Sampai saat ini Saya belum ganti pemberian orang tua saya. Nama hukum saya masih seperti dulu. Meskipun tidak bohong kalau telinga ini ‘sakit’ setiap mendengar nama depan saya di ucapkan orang Amerika, tapi nama komplit saya belum berubah.
Kalau tho saya mau ubah nama saya, saya sudah punya nama ‘Amerika’ – yaitu nama saya yang lebih mudah diucapkan lidah bule plus nama suami – yang saya ‘ciptakan’ lebih karena alasan lebih mudah di gunakan dan diucapkan sehari-hari , dan saya pakai untuk keperluan tidak penting : email gaul, blog, sosial media, dll. Nama beken atau nama panggung istilah selebritinya.
Alasan saya belum mau ganti nama secara hukum, ada dua : malas urus berkas-berkas untuk ubah nama dan sentimen pribadi dimana saya merasa nama saya adalah identitas saya sebagai individu, saya sebagai pribadi yang lepas dari bayang-bayang suami dan juga ini adalah pemberian orang tua saya – mereka pilih nama saya dengan pertimbangan sebaik-baiknya. Saya koq ngerasa kurang ‘sreg’ mau mengubahnya kalau cuma semata-mata karena pernikahan.
Lagipula saya merasa janggal menggunakan nama belakang turunan Irlandia dari suami, wong muka wedok’ gini nama berbau Irlandia, kurang cocok deh ah.
Sebetulnya hal begini biasa di Indonesia, tradisi kita tidak ada ‘keharusan’ mengganti nama setelah menikah, tapi di Amerika ini, sebagian besar masih mengikut tradisi mengambil nama suami setelah menikah.
Teman-teman bule rata-rata usil nanya kenapa koq saya tidak ambil nama suami, malah sering mereka pikir kalau saya cuma hidup bersama dengan suami dan bukan menikah karena nama saya beda dengan nama suami. Lucu ya.
Beruntung karena kita jadi sedikit lebih tahu geografi, terutama negara-negara di Asia dibanding kebanyakan orang Amerika.
Kemarin keluarga cuci mata di toko buku Half Price Books, eh ketemu buku murah tentang ‘fashion’. Berhubung saya kerja di toko baju, jadilah saya beli buku ini sebagain penambah wacana gitu ceritanya.
Intinya buku ini tentang hal-hal di fashion yang klasik, ‘kudu dimiliki’ atau paling tidak kudu diketahui fungsinya.
Sampailah saya di bab ‘C’ . Di situ di terangkan masalah clutch atau tas kepit.
Waktu baca di salah satu paragraf tentang si tas kepit, saya jadi geli sendiri. Coba deh dibaca dibawah ini:
Meskipun saya bukan editor, tapi kayaknya kalimat ‘In Asia and Thailand’ agak kurang bener deh – karena seakan-akan Asia dan Thailand itu dua hal yang sama (sama-sama negara atau sama-sama benua), padahal kan Asia itu benua dan Thailand itu salah satu negara di Asia yak?
Karena buat pembaca awam, jadi timbul pertanyaan ‘ Where in Asia?’
Atau buat pembaca yang tahunya cuma Thailand itu negara, jadi mikir kalau Asia itu nama negara?
Mending di tulis : In Asian countries, such as Thailand.….. bukan sih?
Ternyata mbak penulis yang notabene fashionista, bukan berarti good traveler yak….;-)
Beruntung itu punya teman di kota yang sama dan hobi membuat kue-kue jajanan Indonesia.
Setelah pindah kota beberapa kali, Saya lumayan ‘beruntung’ ketemu teman-teman sesama Indonesia yang jago masak, senang masak dan hobi berbagi.
Di Bozeman, Montana, saya pesan nasi kuning dari teman Indonesia. Di Cleveland, Ohio, selalu ada acara kumpul-kumpul teman-teman Indonesia yang isinya makan-makan makanan tradisional Indo. Di Louisville, meskipun cuma tahu beberapa teman-teman Indonesia, tapi semuanya jago masak makanan tradisional Indonesia.
Buat saya yang tidak hobi masak, punya teman-teman seperti ini mah anugerah sekali!!!
Hari ini, saya janjian dengan Santi untuk ambil orderan kue lapis legit dan kue nastar.
Waduh asli……..lapis legitnya enaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!! dan nastarnya juga tidak pelit nenas!!
Sukur Alhamdulillah punya teman-teman baik hati.
Yuk mari nyemil lapis legit…..dietnya tunda dulu yaaaaaaa
Beberapa hari lalu Saya mendapat pemberitahuan di blog kalau ada pembaca yang membalas komentar Saya di blog rekan Indonesia lain.
Yang membuat saya tertegun adalah kalimat pertama si pembalas komentar :” beruntunglah mba yg punya suami bule”.
Ada 2 hal yang membuat saya ‘bingung’ : beruntung dan suami bule.
Yang menurut saya pribadi koq tidak ada hubungannya ya?
Bukan berarti saya bilang saya ini tidak beruntung.
Ya sukur Alhamdulilah, saya beruntung punya suami, dibanding dengan mereka mereka yang diperantauan dan tidak ada pasangan untuk berbagi duka, jelaslah saya masih beruntung.
Dibanding mereka yang punya suami tapi diperlakukan tidak semena-mena, ya jelaslah saya masih beruntung.
