Author: Irus

Banjir!

Seperti halnya kota-kota di penjuru dunia, kota-kota di Amrik tidak luput dari kebanjiran. Sampah yang dibuang sembarangan, pengaliran air yang tidak tertata baik, volume air hujan yang melebihi rata-rata, lokasi kota bersebelahan dengan sungai besar menjadi faktor penyebab banjir.

Ini foto di taman di tengah kota Louisville. Diambil hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015.Selain tengah kota, dibeberapa tempat lainnya banyak jalan-jalan di tutup karena kebanjiran.

Ternyata banjir bukan cuma milik negara berkembang ya.

0314151919

MUDIK 2015 : MENIKMATI MASAKAN INDONESIA

Untuk tulisan kali ini, mending lewat gambar saja yaaaa…

Masakan Indo yang pertama kali kulahap : Pecel

Pecel Ala MbokSelanjutnya : Bebek Cabai Hijau

049

Lalu ditraktir makan makanan Sunda sama keluarga Mbak Indri/Mas Yo, Mbak Ratna/Mas Indra

Mudik_Jan18Feb320

Masih ditraktir dengan keluarga yang sama, kami berkesempatan makan masakan laut komplit : kepiting saos padang, cumi-cumi, ikan goreng, kangkung cah…

Mudik_Jan18Feb321Balik ke Jakarta, keluarga yang sama lagi-lagi mentraktir kita makan siang di cafe Betawi di Senayan City, disini saya icip-icip Laksa dan Lontong Cap Gomeh dan es cendol

Mudik_Jan18Feb322

Waktu saya dan anak berduaan keluyuran di Grand Indonesia, di food courtnya, saya pesan nasi Padang dari Sari Ratu, sementara si kecil pesan satai kambing dari Sate Khas Senayan

Mudik_Jan18Feb323

Masih banyak lagi petualangan kuliner saya : empek-empek ditraktir si Ambon, Bakmi GM di traktir Susan dan Bona, siomay, nasi goreng kambing di traktir Erma, nasi bungkus Padang dari Sederhana, sate ayam Santa, mie ayam ditraktir Mona, sushi ditraktir Eva, masakan Cina halal di Plaza Indonesia di traktir Fitri dan keluarga.

Di hari terakhir sebelum balik ke Amrik, saya berduaan dengan anak saya mampir di Pacific Place, disitu kita makan di Seruput. Pesanan saya ndeso habis : singkong goreng, tempe mendoan, sop iga…….:-))

Mudik_Jan18Feb325

Tidak semuanya saya sempat abadikan, karena sudah kelaparan…ha….ha…ha…

Yang jelas, Alhamdulilah sekali, amat bersyukur saya memiliki teman-teman yang murah hati dan murah berbagi rejeki.

Terima kasih sekali lagi ya teman-teman semua. Semoga teman-teman semua selalu dimudahkan rejekinya dari Sang Pencipta.

MUDIK 2015: KONTEMPLASI

Hampir sebulan yang lalu saya berangkat mudik ke Jakarta, Indonesia.  Saat ini saya sudah bebas jetlag dan sudah kembali ke rutinitas sehari-hari.

Seraya saya menelurusi angka-angka di rekening bank saya, menelaah bon-bon pembelian ini dan itu, saya mau tidak mau jadi berkontemplasi akan mudik saya kemarin.

Kalau dipikir-pikir saya itu ‘bodoh’ sekali ya, beranggapan kalau anggaran $3,000 itu akan cukup untuk mudik selama 14 hari, mungkin kalau murni $3,000 tanpa termasuk pembelian tiket pesawat, ya cukup-cukup saja. Anggaran $3,000 saya itu termasuk $1,700 tiket pesawat dan $300 sewa apartemen. Jadi notabene anggaran saya itu ya cuma $1,000.

Pikir saya, kalau tho saya harus keluarkan uang lebih dari anggaran, saya bisa gunakan kartu kredit, eh ternyata kartu kredit andalan saya, American Express, jarang di terima di Jakarta. Jadilah saya harus gunakan kartu debit yang lebih terbatas uangnya. Bolak balik minta ke suami untuk transfer uang tambahan, untung suami baik hati, dan Alhamdulillah kita masih ada sedikit uang dari penghasilan dia.

