indonesia

Mudik 2015 : Rencana vs Realita

Di mudik 2015, Saya banyak rencana, selain memenuhi 4 tujuan utama yang saya tulis di tulisan sebelumnya, saya kepingin sekali membawa anak saya ke beberapa tempat jalan-jalan yang khas Jakarta: Kidzania, Taman Safari, Taman Budaya Sentul, WaterBoom, Taman Mini.

Maklum, kesempatan mudik buat keluarga kami itu LANGKA dalam arti kami tidak setiap tahunnya bisa mudik seperti kebanyakan teman-teman lain. Lah terakhir mudik saja itu di tahun 2006, jadi saya realistis saja kalau kenyataannya kami tidak selalu bisa pulang. Memang begitu a koq kenyataannya, mau diapakan lagi? masa mau minta dibayarin orang? Nah Saya inginnya di kesempatan pulang ini, anak saya bisa melihat Jakarta dan sekitarnya sebanyak mungkin.

Berhubung saya sudah bekerja, saya hanya bisa cuti selama 14 hari (bukan sebulan seperti M06) dan anggaran saya TERBATAS. Jadi saya harus pikirkan masalah transportasi dan waktu saya yang relatif sempit.

Sebulan sebelum saya berangkat, saya sudah rencanakan dimana saya tinggal. Rencana saya ini memang tidak semua orang tahu (memang harus ya semua orang tahu???? heh???), tapi secara garis besar saya beritahukan lokasi saya ke orang-orang yang secara langsung terlibat – yaitu mereka yang menjemput saya, mereka yang tempat tinggalnya saya tinggali, dan mereka yang mengajak untuk bertemu dengan saya. 

Sementara rencana akan kemana saya setiap harinya, ya cuma saya ya yang tahu dan mereka yang bertanya langsung kepada saya apa rencana saya. (menurut saya tidak penting ya untuk memberitahu rencana saya ke semua orang, kesannya saya sok penting sekali ah!!)

Well, beberapa rencana saya untuk anak saya tidak terealisasi, kasihan juga si kecil yang sedih karena harus menuruti jadwal yang sama sekali berbeda dengan yang saya rencanakan untuk dia. Kami tidak pergi ke Taman Safari, Taman Mini, Taman Budaya ataupun waterboom.

Lucunya, mereka-mereka yang dengan senang hati mengubah rencana saya ini tidak memberikan alternatif hiburan untuk anak saya. Jadilah saya yang harus pontang panting atur waktu saya ‘seadil-adilnya’ untuk semua pihak yang terlibat.

Tapi yang jelas, 4 tujuan mudik saya terpenuhi , dan anak saya tetap bisa bergembira di mudik ini.

Ibu saya berkesempatan ditemani cucunya, Saya dan anak saya menyekar ke makam Ayah,

Mudik_Jan18Feb3

anak saya bisa bermain di Kidzania,

Mudik_Jan18Feb33

berenang di pantai laut Jawa (Anyer), dan beberapa kali di kolam renang di apartemen (meskipun bukan di waterboom),

Mudik_Jan18Feb32

berkenalan dan bermain dengan anak-anak teman-teman saya,

Collages27

dan saya bisa bertemu teman-teman baik saya.

Mudik_Jan18Feb34-004

Tuhan Maha Baik koq.