Tapi apakah saya jadi kurang beruntung kalau suami saya bukan bule?
Kalau pakai logika : beruntung punya suami bule, berarti teman-teman Indonesia yang bersuamikan orang Indonesia ASLI dan tinggal di Amerika, mereka jadi kurang beruntung gitu?????
Kalau saya lihat-lihat, hidup mereka bahagia saja, malah menurut saya, mereka taraf hidupnya lebih baik dibanding saya yang bersuamikan bule. (ye bolehnya ngiri!!!)
Berhari-hari saya memikirkan pernyataan si pembalas komentar.
Kenapa sih kita masih cenderung mengagungkan lelaki non pribumi?
Seakan-akan pria dari ras ini selalu lebih superior dari ras lainnya.
Saya pikir pemikiran semacam itu sudah kadaluawarsa, ternyata masih berakar ya di sebagian pemikiran orang-orang Indonesia?!
Benar, ada banyak cerita-cerita perempuan Indonesia yang sepertinya menjelma putri sejagat’ setelah bersuamikan orang asing. Putri sejagat dalam arti mereka tidak harus bekerja, selalu bergelimpangan barang-barang mewah (yang sebelumnya tidak pernah sanggup terbeli), bertamasya keliling dunia, dll.
Tapi itu mah bukan semata-mata karena bersuamikan orang bule. Itu karena mereka bersuamikan orang berpunya!!! ;-)))
Duh teman-teman semua…..
Keberuntungan itu tidak tergantung dari ras suami kita.
Beruntung itu masalah kita mensyukuri apa yang kita miliki.
Beruntung itu di pikiran kita. Bukan karena materi yang kita miliki.
Beruntung tidak tergantung dimana kita tinggal.
Beruntung itu pilihan (choice), bukan pemberian (it’s not given).
Mari kita pilih untuk merasa beruntung dalam hidup.
Sewaktu saya tinggal di Jakarta, seingat saya, saya cuma pindah rumah 3 kali : dari daerah Pasar Minggu ke daerah Condet, lalu ke daerah Pancoran, terakhir ke daerah Cibubur , semuanya dalam kota dan tidak pernah rasanya heboh-heboh amat. Seingat saya, kami selalu dapat bantuan, ayah ibu tetap kerja seharian, tahu-tahu kita pindah ke tempat baru.
Yang jelas namanya hidup ya, pindahan kadang tidak bisa dihindari – idealnya ketemu rumah yang sreg, terus tinggal di situ sampai kakek nenek deh ….
Nah, waktu saya imigrasi ke Amerika, terus terang hal-hal seperti ini tidak terbayang sebelumnya, maklum, tidak terbiasa hidup sendiri, semua-muanya cuma tahu beres, karena selalu tinggal dengan ortu. Baru di Amerika ini saya ‘ngeh’ dan belajar tahu ini itu masalah pindahan. Sejak saya di Amerika tahun 2005 hingga 2014, saya sudah merasakan pindahan itu 5 kali, sementara suami ada kali 10 kali pindahan!
Pindahan pertama kali lumayan gampang, cuma pindah dari apartemen 2 kamar ke rumah yang notabene lebih luas. Barang-barang yang kita miliki tidak terlalu banyak dan cuma perlu sewa satu truk Uhaul ukuran sedang.
Suami sendiri yang nyetir truk, yang ngepakin barang-barang ya kita berdua saja, masalah angkut barang-barang, ada dua teman suami yang bantuin kita gotong mebel-mebel yang lumayan berat: dari apartemen ke truk, dari truk ke rumah.
Setelah pindahan ini, pikirnya ya sudah dong, kita bakalan menetap di sini sampai tahunan, tidak kepikiran mau pindah ke tempat lain.
Itu tahun 2006.
Ternyata keadaan tidak memungkinkan kami untuk menetap di rumah kami, di tahun 2010, suami dapat kerja di negara bagian lain, Ohio. Berhubung dia harus berada di Ohio secepatnya, jadi dia langsung berangkat dengan mobil satu-satunya kami dengan pakaian dan barang-barang keperluan rumah tangga seadanya. Rencananya saya dan anak (waktu itu dia umur 4 tahun), akan menyusul belakangan dimana suami akan minta cuti untuk pulang ke Montana, bawa kami semua ke Ohio.
Tapi, saya, setelah pikir ini itu, ditambah bawaan diri yang memang agak-agak petualang dan pemberontak, saya nekat bilang ke suami kalau dia tidak usah pulang karena saya sendiri yang akan bawa truk ke Ohio.
Suami amat sangat tidak setuju, tapi dia tahu bininya ini keras kepala dan tidak mau dibilangin sampai dia kejeduk sendiri- akhirnya setuju dengan rencana saya.
Jadilah si Jeng sibuk mengatur rencana kepindahan ke Ohio sorangan dewe. Cerita kepindahan ku bisa dibaca disini dan disini. Nah, sejak pindah ke Ohio itu, kami boleh dibilang ‘hobi’ pindahan, baik pindahan antar negara bagian maupun pindahan dalam kota, asli keblenger!!!
Tapi ya mau gimana lagi, kadang kita harus pindah karena pekerjaan, jadi ya lakoni aja.
Dari pengalaman ‘jutaan’ pindahan itu, jadilah di blog ini, saya mau berbagi tips pindahan untuk teman-teman:
Pertama : pilih perusahaan truk yang akan di sewa.
