selingan

Bertemu Kembali Dengan Teman

Saya ini orangnya boleh dibilang pemalas sosial – bukan anti, cuma malas. dan agak sulit berteman. Kalau ada acara hura-hura dari tempat kerja, saya jarang (atau boleh dibilang tidak pernah) datang.  Kenapa? Pada dasarnya saya cenderung pemalu (kurang PD gitu) dan kurang gaul lah istilahnya.  Kagok kalau harus ketemu orang-orang baru. Bingung mau ngobrol apa ya?

Tapi di sisi lain saya menyadari kalau ‘bertemu orang baru’ dan berteman itu penting buat ‘mental’ dan pergaulan, jadi sering kali saya harus paksakan diri untuk datang ke acara ngumpul dengan teman-teman, meskipun kedernya minta ampun.

Selain kuper, saya orangnya juga sentimental dan agak terlalu berpengharapan tinggi sama orang lain. Gara-gara pengalaman kurang mengenakkan hati, saya tambah menarik diri untuk ‘bergaul’. Bukan sekali dua kali saya semangat mau berkenalan/ketemuan dengan teman baru/lama, tapi di tanggapi dingin saja atau malah dicuekin. Jadilah saya agak-agak ‘patah hati’ dalam hal ‘bergaul’ ataupun bertemanan secara umum.

Justru karena pengalaman kurang mengenakkan yang saya alami, saya jadi amat menghargai usaha teman-teman yang menyisihkan waktu mereka untuk menyempatkan diri ketemuan dengan saya.

Di tahun 2009, kenalan saya waktu stres di kedutaan besar Amerika menunggu proses visa, menyempatkan mampir di kota saya waktu dia dan pasangan ber-road trip ria ke negara-negara bagian di sekitar negara bagian saya. Waktu itu saya tinggal di kota kecil di Montana; Montana sendiri negara bagian yang kurang ‘beken’ lah dan kurang menarik (kecuali kamu senang dengan alam), tapi tho, teman saya ini bela-belain mau ketemuan dengan saya. Dia sendiri tinggal di negara bagian Texas. Kebayang kan lumayan jauh deh!

Awal tahun 2012, kami hampir akan pindah ke negara bagian Texas, di situ saya sempat ketemuan teman waktu sama-sama di Ohio. Masih di tahun 2012, teman saya lainnya dari Ohio memasukkan Kentucky di dalam rute perjalanannya.

Hari Senin lalu, lagi-lagi teman waktu di Ohio menyempatkan diri untuk ketemu saya di perjalanan liburannya menyusuri Ohio dari utara ke selatan.

Senang? Banget!

Meskipun cuma 1-3 jam dan kondisi kadang kurang mendukung (suami barusan kehilangan kerja, saya tidak enak badan, atau hujan turun dengan derasnya saat kami ketemuan) tapi saya amat menghargai teman-teman saya ini bersedia mampir untuk ketemuan dengan saya.

Saat-saat senang seperti inilah yang membuat saya bersyukur akan pertemanan kami dan bisa mengacuhkan pengalaman pahit dengan teman lain.

Yang jelas saya jadi sadar kalau waktu, jarak ataupun frekuensi pertemuan tidak menjamin awetnya pertemanan kita. Seperti kata pepatah dari internet yang saya pinjam :BtjTSCxCIAI6__E

 

Terima kasih ya Dini, Vania, Rai dan Suli+Joe sudah repot-repot mau ketemuan! Mudah-mudahan kita bisa ketemuan lagi ya!

2015-12-31

 

 

Berfoto Dengan Santa

Heh?

Piye tho, wis tuwir gini masih demen fotoan sama Santa???

Dari segi kepercayaan, saya tidak ber-santa-santaan sejak kecil, dari segi budaya campuran saya tidak membesarkan anak saya bersanta-santaan – pertama memang karena segi kepercayaan, tapi sejujurnya dari segi keuangan juga tidak kuat euy (tiap tahun ngantri untuk berfoto dengan santa, membelikan hadiah dari ‘santa’ dsb)

Setelah anak saya agak gedean sedikit, saya agak melonggarkan dia berinteraksi dengan santa.

