuat si pecandu semakin kecanduan.

 wpid-wp-1444528891741.jpg wpid-wp-1444528857001.jpgwpid-wp-1444528937181.jpg

Kadang semakin saya membaca, saya semakin ‘ngeri’ karena saya menjadi sadar seberapa parahnya kondisi yang saya alami .

Langkah yang harus saya ambil selanjutnya adalah mengubah perilaku sendiri – aneh ya kalau dipikir pikir.

Tapi perlahan-lahan saya mulai mengerti tentang penyakit kecanduan ini.

Yang jelas, kecanduan alkohol adalah penyakit.

Alcoholism is an illness

Alcoholism is an illness

Seperti halnya penyakit-penyakit lain, penyakit kecanduan alkohol memerlukan mental yang kuat untuk orang-orang yang terkena dampaknya. Untuk ‘menyembuhkan’ penyakit ini, kita-kita yang terkena dampaknya haruslah yang menjadi pihak yang lebih ‘waras’ dan lebih kuat. Karena memang penyakit ini melelahkan emosi mereka yang berhubungan langsung dengan si pecandu.

wpid-wp-1444608664350.jpeg

Pertama kali saya baca literatur ini, saya protes dalam hati, karena banyak hal yang ditulis di literatur boleh dibilang ‘aneh’ karena seakan-akan kita ‘lepas tangan’ terhadap kondisi si pecandu.

wpid-wp-1444529038497.jpg

Contohnya

wpid-wp-1444529068378.jpg

Ini saya alami sendiri, dan sulit sekali buat saya untuk tidak turun tangan ‘membereskan’ masalah. But it is what it is.

Saya sebagai pihak bukan pecandu, harus berhenti ‘menolong’ pecandu dan membiarkan pecandu menghadapi konsekuensi tindakan mereka.

Kalau sebelumnya saya ‘percaya’ dengan apa-apa yang pecandu janjikan (contoh : iya, saya akan kurangi minum) , saya di sarankan untuk memilih jalan membuat kesepakatan.

wpid-wp-1444529684575.jpg

Yang jelas, saya harus mengakui kalau di keluarga saya, salah satu anggota keluarga kami menghadapi penyakit kecanduan alkohol. Dan kalau saya mau keadaan menjadi lebih baik, sayalah yang harus berubah terlebih dahulu dan saya harus cari bantuan.

wpid-wp-1444528958368.jpg

wpid-wp-1444608876810.jpeg

Para Al Anon selalu diingatan akan 3C tentang penyakit ini :

I can not Control the alcohol

I did not Cause the alcohol

I can not Cure the alcohol

wpid-wp-1444608881360.jpeg

Bergabung Dengan Al Anon

Dua tulisan saya sebelumnya saya bercerita kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol. Sudah dua minggu ini saya bergabung di pertemuan Al-Anon, dimana saya bertemu muka dengan orang-orang yang mengalami masalah yang sama dengan saya : mereka hidup dengan pecandu alkohol, baik itu pasangan mereka, orang tua mereka, ataupun kerabat lainnya. (kakak, adik)

Dari membaca literatur yang disediakan di pertemuan, saya tercekat. Kenapa?

Karena saya seakan-akan membaca tentang diri saya sendiri, seakan-akan saya sedang bercermin.karena banyak sekali hal-hal yang di tulis di buku/pamflet saya rasakan / alami sendiri.

Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata perasaan yang saya rasakan tidak ‘aneh’ , boleh dibilang lumrah dan ‘nyata’.

Langkah berikutnya yang harus saya lakoni adalah menjalani apa yang grup Al Anon sebut sebagai 12 Langkah (12 Steps):

12steps

Jujur, hingga saat ini , saya masih belum bisa menerapkan satu langkahpun dari 12 langkah diatas. Saya masih dalam kondisi marah, kecewa, frustrasi dan lelah baik fisik maupun mental.

Harapan saya adalah dengan datang ke pertemuan Al Anon, saya perlahan-lahan bisa menerapkan langkah-langkah diatas.

Saya satu-satunya ‘anggota’ Al Anon yang orang ‘asing’ alias bukan bule dan bukan pembicara bahasa Inggris asli dan bukan penganut agama Kristen. (diakhir pertemuan, selalu ditutup dengan doa, yang terkesan kristiani – saya sendiri tidak masalah, karena saya tahu kepada siapa saya mengucap doa, it is what it is)

Buat saya datang ke pertemuan ini adalah untuk ‘kesehatan mental’ saya pribadi, perjalanan saya untuk berlaku ‘waras’ dan legowo baru dimulai.

Lain kali saya akan cerita lebih banyak tentang hal-hal yang saya temukan saat membaca buku-buku Al Anon.