Yang beken di sini itu Uhaul, salah satu perbedaan truk Uhaul dengan truk-truk dari perusahaan lain adalah dek Uhaul lebih rendah, jadi memang agak lebih mudah untuk wara-wiri ke/dari truk. Tapi Uhaul jauuuuuuuuuuuuh lebih mahal dibanding merek lain. Berhubung saya orangnya agak-agak pelit, saya pilih truk dari Budget. Selain harga dasar lebih murah, selalu ada diskon untuk sewa dari Budget. Saya dapat kupon 20% , jadi untuk sewa truk saja, bedanya bisa $200 dibanding ambil dari Uhaul.
Masalah ukuran truk, baik Uhaul maupun Budget punya pilihan ukuran yang relatif sama. Harga truk akan tergantung dari ukuran yang dipilih, berapa lama truk akan disewa. Bensin dan resiko kecelakaan harus ditanggung sendiri.
Karena ukuran keluarga kami (& jumlah barang yang kami miliki), biasanya kami harus menyewa truk ukuran 16 kaki dan waktu yang kami ambil untuk pindahan antar negara bagian itu minimal 10 hari (berapa hari di perjalanan, berapa hari istirahat sebelum bisa bongkar truk di tempat baru). Selama pindahan kami (4 kali), rata-rata pengeluaran untuk sewa truk ini tidak kurang dari $1,000.
Truk pindahan ukuran 16 kaki,muat 3 penumpang
Kedua : beli kotak-kotak penyimpan barang.
Ini bisa di beli dari Home Depot ,Lowe’s,dari perusahaan truk sendiri (untuk kotak-kotak baru) atau Craiglist, atau dari tempat kerja untuk kotak-kotak bekas. Pertama pindahan ini, saya coba ngirit dengan ambil kotak-kotak bekas dari tempat saya kerja. Memang gratis, cumaaaaaaaaaaaaa, waktu penempatan di truk, ini bisa jadi masalah.
Kenapa gitu? karena ukuran kotak tidak seragam dan lebih sulit untuk menumpuk kotak-kotak dengan stabil. Dan juga seringkali kotak-kotak bekas ini sudah terlalu beat-up, jadi resiko jebol lebih besar.
Kotak-kotak yang dijual di Home Depot atau Lowe ini, biasanya ada beberapa ukuran : kecil, sedang, besar, super besar dan khusus untuk pakaian.
Kotak kecil akan paling banyak di gunakan, terutama untuk mengepak barang-barang berat seperti : buku-buku, peralatan tukang, barang-barang pecah belah.
Secara pribadi saya tidak rekomendasi kotak ukuran besar, kecuali untuk simpan bantal, guling atau boneka-boneka. Karena tho meskipun ukurannya besar, kita tidak bisa memuati terlalu banyak, karena resiko jebol.
Pindahan terakhir kami menggunakan tidak kurang dari 100 kotak. (banyak!!!)
Lihat lemari kosong, lega rasanya! tumpukan kotak-kotak siap diangkut! Truk siap di bongkar!
Ketiga : cari bantuan untuk mengangkut barang-barang
Kalau pindahan pertama dan kedua kita cukup angkat telpon dan minta bantuan teman-teman, pindahan berikutnya kita tidak bisa melakukan hal yang sama. Pertama karena suami orangnya risih minta tolong ke orang (gratisan), kedua, suami tidak di lokasi, saya boleh dibilang tidak ada teman laki-laki.
Waktu pindahan dari Ohio ke Montana, saya pilih perusahaan Mergenthaler – layanan yang saya pilih benar-benar cuma bantu angkut barang-barang besar dari rumah ke truk.
Untuk memilih ‘layanan kuli angkut’ ini boleh dibilang yang paling rumit dan tidak murah!
Perusahaan-perusahaan seperti Margenthaler ini banyak jenisnya di Amerika. dan layanan servis mereka beragam : dari mulai layanan penuh : pengepakan barang, pengangkutan, pembongkaran, pemindahan atau bisa pilih satu layanan tertentu saja.
Yang membuat rumit itu karena masing-masing perusahaan punya kebijakan sendiri yang membuat harga bisa beda.
Secara umum pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka ajukan adalah :
jenis barang-barang yang akan diangkut – jadi kita harus memberi tahu mereka satu per satu barang-barang yang akan mereka angkut : berapa banyak kotak, mebel apa saja, tempat tidur ukuran apa, dsb
berapa jauh mereka harus transpor barang-barang kita (kalau memang kita mau mereka untuk transpor barang-barang kita)
apakah ada barang-barang yang unik : piano, kotak penyimpan barang berharga ukuran besar
berapa besar asal properti kita dan berapa besar properti baru kita – dan tipenya : rumah atau apartmen
apakah ada barang-barang lain yang harus diangkut yang tidak berada di lokasi yang sama
Waktu pindahan kedua kami di Kentucky, saya telpon 3 perusahaan jasa angkut barang. Dua dari tiga perusahaan ini selain saya tahu dari melihat di jalan, saya juga tahu mereka karena mereka klien di tempat saya kerja .
Yang satu bertanya sangat detail mengenai kepindahan kami : apartemen awal kami di lantai berapa dan apartemen tujuan di lantai berapa, konon ini membuat perbedaan harga yang signifikan untuk mereka. Ada juga yang mengenakan biaya transportasi lebih dari 1 jam.
