Cerita Saya

Realita : Pasangan Pecandu Alkohol

Tulisan saya kali ini mungkin akan mengundang kontraversi dari pembaca blog saya. Setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk membuka diri tentang masalah yang saya alami dengan pasangan bule saya. Kenapa putuskan untuk blak-blakan di forum umum? Koq aib dibuka-buka sih? begitu mungkin pikiran teman-teman sekalian.

Saya buka aib karena saya mau pembaca belajar dari pengalaman saya.

Bukan rahasia lagi kalau budaya sebagian besar orang Amerika adalah mengkonsumsi alkohol. Ulang tahun ke 21 seseorang sering kali ditandai dengan pergi ke bar dan minum minuman beralkohol hingga mabok – karena di sini umur 21 adalah umur legal seseorang boleh mengkonsumsi minuman beralkohol.

Itu yang saya pikir di awal-awal waktu melihat kebiasaan pasangan mengkonsumsi alkohol.

Saya sendiri dibesarkan secara Islam, dimana mengkonsumsi miras adalah haram. Jadi saya boleh dibilang tidak pernah minum sebelum saya hijrah ke Amrik. Sampai sekarang  pun saya belum pernah mabok atau melihat dengan kepala sendiri orang lain mabok. Kalau toh saya minum, itu cuma sekali sebulan (belum tentu) dan lebih karena saya ingin tidur nyenyak (karena entah kenapa minuman beralkohol membuat saya ngantuk)

Setelah 10 tahun tinggal bersama, baru akhir-akhir ini saya kejeduk dan dengan berat hati mengakui kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol, bahwa pasangan saya menderita penyakit dan penyakit itu namanya penyakit mencandu alkohol.

Apa bedanya mereka yang hanya mengkonsumsi alkohol dalam batas-batas tertentu dengan mereka yang ‘menderita’ penyakit?

Bedanya adalah kebiasaan si pecandu bukan hanya memberikan pengaruh buruk ke si pecandu saja, tapi sudah jadi melebar ke orang-orang terdekat si pecandu.

Setiap malam pasangan pergi membeli minimal 6 kaleng bir, sering kali ditambah dengan satu botol bir ukuran besar. SETIAP MALAM.

Dulu itu, bodohnya saya, saya pikir kaleng-kaleng yang bergelimpangan di ruang TV cuma itulah yang dia konsumsi malam itu. Salah besar.

Yang aneh dengan pecandu, mereka ‘tahu’ mereka tidak seharusnya minum sebanyak yang mereka minum. Jadi mereka ‘pura-pura’ hanya meminum sekian banyak kaleng di depan ‘umum’ tapi di belakang mereka minum lebih banyak lagi.

Di ruang kerja pasangan, dijamin saya akan menemukan banyak lagi kaleng maupun botol bir kosong bergelimpangan.

Bukan satu dua kali dia menghabiskan botol liquor keras ukuran besar dalam semalam. (catatan sebutan liquor adalah minuman dengan kadar alkohol lebih tinggi dibanding dengan bir, contohnya wiski, martini)

Berbulan-bulan Bertahun-tahun saya masih dengan naivenya menganggap hal ini ‘cuma’ Kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.

Pikiran saya berubah sejak saya memperhatikan perilaku pasangan setelah minum sekian banyak alkohol.

Tablet saya di hantam ke lantai. Kabel komputer saya di gunting. Saya di kata-katai dengan pedasnya.

Begitu saja, tanpa perasaan menyesal keesokan harinya.

Masih tidak mengerti, saya diajak masuk ke grup Alnon di FB oleh kakak ipar saya dari pihak pasangan – yang juga menghadapi kecanduan alkohol pasangannya.

Disinilah awalnya saya menyadari kalau saya menghadapi seorang dengan penyakit kecanduan, bukan hanya seorang dengan kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Saya tidak lagi mampu untuk cuma menghela napas setiap kali melihat botol atau kaleng bir kosong di kamar kerja.

Saya harus mencari bantuan. Bukan cuma bantuan teman yang mendengar keluh kesah saya, tapi bantuan profesional.

Karena saya sadari sepenuhnya kalau saya tidak mengerti bagaimana menghadapi situasi ini dan jika saya mau survive, saya harus tolong diri saya sendiri terlebih dulu.

Saat ini saya berkonsultasi dengan seorang terapist untuk membantu saya konsentrasi untuk terperosok ke lingkaran ‘setan’ yang lebih dalam. (seperti halnya ‘penyakit’, penyakit kecanduan alkohol bisa menular ke orang lain / merusak orang lain)

Saya juga mau memberanikan diri untuk datang ke pertemuan Alnon – mirip AA (alcohol anonymous) – tapi ini adalah mereka-mereka yang bukan peminum tapi ‘terjerat’ di kekacauan yang dipicu oleh mereka yang menderita penyakit alkohol.

Doakan semoga mental saya dikuatkan untuk menghadapi penyakit ini.

Rindu Batik

Sebelum berimigrasi ke Amerika, saya suka sama batik, tapi cuma memakai batik di acara-acara tertentu saja : undangan perkawinan misalnya. Batik untuk sehari-hari dulu itu selain belum nge-tren, kesannya masih formal. Diantara tenun-tenun tradisional Indonesia, saya memang cenderung lebih dekat dengan batik (maklum ibu ada darah jawanya)Pindah ke Amrik, saya mulai misuh-misuh karena ingin menunjukan nasionalisme dan ‘pamer’ kecantikan budaya Indonesia. Memang dari Indonesia saya bawa 2 kain batik (yang sekarang sudah kekecilan deh), tapi ya itu, karena modelnya seperti kain kebaya kesannya masih formal dan tidak bisa dipakai sehari-hari.