Mudik 2015 : Indonesia (Jakarta) vs Amerika

  1. Keberadaan wi-fi – Pilih Amerika! halah! ternyata di Jakarta raya, wi-fi itu masih langka ya? waktu ke mal sekeren Grand Indo ataupun Plaza Indonesia sekalipun, wi-fi nya memble. Pengecualian itu Starbucks, koneksi wi-finya samalah dengan di Amrik!
  2. Pilihan makanan – Pilih Jakarta! pilihan makanan di Jakarta itu banyaaaaaaaaaaaaaak sekali! amat beragam dan seakan tidak ada habisnya. Kalau di food court di mal-mal di Amerika itu hitungan kiosnya bisa dihitung dengan jari tangan, di Jakarta, rasanya saya malah kepingin makan semua saking banyaknya pilihan!!
  3. Cara Pembayaran – Pilih Amerika!! dengar dari teman-teman, tempat-tempat makan di Indo sudah terima kartu gesek, kenyataanya sebagian besar masih hanya terima uang tunai, atau hanya kartu dari bank tertentu saja. Lah??
  4. Budaya Antri – Pilih Amerika! Orang Indo masih parah ternyata dalam hal menyelak antrian. Dari mulai ibu-ibu di mal keren sampai anak-anak semuanya seperti tidak kenal kata antri. Hadweeeeh!! terpaksalah berkali-kali diriku berjutek ria dengan kalangan ogah antri ini.
  5. Cara berbersih – Pilih Jakarta! rasanya berbersih dengan air tetap lebih resik dibanding cuma tisu doang. (kalau boleh sih pilih Jepang ya…soalnya mereka punya lebih dari satu pilihan untuk siraman air berbersih!! – termasuk di pesawat terbang!)IMG_20150119_000931IMG_20150119_000945
  6. Air hangat – Pilih Amerika! disini air hangat ya selalu tersedia, di rumah, maupun di tempat umum. Waktu saya tinggal di apartemen, sempat ‘panik’ karena jatah air hangat koq susah sekali..harus tunggu panas dan keluarnya sedikit!!
  7. Air minum – Pilih Amerika! air putih selalu gratis, bottomless pula! maklum air keran ya? di Jakarta, harus selalu pesan air botolan, dan harus dibilang ‘dingin’.
  8. Pesan Makanan – Pilih Indo (Jakarta)!, disini hampir semua resto menawarkan jasa layan antar! dari mulai resto cepat saji sampai warung semua bisa di antar ke tempat!!
  9. Belanja baju – Pilih Amerika!! pertama karena ukuran saya menurut standard Amerika itu ‘S’ atau ‘M’, di Indo jadi XL!! kedua karena di Amerika, rata-rata toko baju ada pilihan untuk mencari ukuran yang kita mau di toko lain atau pesan online.
  10. Keberadaan Taksi – Pilih Jakarta! taksi di Jakarta itu mudah di dapat di mana-mana dan kondisi mobil bagus. Di banyak kota-kota di Amrik, taksi itu jarang, mahal ongkosnya dan mobilnya tidak selalu bagus!!!

Salah Mengeja

Siapa bilang bule itu selalu bisa mengeja lebih baik daripada kita-kita yang imigran?

Kalau teman-teman mungkin cuma lihat foto atau baca berita ringan di sosial media, saya sendiri sudah mengalami langsung salah eja kata-kata bahasa Inggris yang dilakukan oleh mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris.

Contohnya dibawah ini :

10373484_10152588958761267_4401330495858968946_n (1)

Saya yakin maksud hati menulis kata ‘healthy’

Sebetulnya masalah salah mengeja ini masalah sehari-hari di Amerika, bukan cuma anak-anak sekolah yang baru belajar mengeja, tapi orang-orang dewasapun banyak yang masih suka salah mengeja.

Kalau saya perhatikan malah orang-orang imigran cenderung lebih hati-hati dalam mengeja bahasa Inggris, mungkin karena di bawah sadar, kita tahu bahwa ini bukan bahasa kita, jadi kita lebih memperhatikan ejaan kata yang akan kita tulis?

Terus terang suami saya sendiri juga mengakui kalau dia bukan pengeja yang baik, seringkali saya yang memperbaiki ejaan kata-kata dia, meskipun secara tata bahasa saya masih ‘ngaco’ berat.

Kesimpulannya apa dong?

Kesimpulannya kita jangan takut belajar, jangan takut salah. Karena mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris pun masih banyak salahnya koq. Yuk..belajar bahasa Inggris lagi!!

