gaya hidup

Diingatkan Untuk Bersyukur

Belakangan ini saya koq merasa Yang Maha Kuasa ‘menegur’ saya dengan mengirimkan sinyal-sinyalNya lewat kejadian-kejadian kecil yang saya alami sehari-hari.

Seperti yang terjadi hari ini :

Tidak seperti biasanya, saya enggan pulang ke apartemen waktu istirahat makan siang. Jadilah saya pergi ke salah satu rumah makan cepat saji ala Amerika, kebetulan ada sisa kartu hadiah dari acara anak di sekolah sebulan lalu.

Saya pilih pesan lewat kendara lewat, setelah pesan, setelah selesai memesan, saya melaju ke jendela berikutnya untuk membayar pesanan. Sang kasir yang melayani melihat stiker “B” di sisi mobil – stiker sekolah anak saya. Katanya :

‘Anak saya juga sekolah di B!’

O ya? Senang dia disana?’ tanya saya

‘Ya. B sekolah yang bagus Sebelum di B anak saya sekolah di C!’

(C itu sekolah dekat dengan tempat tinggal saya, dari segi kualitas sekolah B lebih baik)

Ya. Betul sekali! dan juga banyak aktifitas seru! Kelas berapa anakmu?’.

‘Kelas 4’

Wah sama dong dengan anak saya. Siapa gurunya?’

‘Saya tidak tahu. Terlalu sekali ya saya sebagai ibu, koq bisa tidak tahu? Waktu saya habis untuk bekerja, kakak saya semua yang urus anak-anak saya, jadi saya tidak tahu apa-apa.’

************************************************************************************************************************************************************

Setelah percakapan saya dengan Ibu kasir ini, saya menghela nafas panjang. Saya baru saja berinteraksi langsung dengan seorang perempuan yang harus bekerja demi keluarganya hingga dia hampir tidak punya waktu untuk anak-anaknya sendiri.

Ah Beruntungnya saya tidak perlu bekerja seharian dan masih punya waktu untuk si kecil.

Bahwa saya bisa menemani anak saya setelah dia pulang sekolah, mengantar anak saya di pagi hari dan sekali-sekali bisa datang ke acara sekolah anak saya.

Kadang kita lupa untuk berterima kasih, lupa melihat ke ‘bawah’, lupa untuk menghargai apa yang kita miliki.

Bulan November di Amerika -dimana warga Amerika merayakan hari libur ‘Thanksgiving‘ yang jatuh di hari Kamis minggu terakhir -boleh dibilang bulan untuk kita belajar berterima kasih, (dan memberi).

Yuk, mari bersyukur dan berterima kasih sama-sama!

Tantangan, Rintangan, Kendala, Masalah

! Apa2 susah! ini susah! Itu susah! kamu malah gaK pulang2! punya empati gak?’

Wuih sakit hati rasanya saat terngiang-ngiang cercaan diatas. Bukan rahasia lagi kalau asumsi sebagian besar teman-teman di tanah air, hidup kami – imigran Indonesia – di Amerika itu TIDAK PERNAH SUSAH.

Untuk sebagian besar orang, sulit untuk ‘percaya’ kalau kita-kita yang tinggal di Amerika juga mengalami kesulitan, menghadapi tantangan, masalah, kendala di hidup kita sehari-hari

‘Kamu kan tinggal di Amerika?!!’ – komentar seperti ini ‘lumrah’ di dengar, seakan-akan imigran Indonesia di Amerika pastinya kebal dengan masalah, rintangan, kendala dsb.

Kenyataannya seperti teman-teman yang tinggal di manapun di belahan dunia, kita-kita ya menghadapi masalah juga, dari masalah sepele :  bagaimana caranya berwara wiri sehari-hari sementara tidak ada mobil dan tidak ada transportasi umum, hingga masalah mencari perlindungan hukum.

Dan tidak sedikit, masalah yang dialami imigran lebih ‘berat’ dibanding mereka-mereka yang tinggal di negara asal.

Gimana gitu lebih beratnya?

Karena banyak dari kita-kita yang disini itu benar-benar soragan wae, tanpa sanak saudara dan tidak punya ‘bekal’ cukup (pendidikan, pengalaman kerja, ketrampilan, kemampuan berbahasa Inggris dan lain sebaginya).

Waktu kita bermigrasi ke Amerika, sebagian besar diawali dengan ‘mimpi indah’ :suami bule, asik sekarang tinggal di luar negeri.

Sebagian besar dari kita beruntung karena mimpi indah menjadi kenyataan yang indah juga, suami tajir, selalu dibawa jalan-jalan, dibelikan barang-barang mewah tanpa harus kerja, mau beli apa juga tinggal tunjuk, mudik setiap tahun tidak perlu ditanya, sebagian lagi mimpi indah menjadi mimpi kurang indah…..

