Cerita Saya

Es dimana-mana

DSCN2279

Baru musim dingin tahun ini Saya merasakan sekali dampak salju dan es di kehidupan sehari-hari. Sekolah anak sudah total 10 hari terpaksa diliburkan karena badai salju.

Sewaktu Kami tinggal di negara bagian Montana,yang namanya salju itu sudah biasa, dan bisa berhari-hari kita kena badai salju. Salju setinggi lutut boleh dibilang makanan sehari-hari saat musim dingin. Secara geografis Montana memang lebih tinggi dan lebih di utara lokasinya. Tapi sekolah tidak pernah diliburkan, malahan anak-anak tetap di haruskan bermain di halaman yang bersalju.

Nah di negara bagian Kentucky ini masalahnya bukan di jumlah salju yang turun yang membuat hati ketar ketir, tapi bahaya licin karena es yang membuat kondisi disini lebih riskan.

Jadi meskipun kelihatannya badai salju tidak seberapa besar, tapi karena kelembaban tinggi, salju basah tersebut segera berubah menjadi es dalam sekejap saja.

Contohnya hari ini, hari Rabu tanggal 2 Februari 2014. Lagi-lagi sekolah diliburkan. Tadinya Saya bingung juga, kenapa gitu libur, lihat dari jendela kondisi di luar tampak biasa-biasa saja.

Suami suruh Saya keluar supaya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lingkungan yang membeku menjadi es.

Jadilah malam ini Saya kelayapan keluar apartemen…astaga! benar juga kata Suami, pohon-pohon gundul sekarang berubaha  menjadi pohon-pohon es!

Dan sewaktu Saya berjalan diatas salju, terdengar suara ‘kriuk-kriuk’, bukan karena sambil makan kerupuk, tapi karena Saya menginjak es!!

Image

Image

Contohlah Amerika dalam hal : sekolah kapan saja!

Kalau mendengar kata ‘sekolah’ (kuliah) maksudnya, yang ada di pikiran Saya itu ya setelah lulus SMA. Tidak ada kata ‘tunda’, tidak ada kata ‘nanti’. Memang seperti itulah yang orang tua Saya ajarkan.

Atau kalau memang senang menuntut ilmu ya silahkan dilanjutkan kuliah S2 bahkan S3, tapi selesaikan dulu program S1-nya.

Jadi ya Saya setelah lulus SMA, otomatis langsung masuk kuliah. Tidak ada yang aneh dengan pilihan Saya, biasa saja.

Berfikir kembali ke bangku kuliah setelah umur 30 tahun koq ya aneh yak? apalagi kuliah S1.

Di Amerika, yang namanya kuliah itu tidak terbatas usia. Bukan hal yang luar biasa melihat mahasiswa-mahasiswa disini usianya sangatlah beragam.

Budaya Amerika yang menganggap kalau anak sudah berusia 18 tahun-notabene setelah lulus SMA- maka dia dianggap bebas menentukan pilihan boleh dibilang salah satu alasan kenapa batasan usia tidak terlalu nyata di dunia kampus.

Ada bagusnya, ada jeleknya

Bagusnya ya orang-orang terbiasa kuliah kapan saja, tidak merasa terlalu tua untuk kuliah. Tidak ada yang memandang ‘aneh’ kepada mereka yang terlihat sudah agak ‘berumur’ tapi masih mau mendaftar untuk sekolah.

Terus terang Saya males untuk kuliah lagi, tapi koq pas disini, terus terang jadi berminat untuk kuliah lagi…karena ya itu budaya disini sangat memungkinkan kita untuk kuliah lagi tanpa takut akan umur!

 

Salah Kaprah tentang Amerika : Mandiri? Karir nomor 1?

Sewaktu Saya tinggal di Jakarta, Indonesia, pandangan Saya tuh tentang (orang) Amerika serba keren, pendidikan tinggi, gaya, karir tinggi, berpikiran luas, mandiri, petualang, mobilitas mudah, keluarga kecil, pokoknya oke lah.

