mandiri

Tumben Kamu Masak?

Halo pembaca!

Cerita saya kali ini masalah sehari2 saja ya. Mudah2an tetap bisa menarik dibaca.

Baru2 ini ada yang nyeletuk gara2 saya “tiba2” suibuk majang foto2 makanan yang saya masak di IG. Koq tumben rajin masak? Gitu konon komentar ybs….yang lanjut merembet ke hal2 pribadi saya yang jelas2 bukan urusan si penanya…

Saya jadi geli sendiri dengar komentar seperti itu. Lah, gimana gak geli?

Begini lhooo………

Sejak Desember 2021, saya kan benar2 hidup seorang diri yang artinya saya sepenuhnya menggantungkan diri saya dengan penghasilan saya sendiri.

Mungkin menurut banyak teman2 hal ini biasa banget ya, tapi buat saya ini benar2 pertama kalinya.

Dari sekian banyak tetek bengek yang harus saya belajar lagi, salah satunya adalah mikirin belanjaan dan masak untuk makan sehari2.

Pertama2, saya sempat belanja kebanyakan, yang ada saya jadi banyak membuang makanan. Ini memang saya perhatikan kebiasaan saya pas masih hidup bareng2 pasangan dan anak.

Buang makanan berarti buang2 $$ dong? Gila mana bisa saya hari gini buang2 $??!

Akhirnya saya tetapkan untuk sebisa mungkin masak dengan menggunakan apa yang tersedia di kulkas dan lemari dapur.

Yang jelas ada bahan2 makanan yang selalu tersedia di dapur:

Nasi, macam2 mi : dari mulai bihun, Indomie, spaghetti, pasta, mi kuning, mi putih, mi udon, ikan kalengan, jamur kering, kaldu ayam di kaleng

Di kulkas:

Telur, tahu, sayuran beku :jagung, kacang polong, wortel, ikan beku separti salmon atau ikan putih atau udang beku atau udang yang sudah dimasak tinggal dipanaskan

Sebulan sekali saya ke Costco beli ayam 6 bungkus yang satu bungkus isinya 5 ayam, bisa paha bawah, paha atas, sayap, dada. Saya biasanya beli paha atau sayap.

Saus2 dasar:

Kecap asin, kecap manis, saus tiram, sambel oelek, garam, merica, bubuk kacang buat bikin saos kacang buat makan sate, gado2, ketoprak

Bumbu2 dapur : bawang putih (buah atau bubuk), bawang merah atau bawang bombay, jahe (segar dan bubuk), madu

Itu yang paling minimal deh yang saya punya. Ibaratnya kalau keuangan pas menipis, saya tetap bisa masak sesuatu: nasi dan telur dadar, mie ayam goreng pakai tahu, nasi goreng.

Saya juga bersyukur deh jadi orang Indonesia, yang terbiasa makan tumis2 an, nasi, ceplok telor bisa kenyang!

Setelah berkali2 gagal menahan diri buat pesan makanan luar dan belanja kebanyakan, saya akhir2 ini lebih bisa kontrol diri untuk masak apa adanya.

Untungnya juga sejak saya pindah ke Amrik, saya banyak belajar resep2 masakan dari negara2 Asia lain dari situ yang namanya Blok Kari Jepang, sambal fementasi Korea (Gochujang), kari merah Thai, miso menjadi bahan sehari2 di dapur saya.

Saya juga belajar menyederhanakan masakan. Kalau ada bumbu yang saya gak punya, saya cuek aja, improvisasi, gak ngotot harus pakai bumbu lengkap dari A sampai Z.

Dan saya juga gak malu memakai bumbu jadi, meskipun saya gak selalu pakai. Yang penting masakan saya enak dimakan!

Ini beberapa makanan yang sehari2 saya masak

Tumis wortel, tahu, bokchoy, nasi da krupuk, warteg banget gak sikkkk

Tengok kulkas. Ada apa ya? Sisa toge, tahu satu blok, mi putih, tahu, bubuk kacang? Bikin ketoprak kali……

Ketoprak, gak nyangka kan jajanan jadi makan utama

Eh ada kacang panjang, sisa kol putih, bubuk kacang tinggal seumprit, ya sudah direbus saja dan bikin bumbu kacang….

