Author: Irus

Fasilitas Kerja : Indonesia vs. Amerika

Ha. Enak Indonesia kemana-mana! Di Indonesia selalu ada supir kantor yang siap membawa pegawai ke mana saja. Hampir semua pekerja kantoran di Jakarta, Indonesia ya pekerja penuh waktu yang artinya ada asuransi kesehatan yang dibayar kantor, semua pekerja bergaji bulanan (plus bonus). Makan siang mau berapa jam juga cuek, wong dibayar koq. Sakit? koq bingung ya istirahat di rumah, gaji tidak akan berkurang koq.

Hamil? tenang. Cuti melahirkan 3 bulan – gaji tetap mengalir. Setelah bekerja 1 tahun penuh, dijamin mendapat jatah liburan, 12 hari setahun dibayar.

Di Indonesia dunia Saya itu dunia pekerja kantoran. Jam 9 pagi hingga 5 petang. Saya selalu bekerja penuh waktu, hampir tidak pernah tahu yang namanya kerja paruh waktu – kecuali Ibu Saya sendiri yang bekerja 2 pekerjaan dan salah satunya adalah kerja paruh waktu.

Baru di Amerika Saya kenal dengan yang namanya pekerja jam-jaman. Yang hanya dibayar berdasarkan lamanya kita bekerja dikurangi makan siang. Yang hanya dibayar kalau kita bekerja, kalau kita absen bekerja karena alasan apapun, ya hilanglah penghasilan hari itu.

Waktu Saya kerja pertama kali, Saya agak-agak bingung waktu tahu kalau jatah makan siang 1 jam dan itu tidak dibayar. Heh? serius??

Kalau kita bekerja penuh 8 jam sehari, kita dapat 2, 15 menit istirahat yang dibayar. Dan untuk beberapa jenis pekerjaan, hal ini termasuk kemewahan, karena tidak selalu pekerja mendapat istirahat.

Di Amerika akhir-akhir ini sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan-perusahaan besar sibuk mengurangi biaya kepegawaian mereka. Salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah tidak lagi mempekerjakan pegawai penuh waktu.

Kenapa? Karena pekerja penuh waktu itu = asuransi kesehatan harus ada, ada fasilitas hari sakit, ada fasilitas cuti hamil yang semuanya harus dibayar oleh perusahaan.

Terus terang baru kali ini Saya bekerja paruh waktu mendapat fasilitas asuransi kesehatan dan mendapat fasilitas libur dibayar. Sebelumnya sebagai pekeja paruh waktu Saya harus cukup puas dengan upah jam-jaman.

Kadang kalau kita tidak mengalami sendiri tidak terbayang ‘apa sih bedanya mendapat paid sick days atau paid holidays? Why it’s such a big deal?

It is a big deal.(well, for our family at least)

Contohnya waktu suami tergelincir di es dan harus dioperasi lutut, saat itu hanya dia yang bekerja. Setelah operasi dia harus tinggal di rumah selama seminggu. Untungya suami pekerja penuh waktu. Jadi kita tidak perlu bingung karena gaji dia tetap akan dibayar penuh oleh perusahaan meskipun dia sakit.

Atau waktu si kecil liburan musim semi. Ongkos camp itu $120 per minggunya, kalau Saya cuma ‘tidak bekerja’ berarti Saya kehilangan kira-kira $200++.Artinya meskipun Saya tidak bayar $120, tapi Saya kehilangan $200++ alias masih ‘bolong’ $180++.

Nah Saya dapat cuti dibayar, berarti Saya irit $120 dan tidak harus pusing mikir minggu ini tidak dapat bayaran.

Maunya sih ya, Saya dan suami dua-duanya dapat kerja yang mendapat fasilitas penuh….

Insha ALLAH some day….

enjoy-the-little-things-for-one-day-you-may-look-back-and-realize-they-were-the-big-things-15

Untuk Apa Sekolah?

Tiga tahun pertama Saya tinggal di Amerika, terus terang Saya terlena. Suami kerja berpenghasilan cukup untuk kami bertiga.  Tahun pertama Saya pindah, Saya langsung mendapat kerja ‘kantoran’. Gaji $9 per jam buat Saya sih cukup saja, tidak ada rasa perlu menambah wawasan.

Lalu kami sekeluarga pindah ke negara bagian lain.  Pikir Saya , sip, disini lebih banyak jenis pekerjaan, kota lebih besar, pastinya banyak dong lowongan pekerjaan dan Saya PD kalau Saya bisa dapat kerja ‘lebih baik’ dibanding pramuniaga toko.