Semuanya memang tergantung dari ‘sreg’ atau tidaknya kita ya. Intinya harga layanan ini berdasarkan jumlah orang-orang yang mereka kirim dan berapa lama mereka bekerja.
Yang jelas, saya belajar dari pengalaman bongkar barang-barang waktu pindahan dari Montana ke Kentucky, saya tidak lagi pilih perusahaan abal-abal alias bukan franchise, bukan kenapa-kenapa, karena saya perhatikan mereka cuma bermodal otot, tapi tidak ada strategi, yang ada waktu pembongkaran bisa jadi lebih lama, meskipun awalnya mereka kenakan harga relatif lebih murah per jamnya, yang ada saya jadi BT.
Pindahan dari Bozeman ke Cleveland, kita pakai 3 orang , 1 orang membungkus mebel-mebel sebelum diangkut, yang 2 memindahkan barang-barang dari rumah ke truk. Seingat saya mereka selesai dalam waktu 3-4 jam.
Untuk pindahan di Kentucky, berhubung ukuran rumah dan jumlah barang-barang berkembang, perusahaan yang kami pilih : Two Men and a Truck mengirim 3 + 1 orang untuk membantu kepindahan kami.
Terus terang saya cukup puas dengan pilihan kami, meskipun secara teknis ada 4 orang yang membantu , kami hanya di kenakan biaya untuk 3 orang. Kerja mereka juga lumayan efisien dan santun. Mereka datang jam 8.30-an, selesai mengangkut barang-barang kami dari apartemen lama jam 12-an. Total biaya yang kami harus bayar itu $910 (berikut tip untuk 4 orang)
Keempat : tetapkan waktu pindahan
Karena itu akan berefek ke harga sewa truk dan harga jasa kuli! Sabtu dan Minggu harga bantuan angkut bisa $30-$50 lebih mahal dibanding hari biasa.
Kadang karena jadwal kerja, kita mau tidak mau harus pilih akhir pekan, kalau memang ini jadi pilihan ya siap-siap buka kantong lebih dalam..;-)
Kelima : beli peralatan tambahan.
Hah? apaan tuh?
Setelah 5 kali pindahan saya lumayan paham akan pentingnya pernak-pernik tambahan yang diperlukan :
Dolly atau dongkrak angkut – meskipun waktu kita sewa truk, sebagian besar perusahaan menyediakan dolly di truk ybs, tidak ada salahnya kalau kita juga punya Kenapa gitu? dengan punya dolly sendiri, ini memudahkan kita memindahkan kotak-kotak dari ruang-ruang ke satu ruang tertentu yang nantinya akan memudahkan pengangkutan akhir ke truk. (lebih efisien)
Tali : bisa tali rafia, bisa tali tambang biasa, bisa tali elastis (bungee) : gunanya untuk membuat jala laba-laba di dalam truk, supaya dalam pengangkutan, kotak-kotak yang sudah tersusun di dalam truk tidak goyang ke sana ke mari .
Penahan pintu : ya menahan pintu supaya selalu terbuka, jadi tidak repot harus bolak balik buka tutup pintu selama pengangkutan barang-barang dari truk ke rumah dan sebaliknya.
Padding – seperti juga dolly, padding biasanya disediakan dari perusahaan truk, tapi jumlahnya terbatas – terutama kalau kita tidak menyewa jasa kuli. Jadi tidak ada salahnya untuk sedia tambahan – padding ini bisa berupa selimut atau bantal lama yang sudah tidak terpakai lagi.
Tips-tips lain yang kali berguna :
Ruang pengemudi dan penumpang relatif sempit, isi dengan minuman dan makanan kecil untuk perjalanan, dan koper ukuran sedang yang muat di taruh dibagian kaki penumpang di paling pinggir, untuk ganti di perjalanan atau ganti di hari-hari awal di tempat baru
Pakai pakaian yang tidak nyesal kalau sobek atau kotor selama di perjalanan, maklum akan banyak berhenti dan atau angkut ini itu
Gunakan sprei lama untuk melindungi kasur dari kotor selama di truk/pengangkutan- jadi biarpun si sprei ini sobek misalnya dalam perjalanan, kita rela untuk membuang.
Kalau mau nyetir truk sendiri, jangan lupa lengkapi penumpang dengan DVD player supaya tidak bosan
Isi gas waktu penunjuk gas tidak kurang dari 1/4 kapasitas – terutama kalau pindah antar negara bagian, karena pompa bensin tidak selalu berdekatan di Interstate.
Hindari mundur – terutama kalau nyetir truk besar
Kumpulkan kotak-kotak yang sudah rapi di satu tempat tertentu – ini akan menghemat waktu pengangkutan dari apartemen/rumah ke truk
Jangan sungkan sumbangkan barang-barang yang tidak pernah terpakai lagi, aturannya kalau kita sudah tidak pernah pakai barang yang bersangkutan selama 1 tahun , ya wis sumbangkan saja, daripada menuh-menuhin truk. Lokasi sumbangan bisa ke Goodwill, Salvation Army, toko-toko barang bekas lainnya. Kalau buat buku-buku, bisa dijual lagi di toko buku Half Price Book Store, lumayan dapat uang beli kopi
Beli satu kotak plastik ukuran sedang yang disini barang-barang kepeluan selama hari-hari pertama di tempat baru : sabun, sampo, sisir, barang-barang pribadi lainnya yang bisa dipakai sekeluarga, piring, gelas kertas, sendok, garpu plastik, pisau, talenan, makanan kaleng, pembuka kaleng, 2 gulung paper towel, 3 gulung toilet paper. Simpan kotak ini paling dekat dengan bukaan di truk, jadi mudah diambil dimana perlu.