Kemarin waktu jalan-jalan di pusat kota Louisville, mau foto selfie dengan latar belakang Snoopy eh tahu-tahu ada Santa nongol, ya sudah, jadilah si kecil berfoto dengan Santa, dua kali malah – karena si Santa tiap kali nongol waktu kita mau berselfiean- masa ditolak?

Hari ini ditempat kerja, eh…ada Santa! ya jadilah si Santa di todong kami semua untuk berselfie ria. Dengar cerita si Santa, kalau dia melakoni peran Santa ini setiap tahun dan tidak dibayar! dan dia melakoni dibeberapa tempat, bayangkan dengan Santa di mal yang di bayar $2,000 per minggunya!

Meskipun saya tidak ‘peduli’ dengan keberadaan santa, tapi saya salut dengan si bapak, bersedia menyenangkan hati anak-anak tanpa pamrih!

Gimana dengan kita semua ya?  bisa tidak kita jadi santa tanpa pamrih?

 

 

 

Rindu Batik

Sebelum berimigrasi ke Amerika, saya suka sama batik, tapi cuma memakai batik di acara-acara tertentu saja : undangan perkawinan misalnya. Batik untuk sehari-hari dulu itu selain belum nge-tren, kesannya masih formal. Diantara tenun-tenun tradisional Indonesia, saya memang cenderung lebih dekat dengan batik (maklum ibu ada darah jawanya)Pindah ke Amrik, saya mulai misuh-misuh karena ingin menunjukan nasionalisme dan ‘pamer’ kecantikan budaya Indonesia. Memang dari Indonesia saya bawa 2 kain batik (yang sekarang sudah kekecilan deh), tapi ya itu, karena modelnya seperti kain kebaya kesannya masih formal dan tidak bisa dipakai sehari-hari.

Ingat sekali betapa girangnya saya waktu nemu satu rok batik di butik downtown, harganya kalau tidak salah $40, beli dan disayang-sayang, karena jarang sekali nemu batik saat itu. Lalu pas jalan-jalan ke Iowa di tahun 2008, ketemu rok batik tambalan (patched) di toko barang bekas, beli. Masih di Amrik, nemu motif batik atasan di ROSS, beli.

Pokoknya tiap kali ada ketemu batik, saya coba usahakan beli.

Di Indonesia sendiri batik tambah oke pamornya, semakin banyak orang-orang memakai batik sehari-hari, dan modelnya makin beragam, tambahlah gigit jari saya karena kepengen banget bergaya dengan batik, tapi tidak tersalurkan. (tahun 2005 gitu, belum ada Facebook kan??!!)

Beberapa tahun lalu, saya bertekad kalau sempat mudik lagi, mau beli batik sebanyak mungkin!

Memang waktu mudik Januari 2005 lalu saya dioleh-olehi teman-teman di Indo berbagai batik : taplak, rok, selendang, atasan, pernak pernik lainnya, namanya rindu, tetap saja saya ngiler setiap kali melihat batik.

Nah, berkat Facebook, kerinduan saya terhadap batik lumayan bisa terobati. Lewat FB, saya ketemu rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Amerika yang berjualan barang-barang Indonesia (termasuk si batik!). Dari mulai kerabat sendiri lewat Pretty Batik Boutique, kenalan di Florida : Kedaton, sampai teman ketemu waktu pindah ke KY, Balinesian Ethnic Purses.

Jadilah sekarang koleksi batik saya sudah bertambah…ih senangnya bisa pakai batik di Amrik!

Yuk beli batik yukkkkkkkkkkkk

2015-09-041

Perempuan Itu Takut Jelek?

Di tempat kerja ada anak baru, masih muda, menurut saya sih ya dia lumayan cantik, rambutnya panjang tergerai, bergincu, mata berias warna.

Satu hari dia nunjukin alat pelurus rambut di telponnya, lagi murah, katanya dan dia pengen sekali beli.

Saya cuma nyengir saja, lah, saya itu paling tidak repot dalam masalah rambut. Buat saya, cukup punya rambut dan tidak berketombe, saya sudah senang

Ada sih kepikiran mau di bikin ikal, mau diwarnai, tapi waktu dijalani, ternyata butuh waktu lama…yah batallah keinginan-keinginan tersebut.