Tradisi Amerika Yang Tidak Saya Lakoni : Tetap Menggunakan Nama Gadis

Sampai saat ini Saya belum ganti pemberian orang tua saya. Nama hukum saya masih seperti dulu. Meskipun tidak bohong kalau telinga ini ‘sakit’ setiap mendengar nama depan saya di ucapkan orang Amerika, tapi nama komplit saya belum berubah.

Kalau tho saya mau ubah nama saya, saya sudah punya nama ‘Amerika’ – yaitu nama saya yang lebih mudah diucapkan lidah bule plus nama suami – yang saya ‘ciptakan’ lebih karena alasan lebih mudah di gunakan dan diucapkan sehari-hari , dan saya pakai untuk keperluan tidak penting : email gaul, blog, sosial media, dll. Nama beken atau nama panggung istilah selebritinya. winking-smiley-face-clip-art-Smiley-Face-Clip-Art2

Alasan saya belum mau ganti nama secara  hukum, ada dua : malas urus berkas-berkas untuk ubah nama dan sentimen pribadi dimana saya merasa nama saya adalah identitas saya sebagai individu, saya sebagai pribadi yang lepas dari bayang-bayang suami dan juga ini adalah pemberian orang tua saya – mereka pilih nama saya dengan pertimbangan sebaik-baiknya. Saya koq ngerasa kurang ‘sreg’ mau mengubahnya kalau cuma semata-mata karena pernikahan.

Lagipula saya merasa janggal menggunakan nama belakang turunan Irlandia dari suami, wong muka wedok’ gini nama berbau Irlandia, kurang cocok deh ah.

Sebetulnya hal begini biasa di Indonesia, tradisi kita tidak ada ‘keharusan’ mengganti nama setelah menikah, tapi di Amerika ini, sebagian besar masih mengikut tradisi mengambil nama suami setelah menikah.

Teman-teman bule rata-rata usil nanya kenapa koq saya tidak ambil nama suami, malah sering mereka pikir kalau saya cuma hidup bersama dengan suami dan bukan menikah karena nama saya beda dengan nama suami. Lucu ya.

Ya tidak apa-apa, seperti kata pepatah

anjing-gonggong-dan-kafilah-berlalu

Beruntung Jadi Imigran Asia

Beruntung karena kita jadi sedikit lebih tahu geografi, terutama negara-negara di Asia dibanding kebanyakan orang Amerika.

Kemarin keluarga cuci mata di toko buku Half Price Books, eh ketemu buku murah tentang ‘fashion’. Berhubung saya kerja di toko baju, jadilah saya beli buku ini sebagain penambah wacana  gitu ceritanya.

Intinya buku ini tentang hal-hal di fashion yang klasik, ‘kudu dimiliki’ atau paling tidak kudu diketahui fungsinya.

Sampailah saya di bab ‘C’ . Di situ di terangkan masalah clutch atau tas kepit.

Waktu baca di salah satu paragraf tentang si tas kepit, saya jadi geli sendiri. Coba deh dibaca dibawah ini:

_20141214_192242

Meskipun saya bukan editor, tapi kayaknya kalimat ‘In Asia and Thailand’ agak kurang bener deh – karena seakan-akan Asia dan Thailand itu dua hal yang sama (sama-sama negara atau sama-sama benua), padahal kan Asia itu benua dan Thailand itu salah satu negara di Asia yak?

Karena buat pembaca awam, jadi timbul pertanyaan ‘ Where in Asia?’

Atau buat pembaca yang tahunya cuma Thailand itu negara, jadi mikir kalau Asia itu nama negara?

Mending di tulis : In Asian countries, such as Thailand.….. bukan sih?

Ternyata mbak penulis yang notabene fashionista, bukan berarti good traveler yak….;-)

Beruntung Bisa Order Lapis Legit Euy

Beruntung itu punya teman di kota yang sama dan hobi membuat kue-kue jajanan Indonesia.