Ingat sekali betapa girangnya saya waktu nemu satu rok batik di butik downtown, harganya kalau tidak salah $40, beli dan disayang-sayang, karena jarang sekali nemu batik saat itu. Lalu pas jalan-jalan ke Iowa di tahun 2008, ketemu rok batik tambalan (patched) di toko barang bekas, beli. Masih di Amrik, nemu motif batik atasan di ROSS, beli.

Pokoknya tiap kali ada ketemu batik, saya coba usahakan beli.

Di Indonesia sendiri batik tambah oke pamornya, semakin banyak orang-orang memakai batik sehari-hari, dan modelnya makin beragam, tambahlah gigit jari saya karena kepengen banget bergaya dengan batik, tapi tidak tersalurkan. (tahun 2005 gitu, belum ada Facebook kan??!!)

Beberapa tahun lalu, saya bertekad kalau sempat mudik lagi, mau beli batik sebanyak mungkin!

Memang waktu mudik Januari 2005 lalu saya dioleh-olehi teman-teman di Indo berbagai batik : taplak, rok, selendang, atasan, pernak pernik lainnya, namanya rindu, tetap saja saya ngiler setiap kali melihat batik.

Nah, berkat Facebook, kerinduan saya terhadap batik lumayan bisa terobati. Lewat FB, saya ketemu rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Amerika yang berjualan barang-barang Indonesia (termasuk si batik!). Dari mulai kerabat sendiri lewat Pretty Batik Boutique, kenalan di Florida : Kedaton, sampai teman ketemu waktu pindah ke KY, Balinesian Ethnic Purses.

Jadilah sekarang koleksi batik saya sudah bertambah…ih senangnya bisa pakai batik di Amrik!

Yuk beli batik yukkkkkkkkkkkk

2015-09-041

Tantangan, Rintangan, Kendala, Masalah

! Apa2 susah! ini susah! Itu susah! kamu malah gaK pulang2! punya empati gak?’

Wuih sakit hati rasanya saat terngiang-ngiang cercaan diatas. Bukan rahasia lagi kalau asumsi sebagian besar teman-teman di tanah air, hidup kami – imigran Indonesia – di Amerika itu TIDAK PERNAH SUSAH.

Untuk sebagian besar orang, sulit untuk ‘percaya’ kalau kita-kita yang tinggal di Amerika juga mengalami kesulitan, menghadapi tantangan, masalah, kendala di hidup kita sehari-hari

‘Kamu kan tinggal di Amerika?!!’ – komentar seperti ini ‘lumrah’ di dengar, seakan-akan imigran Indonesia di Amerika pastinya kebal dengan masalah, rintangan, kendala dsb.

Kenyataannya seperti teman-teman yang tinggal di manapun di belahan dunia, kita-kita ya menghadapi masalah juga, dari masalah sepele :  bagaimana caranya berwara wiri sehari-hari sementara tidak ada mobil dan tidak ada transportasi umum, hingga masalah mencari perlindungan hukum.

Dan tidak sedikit, masalah yang dialami imigran lebih ‘berat’ dibanding mereka-mereka yang tinggal di negara asal.

Gimana gitu lebih beratnya?

Karena banyak dari kita-kita yang disini itu benar-benar soragan wae, tanpa sanak saudara dan tidak punya ‘bekal’ cukup (pendidikan, pengalaman kerja, ketrampilan, kemampuan berbahasa Inggris dan lain sebaginya).

Waktu kita bermigrasi ke Amerika, sebagian besar diawali dengan ‘mimpi indah’ :suami bule, asik sekarang tinggal di luar negeri.

Sebagian besar dari kita beruntung karena mimpi indah menjadi kenyataan yang indah juga, suami tajir, selalu dibawa jalan-jalan, dibelikan barang-barang mewah tanpa harus kerja, mau beli apa juga tinggal tunjuk, mudik setiap tahun tidak perlu ditanya, sebagian lagi mimpi indah menjadi mimpi kurang indah…..

Pengalaman saya sendiri sih relatif tidak heboh ya, meskipun banyak kurang indahnya juga….

Gimana gitu kurang indahnya?

Coba saya ceritakan sedikit ya…

Suami saya, kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dia punya  2 adik, tapi 1 sudah meninggal dunia juga.

So what?

Tadinya saya juga pikir begitu, baru ‘ngeh’ beratnya waktu sedang hamil, melahirkan dan bulan-bulan pertama setelah si kecil hari.

Kalau teman-teman lain banyak yang bisa minta bantuan ayah, ibu, mertua, kakak, adik untuk jagain waktu lahiran, waktu minggu-minggu pertama, saya ya kudu lakoni sendiri.

Pernah saya menggigil karena keletihan, tapi tetap harus terbangun karena si bayi ini rewel sementara suami belum pulang.

Contoh lainnya.

