suka duka

Mari Belajar Berkemah : Tempat Perkemahan

Tempat Perkemahan atau camping ground secara umum bisa dibagi dua :

  • Yang di kelola pemerintah : US Forest Service, US National Park
  • Yang dikelola swasta : KOA, Yogi Bear, Black Forest dll

Yang dikelola pemerintah biasanya berada di dalam taman/hutan itu sendiri, sementara yang di kelola swasta biasanya berada di luar taman/hutam alam , sekitar 15 mil – 30 mil.

Harga antara kedua tempat perkemahan tidak terlalu beda, terakhir kami pesan tempat untuk dua malam di tempat perkemahan pemerintah itu $58, sementara di perkemahan swasta $64.

Dua-duanya bisa di pesan online.

Tempat perkemahan yang dikelola swasta biasanya lebih banyak pilihan : tenda, mobil kemping pribadi, kabin, atau sewa camper dari mereka. Dan kemungkinan tersedia lebih banyak fasilitas tambahan seperti kolam berenang, ruang bermain, lapangan rumput terbuka, tempat cuci baju, kamar mandi lengkap (bukan cuma WC tapi ada buat mandi juga)

Semenara tempat perkemahan pemerintah biasanya cuma dua pilihan : tenda atau camper. Kalau pilih tenda siap-siap tidak ada listrik dan air di lokasi kemah.

Dan tidak semua perkemahan pemerintah ada kamar mandi lengkap, lebih sering perkemahan pemerintah tidak tersedia fasilitas untuk mandi. Untuk mandi kita harus pergi ke lokasi lain. Jadi siap-siap untuk tidak mandi selama kemping!

Pertama-tama, saya kaget juga ya…gimana tho tidak mandi 2 hari???? yang ada saya pakai bandana untuk sembunyikan rambut saya yang sudah tidak karuan bentuknya! 😉

Kalau tidak tahan untuk tidak mandi lebih dari satu hari, bisa pakai sampo khusus kemping – sampo tanpa bilas. 

Saya sendiri pernah memakainya, lumayan, agak ‘segar’ sedikit…..;-)

Di perkemahan pemerintah, ada istilah perkemahan primitif – nah, kalau ada kata ‘primitif’ itu artinya kamar mandinya kamar mandi tipe cemplung, bablas langsung tanpa air (baik untuk cuci tangan atau air untuk bilas kotoran!!). Kalau yang tipe ini mah terus terang saya ogah, yang ada stres duluan karena tidak akan bisa lakukan #2. Dan kalau toh harus memakai fasilitas primitif, saya yang ada bawa semprotan ruang yang berbau netral, jadi saya kudu semprot dulu itu toilet sebelum masuk.

Di setiap negara bagian, aturan tempat perkemahan bisa berbeda-beda, tergantung bagaimana pemerintah lokal mau menanganinya.

Contoh : di perkemahan di propinsi-propinsi bagian barat Amrik, sudah umum terlihat larangan untuk tidak meninggalkan sisa makanan di lokasi tenda. Pemakai tenda di haruskan membersihkan meja piknik tempat makan sebersih mungkin!

Kami bahkan pernah kemah di mana pengunjung harus menggunakan shelter tertentu untuk makan – tidak boleh sama sekali makan di lokasi tenda kita berada. Alasannya sama, yaitu untuk menghindari binatang-binatang liar (beruang terutama) berkunjung dan sibuk mengendus-ngendus tenda anda.

Dan sampah makanan harus disimpan dimobil atau di buang ke tempat sampah yang sudah ditentukan – dan si tempat sampah ini boleh dibilang ‘terkunci’ – untuk mencegah binatang liar membuka dan mengambil sisa makanan.

Jangankan sisa makanan, tidak usah heran kalau melihat ada larangan untuk tidak meninggalkan benda-benda yang memiliki aroma harum seperti : bedak, penghalus kulit, parfum, deodoran di tenda- karena kemungkinan binatang-binatang liar bisa mencium barang-barang tersebut dan tertarik untuk mengambilnya.