Setelah pindah kota beberapa kali, Saya lumayan ‘beruntung’ ketemu teman-teman sesama Indonesia yang jago masak, senang masak dan hobi berbagi.

Di Bozeman, Montana, saya pesan nasi kuning dari teman Indonesia. Di Cleveland, Ohio, selalu ada acara kumpul-kumpul teman-teman Indonesia yang isinya makan-makan makanan tradisional Indo. Di Louisville, meskipun cuma tahu beberapa teman-teman Indonesia, tapi semuanya jago masak makanan tradisional Indonesia.

Buat saya yang tidak hobi masak, punya teman-teman seperti ini mah anugerah sekali!!!

Hari ini, saya janjian dengan Santi untuk ambil orderan kue lapis legit dan kue nastar.

Waduh asli……..lapis legitnya enaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!! dan nastarnya juga tidak pelit nenas!!

IMG_20141214_161434

Sukur Alhamdulillah punya teman-teman baik hati.

Yuk mari nyemil lapis legit…..dietnya tunda dulu yaaaaaaa

Beruntung?

Beberapa hari lalu Saya mendapat pemberitahuan di blog kalau ada pembaca yang membalas komentar Saya di blog rekan Indonesia lain.

Yang membuat saya tertegun adalah kalimat pertama si pembalas komentar :” beruntunglah mba yg punya suami bule”.

Ada 2 hal yang membuat saya ‘bingung’ : beruntung dan suami bule.

Yang menurut saya pribadi koq tidak ada hubungannya ya?

Bukan berarti saya bilang saya ini tidak beruntung.

Ya sukur Alhamdulilah, saya beruntung punya suami, dibanding dengan mereka mereka yang diperantauan dan tidak ada pasangan untuk berbagi duka, jelaslah saya masih beruntung.

Dibanding mereka yang punya suami tapi diperlakukan tidak semena-mena, ya jelaslah saya masih beruntung.

Tapi apakah saya jadi kurang beruntung kalau suami saya bukan bule?

Kalau pakai logika : beruntung punya suami bule, berarti teman-teman Indonesia yang bersuamikan orang Indonesia ASLI dan tinggal di Amerika, mereka jadi kurang beruntung gitu?????

Kalau saya lihat-lihat, hidup mereka bahagia saja, malah menurut saya, mereka taraf hidupnya lebih baik dibanding saya yang bersuamikan bule. (ye bolehnya ngiri!!!)

Berhari-hari saya memikirkan pernyataan si pembalas komentar.

Kenapa sih kita masih cenderung mengagungkan lelaki non pribumi?

Seakan-akan pria dari ras ini selalu lebih superior dari ras lainnya.

Saya pikir pemikiran semacam itu sudah kadaluawarsa, ternyata masih berakar ya di sebagian pemikiran orang-orang Indonesia?!

Benar, ada banyak cerita-cerita perempuan Indonesia yang sepertinya menjelma putri sejagat’ setelah bersuamikan orang asing. Putri sejagat dalam arti mereka tidak harus bekerja, selalu bergelimpangan barang-barang mewah (yang sebelumnya tidak pernah sanggup terbeli), bertamasya keliling dunia, dll.

Tapi itu mah bukan semata-mata karena bersuamikan orang bule. Itu karena mereka bersuamikan orang berpunya!!! ;-)))

Duh teman-teman semua…..

Keberuntungan itu tidak tergantung dari ras suami kita.

Beruntung itu masalah kita mensyukuri apa yang kita miliki.

Beruntung itu di pikiran kita. Bukan karena materi yang kita miliki.

Beruntung tidak tergantung dimana kita tinggal.

Beruntung itu pilihan (choice), bukan pemberian (it’s not given).

Mari kita pilih untuk merasa beruntung dalam hidup.