Hari lainnya, dia panik bercuap-cuap melihat hujan turun dengan derasnya. Takut rambutnya jadi berantakan. Saya cuma geleng-geleng saja melihat kelakuannya.

Lain waktu lagi, dia sibuk memberi tahu rekan-rekan kerja tentang lipgloss barunya. Memang kelihatan bagus dibibir dia, saking bagusnya dia itu sampai-sampai sibuk cari-cari sedotan karena dia takut kalau minum langsung dari gelas, akan buat pewarna bibirnya pudar.

Mengamati perilaku rekan kerja ini, saya jadi bertanya-tanya…

Apakah semua perempuan itu takut (terlihat) jelek. Benar atau tidak sih?

Atau itu masalah beda generasi? atau masalah bagaimana kita dibesarkan?

Kalau menilik dari pengalaman saya pribadi, perasaan saya, saya tidak pernah seheboh dia waktu saya seumuran dia deh.

Terus terang saya tidak merasa cantik, biasa-biasa saja. Yang jelas memang kudu pakai perias wajah supaya muka terlihat agak enak dipandang, tapi saya tidak pernah ‘kerepotan’ harus terlihat cantik ataupun panik kalau hari ini saya kurang kece di muka publik.

Saya waktu kecil itu cenderung tomboy. Ingat banget difoto rambutku wis kupluk, pakai celana pendek dan sering dikira anak laki-laki. Jadilah ibuku pastikan saya selalu memakai anting-anting.

Kalau mau  motong rambut juga dibawanya ke tukang cukur bukan salon.

Hingga SMP, saya ogah pakai perias wajah, rambut awut-awutan, cuek bebek. Sampai-sampai sepupu-sepupu beramai-ramai membelikan saya gincu dengan harapan saya mulai tertarik merias wajah. Ibu juga mulai kebat kebit dan mengharuskan saya membawa sikat rambut di tas sekolah supaya bisa merapikan rambut saya.

SMA, Kuliah, ya mulai kenal riasan wajah, tapi tidak fasih memakainya, alias ya ala kadarnya dan bukan sesuatu yang ‘kudu’ dilakoni.

Pertama kali saya kerja itu di kontraktor pekerjaan sipil , ya jadilah tambah tidak ada keperluan untuk bermanis-manis ria. Ganti pekerjaan, paling-paling riasan wajah saya ya standar saja, gincu dan bedak (dan kadang maskara kali ya?)

Nah pas pindah ke Amrik, dan kerja di department store, saya mulai kenal riasan wajah lebih komplit karena dapat promosi ini itu. Tapi dalam hal pemakaian saya tetap tidak tergolong heboh.

Sekarang ini saya memang lebih rajin memakai perias wajah dan lebih komplit. Dari mulai serum, pelembab wajah, alas bedak, bedak, pemerah pipi, pelentik bulu mata, pemulas mata. Tapi saya masih kurang ‘rajin’ dalam hal melapisi ulang, cukup sekali pakai di pagi hari, setelah itu ya nasib. He…he….he..

Jangan salah, peralatan rias saya lumayan komplit, tapi tetap saya kurang rajin mendayagunakannya.

Entah apa tipe kulit saya, atau tipe perias yang saya gunakan, tapi koq kayaknya mau mahal atau mau murah, itu bedak, pemulas mata, pemerah pipi kurang mau nempel lama-lama di muka saya…….yang ada ya saya malas gitu repot-repot tiap pagi….harus dipaksain istilahnya

Saya jadi penasaran sendiri, apa saya yang memang ‘ajaib’ , kurang suka berdandan, tidak terlalu peduli masalah rambut kudu terlihat sempurna, kuku tidak harus berwarna, dan seterusnya…

Kemarin itu saya sempat keranjingan mengikalkan rambut ….tapi cuma hangat-hangat tahi ayam…cuma 2 mingguan saya rajin, setelah itu yah..mending tidur lah….;-)

Tapi apa kita, perempuan itu secara insting, pengen terlihat selalu cantik ya????

 

Selingan : Memotret Jahil

Kemarin itu waktu saya lagi di Tampa, Florida, di sekitar hotel banyak melihat belalang gendut-gendut!! (besar-besar gitu maksudnya).