Tempat perkemahan terakhir itu kita tidak boleh mencuci peralatan masak di lokasi. Sebetulnya aturan ini tidak baru sih, cuma kalau dibanding dengan tempat perkemahan lainnya yang pernah kita inapi, perkemahan ini ‘kelihatannya’ cukup ‘memadai’ fasilitasnya : bisa beli kayu api unggun di pintu masuk lokasi, bisa beli es (jarang-jarang perkemahan pemerintah ada fasilitas ini!!!)

Tapi ternyata dalam hal pembuangan sisa makanan, perkemahan ini tetap tidak ‘modern’. Padahal saya sudah bawa sabun cuci biodegrable! jadilah terpaksa air cucian ditampung dulu, untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Berabe juga ya?

Intinya memang kalau kita berkemah itu, kita meminimalkan menggunakan bahan-bahan modern, selain untuk ‘mempertahankan’ keaslian dan keasrian lingkungan alami juga untuk meminimalkan efek kimia ke alam dan binatang-binatang liar di lokasi dan mengurangi polusi.

Gimana? Masih mau kemping? 😉

 

 

 

Bertemu Kembali Dengan Teman

Saya ini orangnya boleh dibilang pemalas sosial – bukan anti, cuma malas. dan agak sulit berteman. Kalau ada acara hura-hura dari tempat kerja, saya jarang (atau boleh dibilang tidak pernah) datang.  Kenapa? Pada dasarnya saya cenderung pemalu (kurang PD gitu) dan kurang gaul lah istilahnya.  Kagok kalau harus ketemu orang-orang baru. Bingung mau ngobrol apa ya?

Tapi di sisi lain saya menyadari kalau ‘bertemu orang baru’ dan berteman itu penting buat ‘mental’ dan pergaulan, jadi sering kali saya harus paksakan diri untuk datang ke acara ngumpul dengan teman-teman, meskipun kedernya minta ampun.

Selain kuper, saya orangnya juga sentimental dan agak terlalu berpengharapan tinggi sama orang lain. Gara-gara pengalaman kurang mengenakkan hati, saya tambah menarik diri untuk ‘bergaul’. Bukan sekali dua kali saya semangat mau berkenalan/ketemuan dengan teman baru/lama, tapi di tanggapi dingin saja atau malah dicuekin. Jadilah saya agak-agak ‘patah hati’ dalam hal ‘bergaul’ ataupun bertemanan secara umum.

Justru karena pengalaman kurang mengenakkan yang saya alami, saya jadi amat menghargai usaha teman-teman yang menyisihkan waktu mereka untuk menyempatkan diri ketemuan dengan saya.

Di tahun 2009, kenalan saya waktu stres di kedutaan besar Amerika menunggu proses visa, menyempatkan mampir di kota saya waktu dia dan pasangan ber-road trip ria ke negara-negara bagian di sekitar negara bagian saya. Waktu itu saya tinggal di kota kecil di Montana; Montana sendiri negara bagian yang kurang ‘beken’ lah dan kurang menarik (kecuali kamu senang dengan alam), tapi tho, teman saya ini bela-belain mau ketemuan dengan saya. Dia sendiri tinggal di negara bagian Texas. Kebayang kan lumayan jauh deh!

Awal tahun 2012, kami hampir akan pindah ke negara bagian Texas, di situ saya sempat ketemuan teman waktu sama-sama di Ohio. Masih di tahun 2012, teman saya lainnya dari Ohio memasukkan Kentucky di dalam rute perjalanannya.

Hari Senin lalu, lagi-lagi teman waktu di Ohio menyempatkan diri untuk ketemu saya di perjalanan liburannya menyusuri Ohio dari utara ke selatan.

Senang? Banget!

Meskipun cuma 1-3 jam dan kondisi kadang kurang mendukung (suami barusan kehilangan kerja, saya tidak enak badan, atau hujan turun dengan derasnya saat kami ketemuan) tapi saya amat menghargai teman-teman saya ini bersedia mampir untuk ketemuan dengan saya.