Setelah settling down setelah pindahan, semangatlah Saya mengirim lamaran. Saya ogah lamar jadi pramuniaga lagi, kata Saya, masa sih jadi pramuniaga terus, ini kan di kota besar. Jadilah Saya lamar ke tempat lain. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Berlembar-lembar lamaran Saya kirim tidak ada SATUPUN yang nyangkut.  Mulailah Saya panik….. heh?

Setelah daftar lamaran Saya hampir satu halaman penuh, Saya mengalah, Saya putuskan untuk melamar kembali jadi pramuniaga di tempat yang sama.  Dipanggil untuk wawancara – senang nya! tapi……………….setelah itu NIL. Tidak ada kabar sama sekali??!!

Not even for holiday helpers???!!

Celingak celinguk Saya perhatikan teman-teman Indonesia yang punya pekerjaan bagus, mereka semua mengenyam pendidikan di Amerika.

Ah….pahitnya kenyataan. Barulah Saya menyadari kalau Saya tidak memiliki modal apapun. Tidak ada pendidikan Amerika.  Bahasa Inggris Saya pas-pasan, hanya bahasa Inggris percakapan sehari-hari, bukan bahasa Inggris akademik…………..

Dari kepindahan Saya ke Ohio, terbukalah mata Saya. Saya tidak bisa lagi mengandalkan suami semata-mata. Mengandalkan ‘keberuntungan’. Persaingan dalam mencari pekerjaan semakin ketat setiap tahunnya. 20 tahun yang lalu, berbekal ijazah SMA cukup untuk mendapat kerja, sekarang?

Sayangnya Saya melewatkan kesempatan bersekolah ketika di Ohio.  Nah setelah Saya pindah ke Kentucky, salah satu hal yang langsung Saya cari itu adalah keberadaan Community College ataupun kursus-kursus lainnya.

Untuk bekal di hari esok.

Susah senang hidup di Amerika

Terus terang Saya bukan tipe orang ‘berencana’ , Saya lebih ke tipe ‘Just do it!’ tidak mikir panjang lebar, tidak mikir tentang masa depan.

Saya juga bukan orang yang cerdas dalam bidang akademik, biasa-biasa saja. Di SMA termasuk 5 besar di kelas, tapi kalau dibanding Kakak Saya atau sepupu Saya, duh jauh lah….

Nah sewaktu menikah dan hijrah ke Amerika, terus terang tidak mikir nanti mau bekerja di mana? nanti di Amerika mau jadi apa dll. Cuma mikir senang punya Suami.

Kebetulan Suami waktu itu punya pekerjaan bagus, kita tinggal di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk lah. Kenapa juga harus repot mikir kerja?

Bulan-bulan pertama, karena bosan di rumah, Saya iseng-iseng jadi sitter, lalu setelah mendapat ijin kerja resmi, Saya coba lamar ke perusahaan jual beli Timeshare, langsung diterima. Di situ Saya bekerja selama 3 bulan , karena Saya ingin membesarkan si anak. Untungnya ya saat itu penghasilan suami cukup untuk kita bertiga. Dari hasil uang bekerja selama 3 bulan, bisa Saya tabung untuk beli tiket mudik.

Setelah anak berumur 1 tahun lebih, Saya mulai bosan di rumah melulu, Suami suruh Saya melamar kerja di salah satu department store karena sedang musim liburan mereka butuh banyak pekerja tambahan. Jadilah Saya lamar, dan Alhamdulillah diterima. Kerja di malam hari setelah suami pulang kantor, jadi anak tetap dijaga kita berdua.

Idealnya kondisi seperti ini berlangsung selamanya ya……..tapi seperti yang kita tahu nothing last forever. Di awal tahun 2009, suami pulang memberi kabar buruk, dia di pecat. Memang beberapa bulan sebelumnya dia sempat bercerita tentang perubahan manajemen di kantornya.  Tapi Saya tidak berpikir sampai seburuk ini lah.

Penghasilan utama hilang. Rumah kita masih dalam cicilan. Bagaimana membayar listrik? air? membeli makanan sehari-hari? Asuransi kesehatan hilang – karena Saya kerja paruh waktu dan tipe pekerjaan Saya tidak menyediakan fasilitas asuransi untuk sebagian besar pegawainya.