Untungnya juga saya dikaruniai teman-teman yang amat sangat murah hati yang tidak henti-hentinya mentraktir saya saat kita ketemuan.

Tapi masa’ ya saya jadinya tergantung sama kebaikan hati teman-teman – ya tidak bisa dong??!!

Selain bodoh dalam anggaran, banyak lagi kebodohan-kebodohan saya di mudik ini.

Saya bodoh tentang mahalnya Jakarta -meskipun saya sudah diperingati oleh teman-teman tentang itu, saya ‘pura-pura’ bego dan nekat tetap pulang.

Saya merasa bodoh mengasumsi orang-orang tidak akan mengusili keputusan-keputusan saya untuk mudik ini

Saya juga terlalu naive beranggapan kalau semua orang akan mengerti prioritas saya di mudik ini.

Sepertinya saya harus realis, saya tidak bisa mudik dengan anggaran terbatas lagi, Saya tidak boleh paksakan diri untuk mudik seperti yang saya lakukan tahun ini, saya tidak bisa lagi segitu ‘naive’nya berfikir ‘yang penting saya pulang dulu, masalah pengeluaran dipikir nanti’.  Saya tidak mau membebani teman-teman, malu rasanya koq setiap kali ketemu ditraktir.

Bersyukurlah teman-teman Indonesia yang tinggal di Amerika dan bisa mudik setiap tahun dengan anggaran lebih dari cukup. Jujur, betapa irinya saya dengan teman-teman semua.

Tapi iri tidak membuat keadaan lebih baik tho?

Jadi lebih baik ya saya legowo saja. Keinginan mudik akan saya simpan dulu untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

004425b3a792c69eebb0d9c0dd83412c

Suka Duka Di Amrik : Pekerja Jam-Jam-an

Baru setelah berimigrasi ke Amerika, saya mengenal istilah pekerja jam-jaman dan pekerja gaji.

Pekerja jam-jaman yaitu pekerja yang dibayar berdasarkan jumlah jam yang si pekerja lakoni, ya biasanya pekerja buruhlah, seperti pegawai toko, pegawai bank,pegawai di rumah sakit, dll. Pekerja jam-an ini bisa pekerja paruh waktu, bisa juga pekerja penuh.

Karena sifatnya yang dibayar berdasarkan jumlah jam si pegawai bekerja, dari NOL jam hingga 40 jam (atau bisa lebih, tapi biasanya managemen perusahaan akan ‘ngomel’ kalau pegawai jam-jaman mereka lembur)- bayaran si pekerja ya bisa berbeda-beda setiap kali terima gaji.

Juga pekerja di haruskan mencatat saat mereka mulai kerja dan selesai kerja setiap harinya di timesheet.

Pekerja jam-jaman ini juga rentan terpotong jadwal kerjanya, terutama pekerja ritel. Kalau manager menilah penjualan pada hari itu tidak seperti yang diperkirakan, mereka harus segera memotong anggaran perusahaan yaitu dengan memotong jam kerja si pegawai yang dijadwalkan bekerja hari itu. Jadi kalau awalnya si pekerja di jadwalkan bekerja selama 4 jam, sangat mungkin kalau si pekerja yang ada cuma bekerja selama 2 jam saja.

Sementara pekerja gajian, yaitu mereka-mereka yang gajinya dihitung secara lumpsum per bulannya, dengan standar jam kerja 40 jam per minggu. Sepengetahuan saya pekerja gajian ini sebagian besar pekerja penuh, atau pekerja kontrak. Contohnya suami saya.

Sebagian besar pekerja jam-an menerima gaji setiap minggu atau setiap dua minggu sekali. Sedangkan pekerja gaji, sebagian besar di bayar setiap dua minggu sekali atau 2 kali sebulan : di awal bulan dan di tengah bulan (tanggal 15).

Saya ini termasuk pekerja buruh, alias pekerja yang dibayar per jam, gaji dibayar oleh perusahaan setiap 2 minggu sekali. Tapi karena saya bekerja di dua tempat, saya jadinya terima bayaran setiap minggu, karena jadwal terima gaji saya yang satu dengan yang lain berselisihan.

Ada enak dan tidak enaknya jadi pekerja jam-jaman.