Kemarin di tempat kerja saya ditelpon sekolah anak, si kecil panas. Panik? Jelas. Yang jelas cuma saya dan suami yang bisa menjemput anak kami. Saya masih beruntung karena pekerjaan suami itu lebih fleksibel dan bisa dikerjakan dari rumah dan saya pekerja paruh waktu, jadwal kerja saya cenderung pendek, jadi salah satu dari kami bisa ngacir untuk menjemput anak kami. Tapi ini bukannya tanpa resiko, beberapa tempat kerja sangat ketat dalam urusan ketidakhadiran, kalau pekerja di anggap tidak produktif karena banyak ‘berhalangan’, perusahaan bisa dengan mudah mendepak pekerja yang bersangkutan.

Sekali lagi, beberapa teman-teman cukup beruntung karena bisa menjadi ibu rumah tangga penuh dan tidak harus bekerja, atau punya pasangan yang punya bisnis sendiri, jadi tidak terlalu riweh dalam urusan anak sakit di sekolah,  tapi tidak untuk keluarga kami.

Contoh lagi.

Di tahun 2009, suami saya kehilangan pekerjaan. Jantung saya serasa mau ‘berhenti’ waktu dia masuk rumah dengan pandangan suram dan memberitahukan saya berita tentang dia kehilangan pekerjaan.

Panik. Jelas. Bingung? Pasti.

Di pikiran saya waktu itu :

  1. Angsuran rumah bagaimana kami bisa bayar? bagaimana kalau rumah tidak terbayar? mau tinggal dimana kami?
  2. Anak kami masih umur 3 tahun, masih butuh ke dokter secara rutin, asuransi dari mana?

Hari itu juga, saya langsung menghadap ke HR tempat kerja dan Alhamdulillah sekali ada lowongan penuh waktu yang langsung Saya bisa lamar.

Hari berikutnya Saya langsung ke county office untuk mengajukan lamaran asuransi pemerintah untuk keluarga. Ditolak, karena dianggap kami masih memiliki 2 aset utama: mobil dan rumah, tapi untungnya asuransi untuk anak bisa kita dapatkan, karena untk asuransi anak, hanya dilihat dari penghasilan dan bukan dari aset, dan saat itu keluarga kami dianggap kategori kurang berada.

Selama 1 tahun lebih boleh dibilang Saya jadi tulang punggung keluarga, masih beruntung suami mendapat asuransi pekerja (unemployment insurance) yang jumlahnya pas dengan angsuran rumah kita, sementara hidup sehari-hari kami harus mengandalkan penghasilan mingguan dari pekerjaan saya (pramuniaga di department store)

Tidak bohong kalau saya harus jual perhiasan emas yang saya bawa dari Indonesia dan menjual barang-barang ini itu untuk menyambung hidup. Consignment store, craiglist jadi ‘teman akrab’ saya. Setiap ada tambahan waktu kerja, saya coba ambil supaya bayaran saya bisa berlebih.

Waktu itu saya tidak langsung memberi tahu orang tua di tanah air, baru setelah beberapa bulan, saya beritahu mereka.

Saya ingat sekali di hari-hari itu (dan hingga saat ini) saya selalu mengkhayal andai orang tua saya dekat, pasti mereka akan bantu kami……

(tidak sedikit keluarga Amerika lainnya mengalami hal yang mirip (kadang lebih parah) dengan yang saya alami, bisa dibaca di http://finance.yahoo.com/news/achieved-american-dream-awful-040000718.html)

Di tahun 2010 dan 2012, Saya dan suami sempat tinggal berlainan tempat karena kerja.

Pertama kali kita berpisah, kami hanya memiliki satu mobil, yang pastinya harus dibawa suami, jadilah saya mengandalkan sepeda dan trailer untuk transportasi saya dan si kecil. Tidak masalah, KECUALI waktu hujan turun dengan derasnya saat saya menjemput anak dari sekolah.

Basah kuyup.  Anak kami waktu itu baru berumur 3 tahun, saya ingat bagaimana saya memakaikan jaket hujan, kain terpal dan selimut untuk melindungi dia dari hujan. Jarak dari sekolah ke rumah yang cuma 1 kiloan, terasa jauh dan berat sekali karena harus ditempuh ditengah-tengah hujan yang amat derasnya. Terus terang waktu itu Saya cuma bisa menangis karena kasihan melihat anak kebasahan dan kedinginan dan saya merasa bersalah karena ‘membiarkan’dia kehujanan.

Kedua kali kita berpisah, kondisi kami sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Suami mampu menyewa mobil baru untuk dia di tempat baru, sementara saya boleh memakai mobil lamanya.

Dilalah.

Setelah selesai mentor di sekolah anak, saya rencana menghabiskan waktu di pertokoan dekat sekolahnya sebelum waktunya menjemput si kecil lagi.

Di jalan, tiba-tiba mobil ngadat, mesin berhenti sama sekali, untung sudah dekat dengan tempat tujuan! Dengan nekat dan berharap dari sisa energi mesin mobil,  saya berhasil mengarahkan mobil ke arah tempat parkir. Belum sempat masuk ke parkiran, mobil berhenti total.