Pengalaman saya sendiri sih relatif tidak heboh ya, meskipun banyak kurang indahnya juga….

Gimana gitu kurang indahnya?

Coba saya ceritakan sedikit ya…

Suami saya, kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dia punya  2 adik, tapi 1 sudah meninggal dunia juga.

So what?

Tadinya saya juga pikir begitu, baru ‘ngeh’ beratnya waktu sedang hamil, melahirkan dan bulan-bulan pertama setelah si kecil hari.

Kalau teman-teman lain banyak yang bisa minta bantuan ayah, ibu, mertua, kakak, adik untuk jagain waktu lahiran, waktu minggu-minggu pertama, saya ya kudu lakoni sendiri.

Pernah saya menggigil karena keletihan, tapi tetap harus terbangun karena si bayi ini rewel sementara suami belum pulang.

Contoh lainnya.

Kemarin di tempat kerja saya ditelpon sekolah anak, si kecil panas. Panik? Jelas. Yang jelas cuma saya dan suami yang bisa menjemput anak kami. Saya masih beruntung karena pekerjaan suami itu lebih fleksibel dan bisa dikerjakan dari rumah dan saya pekerja paruh waktu, jadwal kerja saya cenderung pendek, jadi salah satu dari kami bisa ngacir untuk menjemput anak kami. Tapi ini bukannya tanpa resiko, beberapa tempat kerja sangat ketat dalam urusan ketidakhadiran, kalau pekerja di anggap tidak produktif karena banyak ‘berhalangan’, perusahaan bisa dengan mudah mendepak pekerja yang bersangkutan.

Sekali lagi, beberapa teman-teman cukup beruntung karena bisa menjadi ibu rumah tangga penuh dan tidak harus bekerja, atau punya pasangan yang punya bisnis sendiri, jadi tidak terlalu riweh dalam urusan anak sakit di sekolah,  tapi tidak untuk keluarga kami.

Contoh lagi.

Di tahun 2009, suami saya kehilangan pekerjaan. Jantung saya serasa mau ‘berhenti’ waktu dia masuk rumah dengan pandangan suram dan memberitahukan saya berita tentang dia kehilangan pekerjaan.

Panik. Jelas. Bingung? Pasti.

Di pikiran saya waktu itu :

  1. Angsuran rumah bagaimana kami bisa bayar? bagaimana kalau rumah tidak terbayar? mau tinggal dimana kami?
  2. Anak kami masih umur 3 tahun, masih butuh ke dokter secara rutin, asuransi dari mana?

Hari itu juga, saya langsung menghadap ke HR tempat kerja dan Alhamdulillah sekali ada lowongan penuh waktu yang langsung Saya bisa lamar.

Hari berikutnya Saya langsung ke county office untuk mengajukan lamaran asuransi pemerintah untuk keluarga. Ditolak, karena dianggap kami masih memiliki 2 aset utama: mobil dan rumah, tapi untungnya asuransi untuk anak bisa kita dapatkan, karena untk asuransi anak, hanya dilihat dari penghasilan dan bukan dari aset, dan saat itu keluarga kami dianggap kategori kurang berada.

Selama 1 tahun lebih boleh dibilang Saya jadi tulang punggung keluarga, masih beruntung suami mendapat asuransi pekerja (unemployment insurance) yang jumlahnya pas dengan angsuran rumah kita, sementara hidup sehari-hari kami harus mengandalkan penghasilan mingguan dari pekerjaan saya (pramuniaga di department store)

Tidak bohong kalau saya harus jual perhiasan emas yang saya bawa dari Indonesia dan menjual barang-barang ini itu untuk menyambung hidup. Consignment store, craiglist jadi ‘teman akrab’ saya. Setiap ada tambahan waktu kerja, saya coba ambil supaya bayaran saya bisa berlebih.

Waktu itu saya tidak langsung memberi tahu orang tua di tanah air, baru setelah beberapa bulan, saya beritahu mereka.

Saya ingat sekali di hari-hari itu (dan hingga saat ini) saya selalu mengkhayal andai orang tua saya dekat, pasti mereka akan bantu kami……

(tidak sedikit keluarga Amerika lainnya mengalami hal yang mirip (kadang lebih parah) dengan yang saya alami, bisa dibaca di http://finance.yahoo.com/news/achieved-american-dream-awful-040000718.html)

Di tahun 2010 dan 2012, Saya dan suami sempat tinggal berlainan tempat karena kerja.

Pertama kali kita berpisah, kami hanya memiliki satu mobil, yang pastinya harus dibawa suami, jadilah saya mengandalkan sepeda dan trailer untuk transportasi saya dan si kecil. Tidak masalah, KECUALI waktu hujan turun dengan derasnya saat saya menjemput anak dari sekolah.