Yang paling tidak enak itu kalau lupa masukkan waktu kerja (clock in dan clock out) dan kelewat tenggat waktu perhitungan gaji. Kenapa? Karena beberapa perusahaan sangat ketat dalam hal pembayaran gaji ini, kalau sudah lewat tenggat masukkan timesheet ya terpaksa kamu dibayar apa adanya, kekurangan jam kerja akan dibayar di gaji berikutnya.

Contohnya saya.

Waktu mau mudik kemarin, saya pikir waktu saya balik saya tetap akan terima gaji cukuplah, karena meskipun saya tidak kerja, saya sudah punya jatah liburan, yang jumlah jam libur per mingggunya boleh dibilanag sama dengan jumlah jam kerja saya kerja.

Saya pikir lagi, karena saya pekerja paruh waktu, manager saya yang harus memasukkan jumlah jam libur saya ke timesheet saya – karena kalau ada libur di kalender, manager saya yang memang harus memasukkan libur kalender itu di timesheet saya supaya saya dibayar.

Waktu kembali ke tempat kerja setelah mudik, saya panik melihat jumlah kerja saya cuma seuncril dan ternyata jam liburan saya tidak tercatat. Ternyata saya salah asumsi, sayalah yang harus memasukkan jam libur saya ke timesheet, bukan manager.

Yaaaaah….apa daya, terpaksalah saya gigit jari selama lebih dari 2 minggu!

Hadweeeh, asli sengsara, karena berarti saya tidak bisa membayar tagihan ini itu seperti yang sudah saya jadwalkan.

Untunglah cuma saya yang pergi berlibur dan suami tidak ikutan, karena berarti kita  masih ada penghasilan dari suami yang bisa bantu untuk hidup sehari-hari…………..

Phew!!??!!

MUDIK 2015 : BERDUAAN DI KIDZANIA

Di mudik 2015, saya sengaja sediakan satu hari yang saya pakai untuk menghibur anak saya. Dari sekian banyak rencana saya : Taman Safari, Taman Mini, Taman Budaya, Perosotan di FX dan Kidzania – terus terang pertama-tama saya masih bingung untuk memutuskan kemana kami akan pergi. Yang jelas, saya sudah pilih kosongkan hari Selasa untuk kami berdua.

Nah, di hari ulang tahun anak saya tanggal 22 Januari, kami ditraktir main ke Kidzania oleh teman baik saya. Ada bagusnya kita mampir di Kidzania hari itu, jadi kami bisa memantau situasi dan lebih ‘mengerti’ apa yang harus dilakukan.

Dari hasil bermain di hari itu, Saya semakin mantap kalau petualangan berdua saya dan anak saya di minggu berikutnya akan di Kidzania saja dan tidak di tempat lainnya. Jadilah pada hari Selasanya kami pergi ke Kidzania lagi sesuai dengan rencana awal saya.

Memang saya juga sengaja tidak mengajak siapa-siapa ke Kidzania ini , karena saya murni ingin spending time together with my son, berduaan saja. Kapan lagi bisa berpetualang berdua di Jakarta? jarang-jarang kan 😉

Nah di blog ini Saya mau cerita petualangan kami di hari itu.

Saya asumsi tidak semua pembaca tahu apa Kidzania itu. Saya coba jelaskan disini ya.

Kidzania itu area bermain anak-anak, dimana anak-anak berkesempatan untuk berlakon (pretend play) sebagai orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam arti mereka bisa pilih berbagai jenis profesi, mulai dari polisi, petugas pemadam kebakaran, pembalap mobil, pembalap motor, petugas bank, pekerja konstruksi, pekerja hotel, pembuat pizza, roti, mie, handuk, montir, pilot, artis dan banyak lagi.

Anak-anak diajarkan konsep real life situation –misalnya sebagai pekerja mereka akan digaji – jadi kalau mereka pilih untuk menjadi montir, mereka harus ‘bekerja’ dan di akhir sesi mereka akan dibayar – sementara kalau mereka mau memakai jasa ini dan itu, mereka harus membayar dengan uang Kidzania.

Tiket masuk ke Kidzania itu di hari biasa Rp. 130,000 untuk si anak dan Rp. 80,000 untuk orang tua. Pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar , yang diperbolehkan dibawa hanya botol air.

Di Jakarta, lokasi Kidzania itu baru satu (Januari 2015), yaitu di Pacific Place di SCBD Sudirman.