Runtuh rasanya dunia ini. Rasa takut dan panik menyelimuti pikiran Saya. Langsung hari itu juga Saya pergi menghadap ke bagian kepegawaian Saya. Alhamdulillah, ada rekan kerja yang mengundurkan diri, sehingga Saya bisa langsung ambil posisinya yang kebetulan penuh waktu. Resikonya Saya tidak bisa bersama anak Saya setiap hari. Tapi apa mau dikata, itu pilihan yang harus Saya ambil.

Masalah kedua, asuransi kesehatan, yang jelas, si kecil karena masih di bawah 5 tahun, HARUS ada asuransi, karena tiap tahunnya dia harus cek ke dokter. Buru-buru Saya lamar asuransi kesehata pemerintah untuk semua, tapi di atas kertas keluarga kami masih ‘tergolong tidak miskin’ untuk medicare karena kami masih memiliki rumah dan 1 mobil. Jadilah asuransi untuk Saya dan suami ditolak, tapi untungnya asuransi untuk anak, mereka punya batasan tersendiri, dan si anak masuk kategori layak mendapat asuransi dari pemerintah (CHIP) yang notabene akan membayar semua ongkos dokter si anak.

Minggu-minggu pertama terus terang berat sekali kita mengatur pengeluaran dibanding pemasukan yang tidak seberapa. Baru di minggu ketiga, kita bisa bernafas agak lega, karena suami sudah bisa mendapat unemployment insurance yang bisa dipakai untuk membayar cicilan rumah.

Suami tidak bisa langsung mendapat pekerjaan baru, karena di saat yang sama Amerika sedang dilanda resesi. Pengurangan pegawai, terjadi dimana-mana. Tempat kita tinggal itu sangat terbatas pilihan bekerja. Boleh dibilang cuma ada 2 tempat utama orang-orang disini bekerja, salah satunya ya tempat suami bekerja dulu.

Di bulan September, Saya masukkan anak ke HeadStart yang notabene program pra sekolah gratis untuk keluarga menengah bawah.

Saya bersyukur sekali akan adanya kedua program ini, Headstart dan Asuransi kesehatan untuk anak (CHIP). Paling tidak kami tidak perlu khawatir si kecil tertinggal pendidikannya dan kami tidak bingung dalam membayar ongkos dokter.

Dari pengalaman Saya ini, barulah Saya menyadari kalau Saya ‘HARUS’ bekerja, tidak bisa selamanya bergantung kepada Suami, tidak bisa bergantung pada sanak keluarga, teman-teman.

Bahwa hidup Saya disini tidak akan selalu indah, bertaburan uang, bergelimangan harta.

Ketika Ayah Pergi Menghadap Sang Pencipta

Hari Kamis tanggal 15 April 2014 sekitar jam 3.30 waktu bagian timur Amerika, Saya sedang bekerja,  waktu telpon berdering.  Saya angkat, terdengar suara anak-anak di latar belakang, agak sulit mendengar si pembicara di seberang karena suara di sekitar tempat kerja. Setelah berhalo-halo beberapa saat, akhirnya Saya bisa mendengar si pembicara.

‘Hello, mm..May I speak to D**** Suri?’ – Iya ini Saya sendiri. Maaf ini dari siapa ya?

‘Mbak, ini Ks ‘ – ternyata sepupu Saya yang tinggal di negara bagian NY-detik itu juga hati ini tercekat, langsung Saya ‘tahu’ berita apa yang akan Saya dengar.

Siap-siap Saya kuatkan batin ini, Saya tanya langsung ‘Siapa Kis, gak apa2, kasih tahu saja’

‘Opa Awang, Mbak..Ayah Mbak udah meninggal. Maaf ya Mbak’

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Saya coba tahan air mata, Saya pikir Saya bisa kuatkan hati, karena 20 menit lagi Saya bisa pulang koq. Tenang, tenang kata Saya dalam hati. Tapi ternyata Saya tidak kuat…….segera setelah telpon Saya letakkan, keluarlah air mata ini….

Sambil terisak-isak Saya telpon Manager Saya dan Saya kabarkan berita yang baru Saya terima….

Tanpa menunggu Manager Saya datang ke ruang teller, Saya kabur ke ruang istirahat untuk menangis sedu sedan sendiri, tidak ada orang yang bisa Saya peluk.

Segera Saya telpon suami diantara tangisan Saya. ‘I am going home now‘ – kata Suami.