Saat-saat senang seperti inilah yang membuat saya bersyukur akan pertemanan kami dan bisa mengacuhkan pengalaman pahit dengan teman lain.

Yang jelas saya jadi sadar kalau waktu, jarak ataupun frekuensi pertemuan tidak menjamin awetnya pertemanan kita. Seperti kata pepatah dari internet yang saya pinjam :BtjTSCxCIAI6__E

 

Terima kasih ya Dini, Vania, Rai dan Suli+Joe sudah repot-repot mau ketemuan! Mudah-mudahan kita bisa ketemuan lagi ya!

2015-12-31

 

 

Realita : Pasangan Pecandu Alkohol

Tulisan saya kali ini mungkin akan mengundang kontraversi dari pembaca blog saya. Setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk membuka diri tentang masalah yang saya alami dengan pasangan bule saya. Kenapa putuskan untuk blak-blakan di forum umum? Koq aib dibuka-buka sih? begitu mungkin pikiran teman-teman sekalian.

Saya buka aib karena saya mau pembaca belajar dari pengalaman saya.

Bukan rahasia lagi kalau budaya sebagian besar orang Amerika adalah mengkonsumsi alkohol. Ulang tahun ke 21 seseorang sering kali ditandai dengan pergi ke bar dan minum minuman beralkohol hingga mabok – karena di sini umur 21 adalah umur legal seseorang boleh mengkonsumsi minuman beralkohol.

Itu yang saya pikir di awal-awal waktu melihat kebiasaan pasangan mengkonsumsi alkohol.

Saya sendiri dibesarkan secara Islam, dimana mengkonsumsi miras adalah haram. Jadi saya boleh dibilang tidak pernah minum sebelum saya hijrah ke Amrik. Sampai sekarang  pun saya belum pernah mabok atau melihat dengan kepala sendiri orang lain mabok. Kalau toh saya minum, itu cuma sekali sebulan (belum tentu) dan lebih karena saya ingin tidur nyenyak (karena entah kenapa minuman beralkohol membuat saya ngantuk)

Setelah 10 tahun tinggal bersama, baru akhir-akhir ini saya kejeduk dan dengan berat hati mengakui kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol, bahwa pasangan saya menderita penyakit dan penyakit itu namanya penyakit mencandu alkohol.

Apa bedanya mereka yang hanya mengkonsumsi alkohol dalam batas-batas tertentu dengan mereka yang ‘menderita’ penyakit?

Bedanya adalah kebiasaan si pecandu bukan hanya memberikan pengaruh buruk ke si pecandu saja, tapi sudah jadi melebar ke orang-orang terdekat si pecandu.

Setiap malam pasangan pergi membeli minimal 6 kaleng bir, sering kali ditambah dengan satu botol bir ukuran besar. SETIAP MALAM.

Dulu itu, bodohnya saya, saya pikir kaleng-kaleng yang bergelimpangan di ruang TV cuma itulah yang dia konsumsi malam itu. Salah besar.

Yang aneh dengan pecandu, mereka ‘tahu’ mereka tidak seharusnya minum sebanyak yang mereka minum. Jadi mereka ‘pura-pura’ hanya meminum sekian banyak kaleng di depan ‘umum’ tapi di belakang mereka minum lebih banyak lagi.

Di ruang kerja pasangan, dijamin saya akan menemukan banyak lagi kaleng maupun botol bir kosong bergelimpangan.

Bukan satu dua kali dia menghabiskan botol liquor keras ukuran besar dalam semalam. (catatan sebutan liquor adalah minuman dengan kadar alkohol lebih tinggi dibanding dengan bir, contohnya wiski, martini)

Berbulan-bulan Bertahun-tahun saya masih dengan naivenya menganggap hal ini ‘cuma’ Kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.

Pikiran saya berubah sejak saya memperhatikan perilaku pasangan setelah minum sekian banyak alkohol.

Tablet saya di hantam ke lantai. Kabel komputer saya di gunting. Saya di kata-katai dengan pedasnya.