Setelah pertama kali gagal motret si belalang ( kejauhan), melihat foto peserta lain koq kelihatan lebih keren, saya berketetapan untuk mencari si belalang untuk di potret lagi.

Jadilah hari terakhir saya di hotel, iseng-iseng saya nyari si belalang untuk di potret, dan dapat lah potret-potret ini.

Gimana? Keren juga ya?

DSCN1502 DSCN1500 DSCN1503 RSCN1514

Suka Duka Di Amrik : Pekerja Jam-Jam-an

Baru setelah berimigrasi ke Amerika, saya mengenal istilah pekerja jam-jaman dan pekerja gaji.

Pekerja jam-jaman yaitu pekerja yang dibayar berdasarkan jumlah jam yang si pekerja lakoni, ya biasanya pekerja buruhlah, seperti pegawai toko, pegawai bank,pegawai di rumah sakit, dll. Pekerja jam-an ini bisa pekerja paruh waktu, bisa juga pekerja penuh.

Karena sifatnya yang dibayar berdasarkan jumlah jam si pegawai bekerja, dari NOL jam hingga 40 jam (atau bisa lebih, tapi biasanya managemen perusahaan akan ‘ngomel’ kalau pegawai jam-jaman mereka lembur)- bayaran si pekerja ya bisa berbeda-beda setiap kali terima gaji.

Juga pekerja di haruskan mencatat saat mereka mulai kerja dan selesai kerja setiap harinya di timesheet.

Pekerja jam-jaman ini juga rentan terpotong jadwal kerjanya, terutama pekerja ritel. Kalau manager menilah penjualan pada hari itu tidak seperti yang diperkirakan, mereka harus segera memotong anggaran perusahaan yaitu dengan memotong jam kerja si pegawai yang dijadwalkan bekerja hari itu. Jadi kalau awalnya si pekerja di jadwalkan bekerja selama 4 jam, sangat mungkin kalau si pekerja yang ada cuma bekerja selama 2 jam saja.

Sementara pekerja gajian, yaitu mereka-mereka yang gajinya dihitung secara lumpsum per bulannya, dengan standar jam kerja 40 jam per minggu. Sepengetahuan saya pekerja gajian ini sebagian besar pekerja penuh, atau pekerja kontrak. Contohnya suami saya.

Sebagian besar pekerja jam-an menerima gaji setiap minggu atau setiap dua minggu sekali. Sedangkan pekerja gaji, sebagian besar di bayar setiap dua minggu sekali atau 2 kali sebulan : di awal bulan dan di tengah bulan (tanggal 15).

Saya ini termasuk pekerja buruh, alias pekerja yang dibayar per jam, gaji dibayar oleh perusahaan setiap 2 minggu sekali. Tapi karena saya bekerja di dua tempat, saya jadinya terima bayaran setiap minggu, karena jadwal terima gaji saya yang satu dengan yang lain berselisihan.

Ada enak dan tidak enaknya jadi pekerja jam-jaman.

Yang paling tidak enak itu kalau lupa masukkan waktu kerja (clock in dan clock out) dan kelewat tenggat waktu perhitungan gaji. Kenapa? Karena beberapa perusahaan sangat ketat dalam hal pembayaran gaji ini, kalau sudah lewat tenggat masukkan timesheet ya terpaksa kamu dibayar apa adanya, kekurangan jam kerja akan dibayar di gaji berikutnya.

Contohnya saya.

Waktu mau mudik kemarin, saya pikir waktu saya balik saya tetap akan terima gaji cukuplah, karena meskipun saya tidak kerja, saya sudah punya jatah liburan, yang jumlah jam libur per mingggunya boleh dibilanag sama dengan jumlah jam kerja saya kerja.

Saya pikir lagi, karena saya pekerja paruh waktu, manager saya yang harus memasukkan jumlah jam libur saya ke timesheet saya – karena kalau ada libur di kalender, manager saya yang memang harus memasukkan libur kalender itu di timesheet saya supaya saya dibayar.

Waktu kembali ke tempat kerja setelah mudik, saya panik melihat jumlah kerja saya cuma seuncril dan ternyata jam liburan saya tidak tercatat. Ternyata saya salah asumsi, sayalah yang harus memasukkan jam libur saya ke timesheet, bukan manager.