Nekat saya keluar dari mobil untuk coba mendorong mobil ke tempat yang lebih sepi, yah tidak kuat lah yaw! untung ada pengemudi lain yang melihat saya kesusahan dan dia tanpa sungkan-sungkan membantu saya mendorong mobil. Lalu sekarang bagaimana? saya harus menjemput anak saya? coba telpon salah satu kenalan, dia ternyata tidak ada di kota, ya sudah, jadilah saya jalan kaki ke sekolah si anak. (catatan : di kota tempat saya tinggal dulu itu, sarana taksi terbatas, waktu tunggu bisa 1 jam lebih)

Menghayal lagi…’ah…andai ayah ibu ada disini’.

Tapi untunglah kami dulu itu tinggal di kota kecil, jarak dari satu tempat ke rumah kami relatif dekat, cuma 1-3 mil, dan di lokasi pemukiman (bukan bisnis atau jalan raya);jadi berjalan kaki masih nyaman. Tidak terbayang kalau tempat tinggal kami agak di luar kota misalnya, yang tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Waktu musim dingin dan saat sekolah libur saya sempat kelabakan mencari tempat titipan anak. Karena saya kerja di ritel, saya diwajibkan kerja saat Black Friday, dengan sangat terpaksa saya merepotkan beberapa kenalan untuk bergantian menjaga anak saya. Saya harus berada di tempat kerja pagi-pagi sekali, untung tetangga ada yang berbaik hati menjaga si anak sementara saya bisa kerja dan istirahat secukupnya.

Hal-hal yang saya ceritakan disini termasuk sepele ya…saya termasuk cukup beruntunglah. Syukur kepada Sang Pengatur Alam.

Saya sendiri tahu banyak cerita-cerita ‘yang lebih pedih’ dari teman-teman imigran Indonesia disini : suami pengekang, suami pemabuk, suami menyeleweng, suami ogah kerja, tidak dinafkahi, di bohongi pacar, bercerai tanpa penghasilan, rebutan anak. masalah kesehatan dan sebagainya…..

Tapi kata ‘Mbak Kelly Clarkson :

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fighter

Read more: Kelly Clarkson – What Doesn’t Kill You Lyrics | MetroLyrics

Atau kata Mas ‘Passenger’

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Catatan : lirik lagi diatas ceritanya lebih buat muda mudi pacaran sih ya…cuma ada beberapa bait yang pas sekali di hati …(terutama bait-bait yang saya tebalkan)

Turis Lokal : Berkayak Ria Menyusuri Sungai Harrods

Yay, hari Sabtu lagi! Setelah berhasil mengalihkan jadwal kerja ke teman kerja lain, saya jadi cuma kerja hingempaga pukul 12:30 siang hari Sabtu lalu.

Setelah minggu lalu kami telat datang ke tempat kayak, kali ini kami lebih siap!

Jam 3 sore, kami meluncur ke river road, di salah satu tempat makan di sepanjang jalan river road ada satu tempat yang juga menyewakan kayak dan canoe.

Untuk ber-canoe (cukup untuk 3 orang), ongkosnya $50, sementara untuk berkayak satu penumpang itu $30, untuk kayak ganda $50.

Kami pilih satu kayak tunggal dan satu kayak ganda, total ongkos yang kami harus bayar $80 selama 4 jam.

Saya baru sekali ini berkayak ria, pertama-tama bingung bagaimana mengarahkan si perahu, tapi lama-lama bisa juga. Di perjalanan kita melihat groundhog, kura-kura, burung heron dan rusa liar.

Kami menghabiskan waktu kira-kira 1.5 jam an saja, selain tangan pegal mendayung, si kecil mulai ngambek karena lapar!

2015-08-011

2015-08-022

Kalau mau jujur saya tidak merekomendasi tempat ini, pertama karena mereka tidak terima kartu kredit atau kartu debit, semua harus dibayar tunai. Kedua koq tidak ada formulir yang harus ditanda tangani gitu tentang keselamatan (waiver istilahnya). Ketiga haduh……jaket pelampungnya ada yang bau apek…….Keempat kalau ada masalah di tengah sungai – misalnya dayung hanyut, atau kayak terbalik, mereka tidak menyediakan sarana penolong apapun. Kelima waktu kita balik, lah tidak ada petugas yang menolong kami menepi ke darat.

Untuk harga yang kita bayar, yang kita sarana terima koq ya minim sekali.

Ya gak apa-apa, direlakan saja…yang penting sudah pernah mencoba…;-)

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Lego Americana Road Show

Anak saya itu hobi sekali main LEGO. Setiap kali ada acara berbau LEGO kita usahakan mampir , dari mulai LEGO Kids Festival, Pameran LEGO Sculpture in kebun binatang, dan baru-baru ini acara LEGO Americana Road Show.

Kalau LEGO Kids Festival itu acara untuk anak-anak dimana mereka bisa bermain LEGO sepuasnya, LEGO Sculpture pameran patung-patung LEGO bernuansa alam, LEGO Americana Road Show adalah pameran gedung-gedung bersejarah di Amerika terbuat dari LEGO tentunya!

Saya tahunya acara ini ya dari majalah LEGO yang memang kita langganan. Seperti juga LEGO Sculpture, acara LEGO Americana ini berpindah dari satu negara bagian ke negara bagian lain.

Nah, dari tanggal 3 Juli kemarin, hingga tanggal 19 Juli, kebetulan acara LEGO Americana ini diselenggarakan di kota Cincinnati (atau Cincy biasa orang Amrik sebutnya), yang lokasinya cuma 2 jam-an dari tempat kita tingga/

Karena baru tahu waktu saya ultah minggu lalu dan jadwal kerja saya dan suami tidak pas di hari biasa, kita baru bisa berangkat ya hari Minggu ini, 19 Juli 2015 – yang juga ultah suami saya.