Setelah membayar tiket, pengunjung harus di cek di mesin pemindai seperti di bandara, lalu masing-masing dari pengunjung akan diberikan gelang – yang menurut petugas, akan membantu kalau si anak kehilangan orang tuanya. Dan si anak di berikan voucher Kidzania yang harus ditukarkan dengan uang Kidzania di ‘bank’ di dalam lokasi.

Jadilah tujuan pertama kita setelah masuk itu ke bank, untuk menukarkan voucher. Si anak mendapat uang awal sebesar 20 ribu uang Kidzania.

Dari sini, si anak bebas untuk memilih ‘pekerjaan’ yang dia minati.

Anak saya memilih mau ikutan balap mobil, Sebelum bisa balapan, seperti layaknya di dunia nyata, si anak harus di periksa kesehatan terlebih dahulu, berlatih mengemudi dan mengambil SIM. 😉

Dia juga harus membayar ‘ongkos’ membuat SIM dan juga dia pilih ikut balapan, dia harus membayar ongkos ikut balapan.

Uang hampir habis? berarti si anak harus pilih ‘profesi’ untuk bisa berpenghasilan.

Saat kami di Kidzania, anak saya memilih jadi petugas pemadam kebakaran, montir mobil, petugas pembersih gedung, petugas konstruksi, petugas hotel, pembalap mobil, pembalap motor.

Ada yang lucu waktu si kecil mau balapan motor; saya sempat deg-degan, apa bisa ya anak saya naik motor sebesar itu? – ukuran motor yang akan dikendarai anak saya seperti layaknya ukuran motor biasa, beda dengan waktu dia jadi pembalap mobil, ukuran mobil yang dia kendarai ya memang ukuran anak-anak.

Teliti punya teliti, ternyata si motor ada 2 ban tambahan dibelakangnya…he…he…he..legalah saya melihatnya!

Mudik_Jan18Feb318

Sewaktu jadi petugas pemadam kebakaran dia ikut di belakang truk pemadam kebakaran berkeliling ‘kota’ (sebetulnya ada aksi memadamkan api, tapi waktu kami kesana, lokasi pemadaman kebakaran ditutup).

Saat jadi montir mobil, dia dan anak-anak lainnya ‘sibuk’ mempreteli ban mobil 😉

Mudik_Jan18Feb315

Sewaktu si kecil pilih jadi petugas pembersih bangunan tinggi, dia naik gondola mini lengkap dengan helm dan sabuk pengaman082

Si kecil juga berkesempatan memanjat ‘gedung tinggi’ dan membunyikan bel saat berhasil sampai di puncak.

Mudik_Jan18Feb316Mudik_Jan18Feb317

Asli seru bermain di Kidzania ini. Kalau mau melakoni semua permainan rasanya harus ke sini lebih dari satu kali!

Saya mau berbagi beberapa tips untuk orang tua sebelum bermain disini

  • Kidzania buka dari jam 9 pagi hingga 4 sore. Permainan terakhir itu jam 3:45 pm
  • Beberapa permainan membutuhkan sekelompok anak, dan permainan tidak akan mulai sebelum jumlah anak terpenuhi, contoh dibagian montir mobil. Tapi ada beberapa permainan yang cuma bisa dilakoni 2 anak per sesinya. Contoh – pekerja pembersih bangunan
  • Satu sesi permainan itu rata-rata membutuhkan waktu 15 menit – bisa lebih. Jadi sabar saja.
  • Ajarkan anak-anak untuk mengantri dan tidak menyelak antrian
  • Harap maklum dengan panjangnya antrian, terutama kalau anda bersamaan dengan segerombolan anak-anak dari sekolah
  • Jangan harap bisa melakoni semua permainan, tetapkan harapan si anak, supaya mereka tidak kecewa

O iya, disini juga ada pemotret anak-anak di lokasi permainan tertentu. Ongkos untuk menebus foto ini, tergantung berapa banyak foto yang pengunjung mau ambil, minimal itu Rp. 90,000. Tidak bohong kalau saya tebus semua foto anak saya, dengan pertimbangan, kami turis dan belum tentu bisa balik lagi ke Kidzania tiap tahunnya. 😉

Mudik 2015 : Oleh-Olehnya Mana??