Basah kuyup.  Anak kami waktu itu baru berumur 3 tahun, saya ingat bagaimana saya memakaikan jaket hujan, kain terpal dan selimut untuk melindungi dia dari hujan. Jarak dari sekolah ke rumah yang cuma 1 kiloan, terasa jauh dan berat sekali karena harus ditempuh ditengah-tengah hujan yang amat derasnya. Terus terang waktu itu Saya cuma bisa menangis karena kasihan melihat anak kebasahan dan kedinginan dan saya merasa bersalah karena ‘membiarkan’dia kehujanan.

Kedua kali kita berpisah, kondisi kami sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Suami mampu menyewa mobil baru untuk dia di tempat baru, sementara saya boleh memakai mobil lamanya.

Dilalah.

Setelah selesai mentor di sekolah anak, saya rencana menghabiskan waktu di pertokoan dekat sekolahnya sebelum waktunya menjemput si kecil lagi.

Di jalan, tiba-tiba mobil ngadat, mesin berhenti sama sekali, untung sudah dekat dengan tempat tujuan! Dengan nekat dan berharap dari sisa energi mesin mobil,  saya berhasil mengarahkan mobil ke arah tempat parkir. Belum sempat masuk ke parkiran, mobil berhenti total.

Nekat saya keluar dari mobil untuk coba mendorong mobil ke tempat yang lebih sepi, yah tidak kuat lah yaw! untung ada pengemudi lain yang melihat saya kesusahan dan dia tanpa sungkan-sungkan membantu saya mendorong mobil. Lalu sekarang bagaimana? saya harus menjemput anak saya? coba telpon salah satu kenalan, dia ternyata tidak ada di kota, ya sudah, jadilah saya jalan kaki ke sekolah si anak. (catatan : di kota tempat saya tinggal dulu itu, sarana taksi terbatas, waktu tunggu bisa 1 jam lebih)

Menghayal lagi…’ah…andai ayah ibu ada disini’.

Tapi untunglah kami dulu itu tinggal di kota kecil, jarak dari satu tempat ke rumah kami relatif dekat, cuma 1-3 mil, dan di lokasi pemukiman (bukan bisnis atau jalan raya);jadi berjalan kaki masih nyaman. Tidak terbayang kalau tempat tinggal kami agak di luar kota misalnya, yang tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Waktu musim dingin dan saat sekolah libur saya sempat kelabakan mencari tempat titipan anak. Karena saya kerja di ritel, saya diwajibkan kerja saat Black Friday, dengan sangat terpaksa saya merepotkan beberapa kenalan untuk bergantian menjaga anak saya. Saya harus berada di tempat kerja pagi-pagi sekali, untung tetangga ada yang berbaik hati menjaga si anak sementara saya bisa kerja dan istirahat secukupnya.

Hal-hal yang saya ceritakan disini termasuk sepele ya…saya termasuk cukup beruntunglah. Syukur kepada Sang Pengatur Alam.

Saya sendiri tahu banyak cerita-cerita ‘yang lebih pedih’ dari teman-teman imigran Indonesia disini : suami pengekang, suami pemabuk, suami menyeleweng, suami ogah kerja, tidak dinafkahi, di bohongi pacar, bercerai tanpa penghasilan, rebutan anak. masalah kesehatan dan sebagainya…..

Tapi kata ‘Mbak Kelly Clarkson :

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fighter

Read more: Kelly Clarkson – What Doesn’t Kill You Lyrics | MetroLyrics

Atau kata Mas ‘Passenger’

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Catatan : lirik lagi diatas ceritanya lebih buat muda mudi pacaran sih ya…cuma ada beberapa bait yang pas sekali di hati …(terutama bait-bait yang saya tebalkan)

MUDIK 2015 : MENIKMATI MASAKAN INDONESIA

Untuk tulisan kali ini, mending lewat gambar saja yaaaa…

Masakan Indo yang pertama kali kulahap : Pecel

Pecel Ala MbokSelanjutnya : Bebek Cabai Hijau

049

Lalu ditraktir makan makanan Sunda sama keluarga Mbak Indri/Mas Yo, Mbak Ratna/Mas Indra

Mudik_Jan18Feb320

Masih ditraktir dengan keluarga yang sama, kami berkesempatan makan masakan laut komplit : kepiting saos padang, cumi-cumi, ikan goreng, kangkung cah…

Mudik_Jan18Feb321Balik ke Jakarta, keluarga yang sama lagi-lagi mentraktir kita makan siang di cafe Betawi di Senayan City, disini saya icip-icip Laksa dan Lontong Cap Gomeh dan es cendol

Mudik_Jan18Feb322

Waktu saya dan anak berduaan keluyuran di Grand Indonesia, di food courtnya, saya pesan nasi Padang dari Sari Ratu, sementara si kecil pesan satai kambing dari Sate Khas Senayan

Mudik_Jan18Feb323

Masih banyak lagi petualangan kuliner saya : empek-empek ditraktir si Ambon, Bakmi GM di traktir Susan dan Bona, siomay, nasi goreng kambing di traktir Erma, nasi bungkus Padang dari Sederhana, sate ayam Santa, mie ayam ditraktir Mona, sushi ditraktir Eva, masakan Cina halal di Plaza Indonesia di traktir Fitri dan keluarga.