LEGO Americana Road Show di Cincy, di adakan di pusat perbelanjaan Kenwood Towne Centre. Total ada 9 monumen bersejarah yang akan dipamerkan :

  1. Supreme Court
  2. White House
  3. Liberty Bell
  4. Lincoln Memorial
  5. Washington Monument
  6. Statue of Liberty
  7. Independence Hall
  8. Old North Church
  9. US Capitol Building

Kita sampai di lokasi jam 12, pengunjung mal sudah ramainya minta ampun! Berbekal kamera, kami sekeluarga jadilah ‘bergerilya’ dari satu monumen ke monumen lain. Selain monumen-monumen bersejarah, juga ada beberapa struktur bebas yang kadang isinya kocak-kocak. Contohnya ada struktur seperti monumen Mount Rushmore, tapi digabungkan dengan Cloud Koo Koo land!

Memang kalau melihat video-video di situs LEGO, artis-artis pembuat LEGO suka nyeleneh dalam membuat bagan.

Yuk, belajar sejarah Amerika dari LEGO!

]

Kado Ulang Tahun : Bermain Rintangan di Alam Terbuka

Tanggal 11 Juli kemarin, Saya ulang tahun. Tidak usah kasih tahu ya umur berapa, he…he..he..anggap saja forever 21 gitu. Ultah kali ini saya tuh memang sudah kepingin sekali main-main di alam. Tahun lalu kita pergi kemping, tahun ini berhubung jatah liburan habis, jadi kemping terpaksa ditiadakan. Tapi saya tetap ingin ‘jalan-jalan’ ke tempat yang baru.

Beberapa minggu lalu waktu lagi buka-buka Facebook, tidak sengaja melihat iklan GoApe yang akan buka cabang atraksi baru di lokasi tempat kami tinggal. Saya lihat-lihat, koq seru juga ya? Tanya ke suami, boleh tidak ikutan kegiatan seperti ini? dia bilang oke-oke saja. Jadilah seminggu sebelum ultah saya, saya pesan spot untuk kita bertiga.

o iya, GoApe itu perusahaan penyelenggara treetop adventure di berbagai lokasi di negara-negara bagian di Amrik. Mereka baru buka site di hutan nasional Jefferson yang lokasinya cuma 30 menitan dari tempat kita tinggal. Melihat postingan teman saya di Facebook, di Indonesia sendiri, kalau tidak salah sudah ada atraksi seperti ini, jadi teman-teman Indonesia mungkin sudah familiar dengan atraksi ini.

Saya pribadi dengar GoApe dan treetop adventure ya baru kali ini. Ini pengalaman baru untuk saya dan keluarga. Tidak satupun dari kita yang tahu apa akan kita lakoni…ha….ha….ha.

Kita dijadwalkan mulai itu jam 12 siang. Sampai dilokasi, setiap peserta akan diminta untuk mengisi berkas-berkas yang diperlukan : nama, alamat, tanggal lahir dan menandatangai ‘waiver‘. Setelah dokumentasi selesai, kita lalu ke lokasi dengan staf GoApe.

Selama 30 menit kita di berikan instruksi tentang keselamatan, resiko, dan prosedur lainnya seperti meminta pertolongan, cara mendarat setelah berzip line, istilah-istilah yang digunakan selama di permainan  dll.

Berhubung kami membawa anak kami, kami wanti-wanti memberitahukan si kecil masalah keselamatan ini. Maklum, wong kami akan bermain-main di ketinggian 40 ft,jadi masalah keselamatan dan bagaimana cara yang benar untuk bermain haruslah kita perhatikan sebaik-baiknya.

Di briefing ini,peserta di berikan sabuk, lengkap dengan segala kaitan yang akan di perlukan selama bermain di pepohonan. Intinya ada 2 sabuk dengan pengait, merah dan biru, 1 pulley (pengait), dan satu pengait kunci warna hijau. Sabuk biru selalu akan dikaitan dengan pulley setiap kali peserta akan menyeberang rintangan dengan menggunakan kabel, sabuk merah, boleh dibilang sabuk pengaman tambahan, pengunci hijau digunakan setiap kali ada kaitan hijau di rintangan.

2015-07-124

Setelah instruksi pemakaian sabuk dan penggunaan masing-masing sabuk, dilanjutkan dengan kami menjalani rintangan ringan sebagai pemanasan sebelum masuk ke lokasi permainan. Rintangan ringan yang di lakoni di pemanasan ini adalah menggunakan tangga tali, berjalan di kabel dan meluncur di zipline pendek.

2015-07-125

Setelah selesai pemanasan, mulailah kamu melakoni atraksi yang sesungguhnya. Ada 5 lokasi (sites) dengan 5 ziplines, dengan total penyebrangan rintangan : 40, mulai dari berayun tarzan, balok kayu, jaring-jaring, dan tangga tali.

Di situs pertama, saya belum-belum sudah stuck…ha…ha..ha..tidak kuat menarik beban diri sendiri ke atas setelah nyangkut di jaring-jaring. Jadilah dipanggil bantuan untuk membantu saya ke penyeberangan berikutnya. Tapi si kecil dan suami bisa melewati rintangan dengan selamat.