Begitu saja, tanpa perasaan menyesal keesokan harinya.

Masih tidak mengerti, saya diajak masuk ke grup Alnon di FB oleh kakak ipar saya dari pihak pasangan – yang juga menghadapi kecanduan alkohol pasangannya.

Disinilah awalnya saya menyadari kalau saya menghadapi seorang dengan penyakit kecanduan, bukan hanya seorang dengan kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Saya tidak lagi mampu untuk cuma menghela napas setiap kali melihat botol atau kaleng bir kosong di kamar kerja.

Saya harus mencari bantuan. Bukan cuma bantuan teman yang mendengar keluh kesah saya, tapi bantuan profesional.

Karena saya sadari sepenuhnya kalau saya tidak mengerti bagaimana menghadapi situasi ini dan jika saya mau survive, saya harus tolong diri saya sendiri terlebih dulu.

Saat ini saya berkonsultasi dengan seorang terapist untuk membantu saya konsentrasi untuk terperosok ke lingkaran ‘setan’ yang lebih dalam. (seperti halnya ‘penyakit’, penyakit kecanduan alkohol bisa menular ke orang lain / merusak orang lain)

Saya juga mau memberanikan diri untuk datang ke pertemuan Alnon – mirip AA (alcohol anonymous) – tapi ini adalah mereka-mereka yang bukan peminum tapi ‘terjerat’ di kekacauan yang dipicu oleh mereka yang menderita penyakit alkohol.

Doakan semoga mental saya dikuatkan untuk menghadapi penyakit ini.

Tantangan, Rintangan, Kendala, Masalah

! Apa2 susah! ini susah! Itu susah! kamu malah gaK pulang2! punya empati gak?’

Wuih sakit hati rasanya saat terngiang-ngiang cercaan diatas. Bukan rahasia lagi kalau asumsi sebagian besar teman-teman di tanah air, hidup kami – imigran Indonesia – di Amerika itu TIDAK PERNAH SUSAH.

Untuk sebagian besar orang, sulit untuk ‘percaya’ kalau kita-kita yang tinggal di Amerika juga mengalami kesulitan, menghadapi tantangan, masalah, kendala di hidup kita sehari-hari

‘Kamu kan tinggal di Amerika?!!’ – komentar seperti ini ‘lumrah’ di dengar, seakan-akan imigran Indonesia di Amerika pastinya kebal dengan masalah, rintangan, kendala dsb.

Kenyataannya seperti teman-teman yang tinggal di manapun di belahan dunia, kita-kita ya menghadapi masalah juga, dari masalah sepele :  bagaimana caranya berwara wiri sehari-hari sementara tidak ada mobil dan tidak ada transportasi umum, hingga masalah mencari perlindungan hukum.

Dan tidak sedikit, masalah yang dialami imigran lebih ‘berat’ dibanding mereka-mereka yang tinggal di negara asal.

Gimana gitu lebih beratnya?

Karena banyak dari kita-kita yang disini itu benar-benar soragan wae, tanpa sanak saudara dan tidak punya ‘bekal’ cukup (pendidikan, pengalaman kerja, ketrampilan, kemampuan berbahasa Inggris dan lain sebaginya).

Waktu kita bermigrasi ke Amerika, sebagian besar diawali dengan ‘mimpi indah’ :suami bule, asik sekarang tinggal di luar negeri.

Sebagian besar dari kita beruntung karena mimpi indah menjadi kenyataan yang indah juga, suami tajir, selalu dibawa jalan-jalan, dibelikan barang-barang mewah tanpa harus kerja, mau beli apa juga tinggal tunjuk, mudik setiap tahun tidak perlu ditanya, sebagian lagi mimpi indah menjadi mimpi kurang indah…..

Pengalaman saya sendiri sih relatif tidak heboh ya, meskipun banyak kurang indahnya juga….

Gimana gitu kurang indahnya?

Coba saya ceritakan sedikit ya…

Suami saya, kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dia punya  2 adik, tapi 1 sudah meninggal dunia juga.