Yukkkkkkkkkkkk!!!!!!!

Pindahan Oh Pindahan

Sewaktu saya tinggal di Jakarta, seingat saya, saya cuma pindah rumah  3 kali : dari daerah Pasar Minggu ke daerah Condet, lalu ke daerah Pancoran, terakhir ke daerah Cibubur , semuanya dalam kota dan tidak pernah rasanya heboh-heboh amat. Seingat saya, kami selalu dapat bantuan, ayah ibu tetap kerja seharian, tahu-tahu kita pindah ke tempat baru.

Yang jelas namanya hidup ya, pindahan kadang tidak bisa dihindari – idealnya ketemu rumah yang sreg, terus tinggal di situ sampai kakek nenek deh ….

Nah, waktu saya imigrasi ke Amerika, terus terang hal-hal seperti ini tidak terbayang sebelumnya, maklum, tidak terbiasa hidup sendiri, semua-muanya cuma tahu beres, karena selalu tinggal dengan ortu. Baru di Amerika ini saya ‘ngeh’ dan belajar tahu ini itu masalah pindahan. Sejak saya di Amerika tahun 2005 hingga 2014, saya sudah merasakan pindahan itu 5 kali, sementara suami ada kali 10 kali pindahan!

Pindahan pertama kali lumayan gampang, cuma pindah dari apartemen 2 kamar ke rumah yang notabene lebih luas. Barang-barang yang kita miliki tidak terlalu banyak dan cuma perlu sewa satu truk Uhaul ukuran sedang.

Suami sendiri yang nyetir truk, yang ngepakin barang-barang ya kita berdua saja, masalah angkut barang-barang, ada dua teman suami yang bantuin kita gotong mebel-mebel yang lumayan berat: dari apartemen ke truk, dari truk ke rumah.

Setelah pindahan ini, pikirnya ya sudah dong, kita bakalan menetap di sini sampai tahunan, tidak kepikiran mau pindah ke tempat lain.

Itu tahun 2006.

Ternyata keadaan tidak memungkinkan kami untuk menetap di rumah kami, di tahun 2010, suami dapat kerja di negara bagian lain, Ohio. Berhubung dia harus berada di Ohio secepatnya, jadi dia langsung berangkat dengan mobil satu-satunya kami dengan pakaian dan barang-barang keperluan rumah tangga seadanya.  Rencananya saya dan anak (waktu itu dia umur 4 tahun), akan menyusul belakangan dimana suami akan minta cuti untuk pulang ke Montana, bawa kami semua ke Ohio.

Tapi, saya, setelah pikir ini itu, ditambah bawaan diri yang memang agak-agak petualang dan pemberontak, saya nekat bilang ke suami kalau dia tidak usah pulang karena saya sendiri yang akan bawa truk ke Ohio.

Suami amat sangat tidak setuju, tapi dia tahu bininya ini keras kepala dan tidak mau dibilangin sampai dia kejeduk sendiri- akhirnya setuju dengan rencana saya.

Jadilah si Jeng sibuk mengatur rencana kepindahan ke Ohio sorangan dewe.  Cerita kepindahan ku bisa dibaca disini dan disini.
Nah, sejak pindah ke Ohio itu, kami boleh dibilang ‘hobi’ pindahan, baik pindahan antar negara bagian maupun pindahan dalam kota, asli keblenger!!!

Tapi ya mau gimana lagi, kadang kita harus pindah karena pekerjaan, jadi ya lakoni aja.

Dari pengalaman ‘jutaan’ pindahan itu, jadilah di blog ini, saya mau berbagi tips pindahan untuk teman-teman:

Pertama : pilih perusahaan truk yang akan di sewa.