Yaaaaah….apa daya, terpaksalah saya gigit jari selama lebih dari 2 minggu!

Hadweeeh, asli sengsara, karena berarti saya tidak bisa membayar tagihan ini itu seperti yang sudah saya jadwalkan.

Untunglah cuma saya yang pergi berlibur dan suami tidak ikutan, karena berarti kita  masih ada penghasilan dari suami yang bisa bantu untuk hidup sehari-hari…………..

Phew!!??!!

Salah Mengeja

Siapa bilang bule itu selalu bisa mengeja lebih baik daripada kita-kita yang imigran?

Kalau teman-teman mungkin cuma lihat foto atau baca berita ringan di sosial media, saya sendiri sudah mengalami langsung salah eja kata-kata bahasa Inggris yang dilakukan oleh mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris.

Contohnya dibawah ini :

10373484_10152588958761267_4401330495858968946_n (1)

Saya yakin maksud hati menulis kata ‘healthy’

Sebetulnya masalah salah mengeja ini masalah sehari-hari di Amerika, bukan cuma anak-anak sekolah yang baru belajar mengeja, tapi orang-orang dewasapun banyak yang masih suka salah mengeja.

Kalau saya perhatikan malah orang-orang imigran cenderung lebih hati-hati dalam mengeja bahasa Inggris, mungkin karena di bawah sadar, kita tahu bahwa ini bukan bahasa kita, jadi kita lebih memperhatikan ejaan kata yang akan kita tulis?

Terus terang suami saya sendiri juga mengakui kalau dia bukan pengeja yang baik, seringkali saya yang memperbaiki ejaan kata-kata dia, meskipun secara tata bahasa saya masih ‘ngaco’ berat.

Kesimpulannya apa dong?

Kesimpulannya kita jangan takut belajar, jangan takut salah. Karena mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris pun masih banyak salahnya koq. Yuk..belajar bahasa Inggris lagi!!

Bahagianya Saat : Ketemu Komik Masa Kecil

Sejak saya tinggal di kota Louisville, Kentucky yang notabene termasuk skala kota ukuran sedang (dalam arti bukan ‘desa’), saya banyak mengalami kejutan-kejutan kecil yang membuat hati riang gembira.

Contohnya hari ini. Kami sekeluarga pergi ke toko buku Half Price Books yang memang toko buku favorit kami. Karena hari Senin itu hari libur ‘Labor Day‘ jadi ada promosi potongan 20% di toko yang bersangkutan.

Biasanya saya cari buku untuk anak, buku hobi, buku resep atau buku agama. Waktu sedang ngobrak ngabrik rak buku satu demi satu, eh alah ketemu Tintin!!

Ini kan buku bacaan saya waktu kecil!!! Hati ini sumingrah sekali rasanya.

 

DSCN4617

 

Catatan :

Seperti halnya cerita Little  House On The Prairie yang boleh dibilang  kurang pamor diantara pembaca generasi milenial, begitu juga seri Tintin, tidak banyak orang Amerika tahu tentang buku karangan Herge ini. Untung juga anak saya punya emak agak ‘beda’ ya…mudah-mudahan dia bisa baca lebih banyak dan lebih beragam dari bapak dan ibunya.

 

 

 

 

 

 

Selingan Ringan : Nemu Coklat Cemilan Jaman SD!

Kalau di tulisan pertama saya di seri ‘Selingan’ , saya cerita tentang ketemu tulisan nama alias kota Jakarta – kota kelahiran saya, sekarang saya mau cerita kalau saya ketemu coklat jaman saya cilik, masih sekolah dasar.

Saya ingat sekali,waktu saya kelas 5 atau 6 SD, kami sekeluarga tinggal di daerah Pancoran, Pasar Minggu, dimana salah satu kakak Ibu, juga tinggal di situ. Jadi kita (saya dan kakak) lumayan sering berkunjung ke rumah beliau. Saya senang ngaso di rumah beliau, karena Oom dan Tante baik sekali dengan kami berdua, kami berdua selalu di beri cemilan, kadang kue kering kalengan, tapi yang kebanyakan itu : coklat!