Hah. Heboh ya? Banget! dan yang pasti, pindahan itu selain menguras tenaga juge menguras kantong, karena tidak pernah murah (kecuali ada yang bayarin ya). Dan meskipun kami sudah pindahan berkali-kali, tetap saja stres waktu kami harus melakukannya lagi.
Yah wis, sampai disini dulu cerita dari saya, mudah-mudahan cerita saya kali ini bisa membantu teman-teman yang mau pindahan….
Setelah jalan-jalan di downtown St Louis, hari berikutnya kita pergi ke monumen. Gerbang Lengkung yang lokasinya juga di downtown, di pinggir sungai Missouri.
Salah satu yang bikin repot ke tempat turis seperti ini adalah masalah parkir. Yang jelas hindari parkir di tengah-tengah pusat kota sendiri, terutama saat ada turnamen baseball di Stadiun Busch. Harga parkir saat itu $25!
Jadilah kita pergi seakan-akan menjauhi pusat kota, lalu ambil jalan ke arah sungai, nah di sepanjang sungai ini ada beberapa gedung parkir yang relatif lebih kosong dan lebih murah dibanding di gedung parkiran di dalam gedung-gedung kantoran di pusat kota. Cukup bayar $5. Beda jauh kan?!
Dari situ kita berjalan ke lokasi, tidak jauh koq, paling-paling sekitar 1/2 kilo deh.S
Nah, di lokasi monumen, ada 2 pintu masuk, Selatan dan Utara. Untuk masuk, semua pengunjung diharuskan melewati detektor (seperti di lapangan terbang), jadi jangan keder kalau lihat antrian panjang, tapi relatif tidak lama.
Setelah tiba di dalam, antri lagi di gerbong tiket,kami cukup beruntung karena antrian tidak terlalu panjang. Saya lihat ada gerbang yang khusus untuk mereka-mereka yang sudah pesan lebih dulu, nah, kalau memang kalian yakin akan berkunjung ke monumen ini ada baguslah pesan tiket dulu lewat online, jadi tidak perlu antri terlalu lama.
Tiket bisa dibeli dengan paket menonton film, pilihan film yang ada saat itu adalah perjalanan Lewis & Clark atau film mengenai pembuatan monumen atau cuma beli tiket saja. Saat itu kami pilih tiket naik ke atas monumen tanpa embel-embel lainnya. Total 2 orang dewasa dan satu anak umur 8 tahun itu $25.
Yang kami tidak tahu adalah…..setelah selesai membeli tiket, waktu tunggu kami untuk naik tram ke atas monumen itu 2 jam lebih! Kami datang sekitar jam 10-an, giliran kami naik itu baru nanti jam 12:5 pm. Weleh???
Untung ada museum yang gratis buat pengunjung monumen. Jadilah selama 1 jam, kita habiskan berkeliling di museum.
Karena kita ogah ambil resiko telat masuk waktu giliran kita tiba, kita benar-benar cuma menunggu di dalam lobi. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak apa-apa juga koq kalau teman-teman ingin jalan-jalan seputar pusat kota setelah membeli tiket untuk kemudian balik lagi. Yakin waktu cukuplah.
Di lobi ini kita berfoto di mock-up tram yang nantinya akan kita naiki.
Akhirnya jam 12:25 pm tiba! Kita masuk dari pintu Selatan, di depan pintu ada papan penunjuk waktu (seperti di bandara udara), yang bisa digunakan pengunjung untuk mengecek giliran mereka untuk naik tram.
Antri lagi. Di sini, petugas bertanya ke setiap pengunjung ada berapa anggota di grup mereka. Lalu petugas akan membagikan kartu pada tiap-tiap grup pengunjung yang intinya mengacu nomor pintu atau tram yang pengunjung akan naikin. Intinya petugas harus membagi rata pengunjung dengan jumlah tram yang tersedia. Satu tram dapat memuat 5 orang.
Kami mendapat kartu nomor 4. Artinya kami harus berdiri di depan pintu nomor 4 beserta pengunjung lain yang mendapat kartu yang sama.
Sambil menunggu, pengunjung di beri kesempatan untuk difoto, yang nanti boleh ditebus kalau mau, boleh juga tidak ditebus.
Setelah selesai di antrian ini, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga untuk ke ruangan keberangkatan. Disini bisa dilihat ada 8 pintu, dimana tram berada.
koq kecil ya pintunya?
Waduh..ternyata tramnya jauh lebih kecil dibanding mock-up. Pantas saja petugas tiket bertanya apakah kita ada yang menganut takut tempat terkukung (claustrophobia)
Kalau teman-teman kebetulan tinggi, ambil tempat duduk di tengah-tengah tram, karena memiliki ketinggian maksimal, yang jelas kalau Anda jangkung jangan duduk di kursi kedua dari pintu, karena bentuk tram yang melengkung, kursi di lokasi tersebut paling rendah langit-langitnya.