Saya sempat disindir karena tidak membawa oleh-oleh untuk individu-individu tertentu. Mungkin saya dianggap sangat mampu untuk membawa oleh-oleh buat semua pihak atau mungkin saya di anggap BERKEWAJIBAN untuk membawa oleh-oleh untuk mereka. Saya kurang mengerti juga

Sebagai orang Indonesia,saya terbiasa dengan budaya oleh-oleh ini. Dari Amerika gitu loh, masa sih tidak bawa oleh-oleh waktu ke Indonesia?

Pada dasarnya saya ini orangnya kurang perhatian (kurang ngeh) dalam hal beroleh-oleh, atau masalah kado-kadoan. Tidak terbayang kalau saya merayakan hari natal dimana saya kudu memikirkan kado untuk banyak orang. Setiap kali ada acara tukar kado di kantor, saya keringat dingin.

Saya juga tidak seperti kenalan saya yang orangnya telaten memikirkan orang lain dan selalu punya oleh-oleh ekstra di tangan.

Selain karakter saya yang bingung berkado/beroleh-oleh, saya harus realistis dalam banyak hal, yaitu :

  1. masalah muat atau tidak si oleh-oleh di koper. Dalam mudik ini saya belum-belum sudah membeli koper baru yang tidak ada di anggaran. Terus terang saya tidak enak hati dengan misua sendiri yang membelikan koper buat saya

  2. masalah anggaran. Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, anggaran mudik saya in relatif ‘tipis’, yaitu $3,000 dan sudah termasuk pembelian tiket pesawat. Kecuali mereka yang nyinyir itu mau ikutan bayarin tagihan keluarga saya setelah saya balik ke Amerika, saya harus selalu memantau anggaran ini.

  3. siapa yang akan saya kasih oleh-oleh. Buat saya oleh-oleh itu BUKAN sekedar buah tangan, tapi oleh-oleh itu juga tanda terima kasih saya untuk mereka yang mau berepot-repot bertemu dengan saya. Yang bersedia menyisihkan waktu diantara kesibukan mereka sehari-hari untuk bertemu saya.  Yang terus terang dalam mudik kali ini, memang saya sesalkan ada beberapa teman-teman yang  saya tidak punya oleh-oleh untuk mereka. Maaf ya buat RIA, DI, YP, RN, saya tidak ada buah tangan untuk kalian 

Jadi ya kalau ada yang merasa harus di oleh-olehi oleh saya tapi tidak dapat oleh-oleh….well.……..

mirror1

nb.

Kalau saya tidak salah juga, oleh-oleh itu bukan keharusan kan ya?

Suami saya sendiri, tidak saya belikan apa-apa dari Indonesia, karena dia memang tidak minta, dan dia juga mengerti sekali kerepotan saya di mudik ini. Dia cuma bilang ‘I know there are things there that you love that you can not get here, go ahead buy them, don’t worry about me

Mudik 2015 : Banjir Hadiah Dan Traktiran!

Satu hal yang tidak kami sangka-sangka di mudik kali ini adalah melimpahnya hadiah dan traktiran dari teman-teman semua! Baik itu untuk saya pribadi, maupun untuk si kecil. Dari minggu pertama hingga hari terakhir, tidak henti-hentinya berdatangan hadiah dari teman-teman, baik itu material maupun imaterial.

Memang, mudik kali ini waktunya bersamaan dengan ulang tahun anak saya yang ke sembilan. Selain karena tiket pesawat pas murah di minggu itu, saya juga berpikir untuk memberikan kesempatan ibu saya merayakan hari ulang tahun anak saya bersama-sama.

Tadinya saya ingin selamatan kecil-kecilan (pesan nasi kuning gitu, atau beli kue ulang tahun), tapi kenyataannya sayanya masih kecapaian dari perjalanan dan juga tidak tahu mau pesan dimana itu nasi kuning atau kue ulang tahun.Jadilah niat saya terpaksa dibatalkan, meskipun kami sudah membawa lilin ulang tahun jauh-jauh dari Amerika.

Yang jelas saya memang sengaja membawa kado dari Amrik untuk si kecil buka di Indo. Paling tidak, dalam pemikiran saya, meskipun tidak ada acara khusus, si kecil tetap merasakan ulang tahunnya dengan adanya kado-kado yang saya bawa.