Di hari terakhir sebelum balik ke Amrik, saya berduaan dengan anak saya mampir di Pacific Place, disitu kita makan di Seruput. Pesanan saya ndeso habis : singkong goreng, tempe mendoan, sop iga…….:-))

Mudik_Jan18Feb325

Tidak semuanya saya sempat abadikan, karena sudah kelaparan…ha….ha…ha…

Yang jelas, Alhamdulilah sekali, amat bersyukur saya memiliki teman-teman yang murah hati dan murah berbagi rejeki.

Terima kasih sekali lagi ya teman-teman semua. Semoga teman-teman semua selalu dimudahkan rejekinya dari Sang Pencipta.

MUDIK 2015: KONTEMPLASI

Hampir sebulan yang lalu saya berangkat mudik ke Jakarta, Indonesia.  Saat ini saya sudah bebas jetlag dan sudah kembali ke rutinitas sehari-hari.

Seraya saya menelurusi angka-angka di rekening bank saya, menelaah bon-bon pembelian ini dan itu, saya mau tidak mau jadi berkontemplasi akan mudik saya kemarin.

Kalau dipikir-pikir saya itu ‘bodoh’ sekali ya, beranggapan kalau anggaran $3,000 itu akan cukup untuk mudik selama 14 hari, mungkin kalau murni $3,000 tanpa termasuk pembelian tiket pesawat, ya cukup-cukup saja. Anggaran $3,000 saya itu termasuk $1,700 tiket pesawat dan $300 sewa apartemen. Jadi notabene anggaran saya itu ya cuma $1,000.

Pikir saya, kalau tho saya harus keluarkan uang lebih dari anggaran, saya bisa gunakan kartu kredit, eh ternyata kartu kredit andalan saya, American Express, jarang di terima di Jakarta. Jadilah saya harus gunakan kartu debit yang lebih terbatas uangnya. Bolak balik minta ke suami untuk transfer uang tambahan, untung suami baik hati, dan Alhamdulillah kita masih ada sedikit uang dari penghasilan dia.

Untungnya juga saya dikaruniai teman-teman yang amat sangat murah hati yang tidak henti-hentinya mentraktir saya saat kita ketemuan.

Tapi masa’ ya saya jadinya tergantung sama kebaikan hati teman-teman – ya tidak bisa dong??!!

Selain bodoh dalam anggaran, banyak lagi kebodohan-kebodohan saya di mudik ini.

Saya bodoh tentang mahalnya Jakarta -meskipun saya sudah diperingati oleh teman-teman tentang itu, saya ‘pura-pura’ bego dan nekat tetap pulang.

Saya merasa bodoh mengasumsi orang-orang tidak akan mengusili keputusan-keputusan saya untuk mudik ini

Saya juga terlalu naive beranggapan kalau semua orang akan mengerti prioritas saya di mudik ini.

Sepertinya saya harus realis, saya tidak bisa mudik dengan anggaran terbatas lagi, Saya tidak boleh paksakan diri untuk mudik seperti yang saya lakukan tahun ini, saya tidak bisa lagi segitu ‘naive’nya berfikir ‘yang penting saya pulang dulu, masalah pengeluaran dipikir nanti’.  Saya tidak mau membebani teman-teman, malu rasanya koq setiap kali ketemu ditraktir.

Bersyukurlah teman-teman Indonesia yang tinggal di Amerika dan bisa mudik setiap tahun dengan anggaran lebih dari cukup. Jujur, betapa irinya saya dengan teman-teman semua.

Tapi iri tidak membuat keadaan lebih baik tho?

Jadi lebih baik ya saya legowo saja. Keinginan mudik akan saya simpan dulu untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

004425b3a792c69eebb0d9c0dd83412c

Suka Duka Di Amrik : Pekerja Jam-Jam-an

Baru setelah berimigrasi ke Amerika, saya mengenal istilah pekerja jam-jaman dan pekerja gaji.

Pekerja jam-jaman yaitu pekerja yang dibayar berdasarkan jumlah jam yang si pekerja lakoni, ya biasanya pekerja buruhlah, seperti pegawai toko, pegawai bank,pegawai di rumah sakit, dll. Pekerja jam-an ini bisa pekerja paruh waktu, bisa juga pekerja penuh.