Saya sendiri terbiasa dengan teman-teman di sekeliling Saya di Jakarta, ya rata-rata berpendidikan S1 bahkan meneruskan sekolah hingga S2, sibuk berkarir, lajang hingga umur 30 tahun adalah hal yang lazim. Ayah dan Ibu Saya kedua-duanya sarjana farmasi dan bekerja penuh waktu sejak kami kecil.

Terbiasa melihat Ibu-ibu rekan kerja yang kembali dari cuti hamil 3 bulan dan bekerja seperti biasa karena sudah ada ‘suster’.

Sampai di Amerika, Saya tinggal di kota cilik, tahun-tahun pertama Saya belum ‘ngeh’ dengan kesalahpahaman Saya, karena saat itu Saya murni ibu RT, jadi tidak banyak berteman dengan bule-bule lokal, sebagian teman-teman Saya adalah ibu-ibu RT dari berbagai negara di dunia.

Baru di tahun 2007 setelah Saya bekerja di department store di mal lambat laun Saya mulai berteman dengan bule-bule lokal.

Dari situlah Saya baru menyadari bahwa pandangan Saya tentang orang Amerika sungguh banyak ‘salah’nya.

Sebagian besar kenalan bule Saya hanya berpendidikan SMA dan mereka tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Mereka sudah terbiasa bekerja ‘serabutan’ dari umur 14 tahunan.

Hamil di usia muda adalah sangat biasa – dengan suami atau tanpa suami, dengan pekerjaan atau tanpa pekerjaan.

Berpandangan luas?

Sebagian besar dari mereka tidak pernah mendengar kata Indonesia, Islam, Ramadan.

Ada yang tanya ‘Di Indonesia itu ada penjara gak?’ Asli Saya bengong waktu ditanya seperti itu…..Ha…ha…ha…

Sebagian besar dari kenalan tidak pernah pergi keluar negara Amerika, jangankan ke luar negeri, banyak dari bule-bule ini tidak pernah keluar dari propinsi tempat mereka tinggal sepanjang hidupnya!

Hadweh??!
Anak sedikit? haiyaaaaaaaa…….salah besar pandangan Saya tentang hal ini!! Terus terang Saya takjub waktu pertama kali melihat ibu bule bersama 5 anaknya di supermarket setempat.

Dan meskipun orang-orang Amerika tidak tinggal dengan orang tua mereka seperti orang-orang Indonesia, tapi banyak dari mereka yang tetap mengandalkan bantuan orang tua / mertua atau kakek-nenek untuk menjaga anak-anak mereka.

Banyak dari mereka yang ‘tidak bisa (atau tidak mau) tinggal berjauhan dengan orang tua’. Contohnya kenalan di tempat kerja. Dia (perempuan) sudah menjadi bos salah satu bidang di institusi keuangan tempat Saya kerja. Tapi toh dia sempat bilang kalau ‘tidak mungkin dia pindah jauh-jauh dari orang tua/mertuanya’.

(Dalam hati Saya bilang ‘eh..ternyata Saya pemberani sekali ya??!! beribu-ribu mil jauh dari orang tua!)

Ibu-ibu Amerika banyak juga yang memilih menjadi ibu Rumah Tangga penuh dan tidak bekerja sama sekali.

Kota kecil di Amerika sama halnya dengan kota kecil di Indonesia. Tingkat pendidikan rendah, tingkat penghasilan rendah, anggota keluarga tinggi (alias banyak anak!!!).

Amerika seperti halnya Indonesia tidak semata-mata lebih super di segala bidang.

Tidak semua serba ‘wah’ dan canggih.

Seperti yang orang tua Saya ajarkan :

Contohlah yang baik, tinggalkan yang buruk….

 

 

Contohlah Amerika dalam hal : tidak ada pembatasan umur (dan beberapa hal lainnya) dalam bekerja (dan mencari pekerjaan)

Ingat tidak waktu di Indonesia, kalau kita membuat CV, selau dicantumkan tanggal lahir, status pernikahan, jenis kelamin, agama dan mencantumkan foto yang paling keren.  Entah siapa yang memulai, tapi koq ya sebagian besar dari kita tahunya ya begitu.

Kalau membaca lowongan pekerjaan sudah biasa melihat iklan seperti ini

ImageImage

 

Apa yang salah gitu dalam iklan lowongan kerja di atas? Perasaan biasa-biasa saja deh, tidak ada yang aneh, atau melanggar aturan. 