Kacang panjang dan kol rebus, plus timun disiram bumbu kacang, jadi makanan juga koq!

Pas rumpi2 sama teman2 kantor, ada yang nyebut kari Jepang sebagai makanan favorit, jadilah makan siang saya hari itu

Cemplungin wortel. Kol putih di kari Jepang, panasin udang goreng tepung
Ada stok salmon di lemari pendingin, yuk bikin!
Mi Goreng saja buat makan siang ya gak apa2 juga

Kadang anak saya suka ngeledekin. Mom kapan terakhir makan daging? Ha..ha..ha..saya ketawa saja.

Kadang ide masak saya selain tengok kulkas lihat bahan2 yang ada, kadang saya dapat ide pas makan bareng. Contoh saya ada sisa kacang panjang yang harus saya masak secepatnya. Tadinya saya mau tumis pakai tahu, tapi keluar malas menggoreng si tahu…inget kemarin pas makan bareng2 di resto Thai ada yang pesan sup udang kari merah. Jadilah saya masak sup kari merah Thai pakai kacang panjang, wortel, tahu. Ada sayur, protein dan karbohidrat.

Kari merahnya pakai bumbu jadi, ringkes, cepat, enak!

Sup Kari Merah ala Thai

Saya juga paksakan beli sesuatu yang saya gak terlalu suka, selada contohnya. Saya cuma biasa makan selada di burger doang. Padahal gak suka burger?! Jadilah bikin ini

Selada bungkus tahu parut, kurang kenyang sik….harusnya pakai nasi euy…

Tapi ya kadang saya keluar deh malasnya, ya pesen makanan, atau makan di luar sama teman2 disini, tapi ya itu , gak bisa sering2 karena kenyataannya ya bisa bokek lah saya

Kadang juga belum tentu selera makanannya saya sreg atau pasti bikin kenyang.

Saya ingat perkataan almarhum ibu saya. Beliau bilang, kategori bisa masak itu bukan kamu bisa masak dengan semua bahan2 tersedia lengkap, tapi adalah saat kamu bisa memasak makanan dengan bahan2 terbatas tapi ‘jadi’.

Sepertinya sik saya sudah masuk kategori itu ya?

Jadi kesimpulannya…..Saya itu tetep gak suka masak. Buat saya masak itu kebutuhan sehari2 saja. Maunya sik punya bibi yang masakin..apa daya hidup di Amrik sebagai rakyat jelata 🥰

Saya sibuk foto2 makanan, karena saya mau nulis blog ini…..

Koq bisa yaaa ada orang segitu KEPO nya??

Ha..ha..haa..semoga tulisan saya bikin pembaca senyum2 dan terinspirasi dikit…

Sampai lain kali!

Celoteh di Awal Tahun 2018

Halo Tahun 2018!

Ah tahun baru euy…biasanya orang-orang repot bikin resolusi. Saya pilih nulis saja ah.

Beberapa waktu lalu ada pembaca blog aku yang komentar “ penuh perjuangan juga ya MBA, WNI cewe nikah ma WNAmerika cowo”

Baca komentar itu saya jadi ‘geli’ sendiri..andaikan perjuangan kita cuma dimasalah imigrasi saja……kenyataannya perjuangan perempuan WNI menikah dengan WN Amrik itu bukan semata di masalah imigrasi loh.

Nah di tulisan kali ini saya mau blak-blakan buka-bukaan tantangan , perjuangan menikah dengan WN Amrik