Yang beken di sini itu Uhaul, salah satu perbedaan truk Uhaul dengan truk-truk dari perusahaan lain adalah dek Uhaul lebih rendah, jadi memang agak lebih mudah untuk wara-wiri ke/dari truk.  Tapi Uhaul jauuuuuuuuuuuuh lebih mahal dibanding merek lain.  Berhubung saya orangnya agak-agak pelit, saya pilih truk dari BudgetSelain harga dasar lebih murah, selalu ada diskon untuk sewa dari Budget. Saya dapat kupon 20% , jadi untuk sewa truk saja, bedanya bisa $200 dibanding ambil dari Uhaul.

Masalah ukuran truk, baik Uhaul maupun Budget punya pilihan ukuran yang relatif sama. Harga truk akan tergantung dari ukuran yang dipilih, berapa lama truk akan disewa. Bensin dan resiko kecelakaan harus ditanggung sendiri.

Karena ukuran keluarga kami (& jumlah barang yang kami miliki), biasanya kami harus menyewa truk ukuran 16 kaki dan waktu yang kami ambil untuk pindahan antar negara bagian itu minimal 10 hari (berapa hari di perjalanan, berapa hari istirahat sebelum bisa bongkar truk di tempat baru). Selama pindahan kami (4 kali), rata-rata pengeluaran untuk sewa truk ini tidak kurang dari $1,000.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Truk pindahan ukuran 16 kaki,muat 3 penumpang

Kedua : beli kotak-kotak penyimpan barang.

Ini bisa di beli dari Home Depot ,Lowe’s,dari perusahaan truk sendiri (untuk kotak-kotak baru) atau Craiglist, atau dari tempat kerja untuk kotak-kotak bekas. Pertama pindahan ini, saya coba ngirit dengan ambil kotak-kotak bekas dari tempat saya kerja. Memang gratis, cumaaaaaaaaaaaaa, waktu penempatan di truk, ini bisa jadi masalah.

Kenapa gitu? karena ukuran kotak tidak seragam dan lebih sulit untuk menumpuk kotak-kotak dengan stabil.  Dan juga seringkali kotak-kotak bekas ini sudah terlalu beat-up, jadi resiko jebol lebih besar.

Kotak-kotak yang dijual di Home Depot atau Lowe ini, biasanya ada beberapa ukuran : kecil, sedang, besar, super besar dan khusus untuk pakaian.

Kotak kecil akan paling banyak di gunakan, terutama untuk mengepak barang-barang berat seperti : buku-buku, peralatan tukang, barang-barang pecah belah.

Secara pribadi saya tidak rekomendasi kotak ukuran besar, kecuali untuk simpan bantal, guling atau boneka-boneka. Karena tho meskipun ukurannya besar, kita tidak bisa memuati terlalu banyak, karena resiko jebol.

Pindahan terakhir kami menggunakan tidak kurang dari 100 kotak. (banyak!!!)

packingprogress-001

Lihat lemari kosong, lega rasanya!

newapart20141

tumpukan kotak-kotak siap diangkut! Truk siap di bongkar!

Ketiga : cari bantuan untuk mengangkut barang-barang

Kalau pindahan pertama dan kedua kita cukup angkat telpon dan minta bantuan teman-teman, pindahan berikutnya kita tidak bisa melakukan hal yang sama. Pertama karena suami orangnya risih minta tolong ke orang (gratisan), kedua, suami tidak di lokasi, saya boleh dibilang tidak ada teman laki-laki.

Waktu pindahan dari Ohio ke Montana, saya pilih perusahaan Mergenthaler – layanan yang saya pilih benar-benar cuma bantu angkut barang-barang besar dari rumah ke truk.

Untuk memilih ‘layanan kuli angkut’ ini boleh dibilang yang paling rumit dan tidak murah!

Perusahaan-perusahaan seperti Margenthaler ini banyak jenisnya di Amerika. dan layanan servis mereka beragam : dari mulai layanan penuh : pengepakan barang, pengangkutan, pembongkaran, pemindahan atau bisa pilih satu layanan tertentu saja.