So what?

Tadinya saya juga pikir begitu, baru ‘ngeh’ beratnya waktu sedang hamil, melahirkan dan bulan-bulan pertama setelah si kecil hari.

Kalau teman-teman lain banyak yang bisa minta bantuan ayah, ibu, mertua, kakak, adik untuk jagain waktu lahiran, waktu minggu-minggu pertama, saya ya kudu lakoni sendiri.

Pernah saya menggigil karena keletihan, tapi tetap harus terbangun karena si bayi ini rewel sementara suami belum pulang.

Contoh lainnya.

Kemarin di tempat kerja saya ditelpon sekolah anak, si kecil panas. Panik? Jelas. Yang jelas cuma saya dan suami yang bisa menjemput anak kami. Saya masih beruntung karena pekerjaan suami itu lebih fleksibel dan bisa dikerjakan dari rumah dan saya pekerja paruh waktu, jadwal kerja saya cenderung pendek, jadi salah satu dari kami bisa ngacir untuk menjemput anak kami. Tapi ini bukannya tanpa resiko, beberapa tempat kerja sangat ketat dalam urusan ketidakhadiran, kalau pekerja di anggap tidak produktif karena banyak ‘berhalangan’, perusahaan bisa dengan mudah mendepak pekerja yang bersangkutan.

Sekali lagi, beberapa teman-teman cukup beruntung karena bisa menjadi ibu rumah tangga penuh dan tidak harus bekerja, atau punya pasangan yang punya bisnis sendiri, jadi tidak terlalu riweh dalam urusan anak sakit di sekolah,  tapi tidak untuk keluarga kami.

Contoh lagi.

Di tahun 2009, suami saya kehilangan pekerjaan. Jantung saya serasa mau ‘berhenti’ waktu dia masuk rumah dengan pandangan suram dan memberitahukan saya berita tentang dia kehilangan pekerjaan.

Panik. Jelas. Bingung? Pasti.

Di pikiran saya waktu itu :

  1. Angsuran rumah bagaimana kami bisa bayar? bagaimana kalau rumah tidak terbayar? mau tinggal dimana kami?
  2. Anak kami masih umur 3 tahun, masih butuh ke dokter secara rutin, asuransi dari mana?

Hari itu juga, saya langsung menghadap ke HR tempat kerja dan Alhamdulillah sekali ada lowongan penuh waktu yang langsung Saya bisa lamar.

Hari berikutnya Saya langsung ke county office untuk mengajukan lamaran asuransi pemerintah untuk keluarga. Ditolak, karena dianggap kami masih memiliki 2 aset utama: mobil dan rumah, tapi untungnya asuransi untuk anak bisa kita dapatkan, karena untk asuransi anak, hanya dilihat dari penghasilan dan bukan dari aset, dan saat itu keluarga kami dianggap kategori kurang berada.

Selama 1 tahun lebih boleh dibilang Saya jadi tulang punggung keluarga, masih beruntung suami mendapat asuransi pekerja (unemployment insurance) yang jumlahnya pas dengan angsuran rumah kita, sementara hidup sehari-hari kami harus mengandalkan penghasilan mingguan dari pekerjaan saya (pramuniaga di department store)

Tidak bohong kalau saya harus jual perhiasan emas yang saya bawa dari Indonesia dan menjual barang-barang ini itu untuk menyambung hidup. Consignment store, craiglist jadi ‘teman akrab’ saya. Setiap ada tambahan waktu kerja, saya coba ambil supaya bayaran saya bisa berlebih.

Waktu itu saya tidak langsung memberi tahu orang tua di tanah air, baru setelah beberapa bulan, saya beritahu mereka.

Saya ingat sekali di hari-hari itu (dan hingga saat ini) saya selalu mengkhayal andai orang tua saya dekat, pasti mereka akan bantu kami……

(tidak sedikit keluarga Amerika lainnya mengalami hal yang mirip (kadang lebih parah) dengan yang saya alami, bisa dibaca di http://finance.yahoo.com/news/achieved-american-dream-awful-040000718.html)

Di tahun 2010 dan 2012, Saya dan suami sempat tinggal berlainan tempat karena kerja.