Atau sewaktu kita diwawancara, tidak jarang ditanya “Sudah menikah?” atau “Ada rencana untuk menikah?” atau “Ada rencana untuk hamil”?

Jarang dari kita ada yang bingung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Nah, waktu Saya mulai mencari kerja di Amerika, tahun 2005, masih dong memakai versi Indonesia, wong cuma itu koq yang Saya tahu. Jadilah setelah Saya merangkai kata-kata di resume, Saya berikan ke suami untuk di cek.

Lalu dia bilang ‘Tidak perlu cantumkan tanggal lahir’

Aku “Heh? Masa sih? Yang benar? Apa HR tidak perlu tahu?’

Suami ‘Ya tidaklah, yang penting kamu mau kerja’

Lalu ditambahkan ‘Tidak perlu cantukam GPA’

Asli Saya BINGUNG! tapi ya terpaksa Saya nurut-nurut saja, secara waktu itu belum tahu apa-apa.

Lalu Saya bilang lagi “Harus buat foto ni buat di resume”

Jawab Suami ‘Tidak perlu foto, begini sudah cukup.”

Tambahlah bingung si Neng ini, cuma tidak bisa protes, karena kan memang Saya tidak tahu tho bagaimana mencari kerja di Amerika.

Bermodal kertas dua halaman, tanpa umur, foto Saya beranikan kirim surat lamaran, waktu itu Alhamdulillah Saya dapat pekerjaan.

Dari tempat kerja, mulailah Saya membaca aturan-aturan perburuhan disini, salah satunya yang paling TOP dalam artinya dijunjung tinggi adalah: Equal Employment Opportunity atau terjemahan bebasnya Persamaan Kesempatan Bekerja yang intinya perusahaan DILARANG mendiskriminasikan calon pekerja berdasarkan 12 hal dibawah ini:

  1. Umur – nah loh
  2. Kondisi fisik
  3. Kehamilan
  4. Agama
  5. Jenis Kelamin – dan seterusnya (duh baca di linknya deh)

Yang terus terang setelah Saya pikir-pikir Saya setuju sekali dengan aturan ini.

Coba saja dipikir-pikir, kalau Amerika menerapkan sistem seperti di Indonesia, bagaimana dong nasib Saya dalam mencari pekerjaan? Umur sudah kepala 4, semua lowongan menetapkan maksimal umur 30 tahun. Pedih kan?

Meskipun dalam kenyataannya, pekerja muda secara umum punya energi lebih banyak, tapi bukan berarti itu harus jadi hambatan bagi pekerja yang sudah tidak muda lagi kan?

Intinya begini, kalau seorang individu, berapapun umurnya, agamanya, jenis kelaminnya, statusnya, kalau memang individu tersebut merasa masih mampu bekerja dan bersaing dengan yang lain, ya kenapa tidak?

Kalau mau coba kita telaah iklan lowongan diatas, lihat yang pertama dulu deh :

Baris pertama : Pria, maksimal 27 tahun

-> kenapa harus pria gitu? apakah menurut perusahaan ybs tidak ada perempuan yang sanggup menjalankan pekerjaan ini?

-> maksimal 27 tahun? apa yang salah dengan umur 28 tahun? 35 tahun? 40 tahun? apa berarti si ybs dianggap sudah terlalu uzur?

Baris ketiga : IPK minimal 2.75

-> meskipun bisa dimengerti – yah kalau IPnya dibawah 2, artinya kurang pintar dong? – tapi kita tidak berhak untuk menilai, si individu dianggap harus jujur dalam menilai kemampuan sendiri

Iklan kedua? wah kacau…ibaratnya kalau si pengiklan itu berdomisili di Amerika, ybs sudah dituntut banyak orang deh karena iklan yang dipasang, karena dianggap mendiskriminasikan !

tinggi badan? memang kalau pendek tidak bisa bekerja ya? kasihan amat??!

belum menikah? kalau hidup bersama boleh dong? atau apa karena sudah menikah jadi tidak boleh kerja gitu?