Alhamdulillah anak saya tipe anak manis, dia terlihat cukup senang dengan kado-kado yang saya bawa dari Amrik dan tidak menuntut lebih. Saya bersyukur waktu si kecil tidak kecewa dengan ultah dia apa adanya.

Tapi ternyata ultah dia berkepanjangan!

Dari mulai ditraktir ke pantai Anyer, dibelikan perlengkapan main pasir, baju ‘turis’, uang tunai 100  ribu, main gratis di Kidzania, si kecil mendapat set LEGO creator, topi, set PlayMobil, baju kaos HardRock Cafe Jakarta, 2 mobil-mobilan baru, tempat pensil LEGO, handuk Marvel, segambreng DVD dan pernak pernik asli Indonesia.

Mudik_Jan18Feb37-001

Komentar anak saya lucu sekali, dia bilang ‘Mom, I can’t believe I have so many presents! This is awesome!’

Seperti halnya anak saya, saya juga kecipratan hadiah!

Dari mulai berbagai jenis kerupuk, baju batik, selendang batik, rok batik, bahan batik, pernak pernik khas Indo, rok cantik, scarf macan, taplak batik, dompet Tulisan, kaastangel super enak dan banyak lagi yang saya tidak bisa sebutkan semuanya disini!

Mudik_Jan18Feb38-001

Selain hadiah-hadiah diatas, kami juga tidak habis-habisnya ditraktir teman-teman.

Ditraktir ke Anyer dari mulai dijemput, penginapan, makan, diantar ke Jakarta oleh Keluarga Mbak Indri, Mas Yo dan keluarga Mbak Ratna and Mas Tjipto. Ditraktir pelisir ke Jakarta dari Parung sama Oom Bona,ditraktir makan sushi sama Tante Eva, ditraktir makan di GM sama Oom Bona dan Tante Susan, diantar ke makam ayah, jalan-jalan ke Kokas, naik kereta api, diantar pulang sama keluarganya Tante Erma, dibawa keliling Jakarta sama Tante Mona dan Oom Riko, ditraktir kopi dan donat sama Tutrie, ditraktir makan mewah sama Tante Fitri, Oom Agung dan Rio daaan banyak lagi!!

Tidak bohong kalau saya merasa sangat berhutang budi dengan teman-teman semua dan merasa sangat beruntung.

Untuk teman-teman semua yang sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami di Indonesia, kami ucapkan terima kasih yang amat sangat banyak dan tidak terhitung!!

Kami merasa sangat beruntung atas kebaikan teman-teman semua!!

Semoga semua kebaikan teman-teman dibalas oleh Yang Maha Pemberi.

PS.

Mohon maaf sekiranya ada teman-teman yang terlewat di sebut di tulisan saya ini, yang pasti kami tidak lupa akan kebaikan teman-teman semua!

Mudik 2015 : Reuni Dengan Teman-Teman

Tiga minggu sebelum Saya berangkat ke Jakarta, boleh dibilang saya sudah umumkan rencana mudik saya ke publik lewat blog ini, yang tersambung ke profil saya di sosial media lainnya.

Dari tulisan pertama saya di bulan Desember 2014, teman-teman banyak yang ikutan senang dan banyak yang langsung menghubungi saya untuk janjian ketemuan. Semakin dekat ke hari H, semakin banyak teman-teman yang serius minta waktu untuk ketemu saya, yang tentunya berusaha saya penuhi.

Saya memang sengaja membuat keberadaan saya di Indonesia ‘dipublikasikan’ di umum (di profil FB saya). Dari mulai saya mendarat, nomor telpon saya di Indonesia, dimana saya tinggal, semua saya pajang. Apa alasan saya melakukan hal itu?

Untuk memudahkan komunikasi saya dengan siapapun yang berminat untuk ketemuan dengan saya. Meskipun ada beberapa rekan-rekan yang saya hubungi lewat pesan di FB dan saya utarakan keinginan saya untuk bertemu ;tidak semua dari mereka membalas pesan saya atau antusias menyambut ajakan saya. Ya tidak apa-apa juga, itu kan hak setiap orang. Saya sih amat mengerti kesibukan masing-masing, masa’ mau dipaksa?

Minggu pertama saya di Indonesia, karena kami tinggal di Parung, saya tidak berani membuat janji bertemu dengan terlalu banyak teman, secara jauh gitu loh. Saya mengerti sekali kalau akses ke Parung tidak mudah dan akan habis lebih banyak waktu di jalan dibanding untuk ketemuan.