Karena sifatnya yang dibayar berdasarkan jumlah jam si pegawai bekerja, dari NOL jam hingga 40 jam (atau bisa lebih, tapi biasanya managemen perusahaan akan ‘ngomel’ kalau pegawai jam-jaman mereka lembur)- bayaran si pekerja ya bisa berbeda-beda setiap kali terima gaji.

Juga pekerja di haruskan mencatat saat mereka mulai kerja dan selesai kerja setiap harinya di timesheet.

Pekerja jam-jaman ini juga rentan terpotong jadwal kerjanya, terutama pekerja ritel. Kalau manager menilah penjualan pada hari itu tidak seperti yang diperkirakan, mereka harus segera memotong anggaran perusahaan yaitu dengan memotong jam kerja si pegawai yang dijadwalkan bekerja hari itu. Jadi kalau awalnya si pekerja di jadwalkan bekerja selama 4 jam, sangat mungkin kalau si pekerja yang ada cuma bekerja selama 2 jam saja.

Sementara pekerja gajian, yaitu mereka-mereka yang gajinya dihitung secara lumpsum per bulannya, dengan standar jam kerja 40 jam per minggu. Sepengetahuan saya pekerja gajian ini sebagian besar pekerja penuh, atau pekerja kontrak. Contohnya suami saya.

Sebagian besar pekerja jam-an menerima gaji setiap minggu atau setiap dua minggu sekali. Sedangkan pekerja gaji, sebagian besar di bayar setiap dua minggu sekali atau 2 kali sebulan : di awal bulan dan di tengah bulan (tanggal 15).

Saya ini termasuk pekerja buruh, alias pekerja yang dibayar per jam, gaji dibayar oleh perusahaan setiap 2 minggu sekali. Tapi karena saya bekerja di dua tempat, saya jadinya terima bayaran setiap minggu, karena jadwal terima gaji saya yang satu dengan yang lain berselisihan.

Ada enak dan tidak enaknya jadi pekerja jam-jaman.

Yang paling tidak enak itu kalau lupa masukkan waktu kerja (clock in dan clock out) dan kelewat tenggat waktu perhitungan gaji. Kenapa? Karena beberapa perusahaan sangat ketat dalam hal pembayaran gaji ini, kalau sudah lewat tenggat masukkan timesheet ya terpaksa kamu dibayar apa adanya, kekurangan jam kerja akan dibayar di gaji berikutnya.

Contohnya saya.

Waktu mau mudik kemarin, saya pikir waktu saya balik saya tetap akan terima gaji cukuplah, karena meskipun saya tidak kerja, saya sudah punya jatah liburan, yang jumlah jam libur per mingggunya boleh dibilanag sama dengan jumlah jam kerja saya kerja.

Saya pikir lagi, karena saya pekerja paruh waktu, manager saya yang harus memasukkan jumlah jam libur saya ke timesheet saya – karena kalau ada libur di kalender, manager saya yang memang harus memasukkan libur kalender itu di timesheet saya supaya saya dibayar.

Waktu kembali ke tempat kerja setelah mudik, saya panik melihat jumlah kerja saya cuma seuncril dan ternyata jam liburan saya tidak tercatat. Ternyata saya salah asumsi, sayalah yang harus memasukkan jam libur saya ke timesheet, bukan manager.

Yaaaaah….apa daya, terpaksalah saya gigit jari selama lebih dari 2 minggu!

Hadweeeh, asli sengsara, karena berarti saya tidak bisa membayar tagihan ini itu seperti yang sudah saya jadwalkan.

Untunglah cuma saya yang pergi berlibur dan suami tidak ikutan, karena berarti kita  masih ada penghasilan dari suami yang bisa bantu untuk hidup sehari-hari…………..

Phew!!??!!

Mudik 2015 : Rencana vs Realita

Di mudik 2015, Saya banyak rencana, selain memenuhi 4 tujuan utama yang saya tulis di tulisan sebelumnya, saya kepingin sekali membawa anak saya ke beberapa tempat jalan-jalan yang khas Jakarta: Kidzania, Taman Safari, Taman Budaya Sentul, WaterBoom, Taman Mini.

Maklum, kesempatan mudik buat keluarga kami itu LANGKA dalam arti kami tidak setiap tahunnya bisa mudik seperti kebanyakan teman-teman lain. Lah terakhir mudik saja itu di tahun 2006, jadi saya realistis saja kalau kenyataannya kami tidak selalu bisa pulang. Memang begitu a koq kenyataannya, mau diapakan lagi? masa mau minta dibayarin orang? Nah Saya inginnya di kesempatan pulang ini, anak saya bisa melihat Jakarta dan sekitarnya sebanyak mungkin.