Pertama kali kita berpisah, kami hanya memiliki satu mobil, yang pastinya harus dibawa suami, jadilah saya mengandalkan sepeda dan trailer untuk transportasi saya dan si kecil. Tidak masalah, KECUALI waktu hujan turun dengan derasnya saat saya menjemput anak dari sekolah.

Basah kuyup.  Anak kami waktu itu baru berumur 3 tahun, saya ingat bagaimana saya memakaikan jaket hujan, kain terpal dan selimut untuk melindungi dia dari hujan. Jarak dari sekolah ke rumah yang cuma 1 kiloan, terasa jauh dan berat sekali karena harus ditempuh ditengah-tengah hujan yang amat derasnya. Terus terang waktu itu Saya cuma bisa menangis karena kasihan melihat anak kebasahan dan kedinginan dan saya merasa bersalah karena ‘membiarkan’dia kehujanan.

Kedua kali kita berpisah, kondisi kami sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Suami mampu menyewa mobil baru untuk dia di tempat baru, sementara saya boleh memakai mobil lamanya.

Dilalah.

Setelah selesai mentor di sekolah anak, saya rencana menghabiskan waktu di pertokoan dekat sekolahnya sebelum waktunya menjemput si kecil lagi.

Di jalan, tiba-tiba mobil ngadat, mesin berhenti sama sekali, untung sudah dekat dengan tempat tujuan! Dengan nekat dan berharap dari sisa energi mesin mobil,  saya berhasil mengarahkan mobil ke arah tempat parkir. Belum sempat masuk ke parkiran, mobil berhenti total.

Nekat saya keluar dari mobil untuk coba mendorong mobil ke tempat yang lebih sepi, yah tidak kuat lah yaw! untung ada pengemudi lain yang melihat saya kesusahan dan dia tanpa sungkan-sungkan membantu saya mendorong mobil. Lalu sekarang bagaimana? saya harus menjemput anak saya? coba telpon salah satu kenalan, dia ternyata tidak ada di kota, ya sudah, jadilah saya jalan kaki ke sekolah si anak. (catatan : di kota tempat saya tinggal dulu itu, sarana taksi terbatas, waktu tunggu bisa 1 jam lebih)

Menghayal lagi…’ah…andai ayah ibu ada disini’.

Tapi untunglah kami dulu itu tinggal di kota kecil, jarak dari satu tempat ke rumah kami relatif dekat, cuma 1-3 mil, dan di lokasi pemukiman (bukan bisnis atau jalan raya);jadi berjalan kaki masih nyaman. Tidak terbayang kalau tempat tinggal kami agak di luar kota misalnya, yang tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Waktu musim dingin dan saat sekolah libur saya sempat kelabakan mencari tempat titipan anak. Karena saya kerja di ritel, saya diwajibkan kerja saat Black Friday, dengan sangat terpaksa saya merepotkan beberapa kenalan untuk bergantian menjaga anak saya. Saya harus berada di tempat kerja pagi-pagi sekali, untung tetangga ada yang berbaik hati menjaga si anak sementara saya bisa kerja dan istirahat secukupnya.

Hal-hal yang saya ceritakan disini termasuk sepele ya…saya termasuk cukup beruntunglah. Syukur kepada Sang Pengatur Alam.

Saya sendiri tahu banyak cerita-cerita ‘yang lebih pedih’ dari teman-teman imigran Indonesia disini : suami pengekang, suami pemabuk, suami menyeleweng, suami ogah kerja, tidak dinafkahi, di bohongi pacar, bercerai tanpa penghasilan, rebutan anak. masalah kesehatan dan sebagainya…..