Yang terberat buat saya adalah memanjat jaring-jaring dan menaiki tangga goyang (tangga yang terbuat dari bambu/kayu dan tali). Ada satu lokasi tangga yang saya hampir menyerah, karena ternyata naik tangga jenis itu bikin capek!!

Rintangan-rintangan lainnya boleh dibilang seru-seru saja.

Yang paling saya nikmati itu ber-ziplining!! Memang awalnya keder, karena harus melompat ke udara bebas, tapi setelah zipline pertama, saya malah kegirangan kalau sudah sampai di zipline. Sayang tidak ada foto saya berzipline, karena saya selalu giliran pertama meluncur, sementara kamera dipegang saya.

Si kecil boleh dibilang tidak mengalami kesulitan apapun. Satu-satunya kendala adalah dia agak dibawah ketinggian minimum, jadi beberapa kali saya atau suami harus ikutan membantu dia memasangkan kabel pengaman.

Ini foto-foto rintangan-rintangan yang kita lakoni selama di lapangan.

Kita menghabiskan waktu 3 jam menyelesaikan rintangan-rintangan yang ada. Letih sudah jelas, tapi saya dan si kecil puas berpetualang di pepohonan! Di akhir acara, kita di bolehkan berpose dengan tulisan-tulisan yang sudah GoApe siapkan. Saya pilih Live Life Adventurously!

DSCN1752Tips untuk teman-teman yang mau berpetualang di atraksi seperti ini :

  1. Pakai sepatu tertutup, saya pakai sepatu bertali tertutup, jadi tidak selalu harus mengecek tali sepatu
  2. Kalau lokasi di hutan, jangan lupa obat nyamuk semprot
  3. Pakai baju pas dibadan, menghindari nyangkut di rintangan
  4. Saya bawa kamera saku yang saya kaitkan di tali baju. Yang jelas kalau mau bawa kamera, harus bisa menyimpan tanpa menghalangi kabel-kabel pengaman
  5. Kalau rambutnya panjang, mending di kuncir biar tidak riweh
  6. Tidak usah buru-buru dalam menyelesaikan rintangan, kecuali memang acara balapan
  7. Kalau takut, lelah, tidak usah malu memanggil bantuan.

Perempuan Itu Takut Jelek?

Di tempat kerja ada anak baru, masih muda, menurut saya sih ya dia lumayan cantik, rambutnya panjang tergerai, bergincu, mata berias warna.

Satu hari dia nunjukin alat pelurus rambut di telponnya, lagi murah, katanya dan dia pengen sekali beli.

Saya cuma nyengir saja, lah, saya itu paling tidak repot dalam masalah rambut. Buat saya, cukup punya rambut dan tidak berketombe, saya sudah senang

Ada sih kepikiran mau di bikin ikal, mau diwarnai, tapi waktu dijalani, ternyata butuh waktu lama…yah batallah keinginan-keinginan tersebut.

Hari lainnya, dia panik bercuap-cuap melihat hujan turun dengan derasnya. Takut rambutnya jadi berantakan. Saya cuma geleng-geleng saja melihat kelakuannya.

Lain waktu lagi, dia sibuk memberi tahu rekan-rekan kerja tentang lipgloss barunya. Memang kelihatan bagus dibibir dia, saking bagusnya dia itu sampai-sampai sibuk cari-cari sedotan karena dia takut kalau minum langsung dari gelas, akan buat pewarna bibirnya pudar.

Mengamati perilaku rekan kerja ini, saya jadi bertanya-tanya…

Apakah semua perempuan itu takut (terlihat) jelek. Benar atau tidak sih?

Atau itu masalah beda generasi? atau masalah bagaimana kita dibesarkan?

Kalau menilik dari pengalaman saya pribadi, perasaan saya, saya tidak pernah seheboh dia waktu saya seumuran dia deh.

Terus terang saya tidak merasa cantik, biasa-biasa saja. Yang jelas memang kudu pakai perias wajah supaya muka terlihat agak enak dipandang, tapi saya tidak pernah ‘kerepotan’ harus terlihat cantik ataupun panik kalau hari ini saya kurang kece di muka publik.

Saya waktu kecil itu cenderung tomboy. Ingat banget difoto rambutku wis kupluk, pakai celana pendek dan sering dikira anak laki-laki. Jadilah ibuku pastikan saya selalu memakai anting-anting.

Kalau mau  motong rambut juga dibawanya ke tukang cukur bukan salon.

Hingga SMP, saya ogah pakai perias wajah, rambut awut-awutan, cuek bebek. Sampai-sampai sepupu-sepupu beramai-ramai membelikan saya gincu dengan harapan saya mulai tertarik merias wajah. Ibu juga mulai kebat kebit dan mengharuskan saya membawa sikat rambut di tas sekolah supaya bisa merapikan rambut saya.

SMA, Kuliah, ya mulai kenal riasan wajah, tapi tidak fasih memakainya, alias ya ala kadarnya dan bukan sesuatu yang ‘kudu’ dilakoni.

Pertama kali saya kerja itu di kontraktor pekerjaan sipil , ya jadilah tambah tidak ada keperluan untuk bermanis-manis ria. Ganti pekerjaan, paling-paling riasan wajah saya ya standar saja, gincu dan bedak (dan kadang maskara kali ya?)