Pulang ke apartemen, Saya minta Suami supaya ajak anak Saya bermain di tempat teman, Saya tidak mau si kecil melihat Saya menangis, berduka. Helpless.

Meninggalnya anggota keluarga kita di saat kita di negara lain adalah salah satu hal yang tersulit bagi imigran seperti Saya.

Beberapa dari kita cukup beruntung untuk bisa langsung membeli tiket pesawat di hari berikutnya, malah mungkin di hari itu juga, sehingga bisa mengantar almarhum/almarhumah ke tempat peristirahatan terakhir.

Sayangnya Saya tidak seberuntung itu. Kendala finasial maupun non finansial terpaksa mengharuskan Saya untuk merelakan kepergian Ayah dari jauh.

Ini kenyataan pahit dan menyakitkan yang harus Saya (dan Saya yakin  banyak teman-teman imigran lainnya mengalami hal yang serupa dengan Saya) hadapi.

Saya boleh dibilang masih beruntung karena memiliki teman-teman baik yang langsung berangkat ke rumah duka setelah Saya telpon lewat Skype hari itu juga. Dari lensa kamera teman baik Saya, Saya bisa ‘melihat’ Ayah dimakamkan.

Saya masih beruntung karena memiliki banyak sekali teman-teman di sosial media yang mengucapkan doa atas kepergian Ayah. Masih beruntung karena ada teman-teman di sini yang bersedia mengaji untuk Ayah.

Banyak ‘andai, andai’ berkecamuk di kepala Saya.

Andai ada dermawan yang mau membelikan tiket untuk Saya pulang.

Andai Saya seperti si X yang bisa pulang setiap tahun.

Andai…Andai….Andai…..

Pada akhirnya seribu andai-andai tidak akan merubah apapun tentang kondisi Saya. Saya harus merelakan kepergian Ayah. Merelakan ketidakberdayaan Saya.

Cercaan, cemoohan, cibiran orang-orang akan ketidakberadaan Saya di saat-saat seperti ini adalah resiko.

Selamat jalan Ayahku.

Maafkan segala kesalahan Saya. Cuma doa yang Saya bisa berikan untuk Ayah.

Untuk teman-teman imigran yang senasib seperti Saya, tabahkan hati, kenyataan memang tidak selalu mengenakkan.

Untuk teman-teman imigran yang lebih beruntung, bersyukurlah,  karena mengantarkan orang tua kita ke tempat peristirahatan terakhir itu adalah kehormatan’………………………..

 

mydadnme

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita dan telpon genggam

Hari gini, siapa sih yang tidak punya telpon selular, baik itu Iphone, Blackberry atau telpon canggih lainnya. Waktu Saya coba google untuk cari statistik pemakai telpon genggam, konon 91% penduduk Amrik memiliki telpon genggam. Di survey itu juga dinyatakan kalau sebagian besar penduduk sudah meninggalkan budaya telpon rumah. Memang benar kalau telpon genggam itu sudah menjadi budaya ‘harus punya’ buat sebagian besar orang.

Dimana-mana kita bisa lihat orang-orang sibuk wara wiri dengan telpon mereka, di antrian kopi, di lobi bank, di stasiun, di kamar mandi,  di toko, sambil jalan, sambil nyetir mobil!!, sambil makan di restoran, sambil kerja!! dan seterusnya……………..

telpon ibarat oksigen, tanpa telpon, ‘mati’ rasanya hidup di pemegang telpon.

Beberapa teman yang Saya kenal, bisa kebingungan tidak karuan kalau lupa membawa telpon. Pernah rekan kerja kelupaan bawa telpon, padahal hari itu kita cuma kerja 4 jam-an, halah, dia panik setengah mati, sampai2 dia telpon suaminya untuk datang ke tempat kerja membawa telpon dia. Ck..ck..ck..Saya sampai geleng-geleng kepala. Perasaan tempat kerja Saya bukan ruang darurat deh yang HARUS berkomunikasi setiap saat. Atau pebisnis yang super sibuk yang harus memantau klien setiap detik.

Saya pribadi bukan penggemar telpon genggam. Telpon genggam yang Saya miliki usianya lebih dari 2 tahun dan prabayar. Satu bulan Saya cukup bayar $15.00. Karena tipe telpon Saya yang jadul, ada rekan kerja yang meledeki Saya, telpon Amish katanya. Saya sih ketawa saja.