Lucu juga kalau dipikir-pikir, Saya sendiri tidak menyangka kalau pola berpikir Saya menjadi berubah setelah tinggal di Amerika, tapi dalam hal ini Saya koq cenderung pilih versi Amrik ya…..

 

Informasi menjual barang (bekas) di Amerika (dan dapat uang jajan tambahan) – Bagian Kedua

Selain toko-toko tradisional yang Saya sebutkan di tulisan Saya sebelum ini ada konsinyasi musiman yang bisa Anda manfaatkan dalam menjual barang-barang bekas Anda.

Tipe konsinyasi ini biasanya diadakan 2 tahun sekali – di awal tahun untuk barang-barang musim Semi dan musim panas dan di akhir tahun untuk barang-barang musim gugur dan musim dingin.

Pada dasarnya tipe konsinyasi ini ibarat jualan garasi borongan, si organisir menyiapkan tempat untuk barang-barang kita, menjual ke masyarakat lalu membagi hasil ke kita. Si organisir biasanya sudah mempunyai tempat yang regular mereka gunakan dan tanggal yang notabene hampir sama tiap tahunnya. Biasanya di fair ground dan di akhir pekan.

Cara kerja konsinyasi ini adalah Anda mendaftar di situs mereka untuk barang-barang yang Anda mau jual, ada biaya keanggotaan, dan Anda harus menggunakan format tertentu untuk mencetak label harga barang-barang Anda.

Harga barang Anda tentukan sendiri, tapi ada harga minimum yang ditetapkan si organisir- biasanya $3.00. Porsi Anda dari penjualan adalah 70%, biasanya penjualan dilakukan selama 2 hari.

Di hari kedua, organisir melakukan pemotongan harga, Anda berhak tidak mau memotong harga barang-barang Anda, untuk itu Anda harus mencantumkan dalam label ‘Tidak ada potongan’ .

Untuk barang-barang yang tidak terjual, Anda boleh pilih untuk mengambilnya kembali atau merelakan organisir untuk menyumbang barang-barang tersebut.

Di sistem ini, intinya kita harus pintar-pintar menghargai barang, karena ada penjual-penjual lainnya yang berjualan di tempat yang sama dan kemungkinan menjual barang yang sejenis dengan kondisi lebih baik dari barang kita.

Tip dari Saya adalah menggabungkan barang-barang lebih dari satu, misalnya daripada menjual satu baju bayi atau mainan anak atau buku seharga $3 – yang menurut Saya agak mahal untuk barang bekas-, Saya gabungkan 3-5 baju/mainan/buku seharga $3 tanpa potongan.

Waktu Saya tinggal di Bozeman, Montana, Saya hobi ikutan konsinyasi tipe ini, judulnya The Exchange. Kalau Saya tidak salah, di musim dingin terakhir sebelum Saya pindah, cek yang Saya terima dari hasil penjualan $90. Lumayan kan?

Di Louisville, Kentucky Saya ketemu konsinyasi yang mirip, namanya Kidsstuffsale, Saya mau ikutan tahun ini, untuk melego mainan si anak yang sudah kadaluwarsa untuk kategori umurnya.

Saya hampir yakin, di kota-kota besar di Amerika, ada system serupa. Untuk cari informasi seperti ini, coba cari di majalah-majalah atau buklet-buklet gratis di supermarket. Saya ketemu info tentang kidstuffsale dari buklet tersebut.

Untungnya dari tipe konsinyasi ini adalah karena sifatnya yang musiman, biasanya masyarakat menanti-nanti kapan si bazaar dibuka. Jadi minat masyarakat tinggi, dibanding dengan toko-toko tradisional yang bisa dikunjungi setiap saat.

Mudah-mudahan informasi Saya kali ini berguna yaaaaaaaaa…

Informasi menjual barang bekas di Amerika (dan dapat uang jajan tambahan) – Bagian Pertama

Kalau ada rekan-rekan yang suka membaca blog Saya, tulisan ini boleh dibilang sambungan dari tulisan ‘Contohlah…’ dan informasi ini sebelumnya Saya tulis di cerita itu, tapi koq ya setelah Saya pikir-pikir kurang cocok, jadi Saya revisi tulisan Saya tersebut dan ini tulisan murni mengenai informasi berjualan barang-barang (bekas) di Amrik.