Meskipun demikian tetap ada teman-teman yang sangat murah hatinya untuk tetap janjian bertemu kami dari jauh-jauh hari. 

Teman pertama yang kami janjian ketemu itu sahabat lama saya dari sejak SMA (1990). Dia sengaja mengambil cuti hari itu, karena mau menghabiskan waktu seharian dengan kami. Kebetulan hari itu juga hari ulang tahun anak saya yang ke sembilan. Jadilah teman saya ini menjemput kami jauh-jauh dari Jakarta, mentraktir kami makan di Urban Kitchen di Pacific Place, untuk kemudian memboyong kami masuk di Kidzania, membelikan hadiah LEGO untuk anak saya dan mengantar kami pulang ke Parung lagi.

Mudik_Jan18Feb35-002

Teman kedua yang bisa ketemuan yang juga sudah membuat janji jauh-jauh hari untuk bertemu itu, teman waktu kerja dulu. Teman saya ini baru balik dari luar negeri dua hari sebelumnya, tapi dia bela-belain untuk ketemu saya di minggu pertama saya diIndo. Teman saya ini saking baiknya, juga rela-rela saja mengantar kami balik ke Parung.

Sungguh kami amat beruntung mempunyai teman-teman yang murah hati kepada kami.

O iya, selain dia, ada teman SMA yang kebetulan tinggal di daerah relatif dekat dengan Parung yang juga antusias ingin ketemuan. Jadilah kami janjian untuk bertemu mereka berdua di Bogor.

Mudik_Jan18Feb36

Meskipun kita tidak bisa menghabiskan waktu lama-lama untuk rumpi-rumpi dan melepas kangen, tapi sungguh kami merasa bersyukur sekali bisa ketemuan, setelah 20 tahun tidak pernah ketemu!

Biasanya setelah bertemu teman-teman, kami pulang tidak lebih dari jam 7 malam, karena kami tinggal di rumah orang (rumah tempat tinggal Ibu) dan juga karena masih jetlag. Maunya ya kelayapan terus, tapi percaya atau tidak kami masih tahu diri lah…

Bersambung…..

Mudik 2015 : Rencana vs Realita

Di mudik 2015, Saya banyak rencana, selain memenuhi 4 tujuan utama yang saya tulis di tulisan sebelumnya, saya kepingin sekali membawa anak saya ke beberapa tempat jalan-jalan yang khas Jakarta: Kidzania, Taman Safari, Taman Budaya Sentul, WaterBoom, Taman Mini.

Maklum, kesempatan mudik buat keluarga kami itu LANGKA dalam arti kami tidak setiap tahunnya bisa mudik seperti kebanyakan teman-teman lain. Lah terakhir mudik saja itu di tahun 2006, jadi saya realistis saja kalau kenyataannya kami tidak selalu bisa pulang. Memang begitu a koq kenyataannya, mau diapakan lagi? masa mau minta dibayarin orang? Nah Saya inginnya di kesempatan pulang ini, anak saya bisa melihat Jakarta dan sekitarnya sebanyak mungkin.

Berhubung saya sudah bekerja, saya hanya bisa cuti selama 14 hari (bukan sebulan seperti M06) dan anggaran saya TERBATAS. Jadi saya harus pikirkan masalah transportasi dan waktu saya yang relatif sempit.

Sebulan sebelum saya berangkat, saya sudah rencanakan dimana saya tinggal. Rencana saya ini memang tidak semua orang tahu (memang harus ya semua orang tahu???? heh???), tapi secara garis besar saya beritahukan lokasi saya ke orang-orang yang secara langsung terlibat – yaitu mereka yang menjemput saya, mereka yang tempat tinggalnya saya tinggali, dan mereka yang mengajak untuk bertemu dengan saya. 

Sementara rencana akan kemana saya setiap harinya, ya cuma saya ya yang tahu dan mereka yang bertanya langsung kepada saya apa rencana saya. (menurut saya tidak penting ya untuk memberitahu rencana saya ke semua orang, kesannya saya sok penting sekali ah!!)