  1. Menikah itu sendiri bukan hal yang sederhana, jangankan menikah dengan bangsa lain, menikah dengan bangsa sendiri pun pasti ada bentrokan.  Saya sendiri agak ‘telmi’  alias telat mikir tentang apa itu pernikahan.  Waktu menikah saya boleh dibilang tidak ‘ngerti’ apa sih artinya menikah itu? Untunglah saya menikah di umur yang sudah lumayan tinggi, tidak terpikir deh kalau saya menikah muda…
  2. Kalau anda menikah berarti ada kemungkinan bercerai.
  3. idih koq gitu sih? masa nikah trus langsung mikirin bercerai.
  4. Bukan begitu, ini kenyataan koq. Selalu siapkan diri untuk menghadapi hal yang (ter) buruk……
  5. Tidak usah malu, tidak usah gengsi, shit happens.
  6. Itu bagian dari hidup koq. Jangan putus asa. Jangan malu minta pertolongan orang lain ya.
  7. Kendala bahasa : memang sebagian besar orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dan kenyataan kalau si bule mau nikah dengan kita, si bule sudah ‘ngerti’ apa yang kita omongin? gitu? Well…….Kendala bahasa bukan cuma masalah tata bahasa, kosa kata, struktur atau pelajaran bahasa lainnya ; kendala bahasa disini lebih ke cara kita mengekspresikan diri sehari-hari.
  8. Saya pribadi bahasa Inggrisnya tidak bego-bego amat, tetap di mata suami, dia banyak ‘tidak mengerti’ apa yang saya katakan.
  9. Bukan cuma di mata suami saja loh, namanya kita tinggal di Amrik, ya berarti kita harus bercakap-cakap dengan masyarakat umum kan? Salah mengerti, atau di pandang rendah itu salah satu hal yang kita akan hadapi.
  10. Kendala makanan : menikah dengan bule, makanan yang disajikan artinya akan beda dengan makanan yang kita terbiasa. Sebagian besar dari kita mudah beradaptasi , bisa suaminya yang mulai suka masakan Indo atau perempuannya yang jadi fasih memasak meatloaf, chicken pot pie (dan pie-pie lainnya) broccoli cheddar soup, you name it, the Indonesian wife will cook it.  Idealnya begitu, tapi tidak semua kasus sama. Saya contohnya, paling tidak suka masak (dan tidak ‘ngeh’ kalau menikah itu berarti harus SELALU masak buat pasangan?), janjinya pasangan karena saya kerja penuh waktu kita akan bergantian masak. Cuma koq yang dia masak cuma terbatas : spaghetti with marinara sauce, hamburger, chili, fried chicken as in KFC not as in Ayam Suharti, Plain Steak, mac and cheese (with or without tuna), canned bake beans with hot dogs.Bosen gila! Jadi ya saya yang lebih sering memasak supaya lebih ada variasi. Mudah-mudahan kalian pada senang masak ya? (#sayatidaksukamasak)
  11. Belum lagi masalah jenis makanan yang kita pantang (terutama untuk Muslim).
  12. Beberapa dari pasangan sangat menghormati pantangan kita, dan ikutan tidak makan, tapi tidak jarang ada pasangan yang tetap mengkonsumsi si ekor keriting seperti biasa baik itu diluar rumah maupun di dalam rumah.
  13. Kalau kamu tipe yang santai ya tidak masalah, tapi hal kecil seperti bisa jadi beban loh….
  14. Kendala Budaya : yang paling gampang deh, merayakan natal. Di Indonesia kita terbiasa ‘tahu’ kalau tidak semua orang merayakan natal dan kalau kita termasuk yang tidak merayakan natal ya kita tenang-tenang saja, tidak harus kan?Di sini, kecuali suami kita tipe ‘sangat’ memahami perbedaan, boleh dibilang jadinya kita ‘diharuskan’ ikutan merayakan natal.  Mungkin hal kecil sih ya, tapi buat saya terus terang agak melelahkan, karena saya merasa pe-er pressure sekali . Saya lebih suka suasana di Indonesia deh, saya merasa ‘bebas’ tidak bernatalan, tidak ada ‘paksaan’ atau dipertanyakan.