Yang membuat rumit itu karena masing-masing perusahaan punya kebijakan sendiri yang membuat harga bisa beda.

Secara umum pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka ajukan adalah :

  • jenis barang-barang yang akan diangkut – jadi kita harus memberi tahu mereka satu per satu barang-barang yang akan mereka angkut : berapa banyak kotak, mebel apa saja, tempat tidur ukuran apa, dsb
  • berapa jauh mereka harus transpor barang-barang kita (kalau memang kita mau mereka untuk transpor barang-barang kita)
  • apakah ada barang-barang yang unik : piano, kotak penyimpan barang berharga ukuran besar
  • berapa besar asal properti kita dan berapa besar properti baru kita – dan tipenya : rumah atau apartmen
  • apakah ada barang-barang lain yang harus diangkut yang tidak berada di lokasi yang sama

Waktu pindahan kedua kami di Kentucky, saya telpon 3 perusahaan jasa angkut barang. Dua dari tiga perusahaan ini selain saya tahu dari melihat di jalan, saya juga tahu mereka karena mereka klien di tempat saya kerja .

Pilihan saya waktu itu Two Men and a Truck, Margaret Moving dan Edward Neutz Sons & Daughters.

Yang satu bertanya sangat detail mengenai kepindahan kami : apartemen awal kami di lantai berapa dan apartemen tujuan di lantai berapa, konon ini membuat perbedaan harga yang signifikan untuk mereka. Ada juga yang mengenakan biaya transportasi lebih dari 1 jam.

Semuanya memang tergantung dari ‘sreg’ atau tidaknya kita ya. Intinya harga layanan ini berdasarkan jumlah orang-orang yang mereka kirim dan berapa lama mereka bekerja.

Yang jelas, saya belajar dari pengalaman bongkar barang-barang waktu pindahan dari Montana ke Kentucky, saya tidak lagi pilih perusahaan abal-abal alias bukan franchise, bukan kenapa-kenapa, karena saya perhatikan mereka cuma bermodal otot, tapi tidak ada strategi, yang ada waktu pembongkaran bisa jadi lebih lama, meskipun awalnya mereka kenakan harga relatif lebih murah per jamnya, yang ada saya jadi BT.

Pindahan dari Bozeman ke Cleveland, kita pakai 3 orang , 1 orang membungkus mebel-mebel sebelum diangkut, yang 2 memindahkan barang-barang dari rumah ke truk. Seingat saya mereka selesai dalam waktu 3-4 jam.

Untuk pindahan di Kentucky, berhubung ukuran rumah dan jumlah barang-barang berkembang, perusahaan yang kami pilih : Two Men and a Truck mengirim 3 + 1 orang untuk membantu kepindahan kami.

Terus terang saya cukup puas dengan pilihan kami, meskipun secara teknis ada 4 orang yang membantu , kami hanya di kenakan biaya untuk 3 orang. Kerja mereka juga lumayan efisien dan santun. Mereka datang jam 8.30-an, selesai mengangkut barang-barang kami dari apartemen lama jam 12-an. Total biaya yang kami harus bayar itu $910 (berikut tip untuk 4 orang)

Keempat : tetapkan waktu pindahan

Karena itu akan berefek ke harga sewa truk dan harga jasa kuli! Sabtu dan Minggu harga bantuan angkut bisa $30-$50 lebih mahal dibanding hari biasa.

Kadang karena jadwal kerja, kita mau tidak mau harus pilih akhir pekan, kalau memang ini jadi pilihan ya siap-siap buka kantong lebih dalam..;-)

Kelima : beli peralatan tambahan.

Hah? apaan tuh?