Saya butuh telpon genggam untuk berjaga-jaga, misalnya pas anak Saya kena diare di sekolah, pihak sekolah harus menelpon Saya, atau kalau Saya akan telat menjemput anak di tempat penitipan anak, atau suami akan telat pulang, dan mau memastikan Saya tidak menunggu2 dan sebagainya.

Sudah hampir 2 bulan telpon Saya entah dimana karena Saya lupa dimana Saya taruh. Saya tenang-tenang saja tuh. Hidup berjalan lancar, pekerjaan beres, ini dan itu tetap berlangsung tanpa ada hambatan berarti.

Terus terang juga rasa hormat Saya banyak pupus terhadap ‘pelakon telponku oksigenku’.

Kenapa? Sebagian besar tipe ini amat sangat terserap pikirannya terhadap telpon semata.

Lupa tata krama, sopan santun.

Berhadapan dengan sesama manusia menjadi tidak sepenting dengan memelototi telpon.

Keselamatan orang lain menjadi tidak sepenting mengirim text dikala mengendarai mobil.

Pelayanan terhadap konsumen bisa dinomor duakan karena harus balas pesan dulu di telpon.

Sebagai pekerja di bidang jasa, terus terang paling malas Saya menyapa pelanggan yang sibuk dengan telponnya. Buat apa gitu?Apakah karena Saya ‘kebetulan’ berada di sisi berbeda dengan mereka Saya patut diacuhkan? Saya kurang penting dibanding bermain dengan telpon?

Jujur deh, berapa dari kita sebetulnya benar-benar HARUS menggunakan telpon untuk hal-hal penting? bukan untuk foto-foto (baik selfie atau yang tidak puguh), bukan untuk kirim teks gak penting, bukan untuk main candy crush?, bukan untuk menjelajah status dan foto teman-teman di facebook, twitter dst?

Apa hal-hal tersebut di atas cukup dijadikan alasan kita untuk lupa tata krama? tidak peduli keselamatan orang lain?
lupa kalau berbincang dengan manusia di hadapan mata, fokuslah dengan dia bukan dengan telpon di genggaman?
lupa kalau ada hidup di dunia nyata, bukan dunia maya?

Adanya telpon canggih yang KONON bisa membuat hidup kita lebih mudah, bukan berarti kita harus menjadi orang yang lupa tata krama kan? Teknologi harusnya mengeratkan hubungan sesama manusia, bukan jadi mengasingkan sesama manusia.

Ah…Saya cuma bisa bersyukur karena hingga saat ini masih belum merasa perlu memiliki whatsapp ataupun pin BB atau ini dan itu lainnya. Kuno? ya tidak apa2, yang antik yang susah dicari dan mahal harganya kan? 😉

 

Pssst….jangan pernah beli barang harga penuh di Amrik!

Image

 

Aturan pertama belanja di Amrik:

Jangan pernah beli barang tanpa ada potongan!

Karena satu saat barang yang bersangkutan pasti akan ada promosi.

Tip belanja :

1. Di Macy – tunggu promosi ‘One Day Sale’ karena harga barang2 notabene paling rendah dan bisa kombinasi dengan kupon yang dikirim lewat pos

2. Banana Republic – paling tidak satu bulan sekali ada promosi extra potongan 40% untuk barang-barang yang sudah didiskon.  Sempat beli sepatu boots harga asli $225, cukup bayar $50, bahan material dari kulit.

3. JC Penney – daftar di program Rewards, dijamin dikirim kupon, maksimal 25%. Sering kali ada promosi gratis. Baru-baru ini dapat kupon gratis handuk (seharga $10), tidak nolak dong.

4. Stein Mart – daftar program Rewards, di email akan dapat extra potongan 20%-40% dari harga yang sudah didiskon. Koleksi sepatu Stein Mart boleh dibilang unik, tidak ada di toko lain, tapi jangan pernah beli kalau harga belum di diskon. Karena kalau tanpa diskon, ya harga jadi samimawon, mahal. Nemu sepatu merek EuroSofft yang notabene merek cukup bagus, seharga $25 – harga asli $60++

5.  TJ Maxx – harga pakaian boleh dibilang ‘biasa’ alias kita bisa temukan harga yang sama di departement store. Yang boleh dibilang miring di toko ini menurut Saya itu kosmetik dan pernak pernik perawatan tubuh. Kadang ada merek kosmetik beken seperti Estee Lauder, Shisedo, Elizabeth Arden dengan harga $10-$30 lebih murah. Contoh : Serum Idealist dari Estee Lauder, di situs harga minimal $62, di TJ Maxx cukup $32. Body Butter merek The Body Shop, harga termurah di toko asli $10 (promosi), disini cukup $4-$6.