  15. Contoh lainnya minum alkohol, suami saya ternyata pecandu alkohol, ini menyiksa sekali loh, karena saya yang menganggap alkohol itu barang terlarang, sekarang harus melihat pasangan setiap malam minum.
  16. Kendala Keuangan : tidak semua dari kita dapat suami bule tajir tho? atau jadi Sugar Daddy; idealnya suami adalah sumber penghasilan keluarga. IDEALNYA. Dan jangan salah, banyak juga pria bule yang menganut faham kalau istri tugasnya di rumah, tidak perlu kerja.Terus terang buat saya, karena merasa ‘sendiri’ tanpa keluarga, saya terpacu untuk jadi mandiri dan tidak semata-mata mengantungkan diri dari penghasilan suami.
  17. Tahun-tahun pertama tinggal di Amrik memang saya tidak kerja , lebih banyak di rumah, beradaptasi dan merawat si anak, tapi kemudian saya KEJEDUG kenyataan waktu suami kehilangan kerja.
  18. Detik itu juga saya langsung teringat nasehat ibu saya : sebagai perempuan harus punya penghasilan sendiri dan tabungan sendiri……
  19. Disitulah saya merasa bersyukur sekali kalau saya bisa berpenghasilan – meskipun tidak besar- ta[i cukup bisa menolong keluarga saya bertahan hidup selama setahun lebih hingga suami mendapat pekerjaan baru.
  20. Belum lagi masalah kebiasaan pasangan membelanjakan uang. Ini juga bisa bikin berabe.
  21. Saya tipenya yang ogah minta duit, jadi ya saya pilih kerja sik.  Dan juga ya untuk itu, untuk menjaga diri saya sendiri, memastikan kalau ada hal-hal yang tidak diharapkan , saya bisa menghidupi diri sendiri.
  22. Kendala Pertemanan: support system istilah bulenya. Kalau di Indo kita ada orang tua, ada sanak keluarga, ada sohib sejak SD, sejak SMP, sejak SMA,’sejak kuliah…..Kesel sama pacar, curhat sama sohib, telpon-telponan, kabur ke rumah ortu, ke rumah oom, ke rumah teman.  Enak. (saya pernah koq kabur dan ngaso di rumah teman, jadi ya saya tahu laaah)
  23. Pindah ke Amrik, kita balik ke nol lagi.
  24. Mencari teman, gampang-gampang susah sih, bukannya tidak mungkin kita dapat sohib baru disini, bisa sesama orang Indo, bisa orang bule juga. Tapi ya itu , kita juga musti pinter-pinter bersosialisasi.
  25. Tidak selalu kita akan tinggal di kota yang banyak orang Indonesianya, mungkin salah satu dari kita tinggal di kota cilik mintik…yang semuanya bule dan manula, sosialisasi jadi tantangan kan?
  26. Ternyata setelah saya perhatikan saya agak-agak anti sosial..ha..ha..ha.
  27. Dan kalau kita jadi tidak ada support systemnya, ya bukan berarti dunia kiamat ya! Ya kita tetap akan survive lah – Insha ALLAH, cuma road will be bit rougher.
  28. Kesimpulannya?
  29. Menikah dengan bule tidak selalu indah, gemerlap, happy ending, pasang foto ciuman di Facebook, pasang status berbahasa Inggris , pasang foto-foto jalan-jalan dengan mas bulenya di media sosial
  30. Menikah dengan bule artinya banyak beradaptasi – setiap saat boleh dibilang-, otak dipicu untuk terus belajar, karena harus mikir dalam bahasa Indonesia, tapi ngomong dalam bahasa Inggris, kemandirian kita akan lebih di uji.
  31. Jadi…jangan lihat buku dari sampulnya yaaaaa!!!!