Saya bahkan ingat merek coklatnya, yaitu coklat merek Van Houten. Tidak terhitunglah berapa banyak coklat yang saya makan! (pastinya banyak ya, karena puluhan tahun kemudian masih terngiang-ngiang…he..he..he..)

Nah, kami sekeluarga cuma tinggal di daerah itu selama 2 tahun, setelah itu kami pindah di pinggiran kota dan otomatis kunjungan ke rumah Oom dan Tante menjadi berkurang. Jadilah saya tidak lagi bisa menikmati nikmatnya coklat Van Houten, ditambah alharhum ayah dan ibu tidak membiasakan anak-anaknya bercemilan ria.

Pindah ke Amerika, jangankan makan, melihat produk Van Houten saja hampir tidak pernah; maklum 5 tahun pertama saya tinggalnya di desa koboi.

Eh, hari ini, waktu sedang belanja di supermarket Asia, mata tiba-tiba tertumbuk kaleng berwarna ungu yang akrab di hati. Oh lala!!! Ternyata si coklat Van Houten!! Langsunglah saya foto si kaleng coklat ini!

DSCN4581

Senang rasanya menemukan salah satu kenangan manis di masa kecil…..

Konyol ya?

Tapi inilah salah satu indahnya hidup di negeri asing :menemukan hal-hal kecil yang memberikan kebahagiaan tersendiri buat kita…..

 

 

 

 

Kebahagiaan Menemukan Kenangan Masa Kecil Di Negeri Baru

Salah satu hal yang menggembirakan selama tinggal di Amerika adalah saat pertama kali saya menemukan sesuatu yang saya amat kenali (familiar) waktu masih di Indonesia. Heboh dan tidak percaya, biasanya reaksi yang saya alami.

Yang namanya ‘sesuatu’ ini bisa bermacam-macam bentuknya ; dari mulai makanan, buku bacaan, film, tulisan di jalan, tanaman atau hal-hal sepele lainnya yang mungkin amat sangat tidak ‘penting’ untuk orang lain.

Contohnya:

Tahun pertama di Amerika, 2005, dan pertama kali jalan-jalan bermobil ria, saya ingat betapa kegirangannya saya waktu melewati daerah di mana Laura Ingalls Wilder bertempat tinggal.

“Hey..saya kenal itu nama!! Itu kan pengarang cerita ‘Little House On The Prairie’??” begitu pekik saya ke suami.

Maklum waktu kecil saya dicekcoki ibu untuk membaca, salah satu buku yang saya harus baca itu adalah seri Little House On The Prairie. Meskipun sudah bertahun-tahun lalu saya terakhir membaca seri itu, saya masih ingat beberapa detail dari cerita tersebut. Jadilah waktu saya tahu kalau Laura Ingalls Wilder di Amerika juga cukup terkenal, ada perasaan sumringah di hati, entah kenapa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Atau baru-baru ini, saya ketemu susu kental manis Cap Nona di supermarket lokal langsung hati berlonjak-lonjak kegirangan – padahal cuma susu ya? dan sebetulnya kalau mau jujur saya tidak selalu memakai susu ini sewaktu di Indonesia. Kalau tidak salah saya cuma minum susu ini hingga saya selesai sekolah dasar, jadi saya sudah lama koq tidak mengkonsumsi ini,tapi tetap saja diri ini seakan-akan menemukan harta karun.

Menemukan hal-hal kecil seperti ini boleh dibilang membuat perasaan hidup di tanah asing tidak lagi terasa terlalu berbeda – perasaan bahwa saya adalah alien yang benar-benar dari negeri antah berantah agak  memudar – ternyata  ada hal-hal yang saya dan negara Amerika sama-sama kenali.

Lucu juga kalau dipikir-pikir, sebelum saya migrasi ke Amerika, membaca buku Little House On The Prairie, melihat pohon melati ya biasa saja. Tapi setelah pindah dan tinggal disini, hal-hal yang tadinya sepele, tidak terlalu diperdulikan, bisa menjadi penting dan boleh jadi menjadi amat berharga di mata saya.

Mungkin benar juga ya pepatah ini :

little-things