Bule senang kulit coklat?

kik..kik…kik…hayo ingat kan dengan stereotype ini?

Benar atau tidak sih kalau bule itu senang sama yang keling-keling?

Ternyata……………….

Ada benarnya!!
Dan ini bukan cuma laki-laki kulit putih yang suka dengan perempuan berkulit coklat. Tapi perempuan kulit putih pun terobsesi untuk berkulit coklat.

Suami sendiri lebih senang kalau kulit Saya coklat. Di musim panas, waktu Saya kerjaannya berenang hampir tiap hari, ini kulit yang ada gosong, eh malah di sayang-sayang sama Suami.
Eksotis istilah kerennya.

Nah itu kalau laki-laki.

Kalau perempuan; Manager Saya di tempat kerja itu ternyata langganan ke salon tanning, dia sendiri mengakui kalau dia pengen banget punya kulit seperti SayaDan dia bukan kenalan pertama Saya yang Saya tahu keranjingan ber-tanning di salon.

Ada kenalan yang sejak usia 20 tahun sudah menjadikan tanning ritual setiap bulan.

Pernah Manager Saya (perempuan) celetuk ‘Laki-laki suka perempuan seperti kamu, terutama warna kulitmu’

Ha…ha…ha…
Saya pribadi sih senang-senang saja, tapi tidak jadi keranjingan mandi matahari atau mandi sinar ulta violet di salon. Karena ternyata setelah Saya perhatikan, mereka yang waktu mudanya pergi ke salon UV, koq kulitnya jadi terlihat tidak alami, ibarat tas kulit yang sudah lama dipakai (very beat-up old leather bag)…

Jadi bersyukurlah kalau punya  kulit eksotis…tidak perlu ke salon kan…;-)

Askes oh Askes (di Amerika)

Mungkin ini karena pengalaman orang tua waktu di Jakarta, mereka kena tipu agen asuransi. Jadilah Saya sekarang agak-agak alergi kalau dengar kata asuransi.

Di Amerika, hidup tanpa asuransi boleh dibilang tidak mungkin. Dari mulai asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi rumah, asuransi mobil, panjang deh daftarnya.

Ini Saya mau cerita pengalaman pribadi mengurus klaim dengan asuransi kesehatan Saya.

Tahun lalu itu Saya berasuransi dengan Aetna lewat perusahaan tempat Saya kerja. Saya sendiri jarang ke dokter, tapi memang tahun 2013 sekeluarga agak lebih sering sakit, meskipun tidak parah, tapi cukup membuat kita khawatir sehingga kudu pergi ke dokter.

Salah satu kunjungan dokter yang Saya lakukan itu di akhir tahun 2013, tepatnya tanggal 31 Desember. Seperti biasa laporan dari asuransi Saya terima kira-kira satu bulan setelah kunjungan ke dokter. Waktu Saya buka. lah??!! Kaget, karena di laporan tertera kalau kunjungan Saya tidak akan dibayar asuransi karena Saya tidak memiliki asuransi saat kunjungan!!!!

Bingung dong?? Langsunglah Saya obrak abrik berkas-berkas askes dari kantor. Di situ tertera kalau ‘Saya terlindungi oleh asuransi hingga Desember 31, 2013. Saya telpon ke bagian kepegawaian kantor, di konfirmasi kalau data yang Saya miliki benar. Saya telpon asuransi, jawaban pertama ‘Di data kami, asuransi Anda hingga Desember 30, 2013. Akan Kami selidiki lebih lanjut.’

Keesokan harinya Saya terima pesan dari Asuransi kalau data yang mereka miliki adalah benar. Desember 30 1013 hari terakhir Saya terasuransi.

Telpon lagi ke kepegawaian, lagi-lagi dijawab kalau Saya harus diasuransi hingga Desember 31 2013 dan mereka tidak menemukan hal yang mengatakan berbeda.

Telpon Asuransi lagi, kali ini dijawab oleh Supervisor, ternyata masalahnya adalah ‘premi’ yang mereka terima hanya sampai tanggal 30 Desember 2013. Oleh si Supervisor, dia berjanji akan melanjutkan kasus Saya ke departemen yang berwenang (masalah pembayaran premi). Agak sedikit legalah Saya.