Diperlukan waktu 4 menit untuk mencapai puncak monumen. Terus terang Saya agak-agak keder…terutama karena sepanjang perjalanan beberapa kali terdengar suara hentakan…(dasar udik!)
Waktu pintu tram terbuka..duh lega rasanya!!
Dari jendela, pengunjung bisa melihat kota St. Louis dari kejauhan. Ada stadium Busch yang dipenuhi penonton berbaju merah (warna tim baseball St. Louis), kapal pengangkut barang, kereta api.
Kita menghabiskan waktu kira-kira 30 menitan di lobi puncak monumen…lebih lama menunggu giliran daripada nangkring di atas ya? he…he..he..tapi lumayan seru koq!
Ini foto jendela-jendela di puncak dan sisi Selatan monumen dilihat dari bawah.
kotak-kotak hitam itu jendela-jendela di lobi puncak monumen
Adaptasi setelah tinggal di Amrik? wuiiih tak terhitung…ha…ha..ha..sampai sekarangpun – hampir sepuluh tahun – masih banyak hal-hal yang Saya ‘bandel’ ogah beradaptasi atau kurang bisa beradaptasi.
Contohnya :
Masalah kamar mandi, bilas berbilas. Tetap cenderung ke cara Indonesia, yaitu memakai air, dibanding memakai tisu. Tapi mau gimana lagi, disini ya tidak ada air lah.
Saking geregetan harus bilasan dengan air, sampai-sampai minta dikirimin gayung dari tanah air.
Jadilah Saya di tahun pertama kemana-mana bawa botol air kosong ; sampai sekarang masih sering dilakukan terutama kalau pergi piknik atau kemping di hutan.
Atau masalah makan nasi memakai garpu. Duh. Gak lah, tetap makan pakai sendok, meskipun ini sendok buat sup, pura-pura bego saja, yang penting sendok. Mau diketawain terserah, yang penting hati puas makan nasi pakai sendok.
Hal-hal lainnya yang Saya cukup berhasil (dan masih terus) beradaptasi adalah :
1. Nonton TV tanpa ada terjemahan bahasa Inggris.
Maklum kan di Indonesia, semua film-film berbahasa Inggris yang kita tonton selalu ada terjemahan bahasa Indonesia kan? Bulan-bulan pertama nonton film, agak-agak panik…Eng…terjemahannya mana ya? – Oh iya..ini kan di Amrik ya..bukan di Jakarta.
Jadilah konsentrasi penuh dengarin percakapan si bule. Sekarang ini, kalau ada pilihan ‘subtitle‘ di dvd, Saya selalu pasang. Maklum, antara mengerti lewat pendengaran dan mengerti lewat bacaan, Saya lebih cepat mengerti lewat bacaan.
2. Mengetahui lokasi dengan menggunakan arah kompas : Utara, Selatan, Timur dan Barat.
Hadweeeh…..secara Saya itu terbelakang kalau masalah 3 dimensi dan kebiasaan di Jakarta, cukup bilang ‘arah blok M’, arah kota, belok kiri, belok kanan, disini orang-orang bilang ‘dari arah utara, selatan dari kota X dsb. Terpaksalah Saya memaksakan diri untuk mengerti dimana SEBUT. Kalau boleh memilih sih, tetap pakai belok kiri, belok kanan dll…hi..hi..hi..
3. Menyetir di sebelah kanan dan mengerti penamaan jalan di Amrik.
Kalau di Indonesia, jalan-jalan tol itu dinamakan sesuai dengan nama wilayah ; Jalan tol Cawang-Tg. Priok, Jalan tol lingkar luar Kebon Jeruk dsb, disini jalan-jalan semua ditandai dengan nomor.
I-90, I265, US40, SR65 dsb.
Dimana I artinya Interstate, jalan yang menghubungkan negara bagian yang satu dengan negara bagian yang lain.
Kalau ada 2 digit nomor setelah huruf I, itu biasanya jalan bebas hambatan (freeway)antar negara bagian.
Semua negara bagian di Amerika boleh dibilang ‘disambung’ dengan jalan interstate ini,dari barat ke timur dan dari selatan ke utara.
Nah, kalau jalanannya bernomor 3 digit, itu biasanya jalan lingkar luar kota atau jalan cabang dari jalan utama yang 2 digit. Contoh di Kentucky, salah satu jalan interstate utama di sini itu I64, di I-64, jalanan bercabang menjadi I264. Gampangnya, kalau bingung kita ada dimana, lihat 2 nomor terakhir, jadi kita tahu kalau kita di jalan cabang dari I64.
Terus terang Saya masih keder menyetir di tengah kota. Maklum, pertama kali tinggal di Amrik itu di kota cilik, yang jalannya hanya liner dan 1 grid blok.
Waktu pindah ke Cleveland Ohio, asli bingung; tinggal di Louisville, Kentucky entah kenapa lebih bingung lagi….ha….ha…ha..parah!
Masalah jalan-jalan di Amrik ini nanti Insha ALLAH Saya bahas lebih heboh lagi yak.karena beda-beda di tiap kota.
4. Makanan
Tetap nasih favorit sepanjang masa. Bisa sih makan cereal buat sarapan, tapi yang ada satu jam kemudian peruk keroncongan, karena sudah lapar lagi!