Nah pas pindah ke Amrik, dan kerja di department store, saya mulai kenal riasan wajah lebih komplit karena dapat promosi ini itu. Tapi dalam hal pemakaian saya tetap tidak tergolong heboh.

Sekarang ini saya memang lebih rajin memakai perias wajah dan lebih komplit. Dari mulai serum, pelembab wajah, alas bedak, bedak, pemerah pipi, pelentik bulu mata, pemulas mata. Tapi saya masih kurang ‘rajin’ dalam hal melapisi ulang, cukup sekali pakai di pagi hari, setelah itu ya nasib. He…he….he..

Jangan salah, peralatan rias saya lumayan komplit, tapi tetap saya kurang rajin mendayagunakannya.

Entah apa tipe kulit saya, atau tipe perias yang saya gunakan, tapi koq kayaknya mau mahal atau mau murah, itu bedak, pemulas mata, pemerah pipi kurang mau nempel lama-lama di muka saya…….yang ada ya saya malas gitu repot-repot tiap pagi….harus dipaksain istilahnya

Saya jadi penasaran sendiri, apa saya yang memang ‘ajaib’ , kurang suka berdandan, tidak terlalu peduli masalah rambut kudu terlihat sempurna, kuku tidak harus berwarna, dan seterusnya…

Kemarin itu saya sempat keranjingan mengikalkan rambut ….tapi cuma hangat-hangat tahi ayam…cuma 2 mingguan saya rajin, setelah itu yah..mending tidur lah….;-)

Tapi apa kita, perempuan itu secara insting, pengen terlihat selalu cantik ya????

 

Untungnya Jadi Orang Etnik di Amrik

Waktu pertama kali pindah ke Amerika, saya tinggal di kota kecil, notabene wajah saya ini amat sangat tidak umum, dan sering mengundang pertanyaan. Ada yang cablak menebak saya dari Filipin, ada yang sopan bertanya dari mana asal saya.

Jarang memang yang bisa menebak dengan tepat, dan biasanya kalau mereka bisa menebak saya dari Indonesia itu karena mereka mengenali nama saya, mereka sudah pernah berkunjung ke Indo atau paling tidak familiar dengan perbedaan negara-negara di Asia Tenggara.

Kalau pas bertemu dengan bule-bule yang familiar dengan Indonesia, saya senang rasanya! Dan biasanya pertanyaan selanjutnya dari si bule adalah ‘Are you from Jakarta?’ – tidak pasti juga kenapa mereka tebak Jakarta, apakah karena cuma Jakarta yang mereka tahu sebagai ibukota Indonesia atau gaya saya yang (ternyata) masih Jakarta banget. 😉

Selain ‘bahagia’ karena bertemu bule-bule yang berwawasan luas, sering kali saya dan si bule jadi ‘berteman dekat’. Bukan sekali ada bule yang sibuk memperlihatkan foto-foto sewaktu mereka di Indonesia setelah tahu saya dari Indo, atau sibuk membahas resep masakan. Ha..ha…ha…lucu ya??!! Membahas resep masakan koq ya sama wong londo…;-)

Nah, di tempat kerja saya, ada salah satu klien yang baru-baru ini berkunjung ke Indonesia, ke Bali tepatnya. Beliau termasuk orang berada, tapi tidak sombong, sangat ramah dan baiiiiiiiiiik sekali.

Setiap kali beliau datang, kita selalu rumpi-rump tentang Indonesia. Nah, terakhir beliau berkunjung itu, beliau bilang kalau dia mau bagi foto-foto dia waktu di Bali (keluarga mereka menginap di Amanusa dan Amandari yang kalau saya tidak salah ingat, tempatnya mendiang Putri Diana menginap juga).

Minggu lalu beliau datang lagi dan memberikan flash disk ke saya. Beliau bilang ‘ini untuk kamu, seperti yang sudah saya janjikan’.

Ternyata isinya foto-foto waktu beliau dan keluarga di Bali!

Seru ya!??!

Ini salah satu hal yang saya senangi sebagai orang etnik di Amerika, tidak jarang saya mendapat kejutan unik seperti ini.!

Yuk mari lihat foto-foto Amanusa dan Amandari dari klien saya. Sapa tahu satu hari bisa mampir juga!

Selingan : Memotret Jahil

Kemarin itu waktu saya lagi di Tampa, Florida, di sekitar hotel banyak melihat belalang gendut-gendut!! (besar-besar gitu maksudnya).

Setelah pertama kali gagal motret si belalang ( kejauhan), melihat foto peserta lain koq kelihatan lebih keren, saya berketetapan untuk mencari si belalang untuk di potret lagi.

Jadilah hari terakhir saya di hotel, iseng-iseng saya nyari si belalang untuk di potret, dan dapat lah potret-potret ini.

Gimana? Keren juga ya?

DSCN1502 DSCN1500 DSCN1503 RSCN1514

Aktifitas Untuk Anak Di Musim Panas (Summer Camp)

Terus terang setiap musim panas saya kebingungan, bingung cari kegiatan untuk anak semasa liburan sekolah, maklum saya dan suami dua-duanya kerja. Meskipun saya kerja paruh waktu, sehari sekitar 6 jam, si anak yang jelas belum (tidak) bisa ditinggal bengong  sendiri di rumah, terutama waktu dia masih relatif kecil.