Setelah 5 kali pindahan saya lumayan paham akan pentingnya pernak-pernik tambahan yang diperlukan :

  • Dolly atau dongkrak angkut – meskipun waktu kita sewa truk, sebagian besar perusahaan menyediakan dolly di truk ybs, tidak ada salahnya kalau kita juga punya Kenapa gitu? dengan punya dolly sendiri, ini memudahkan kita memindahkan kotak-kotak dari ruang-ruang ke satu ruang tertentu yang nantinya akan memudahkan pengangkutan akhir ke truk. (lebih efisien)
  • Tali : bisa tali rafia, bisa tali tambang biasa, bisa tali elastis (bungee) : gunanya untuk membuat jala laba-laba di dalam truk, supaya dalam pengangkutan, kotak-kotak yang sudah tersusun di dalam truk tidak goyang ke sana ke mari .
  • Penahan pintu : ya menahan pintu supaya selalu terbuka, jadi tidak repot harus bolak balik buka tutup pintu selama pengangkutan barang-barang dari truk ke rumah dan sebaliknya.
  • Padding – seperti juga dolly, padding biasanya disediakan dari perusahaan truk, tapi jumlahnya terbatas – terutama kalau kita tidak menyewa jasa kuli. Jadi tidak ada salahnya untuk sedia tambahan – padding ini bisa berupa selimut atau bantal lama yang sudah tidak terpakai lagi.

Tips-tips lain yang kali berguna :

  • Ruang pengemudi dan penumpang relatif sempit, isi dengan minuman dan makanan kecil untuk perjalanan, dan koper ukuran sedang yang muat di taruh dibagian kaki penumpang di paling pinggir, untuk ganti di perjalanan atau ganti di hari-hari awal di tempat baru
  • Pakai pakaian yang tidak nyesal kalau sobek atau kotor selama di perjalanan, maklum akan banyak berhenti dan atau angkut ini itu
  • Gunakan sprei lama untuk melindungi kasur dari kotor selama di truk/pengangkutan- jadi biarpun si sprei ini sobek misalnya dalam perjalanan, kita rela untuk membuang.
  • Kalau mau nyetir truk sendiri, jangan lupa lengkapi penumpang dengan DVD player supaya tidak bosan
  • Isi gas waktu penunjuk gas tidak kurang dari 1/4 kapasitas – terutama kalau pindah antar negara bagian, karena pompa bensin tidak selalu berdekatan di Interstate.
  • Hindari mundur – terutama kalau nyetir truk besar
  • Kumpulkan kotak-kotak yang sudah rapi di satu tempat tertentu – ini akan menghemat waktu pengangkutan dari apartemen/rumah ke truk
  • Jangan sungkan sumbangkan barang-barang yang tidak pernah terpakai lagi, aturannya kalau kita sudah tidak pernah pakai barang yang bersangkutan selama 1 tahun , ya wis sumbangkan saja, daripada menuh-menuhin truk.  Lokasi sumbangan bisa ke Goodwill, Salvation Army, toko-toko barang bekas lainnya. Kalau buat buku-buku, bisa dijual lagi di toko buku Half Price Book Store, lumayan dapat uang beli kopi
  • Beli satu kotak plastik ukuran sedang yang disini barang-barang kepeluan selama hari-hari pertama di tempat baru : sabun, sampo, sisir, barang-barang pribadi lainnya yang bisa dipakai sekeluarga, piring, gelas kertas, sendok, garpu plastik, pisau, talenan, makanan kaleng, pembuka kaleng, 2 gulung paper towel, 3 gulung toilet paper. Simpan kotak ini paling dekat dengan bukaan di truk, jadi mudah diambil dimana perlu.

Hah. Heboh ya?  Banget! dan yang pasti, pindahan itu selain menguras tenaga juge menguras kantong, karena tidak pernah murah (kecuali ada yang bayarin ya). Dan meskipun kami sudah pindahan berkali-kali, tetap saja stres waktu kami harus melakukannya lagi.

Yah wis, sampai disini dulu cerita dari saya,  mudah-mudahan cerita saya kali ini bisa membantu teman-teman yang mau pindahan….

blog4-002