20151008_192221

Doakan saya selalu.

xoxo

Realita : Pasangan Pecandu Alkohol

Tulisan saya kali ini mungkin akan mengundang kontraversi dari pembaca blog saya. Setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk membuka diri tentang masalah yang saya alami dengan pasangan bule saya. Kenapa putuskan untuk blak-blakan di forum umum? Koq aib dibuka-buka sih? begitu mungkin pikiran teman-teman sekalian.

Saya buka aib karena saya mau pembaca belajar dari pengalaman saya.

Bukan rahasia lagi kalau budaya sebagian besar orang Amerika adalah mengkonsumsi alkohol. Ulang tahun ke 21 seseorang sering kali ditandai dengan pergi ke bar dan minum minuman beralkohol hingga mabok – karena di sini umur 21 adalah umur legal seseorang boleh mengkonsumsi minuman beralkohol.

Itu yang saya pikir di awal-awal waktu melihat kebiasaan pasangan mengkonsumsi alkohol.

Saya sendiri dibesarkan secara Islam, dimana mengkonsumsi miras adalah haram. Jadi saya boleh dibilang tidak pernah minum sebelum saya hijrah ke Amrik. Sampai sekarang  pun saya belum pernah mabok atau melihat dengan kepala sendiri orang lain mabok. Kalau toh saya minum, itu cuma sekali sebulan (belum tentu) dan lebih karena saya ingin tidur nyenyak (karena entah kenapa minuman beralkohol membuat saya ngantuk)

Setelah 10 tahun tinggal bersama, baru akhir-akhir ini saya kejeduk dan dengan berat hati mengakui kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol, bahwa pasangan saya menderita penyakit dan penyakit itu namanya penyakit mencandu alkohol.

Apa bedanya mereka yang hanya mengkonsumsi alkohol dalam batas-batas tertentu dengan mereka yang ‘menderita’ penyakit?

Bedanya adalah kebiasaan si pecandu bukan hanya memberikan pengaruh buruk ke si pecandu saja, tapi sudah jadi melebar ke orang-orang terdekat si pecandu.

Setiap malam pasangan pergi membeli minimal 6 kaleng bir, sering kali ditambah dengan satu botol bir ukuran besar. SETIAP MALAM.

Dulu itu, bodohnya saya, saya pikir kaleng-kaleng yang bergelimpangan di ruang TV cuma itulah yang dia konsumsi malam itu. Salah besar.

Yang aneh dengan pecandu, mereka ‘tahu’ mereka tidak seharusnya minum sebanyak yang mereka minum. Jadi mereka ‘pura-pura’ hanya meminum sekian banyak kaleng di depan ‘umum’ tapi di belakang mereka minum lebih banyak lagi.

Di ruang kerja pasangan, dijamin saya akan menemukan banyak lagi kaleng maupun botol bir kosong bergelimpangan.

Bukan satu dua kali dia menghabiskan botol liquor keras ukuran besar dalam semalam. (catatan sebutan liquor adalah minuman dengan kadar alkohol lebih tinggi dibanding dengan bir, contohnya wiski, martini)

Berbulan-bulan Bertahun-tahun saya masih dengan naivenya menganggap hal ini ‘cuma’ Kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.

Pikiran saya berubah sejak saya memperhatikan perilaku pasangan setelah minum sekian banyak alkohol.

Tablet saya di hantam ke lantai. Kabel komputer saya di gunting. Saya di kata-katai dengan pedasnya.

Begitu saja, tanpa perasaan menyesal keesokan harinya.

Masih tidak mengerti, saya diajak masuk ke grup Alnon di FB oleh kakak ipar saya dari pihak pasangan – yang juga menghadapi kecanduan alkohol pasangannya.

Disinilah awalnya saya menyadari kalau saya menghadapi seorang dengan penyakit kecanduan, bukan hanya seorang dengan kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Saya tidak lagi mampu untuk cuma menghela napas setiap kali melihat botol atau kaleng bir kosong di kamar kerja.

Saya harus mencari bantuan. Bukan cuma bantuan teman yang mendengar keluh kesah saya, tapi bantuan profesional.

Karena saya sadari sepenuhnya kalau saya tidak mengerti bagaimana menghadapi situasi ini dan jika saya mau survive, saya harus tolong diri saya sendiri terlebih dulu.

Saat ini saya berkonsultasi dengan seorang terapist untuk membantu saya konsentrasi untuk terperosok ke lingkaran ‘setan’ yang lebih dalam. (seperti halnya ‘penyakit’, penyakit kecanduan alkohol bisa menular ke orang lain / merusak orang lain)

Saya juga mau memberanikan diri untuk datang ke pertemuan Alnon – mirip AA (alcohol anonymous) – tapi ini adalah mereka-mereka yang bukan peminum tapi ‘terjerat’ di kekacauan yang dipicu oleh mereka yang menderita penyakit alkohol.

Doakan semoga mental saya dikuatkan untuk menghadapi penyakit ini.