Pertama, karena status kita (ini asumsi kondisi masuk ke US secara legal ya) belum penduduk tetap (permanent resident), jadi kita belum langsung bisa kerja.
Dengan alat pengenal satu-satunya yang berlaku dan dihargai secara hukum Amerika adalah paspor Indonesia- memang agak sulit untuk ‘bergerak’.
Nah dengan keterbatasan itu, ini hal-hal yang bisa kita lakukan :
1. Kalau tinggal di apartemen bersama pasangan, minta supaya nama kita di masukkan dalam kontrak sewa menyewa. Kenapa? Karena ini bisa dijadikan bukti tinggal di USA yang akan banyak diminta oleh institusi-institusi lainnya.
2. Kalau tinggal di rumah, bisa gunakan tagihan listrik dan air (utility bills istilahnya) sebagai tanda bukti tinggal di Amerika. Pasangan kita harus menelpon perusahaan ybs untuk menambahkan nama kita di tagihan.
3. Nah setelah ada bukti bertempat tinggal di Amerika, bisa ajukan aplikasi kartu identitas – ibarat KTP lah, judulnya State ID. Dengan memiliki ‘KTP’ ini akan memudahkan kita bertransaksi di tempat-tempat lainnya dari mulai perpustakaan, perbankan, kebun binatang dll.
Nah, Karena di KTP ini akan tercantum alamat kita di Amerika, makanya nomor 1 atau nomor 2 kudu dilakoni dulu. Selain kontrak apartemen dan tagihan air/listrik, surat masuk dengan nama dan alamat kita baru kadang juga bisa dijadikan bukti bertempat tinggal di Amerika.
Karena Saya di Jakarta sudah bisa mengendarai mobil sendiri, Saya tidak pernah memiliki KTP, tapi cukup SIM lokal.
Di beberapa negara bagian, ada yang membolehkan penduduk memiliki KTP dan SIM, tapi di beberapa negara bagian lain, si penduduk cuma boleh memiliki salah satu kartu identitas. Contohnya sewaktu kami tinggal di Ohio. SIM Saya masih berlaku hingga tahun 2014, dan kita tahu kita akan balik ke negara bagian asal (Montana). Jadi Saya ogah menyerahkan SIM Saya, tadinya Saya cuma mau ambil KTP setempat, eh ternyata hukum negara bagian Ohio tidak membolehkan satu orang memiliki 2 KTP dan SIM. Jadi ya Saya ogah ambil KTP/SIM Ohio, yang ada kemana-mana Saya kudu bawa surat dari apartemen yang menyatakan Saya penduduk lokal.
Di Kentucky, ternyata boleh-boleh saja. Lucu ya? Padahl Kentucky dan Ohio berbatasan.
4. Karena Saya tidak punya uang sama sekali sewaktu baru pindah ke US, jadi kita langsung pergi ke bank suami untuk menambahkan nama Saya di rekening suami – asikk!!- dan dapat kartu debit supaya bisa belanja! hah!!
Nah, masalah bank ini, juga tergantung dari bank masing-masing, kartu identitas apa yang mereka syaratkan. Kalau di tempat Saya bekerja, untuk individu yang bukan warga negara Amerika dan tidak/belum memiliki nomor individu (social security number), bukti identitas yang diperlukan adalah : Paspor, KTP lokal, kartu kredit Visa atau Mastercard atau Discover atau American Express.
Bisa ditanyakan dulu ke bank yang bersangkutan, identitas apa yang mereka minta.
Urusan kartu identitas lokal sudah beres? sip. Langkah selanjutnya?
6. Amat sangat Saya sarankan untuk bisa mengemudi mobil di Amerika. Karena tidak semua kota-kota di Amerika memiliki fasilitas kendaraan umum yang memadai dan bisa diandalkan. Dan tergantung Anda tipe seperti apa? Saya tipe pembosan dan malas selalu tergantung dengan suami untuk diantar ke sana kemari, jadi Saya kudu punya SIM.
Karena Saya sudah biasa menyetir di Jakarta, Saya cukup belajar dengan suami membiasakan diri menyetir di jalur yang berbeda. Jelaslah Saya pernah masuk jalan yang salah…;-).
Untuk yang belum pernah menyetir mobil di Jakarta, monggo daftarkan ke sekolah mengemudi setempat.
Setelah PD mengemudi, mampir ke kantor DMV atau Department Motor Vehicle untuk mengambil bahan tes tertulis mengambil SIM. Pelajari dulu itu soal-soal di rumah supaya nanti sewaktu tes, bisa langsung lulus. Tiap-tiap DMV punya peraturan beda-beda. Kadang Anda bisa tes hingga 3 kali berturut-turut dalam sehari, ada yang hanya membolehkan tes 1 kali sehari.
Sudah PD mengemudi? sudah belajar tes tentang peraturan lalu lintas? Bisa daftarkan untuk tes di DMV setempat.
Nah ini juga berbeda di tiap negara bagian. Ada negara bagian yang calon pengemudi bisa ambil tes tertulis dan langsung tes mengemudi. Di negara bagian lain, karena jadwal yang ketat dan terbatasnya pegawai, si calon harus datang minimal dua kali.
Yang jelas tes tertulis harus lulus dulu baru Anda bisa ambil tes mengemudi.
Alhamdulillah Saya langsung lulus- karena sudah belajar lebih dulu!