Berhubung saya sudah bekerja, saya hanya bisa cuti selama 14 hari (bukan sebulan seperti M06) dan anggaran saya TERBATAS. Jadi saya harus pikirkan masalah transportasi dan waktu saya yang relatif sempit.

Sebulan sebelum saya berangkat, saya sudah rencanakan dimana saya tinggal. Rencana saya ini memang tidak semua orang tahu (memang harus ya semua orang tahu???? heh???), tapi secara garis besar saya beritahukan lokasi saya ke orang-orang yang secara langsung terlibat – yaitu mereka yang menjemput saya, mereka yang tempat tinggalnya saya tinggali, dan mereka yang mengajak untuk bertemu dengan saya. 

Sementara rencana akan kemana saya setiap harinya, ya cuma saya ya yang tahu dan mereka yang bertanya langsung kepada saya apa rencana saya. (menurut saya tidak penting ya untuk memberitahu rencana saya ke semua orang, kesannya saya sok penting sekali ah!!)

Well, beberapa rencana saya untuk anak saya tidak terealisasi, kasihan juga si kecil yang sedih karena harus menuruti jadwal yang sama sekali berbeda dengan yang saya rencanakan untuk dia. Kami tidak pergi ke Taman Safari, Taman Mini, Taman Budaya ataupun waterboom.

Lucunya, mereka-mereka yang dengan senang hati mengubah rencana saya ini tidak memberikan alternatif hiburan untuk anak saya. Jadilah saya yang harus pontang panting atur waktu saya ‘seadil-adilnya’ untuk semua pihak yang terlibat.

Tapi yang jelas, 4 tujuan mudik saya terpenuhi , dan anak saya tetap bisa bergembira di mudik ini.

Ibu saya berkesempatan ditemani cucunya, Saya dan anak saya menyekar ke makam Ayah,

Mudik_Jan18Feb3

anak saya bisa bermain di Kidzania,

Mudik_Jan18Feb33

berenang di pantai laut Jawa (Anyer), dan beberapa kali di kolam renang di apartemen (meskipun bukan di waterboom),

Mudik_Jan18Feb32

berkenalan dan bermain dengan anak-anak teman-teman saya,

Collages27

dan saya bisa bertemu teman-teman baik saya.

Mudik_Jan18Feb34-004

Tuhan Maha Baik koq.

Mudik 2015 : Cerita Teman SMA

Di mudik saya ke Jakarta bulan Januari lalu, saya tidak sengaja bertemu dengan teman SMA saya. Tambah cantik dan langsing dia, tapi gaya bicaranya masih seperti yang saya ingat di jaman SMA. Jadilah kita sibuk ngobrol ngalor ngidul.

Dari hasil ngobrol dengan teman Saya ini, banyak pelajaran yang saya ambil dan terus terang Saya salut sekali dengan dia.

Agak mirip dengan kondisi Saya, kedua orang tua si teman juga sudah menua. Seperti halnya ibu saya, ibu si teman juga sempat terkena stroke ditambah penyakit lainnya yang cukup parah. Kalau saya hanya berdua dengan kakak laki-laki saya, dia hanya berdua dengan kakak perempuan dia.

Teman saya ini bercerita bagaimana proses dia memutuskan untuk menjadi tulang punggung orang tuanya. Dia mengakui kalau sempat ada waktu dimana dia mengacuhkan kondisi keluarganya dan tidak mau peduli.

Tapi akhirnya dia sadari kalau kenyataannya dialah yang diberikan rejeki oleh Yang Maha Kuasa untuk merawat orang tuanya.

Dia menyadari kalau tidaklah adil untuk meminta anggota keluarga lain untuk merawat sementara kitanya tidak mau melakoni sendiri.

Dan itu bukanlah karena yang bersangkutan tidak mau bertanggung jawab atau lepas tangan, tapi karena sejujurnya tidaklah mudah untuk seseorang hidup selama 24 jam sehari semata-mata mengurus orang tua.

Teman saya ini membuka hatinya untuk mengerti dan menghargai kejujuran dan kenyataan di sekelilingnya.

Terus terang , untuk saya itu adalah hal yang tersulit.

Tidaklah mudah untuk siapapun, dimana kita harus ikhlas dengan kenyataan, dimana kita harus membulatkan hati untuk menjadi pihak yang MAMPU mengatasi keadaan. Bahwa dia harus mengobarkan banyak hal-hal pribadi, dia ikhlaskan tanpa dia merasa marah dengan siapapun.

Karena teman saya ini tahu, bahwa marah tidak akan membuat hal menjadi lebih baik ;bahwa dia harus menjadi DEWASA dan legowo.

Terima kasih SS untuk berbagi ceritamu ke aku.

Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi nanti.

Mudik 2015 vs Mudik 2006

Terakhir saya mudik ke Jakarta itu di tahun 2006, alias sudah 8 tahun lebih saya tidak mudik.