Tahun-tahun pertama si kecil masuk usia sekolah, tidak bohong kalau boleh dibilang kita ‘bokek’ selama musim panas. Summer camp itu yang jelas tidak murah! Lumayan banyak memang pilihan, tapi yang sesuai kantong, waduh, boleh dibilang sedikit.

Kami pernah coba summer camp di lokasi sekolahan, summer camp di lokasi YMCA, summer camp di tempat anak berlatih bela diri.

Tahun pertama si kecil di summer camp (dia kelas 1 SD, naik kelas 2, umur 6 tahun), ybs masing menikmati, selain karena lokasinya di sekolah dia sendiri,pengasuh-pengasuhnya juga ramah-ramah dan berpendidikan dan  juga karena cukup banyak kegiatan di luar, seperti berenang di fasilitas YMCA, jalan-jalan ke taman air pancuran, jalan-jalan ke kebun binatang, jalan-jalan ke kolam berenang di luar kota dll.

Tahun kedua, dia mulai bosan, memang lokasinya berbeda dengan lokasi tahun pertama, jadi dia kurang familiar dengan rekan-rekan sebayanya.

Saya sendiri juga kurang puas dengan mutu pengajarnya, terkesan bloon, kurang perhatian dan cuma sibuk ber-selfie waktu saya lihat foto-foto yang di unggah di facebook.

Tahun ini boleh agak beda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Anak sudah lumayan cukup besar dan mandiri, dan tempat tinggal kami sangat dekat dengan tempat kerja saya, kita putuskan anak tidak partisipasi dalam summer camp setiap minggunya dan juga kita pilih summer camp dari institusi yang berbeda-beda.

Salah satu summer camp yang kita pilih tahun ini adalah summer camp yang diselenggarakan oleh boy scout si anak. Boleh dibilang ini summer camp yang paling ‘bermutu’ dan juga sepadan dengan harganya.

Anak-anak bermain di luar seharian, kegiatannya juga bermacam-macam, ada belajar memanah, belajar menembak dengan senjata berpeluru pelor (BB gun), belajar menurunkan bendera, dan lain-lainnya yang boleh dibilang sangat boyish ya namanya juga dari boyscout ya? 😉

Tidak ada yang namanya main komputer, atau terkukung di ruangan selama berjam-jam seperti yang saya lihat di camp yang pernah dia lakoni sebelumnya.

Setiap saya jemput si anak selalu ada yang dibicarakan dengan semangatnya. Senang melihat dia aktif dan berkumpul dengan sesama anak-anak laki sebayanya.

Sekedar berbagi, ini beberapa hal yang saya pertimbangkan sebelum memilih summer camp:

  1. Lokasi – saya selalu pilih lokasi yang dekat dengan rumah atau tempat kerja, pertimbangannya kalau ada masalah, saya atau suami akan mudah datang ke lokasi.
  2. Harga dibanding dengan kegiatan : kalau anggaran tidak terbatas, harga tidak jadi masalah ya. Tapi buat kami pribadi, kami cuma mampu untuk membayar camp sekitar $100-$200, untuk $200 yang jelas tidak mungkin kita lakoni setiap minggu
  3. Durasi camp ,kami harus pilih camp yang sesuai dengan jadwal kerja. Ada beberapa camp yang kami sangat tertarik, tapi sayangnya waktu camp (11 pagi hingga 4 sore), sulit untuk saya ataupun suami untuk mengantar & menjemput si kecil.
  4. Jadwal kegiatan sehari-hari : saya sungguh tidak puas dengan salah satu institusi penyelenggara camp, masa’ di jadwal kegiatan tercantum kunjungan ke lokasi X yang intinya cuma ruangan terbuka, atau cuma tercantum ‘nonton film’ (bukan di bioskop). Hal lain yang saya pelajari adalah meskipun penyelenggara camp sama dan harga camp sama, tapi di lokasi yang berbeda, jadwal jalan-jalan (field trip) akan sangat berbeda, karena si kepala camp di lokasi lah yang menentukan tujuan-tujuan field trip untuk lokasi mereka. Tahun kedua si kecil ikutan camp di lokasi sekolah, saya sempat bandingkan jadwal kegiatan di lokasi dia dan di lokasi lain. Waduh beda banget! untungnya lokasi yang kita pilih waktu itu menawarkan field trip yang lebih seru dibanding lokasi lainnya.
  5. Pengasuh camp : Paling males kalau ketemu pengasuh camp yang terlihat tidak ramah, tidak peduli dengan anak-anak. Pengalaman pribadi ketemu dengan pengasuh seperti ini, saya tidak sungkan sungkan mengutarakan keberatan/kejengkelan saya di survei yang mereka kirim di email.

Intinya ya kita sebagai orang tua harus pandai-pandai memilih camp, karena beberapa camp ada yang super komersil tapi kurang bermutu, ada camp yang terjangkau namun menawarkan aktifitas yang cukup beragam.

Kalau boleh milih sih ya..mending saya jadi ibu RT saja dan menghabiskan waktu dengan si kecil selama musim panas, apa boleh buat, saat ini belum memungkin kan.

Buat ibu-ibu yang tidak perlu repot memilih dan bisa menemani anak-anak selama musim liburan , bersyukurlah, enteng di kantong yang jelas.