OK? Mari kita mulai!

Nah, setelah Anda tinggal di Amrik, ada kemungkinan Anda mengalami salah satu situasi di bawah ini :

  • Anak Anda sudah bukan bayi lagi, dan sekarang Anda punya banyak barang-barang bayi yang sudah tidak terpakai lagi
  • Anda akan pindah ke tempat baru, banyak barang-barang yang Anda sudah bosan dan tidak mau pakai lagi
  • Tiba-tiba Anda menjadi kurusan atau lebih makmur, sehingga baju-baju Anda mendadak tidak muat lagi
  • Anda ingin mengganti perabot, tapi koq perabot lama masih bagus ya? mau dikemanakan dong?
  • Ternyata Anda atau salah satu anggota keluarga Anda penderita shopoholic tanpa disadari banyak barang-barang tidak karuan di tempat Anda tinggal, sementara Anda tidak selera lagi
  • Anda butuh uang sementara gajian masih jauh dan ada tagihan yang kudu dibayar
  • Mau renovasi ruangan, itu pintu kabinet, kerangka jendela yang lama, sisa cat, sisa bahan bangunan di kemanakan dong?
  • Anda mahasiswa yang sudah selesai belajar di Amerika dan sekarang mau pulang ke tanah air
  • dan lain-lain

Solusinya? Gampang.

Selain yang Saya sudah tulis di tulisan Saya sebelumnya, ini Saya berikan informasi lebih detail (dan sebagian besar Saya juga lakoni sendiri)

Langkah pertama adalah cari (baca : google) toko konsinyasi (consignment store) di kota Anda.

Nah, toko konsinyasi ini juga beragam jenisnya dan juga tergantung jenis barang yang Anda mau titip jual.

Ada konsinyasi yang berani bayar uang tunai dimuka, ada konsinyasi yang akan membayar setelah barang terjual.

Berikut Saya beri daftar yang Saya tahu pasti cara kerjanya.

  • Bayar Tunai di Muka :

Tipe konsinyasi seperti ini untungnya Anda terima uang tunai di tempat saat Anda berikan barang Anda dan setelah mereka mensortir barang Anda yang mereka anggap bisa dijual di toko mereka.

Porsi Anda bisanya hanya 30% dari harga jual yang mereka tetapkan dan tidak ada biaya pendaftaran anggota. Cukup mengisi formulir.

Contoh : Anda bawa sepatu merek Charlotte Russe, mereka terima sepatu Anda, dan dalam anggapan mereka, sepatu ini akan dijual seharga $ 10.00, berarti mereka hanya akan membayar Anda sebesar $3.00

Kecil memang, tapi Anda terima uang langsung dan tidak ada resiko tidak mendapakan uang sama sekali nantinya.

Toko-toko yang menerapkan sistem ini

Saya pribadi pernah menjual barang-barang ke toko-toko tersebut diatas.  Berikut informasi tambahan lainnya :

Di toko pakaian wanita, banyak baju-baju Saya yang ditolak, mereka sangat ‘teliti’ dalam menyortir barang-barang.

Cek baju-baju Anda sebelum dibawa ke 2 tempat diatas. Cek :sobek, pudar, hilang kancing, baju berwarna hitam, noda, cabikan meskipun kecil , boleh dipastikan tidak akan dihargai.

Plato Closet lebih diutamakan untuk konsumen anak remaja, sementara Clothes Mentor untuk konsumen lebih dewasa.

Jangan pergi untuk menjual barang di hari Sabtu atau Minggu karena banyak sekali orang-orang yang menjual barang di hari itu.

Dan meskipun Anda diperbolehkan pergi meninggalkan barang-barang untuk disortir petugas, Anda diharuskan balik ke toko sebelum toko tutup, kalau tidak maka Anda tidak akan dibayar dan barang-barang anda yang di drop menjadi milik toko sepenuhnya.

Toko-toko yang Saya sebutkan diatas itu franchise, artinya ada kemungkinan Anda akan menemukan toko-toko tersebut di kota besar di manapun di Amerika.

  • Bayar setelah barang terjual

Untuk toko-toko yang menerapkan sistem ini, biasanya ada biaya pendaftaran, sepengetahuan Saya, di dua toko yang sudah pernah Saya lakoni, biaya pendaftaran $5 untuk satu tahun.