Well, beberapa rencana saya untuk anak saya tidak terealisasi, kasihan juga si kecil yang sedih karena harus menuruti jadwal yang sama sekali berbeda dengan yang saya rencanakan untuk dia. Kami tidak pergi ke Taman Safari, Taman Mini, Taman Budaya ataupun waterboom.

Lucunya, mereka-mereka yang dengan senang hati mengubah rencana saya ini tidak memberikan alternatif hiburan untuk anak saya. Jadilah saya yang harus pontang panting atur waktu saya ‘seadil-adilnya’ untuk semua pihak yang terlibat.

Tapi yang jelas, 4 tujuan mudik saya terpenuhi , dan anak saya tetap bisa bergembira di mudik ini.

Ibu saya berkesempatan ditemani cucunya, Saya dan anak saya menyekar ke makam Ayah,

Mudik_Jan18Feb3

anak saya bisa bermain di Kidzania,

Mudik_Jan18Feb33

berenang di pantai laut Jawa (Anyer), dan beberapa kali di kolam renang di apartemen (meskipun bukan di waterboom),

Mudik_Jan18Feb32

berkenalan dan bermain dengan anak-anak teman-teman saya,

Collages27

dan saya bisa bertemu teman-teman baik saya.

Mudik_Jan18Feb34-004

Tuhan Maha Baik koq.

Mudik 2015 : Indonesia (Jakarta) vs Amerika

  1. Keberadaan wi-fi – Pilih Amerika! halah! ternyata di Jakarta raya, wi-fi itu masih langka ya? waktu ke mal sekeren Grand Indo ataupun Plaza Indonesia sekalipun, wi-fi nya memble. Pengecualian itu Starbucks, koneksi wi-finya samalah dengan di Amrik!
  2. Pilihan makanan – Pilih Jakarta! pilihan makanan di Jakarta itu banyaaaaaaaaaaaaaak sekali! amat beragam dan seakan tidak ada habisnya. Kalau di food court di mal-mal di Amerika itu hitungan kiosnya bisa dihitung dengan jari tangan, di Jakarta, rasanya saya malah kepingin makan semua saking banyaknya pilihan!!
  3. Cara Pembayaran – Pilih Amerika!! dengar dari teman-teman, tempat-tempat makan di Indo sudah terima kartu gesek, kenyataanya sebagian besar masih hanya terima uang tunai, atau hanya kartu dari bank tertentu saja. Lah??
  4. Budaya Antri – Pilih Amerika! Orang Indo masih parah ternyata dalam hal menyelak antrian. Dari mulai ibu-ibu di mal keren sampai anak-anak semuanya seperti tidak kenal kata antri. Hadweeeeh!! terpaksalah berkali-kali diriku berjutek ria dengan kalangan ogah antri ini.
  5. Cara berbersih – Pilih Jakarta! rasanya berbersih dengan air tetap lebih resik dibanding cuma tisu doang. (kalau boleh sih pilih Jepang ya…soalnya mereka punya lebih dari satu pilihan untuk siraman air berbersih!! – termasuk di pesawat terbang!)IMG_20150119_000931IMG_20150119_000945
  6. Air hangat – Pilih Amerika! disini air hangat ya selalu tersedia, di rumah, maupun di tempat umum. Waktu saya tinggal di apartemen, sempat ‘panik’ karena jatah air hangat koq susah sekali..harus tunggu panas dan keluarnya sedikit!!
  7. Air minum – Pilih Amerika! air putih selalu gratis, bottomless pula! maklum air keran ya? di Jakarta, harus selalu pesan air botolan, dan harus dibilang ‘dingin’.
  8. Pesan Makanan – Pilih Indo (Jakarta)!, disini hampir semua resto menawarkan jasa layan antar! dari mulai resto cepat saji sampai warung semua bisa di antar ke tempat!!
  9. Belanja baju – Pilih Amerika!! pertama karena ukuran saya menurut standard Amerika itu ‘S’ atau ‘M’, di Indo jadi XL!! kedua karena di Amerika, rata-rata toko baju ada pilihan untuk mencari ukuran yang kita mau di toko lain atau pesan online.
  10. Keberadaan Taksi – Pilih Jakarta! taksi di Jakarta itu mudah di dapat di mana-mana dan kondisi mobil bagus. Di banyak kota-kota di Amrik, taksi itu jarang, mahal ongkosnya dan mobilnya tidak selalu bagus!!!