7. Dapat identitas lokal sudah. Beres-beres tempat tinggal sudah. Lihat-lihat tempat belanja keperluan sehari-hari sudah. Ngapain lagi dong? bosan? tapi belum bisa kerja? (karena belum dapat ijin kerja). Anda bisa :
a. Daftarkan diri ke ‘adult education class‘ yang di selenggarakan oleh Pemda setempat dan biayanya amat terjangkau. Dari mulai berkebun, memasak, bertukang, dan banyaaaak lagi. Di Louisville, Kentucky bisa dibaca disini,
Saya sendiri pernah ikutan beberapa kelas sewaktu tinggal di Bozeman, biasanya kelas-kelasnya diselenggarakan di malam hari. Lumayan biar ini otak tidak menganggur.
b. Menjadi sukarelawan alias volunteer. Biasanya perpustakaan, tempat ibadah, sekolah, musium, food bank, community center selalu ada lowongan untuk sukarelawan. Jangan salah, waktu yang kita habiskan sebagai relawan ini bisa dimasukkan ke dalam resume loh! untuk sekolah, kemungkinan agak lebih sulit karena mereka akan minta laporan latar belakang (background check) dari FBI – dan untuk itu mereka akan perlu SSN kita. (yang kemungkinan belum kita dapatkan)
Kayaknya itu saja deh yang Saya bisa tulis saat ini.
Di Jakarta, rekan-rekan kerja Saya itu rata-rata lulusan Universitas. Sarjana S1 lah istilahnya. Dari universitas beken pula. UI, ITB, Trisakti, Pelita Harapan, Pancasila, Pajajaran, Parahyangan, dan seterusnya. Selain universitas lokal, tidak sedikit rekan-rekan kerja yang lulusan universitas luar negeri. Saya juga tahu banyak teman-teman kuliah yang melanjutkan sekolah, untuk mendapat gelar Master. Pokoknya educated lah.
Entah darimana Saya dapatkan pola pikiran Saya, yang jelas di pikiran Saya itu orang-orang Amerika pastilah semua kuliahan. Katanya kan negara adikuasa, bisa ke bulan, polisi dunia; apa-apa kita ‘bercermin’ ke Amerika. Harusnya mereka pintar-pintar dong.
Kebetulan memang Suami Saya yang notabene orang Amerika itu termasuk nerd lah. Kacamata tebal, hobi membaca buku matematik di kamar mandi, dan kalau ditanya soal kimia-biologi, langsung nyerocos sampai membuat Saya ngantuk.
Jadilah waktu Saya hijrah ke Amrik, persepsi Saya itu orang Amerika pintar-pintar, tahu segalanya.
Kenyataannya?
Seperti layaknya Indonesia, orang-orang Amerika ada yang pinter, ada yang bego, ada yang bergelar doktor, ada yang jebolan SMA. Di kota kecil seperti Bozeman, Montana, rekan-rekan kerja Saya rata-rata jebolan SMA. Dan tidak seperti yang Saya asumsikan, mereka tidak ada niat untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, malah cenderung mereka merasa tidak perlu untuk berpendidikan tinggi meskipun di Bozeman ada MSU alias Montana State University.
Saya sempat bingung sendiri, karena mereka ‘bingung’ waktu mengetahui kalau Saya lulusan universitas. Lebih bingung lagi, waktu mendengar pertanyaan ‘Kamu koq bisa berbahasa Inggris?’ (emm…belajar di sekolah kan??!!) atau waktu teman dekat suami bilang ‘Indonesia itu India kan ya?’
Pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar ‘aneh’ lebih banyak lagi di lontarkan terutama waktu mereka tahu kalau Saya tidak merayakan hari Natal.
OMG. Kamu tidak bernatalan? Tidak membelikan hadiah untuk anak kamu (di hari Natal)??
Kamu harus berdoa lagi? Kamu tidak makan dan minum seharian??
Islam? Apaan tuh?
Cuma sedikit sekali rekan-rekan yang tahu mengenai keberadaan agama lain (Islam tepatnya), sebagian besar cuma melongo.
Lho…apa mereka tidak mendengerkan stasiun berita mereka sendiri ya? FOX gitu? membaca buku? majalah? berita di internet?
Piye?
Baru perlahan-lahan Saya menyadari kalau asumsi Saya tentang orang-orang Amerika adalah salah. Untuk mereka-mereka yang tinggal di kota besar dan lebih beragam penduduknya, penduduk lokal terbiasa terekspos dengan keragamana, ketidakseragaman. Tapi di kota-kota kecil, ya sama seperti di Indonesia, agak-agak ‘kacamata kuda’, terbatas pengetahuan dan wawasan.
Bersyukurlah Saya waktu kecil sudah membaca buku-buku Ramayana, Mahabarata, Tom Sawyer, Moby Dick, Tintin, Lima Sekawan dll. Nonton Unyil, Little House on the Prairie, Sin Tia Eng Hiong, Sin Tiaw Hiap Lu. Belajar tentang Kristen, Buda, Hindu dan sejak kecil sudah sadar kalau tiap orang bisa berbeda keyakinan.
Jadi teman-teman, tidak usah tidak berkecil hati karena tidak berjiwa ala Amerika.
Kita tidak kalah pendidikan dan wawasan koq. Yang penting hayo belajar terus!!!