Untungnya toko seperti ini, porsi penjualan untuk Anda, cukup besar, 40%-60% dari harga terjual, tapi Anda hanya akan dibayar setelah barang benar-benar terjual.

Jadi selalu ada resiko Anda bisa-bisa tidak akan dibayar sama sekali, karena penjual toko biasanya menetapkan jangka waktu maksimum barang Anda ‘boleh’ dipajang di toko dan Anda masih mendapat porsi penjualan.

Yang Saya pernah alami, maksimum barang di pajang ditoko itu 3 bulan, setelah itu, toko berhak melakukan tindakan apapun terhadap barang Anda dalam arti mereka boleh memotong harga hingga 90% atau ‘melego’ barang anda ke tempat lain tanpa Anda memperoleh porsi penjualan.

Di Louisville, Kentucky ada 2 toko lokal yang Saya tahu pasti:

– Sugar Baker – untuk wanita

-The Attic – untuk perabotan rumah tangga

sedangkan di Bozeman, Montana, Saya pernah menjual di Recouture untuk baju, perhiasan, tas bermerek. Toko ini juga menerima perabotan antik.  Di Bozeman juga, bekas tetangga Saya mempunyai toko barang bekas untuk bayi dan anak-anak; nama tokonya Growth Spurts Retail Boutique. 

Untuk barang-barang olah raga, sepeda, trailer bayi, bisa dijual di Play it again Sports.

Berdasarkan pengalaman pribadi Saya, Saya cenderung lebih pilih ke sistem konsinyasi bayar setelah barang benar-benar terjual, terutama kalau Anda tahu pasti barang Anda ini bermerek, dalam kondisi prima, dan trendy.

Jadi pilihlah konsinyasi tipe ini untuk barang-barang Anda yang lebih ‘bermutu’. Terus terang juga Saya agak-agak ‘glek’ waktu menerima uang dari konsinyasi tipe tunai…’lha..koq cuma segini yak? he…he…he…tapi karena BU alias butuh uang, jadi ya mau gimana lagi.

Untuk konsinyasi tipe tunai, Anda berhak menolak tawaran mereka, dan memilih ambil kembali barang-barang Anda.

Tapi kalau dipikir-pikir intinya, daripada menumpuk barang, lebih baik di lego kan? 😉

Contohlah Amerika dalam hal..

Waktu tinggal di Jakarta, Saya ingat betapa Saya kewalahan setiap Saya beres- beres ruangan, bingung mau dikemanakan ini barang-barang yang Saya sudah bosan pakai, kesempitan, tidak perlu lagi dll.

Begitu pula waktu Saya bersiap-siap pindah ke Amerika di tahun 2005, banyak sekali barang-barang Saya yang masih bagus, tapi tidak bisa Saya bawa ke Amrik.

Saat itu kebetulan Saya punya kenalan yang bekerja sebagai sukarelawan di panti asuhan, dia bisa terima limpahan barang-barang Saya untuk kemudian dia bagi-bagikan ke tempat dia bekerja.

Tapi sebagian besar barang-barang tersebut berakhir di tempat sampah. 😦

Nelongso juga kalau di-ingat-ingat, bukan karena rakus, tapi karena merasa menyia-nyiakan barang dan tidak bisa memanfaatkannya lagi.

Hal yang sama bisa dialami sewaktu pindahan rumah, atau semata-mata ingin membeli perabot baru sementara perabot lama masih berfungsi.

Di Amerika, masalah seperti itu boleh dibilang mudah solusinya.

– Yang paling mudah, gelar jualan di garasi atau garage sale istilah bulenya. Bermodal stiker, spidol, uang kembalian, Anda bisa jual barang-barang Anda di halaman rumah. Uang masuk kantong sendiri, tidak perlau bayar komisi dll

– Kalau punya banyak waktu, buat akun di craiglist atau ebay , daftarkan barang-barang, beri harga dan siap dijual.

– Kalau tidak punya waktu dan tidak berminat mendapat uang tambahan,  tinggal sumbangkan ke toko-toko barang bekas seperti Salvation Army, Goodwill, Habitat for Humanity Restore. 