Dua minggu berikutnya Saya terima tagihan dari dokter, halagh?? Saya masih harus membayar penuh?

Waktu Saya lihat slip gaji, memang di minggu terakhir 2013, bayaran asuransi Saya tidak seperti biasanya. Jadilah Saya coba email HR kantor untuk menanyakan kenapa bayaran asuransi berbeda. Dijawab kalau itu dikarenakan mereka harus membagi bayaran 2 hari di tahun 2013 dan 3 hari di tahun 2014. Jadi kesimpulan Saya, Saya sudah bayar premi dong.??

Telpon lagi ke pegawaian kantor. Kali ini Saya jelaskan kalau ada masalah di pembayaran premi. Pegawai yang menjawab kali ini sepertinya lebih mengerti duduk masalah. Dia berjanji akan mengirim email ke asuransi ,data terbaru Saya. Ok. Saya pikir beres dong?

Dua minggu berikutnya, telpon lagi ke Asuransi……loh..di data mereka masih tertera ‘asuransi tidak dibayar!!’ haduhhhhhhhh………
Hampir gila rasanya!! masalah sederhana begini koq susah sekali ya dibereskan??

Akhirnya kemarin, 14 Maret, Saya dapat email dari asuransi yang memberitahukan kalau ada penjelasan baru mengenai status kunjungan tanggal 31 Desember. Akhirnya tagihan Saya dari $203 , turun menjadi $78.72.

Gila kan? Dari pengalaman ini Saya belajar, kalau menyangkut asuransi, kita harus berani protes karena mereka belum tentu benar dalam memproses klaim kita!!!

Piknik yuk piknik

Salah satu hobi baru setelah pindah ke Amerika adalah berpiknik ria, alias makan di taman terbuka disaat hari cerah.

Contohnya hari ini. Wuih…rasanya seperti musim panas, suhu udara 75F atau 24C, dan matahari bersinar super cerah. Yang ada kami buru-buru merencanakan piknik di luar. Menunya sederhana saja, burger. Jadilah pulang kerja Saya ke supermarket beli bahan-bahan.

Jam 6 petang, kita cabut ke taman dekat rumah. Ternyata bukan cuma kami yang berpikiran untuk berpiknik ria. Taman terlihat ramai, hari secerah ini tampaknya tidak disia-siakan warga Louisville.
Untunglah meja-meja piknik masih tersedia banyak. Jadilah kami memilih tempat dekat dengan jembatan dan sungai kecil.

Setelah berbulan-bulan terkurung di rumah karena udara dingin menusuk tulang, senang rasanya berada di luar, menghirup udara segar, bercelana pendek, bersandal jepit.

Selamat Datang Musim Semi!!

Image

Menjadi Seperti Wong Amerika :Tergila-gila matahari

Tahun-tahun pertama di Amerika, Saya kebingungan melihat polah bule-bule yang super semangat berpakaian minim dan langsung ‘kabur’ keluar rumah saat hari mulai terasa hangat.  Jalan-jalan dan taman-taman yang tadinya sepi dan dingin, tiba-tiba menjadi ramai dan hangat.

Kata Saya dalam hati ‘Idih, ini bule-bule gila apa ya? Baru ada matahari dikit dah pakai tanktop dan sandal jepit.Biasa aja deh ah.’

Sekarang, Saya ibaratnya ya si bule-bule itu. Setelah berbulan-bulan terkurung di rumah, berpakaian berlapis-lapis, hati ini meloncat riang gembira saat hari dimana matahari bersinar cerah dan menghangatkan bumi.

Ayo, ayo cari tempat terbuka untuk berjalan-jalan menikmati matahari!

Kenapa gitu?

Setelah 8 tahunan di Amerika, Saya menyadari kalau salju memang cantik, tapi membosankan. Mungkin karena jiwa Saya tetap jiwa tropis, jadi Saya akan selalu cinta hangatnya sinar matahari.

Sebelum Saya tinggal di Amerika, keberadaan matahari, hari-hari yang selalu hangat Saya tidak pedulikan.

Tapi setelah disini mengalami sendiri yang namanya cabin fever , Saya menyadari kalau Saya tidak akan pernah bosan akan indahnya matahari dan mensyukuri datangnya hari-hari cerah !!

Selamat datang Musim Semi!!Imagefeb25