 

 

 

 

Mudik 2015 vs Mudik 2006

Terakhir saya mudik ke Jakarta itu di tahun 2006, alias sudah 8 tahun lebih saya tidak mudik.

Tulisan ini bukan mau cerita kenapa saya baru bisa mudik sekarang, tapi iseng-iseng mau lihat perbedaan mudik saya di tahun 2006 dan mudik 2015.

Persamaan M06 dan M15 (seperti kode penting saja layaknya..he….he…he..), saya mudik berdua dengan anak saya, suami tidak ikutan – maklum anggaran terbatas.

Waktu itu anak saya berumur kurang dari 1 tahun, sekarang anak saya usia 9 tahun. Boleh dibilang anak saya tidak ingat apa-apa tentang perjalanan ke luar negeri pertama dia, sementara di M15 anak saya sangat ‘aware‘ kalau dia akan mengunjungi negara ‘asing’ yang amat sangat berbeda dengan negara kelahirannya.

Waktu M06 saya tidak terlalu pusing kepala mengenai siapa yang akan menjemput kita berdua di bandara.

Di M15, terus terang saya tidak PD untuk menggunakan jasa taksi saat kedatangan, meskipun tahu kalau saya harus pakai taksi tertentu, tapi karena kedatangan saya yang tengah malam, bawa anak yang pasti teler, bawa koper segambreng, saya akan pulang ke tempat yang sama sekali baru (bukan ke rumah orang tua yang dulu saya tinggali), saya keder kalau-kalau si taksi yang aman dan bereputasi baik belum tentu tersedia, juga ada ketakutan akan nyasar tidak jelas. Paranoid lah intinya.

Tapi saya amat beruntung karena banyak teman-teman yang menawarkan bantuan untuk menjemput saya di bandara. (Terima kasih amat banyak untuk Bona Ray, Mona B, Krisna K, Eva D yang sudah menawarkan bantuan untuk diriku di hari pertama!)

Dari sekian banyak teman-teman yang menawarkan bantuan, memang Tuhan Maha Baik ya, ada teman di Louisville (terima kasih banyak Jeng Rini M), yang ibunya baik sekali bersedia menjemput di bandara. Puih. Lega rasanya.

Perbedaan lainnya, kalau di M6 si anak di keloni sama ayah dan ibu, kali ini anak saya cuma bisa ketemu dengan Eyangnya, yaitu ibu saya. 😦

Sampai detik ini anak saya masih suka celetuk ‘Mom, I wish Kaik is still alive’ (kaik – kakek dalam bahasa Banjar). 

Nah, terus terang keluarga kami bukan keluarga yang sangat berada, dan juga beberapa kali keluarga kami di terpa musibah dan baru satu tahun belakangan ini keluarga kami mulai bisa berbenah dan bangkit dari kesulitan.  Artinya kami tidak akan selalu bisa mudik ke Indonesia setiap tahun.

Karena alasan itulah saya harus berpikir realistis di mudik saya kali ini ; dalam arti saya harus berpikir masalah anggaran yang akan saya belanjakan dan waktu yang akan saya gunakan.

Tujuan mudik saya kali ini ada 4 :

  1. Menengok Ibu yang sejak terkena stroke di tahun 2010

  2. Menengok makam ayah yang meninggal di bulan April 2014

  3. Mengenalkan anak ke tempat kelahiran saya

  4. Bertemu teman-teman baik saya

Kalau di M06 saya tinggal di rumah orang tua di lokasi Cibubur, M15, saya akan tinggal di dua tempat, yaitu di tempat tinggal ibu saya itu di Parung :50 kilometer lebih jauh ke arah Bogor dari Cibubur dan di apartemen di tengah kota Jakarta.

Apa gitu pertimbangannya?

Yang jelas saya tidak bisa lagi mengandalkan orang tua seperti saat M06. Tidak bisa mengharap akan di jemput, tidak bisa mengharap akan diantar kesana kemari. 

Berarti saya akan banyak mengandalkan jasa transportasi umum, yang dalam hal ini : taksi.

Logikanya saya akan bawa anak saya melihat ini dan itu, bertemu teman-teman yang memang sudah meminta untuk bertemu dari jauh-jauh hari, akan berat di ongkos kalau saya tinggal di tempat tinggal Ibu selama 2 minggu penuh saya di Indonesia – diperlukan ongkos taksi Rp. 1,000,000 pulang pergi dari Parung ke pusat kota Jakarta.

Kenyataannya tidak ada donor yang mau membayari ongkos saya pulang pergi Parung-Jakarta, dan kenyataannya saya tidak akan sanggup membayar ongkos PP sebesar 1 juta selama 14 hari saya tinggal di sini, maka saya putuskan untuk tinggal di tengah kota di minggu kedua saya mudik.

Banyak rekan-rekan yang bertanya-tanya soal keputusan saya memilih tinggal di apartemen.

Well, terus terang saya bingung juga, wong keputusan saya tidak melibatkan orang lain, kecuali anak saya dan suami saya, tapi koq banyak yang ribut ya???