Tulisan ini bukan mau cerita kenapa saya baru bisa mudik sekarang, tapi iseng-iseng mau lihat perbedaan mudik saya di tahun 2006 dan mudik 2015.

Persamaan M06 dan M15 (seperti kode penting saja layaknya..he….he…he..), saya mudik berdua dengan anak saya, suami tidak ikutan – maklum anggaran terbatas.

Waktu itu anak saya berumur kurang dari 1 tahun, sekarang anak saya usia 9 tahun. Boleh dibilang anak saya tidak ingat apa-apa tentang perjalanan ke luar negeri pertama dia, sementara di M15 anak saya sangat ‘aware‘ kalau dia akan mengunjungi negara ‘asing’ yang amat sangat berbeda dengan negara kelahirannya.

Waktu M06 saya tidak terlalu pusing kepala mengenai siapa yang akan menjemput kita berdua di bandara.

Di M15, terus terang saya tidak PD untuk menggunakan jasa taksi saat kedatangan, meskipun tahu kalau saya harus pakai taksi tertentu, tapi karena kedatangan saya yang tengah malam, bawa anak yang pasti teler, bawa koper segambreng, saya akan pulang ke tempat yang sama sekali baru (bukan ke rumah orang tua yang dulu saya tinggali), saya keder kalau-kalau si taksi yang aman dan bereputasi baik belum tentu tersedia, juga ada ketakutan akan nyasar tidak jelas. Paranoid lah intinya.

Tapi saya amat beruntung karena banyak teman-teman yang menawarkan bantuan untuk menjemput saya di bandara. (Terima kasih amat banyak untuk Bona Ray, Mona B, Krisna K, Eva D yang sudah menawarkan bantuan untuk diriku di hari pertama!)

Dari sekian banyak teman-teman yang menawarkan bantuan, memang Tuhan Maha Baik ya, ada teman di Louisville (terima kasih banyak Jeng Rini M), yang ibunya baik sekali bersedia menjemput di bandara. Puih. Lega rasanya.

Perbedaan lainnya, kalau di M6 si anak di keloni sama ayah dan ibu, kali ini anak saya cuma bisa ketemu dengan Eyangnya, yaitu ibu saya. 😦

Sampai detik ini anak saya masih suka celetuk ‘Mom, I wish Kaik is still alive’ (kaik – kakek dalam bahasa Banjar). 

Nah, terus terang keluarga kami bukan keluarga yang sangat berada, dan juga beberapa kali keluarga kami di terpa musibah dan baru satu tahun belakangan ini keluarga kami mulai bisa berbenah dan bangkit dari kesulitan.  Artinya kami tidak akan selalu bisa mudik ke Indonesia setiap tahun.

Karena alasan itulah saya harus berpikir realistis di mudik saya kali ini ; dalam arti saya harus berpikir masalah anggaran yang akan saya belanjakan dan waktu yang akan saya gunakan.

Tujuan mudik saya kali ini ada 4 :

  1. Menengok Ibu yang sejak terkena stroke di tahun 2010

  2. Menengok makam ayah yang meninggal di bulan April 2014

  3. Mengenalkan anak ke tempat kelahiran saya

  4. Bertemu teman-teman baik saya

Kalau di M06 saya tinggal di rumah orang tua di lokasi Cibubur, M15, saya akan tinggal di dua tempat, yaitu di tempat tinggal ibu saya itu di Parung :50 kilometer lebih jauh ke arah Bogor dari Cibubur dan di apartemen di tengah kota Jakarta.

Apa gitu pertimbangannya?

Yang jelas saya tidak bisa lagi mengandalkan orang tua seperti saat M06. Tidak bisa mengharap akan di jemput, tidak bisa mengharap akan diantar kesana kemari. 

Berarti saya akan banyak mengandalkan jasa transportasi umum, yang dalam hal ini : taksi.

Logikanya saya akan bawa anak saya melihat ini dan itu, bertemu teman-teman yang memang sudah meminta untuk bertemu dari jauh-jauh hari, akan berat di ongkos kalau saya tinggal di tempat tinggal Ibu selama 2 minggu penuh saya di Indonesia – diperlukan ongkos taksi Rp. 1,000,000 pulang pergi dari Parung ke pusat kota Jakarta.

Kenyataannya tidak ada donor yang mau membayari ongkos saya pulang pergi Parung-Jakarta, dan kenyataannya saya tidak akan sanggup membayar ongkos PP sebesar 1 juta selama 14 hari saya tinggal di sini, maka saya putuskan untuk tinggal di tengah kota di minggu kedua saya mudik.

Banyak rekan-rekan yang bertanya-tanya soal keputusan saya memilih tinggal di apartemen.