Dari baju, sepatu, alat-alat rumah tangga. pernak-pernik hingga mobil bisa anda sumbangkan di 2 tempat ini. Dan besar sumbangan Anda bisa digunakan untuk pemotongan pajak saat Anda mengisi pajak tahun berikutnya .

– Kalau Anda pikir barang-barang Anda masih ada ‘harganya’ dan layak jual, Anda bisa cari toko konsinyasi (consignment store) dimana Anda bisa mendapat porsi uang dari barang yang Anda titip jual di toko tersebut.

Tipe konsinyasi ada 2, yang sepanjang tahun atau yang musiman. Yang sepanjang tahun biasanya berwujud toko atau kios, sementara yang musiman wujudnya bisa berupa ‘farmers market’, pasar loak (flea market) atau bazaar musiman yang dikelola organisasi tertentu.

Tidak perlu malu atau sungkan untuk menjual atau menyumbangkan barang-barang di tempat ini.

Lebih baik barang-barang kita menjadi berguna untuk orang lain daripada dibuang jadi sampah tho?

O iya, Saya tidak tahu apakah toko-toko seperti ini ada di Indonesia, maklum sudah 7 tahunan tidak mudik.

Sebelum Saya hijrah, Saya tahu ada 1 toko barang bekas di Bandung yang menerapkan sistem konsinyasi, kalau tidak salah namanya Ba-be alias barang bekas.

Dan menurut Saya budaya menjual dan menyumbang barang seperti ini selayaknya kita contoh, tidak mubazir!

Sebelum migrasi ke Amerika, perlu bawa apa ya?

Tips ini terutama untuk teman-teman yang seperti Saya, yaitu yang notabene tidak pernah tinggal sendiri, tidak pernah ber-kos ria, tidak pernah masak, selalu wara wiri sendiri…

1. Siapkan ijazah universitas seakan-akan Anda mau sekolah lagi – supaya pas di negara baru, meskipun tadinya tidak terpikir mau kuliah lagi, tapi setidaknya kalau ternyata mau sekolah, semua sudah di siapkan. Bawa ijazah SMA juga.

2. Bekalilah koper dengan bumbu-bumbu khas Indonesia, meskipun bisa beli lewat belanja online, atau kalau dirimu beruntung bisa langsung beli di tempat baru, tidak ada salahnya buat bulan-bulan pertama

lengkuas

kunyit

gula jawa

asam jawa

kencur

cara membuat tempe atau tahun – terutama kalau dirimu senang makanan tersebut

kemiri

teh/kopi tubruk kalau suka

cobek – kalau dirimu hobi masak dan ngulek

3. Kalau Anda bisa menyetir mobil, usahakan bisa bersepeda, karena tidak semua kota di Amerika ada kendaraan umum dan anggaplah suami bukan tipe kelebihan uang, jadi belum langsung membelikan Anda mobil.

4. Kalau belum bisa menyetir mobil ya siap-siap belajar yak….lihat alasan di atas

5. Belajar masak kali ya?

6. Belajar kreatif : membuat hiasan, fotografi, nyulam, dll deh, siapa tahu loh bisa jadi sumber penambah uang jajan…

7. Kalau ada waktu sebelum berangkat ke Amerika, coba belajar : menjahit, montir mobil, pertukangan

8. Cek kota tempat Anda akan tinggal di Amerika, kalau akan tinggal di kota agak besar, coba deh cari sekolah/kursus lokal – community college istilahnya. Ambil kursus-kursus singkat untuk mengasah otak dan bekal di resume.

9. Setelah sampai, jangan lupa ajukan perubahan status, dari spouse visa menjadi permanent resident supaya bisa dapat ijin kerja, meskipun dirimu tidak terpikir untuk kerja

10. Kalau mampu, bilang suami untuk sisihkan uang untuk beli laptop untuk Anda sendiri, lalu pasang Skype deh, supaya bisa bertelponan dengan keluarga di Indonesia murah (asumsi Anda tipe pengirit seperti Saya)

11. Bagaimana cari teman sesama Indonesia? Ngidam makanan Indonesia? coba ke facebook, lalu cari grup Selera Indonesia Food

12. SELAMAT DATANG DI AMERIKA!

Kenapa sih Amerika?