Well, terus terang saya bingung juga, wong keputusan saya tidak melibatkan orang lain, kecuali anak saya dan suami saya, tapi koq banyak yang ribut ya???

Menghitung Hari Mudik Ke Jakarta! – Proses Menabung Dan Menuggu

Setelah 8 tahun tidak bertemu dengan keluarga di Jakarta (termasuk tidak bisa menghantar almarhum Ayah ke tempat peristirahatan terakhir beliau), Insha ALLAH saya dan anak akan mudik ke Jakarta selama 2 mingguan bulan Januari 2015!!

Terus terang anggaran mudik ini amat sangat ‘ketat’, sejak Ayah meninggal di bulan April 2014, saya mulai menyisihkan uang bonus hasil kerja saya. Untuk perjalanan mudik saya kali ini anggaran saya itu $3,000 alias pas-pasan. Ha…ha…ha. Yang penting tiket terbeli dulu deh!

Di Amerika, saya kerja di perbankan paruh waktu. Artinya saya hanya kerja 26 jam per minggu. Kalau hanya mengandalkan penghasilan kerja saya, setelah di potong asuransi kesehatan, terus terang akan lama sekali untuk saya bisa mengumpulkan uang untuk mudik. Minta dibayarin suami juga koq tidak mungkin ya? satu karena penghasilan suami ya untuk bayar tagihan dan keperluan sehari-hari dan kedua saya orangnya males ‘ngerepotin’ orang lain, meskipun itu suami sendiri. Ketiga…suami tidak ada extra uang juga….ha…ha…ha.

Tapi untunglah di tempat kerja ini pegawai ada kesempatan untuk mendapat bonus dari hasil penjualan produk.

Nah disinilah saya kerja mati-matian. Bonus ini dibayar setiap 3 bulanan. Yang nyebelin, meskipun saya berhasil mengumpulkan bonus hingga $500 misalnya, pajak bonus ini juga lumayan besar : 40%. Jadi bonus ini terus terang sering kali ‘tidak berarti’ apa-apa.

Jadi saya putuskan, saya acuhkan itu pajak, setiap kali saya dapat bonus, saya langsung kurangi total jumlah pendapatan saya dengan gaji saya sehari-hari tanpa bonus.

Saya juga rajin melihat-lihat harga tiket pulang. Sempat ada tiket murah (dibawah $1,000) beberapa minggu setelah Ayah meninggal, sayangnya saat itu paspor saya sudah habis masa berlakunya dan harus menunggu 3 minggu hingga paspor selesai. Yang ada waktu paspor saya sudah diterima ditangan, harga tiket sudah melonjak lagi, karena sudah masuk masa liburan sekolah anak-anak. Dan terus terang saya tidak mampu untuk beli tiket saat harga sudah diatas $1,000, karena saya akan bawa anak saya mudik bareng.

Jadilah saya harus menunggu lagi. Saya pikir kalau memang rejeki, akan ada tiket murah lagi yang saya mampu beli.

Kuartal ketiga 2014, saya lumayan dapat bonus cukup bagus dan waktu lihat tiket, ada tiket murah di bulan Januari dari situs ini. Harga tiket per orang jatuhnya $800++ (total) dan waktu tunggu antara pesawat yang satu dengan yang lain cuma 3 jam.

Pikir punya pikir, tiket harga sekian kayaknya akan jarang-jarang nongol, jadiah saya putuskan untuk beli. Alhamdulillah ada anggarannya.

Nah, ada dua hal yang harus saya korbankan dalam rangka mudik saya kali ini. Yang pertama adalah hari-hari sekolah anak saya. Di perjalanan mudik ini dia akan kehilangan 11 hari sekolah. Apa boleh buat, pilihannya tiket murah di hari sekolah atau tiket mahal di hari libur, terpaksa saya harus pilih yang pertama.

Yang kedua jatah liburan dibayar (paid vacation) saya. Berhubung saya pekerja paruh waktu, jumlah liburan saya itu tergantung dari jumlah jam kerja yang saya lakoni tahun sebelumnya.  Rata-rata pekerja paruh waktu mendapat 7-14 hari libur dibayar.

Tahun 2014 jam kerja saya tidak sebanyak tahun 2013, hitungan kasar, saya pasti dapat seminggu liburan di bayar, tapi teman-teman tahu sendiri dong, kalau pergi internasional, seminggu tidak berasa apa-apa. Minimal harus 2 minggu, paling enak ya sebulan.  Apa boleh buat, saya kudu ambil libur tidak dibayar alias unpaid vacation. 

Artinya balik-balik dari Indonesia, siap-siap melihat rekening agak-agak kosong melompong…..:-)

Ya tidak apa-apa, Insha ALLAH adalah rejeki setelah pulang.

Sekarang saya lagi bingung……mau bawa uang tunai berapa ya??