Buat Saya jawabannya ya sederhana : Karena suami kebetulan orang Amerika yang tinggal di Amerika.

Jadi intinya kata ‘Amerika’ bisa diganti dengan kewarganegaraan dan negara manapun.

Terus terang Saya bukan ‘pengagum’ bule (baca : demennya sama bule). Mau bule mau pribumi ya sama-sama manusia:ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang ganteng, ada yang kurang ganteng, ada yang keren, ada yang penuh pesona, ada yang membuat hati deg-degan, ada yang  membuat kita mau kabur…

Saya juga bukan pengagum negara Amerika dalam arti Saya tidak menganggap semua yang ala Amerika itu selalu lebih baik, lebih okeh.

Saya sekarang di Amerika bukan karena Saya kabur dari keluarga di Indonesia atau bukan karena merasa di Indonesia hidup Saya sengsara dan merasa harus memperbaiki diri di luar negeri.

Sewaktu di Jakarta, Alhamdulillah Saya punya pekerjaan yang cukup bagus, 1 minggu sebelum berangkat Saya ditawari menjadi Manager di salah satu konsultan properti yang terpaksa Saya tolak karena Saya harus hijrah ke Amerika.

Sekarang Saya tinggal disini, Saya tidak merasa jadi lebih ‘tinggi’ dari teman-teman di Indonesia. Amerika sudah menjadi negara kedua Saya, dan hingga kini Saya masih berkewarganegaraan Indonesia.

Kalau ada yang tanya, ada rencana balik?

Terus terang menurut Saya pertanyaan itu agak-agak ‘aneh’, karena terus terang hal itu bukan ‘pilihan’ saat ini. Kenapa? karena keluarga Saya, yaitu, suami dan anak, mereka dua-duanya warga negara Amerika, dan inilah tempat tinggal kami.

Dari segi praktisnya, lebih mudah untuk Saya berganti kewarganegaraan daripada Saya harus menjadi sponsor suami dan anak di Indonesia, atau Suami harus mencari kerja di Indonesia.

Sewaktu Saya menikah dengan suami Saya, Saya mengerti konsekuensi pilihan Saya, walaupun jujur, berat rasanya jauh dari keluarga, dan suka nangis sendiri karena tidak ada dukungan dari kerabat di saat-saat susah, tapi semua harus Saya telan bulat-bulat, karena ini adalah bagian dari hidup Saya sekarang……

Katanya tinggal di Amerika, koq blognya bahasa Indonesia?

Hi..hi..hi.

Salah satu teman SMP di halaman Facebook Saya sempat protes kenapa koq Saya selalu menulis status dalam bahasa Inggris. Istilahnya ‘duh si Mpok kebule-bulean banget seh??’

Apa benar ya si Dayang sekarang sudah kebule-bulean?

Sibuk berbahasa Inggris, karena tinggal di Amerika dan sudah berbaur, beradaptasi menjadi ‘bule’ juga?

Alhamdulillah Saya dibesarkan oleh orang tua yang cukup ‘keras’ dalam masalah mencintai negeri dan budaya sendiri.

Alasan Saya berbahasa Inggris di halaman facebook adalah karena ada teman-teman (termasuk Suami) yang hanya bisa berbahasa Inggris dan Saya ingin mereka bisa membaca tulisan Saya.

Sebetulnya Saya termasuk orang yang ‘gemas’ kalau membaca tulisan rekan-rekan Indonesia yang campur aduk tidak karu-karuan , antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa memakai aturan menulis (yaitu menggunakan huruf miring untuk istilah asing yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) yang benar.

Contoh : Kemarin kami pergi ke zoo, tidak lupa pakai sepatu sports, karena akan waiting for bus.

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….

Apa benar ya berbahasa Indonesia itu susah? tidak keren? tidak populer?

Jadilah blog Saya ini dibuat hampir sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia yang meskipun tidak terlalu baku, tapi tetap berpedoman pada EYD yang Saya masih ingat dari jaman sekolah dulu.

Menulis dengan bahasa Indonesia itu asik dan enak dibaca juga koq! (benar tidak?!)