Tapi kata ‘Mbak Kelly Clarkson :

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fighter

Read more: Kelly Clarkson – What Doesn’t Kill You Lyrics | MetroLyrics

Atau kata Mas ‘Passenger’

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Catatan : lirik lagi diatas ceritanya lebih buat muda mudi pacaran sih ya…cuma ada beberapa bait yang pas sekali di hati …(terutama bait-bait yang saya tebalkan)

Aktifitas Untuk Anak Di Musim Panas (Summer Camp)

Terus terang setiap musim panas saya kebingungan, bingung cari kegiatan untuk anak semasa liburan sekolah, maklum saya dan suami dua-duanya kerja. Meskipun saya kerja paruh waktu, sehari sekitar 6 jam, si anak yang jelas belum (tidak) bisa ditinggal bengong  sendiri di rumah, terutama waktu dia masih relatif kecil.

Tahun-tahun pertama si kecil masuk usia sekolah, tidak bohong kalau boleh dibilang kita ‘bokek’ selama musim panas. Summer camp itu yang jelas tidak murah! Lumayan banyak memang pilihan, tapi yang sesuai kantong, waduh, boleh dibilang sedikit.

Kami pernah coba summer camp di lokasi sekolahan, summer camp di lokasi YMCA, summer camp di tempat anak berlatih bela diri.

Tahun pertama si kecil di summer camp (dia kelas 1 SD, naik kelas 2, umur 6 tahun), ybs masing menikmati, selain karena lokasinya di sekolah dia sendiri,pengasuh-pengasuhnya juga ramah-ramah dan berpendidikan dan  juga karena cukup banyak kegiatan di luar, seperti berenang di fasilitas YMCA, jalan-jalan ke taman air pancuran, jalan-jalan ke kebun binatang, jalan-jalan ke kolam berenang di luar kota dll.

Tahun kedua, dia mulai bosan, memang lokasinya berbeda dengan lokasi tahun pertama, jadi dia kurang familiar dengan rekan-rekan sebayanya.

Saya sendiri juga kurang puas dengan mutu pengajarnya, terkesan bloon, kurang perhatian dan cuma sibuk ber-selfie waktu saya lihat foto-foto yang di unggah di facebook.

Tahun ini boleh agak beda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Anak sudah lumayan cukup besar dan mandiri, dan tempat tinggal kami sangat dekat dengan tempat kerja saya, kita putuskan anak tidak partisipasi dalam summer camp setiap minggunya dan juga kita pilih summer camp dari institusi yang berbeda-beda.

Salah satu summer camp yang kita pilih tahun ini adalah summer camp yang diselenggarakan oleh boy scout si anak. Boleh dibilang ini summer camp yang paling ‘bermutu’ dan juga sepadan dengan harganya.

Anak-anak bermain di luar seharian, kegiatannya juga bermacam-macam, ada belajar memanah, belajar menembak dengan senjata berpeluru pelor (BB gun), belajar menurunkan bendera, dan lain-lainnya yang boleh dibilang sangat boyish ya namanya juga dari boyscout ya? 😉

Tidak ada yang namanya main komputer, atau terkukung di ruangan selama berjam-jam seperti yang saya lihat di camp yang pernah dia lakoni sebelumnya.

Setiap saya jemput si anak selalu ada yang dibicarakan dengan semangatnya. Senang melihat dia aktif dan berkumpul dengan sesama anak-anak laki sebayanya.

Sekedar berbagi, ini beberapa hal yang saya pertimbangkan sebelum memilih summer camp:

  1. Lokasi – saya selalu pilih lokasi yang dekat dengan rumah atau tempat kerja, pertimbangannya kalau ada masalah, saya atau suami akan mudah datang ke lokasi.
  2. Harga dibanding dengan kegiatan : kalau anggaran tidak terbatas, harga tidak jadi masalah ya. Tapi buat kami pribadi, kami cuma mampu untuk membayar camp sekitar $100-$200, untuk $200 yang jelas tidak mungkin kita lakoni setiap minggu
  3. Durasi camp ,kami harus pilih camp yang sesuai dengan jadwal kerja. Ada beberapa camp yang kami sangat tertarik, tapi sayangnya waktu camp (11 pagi hingga 4 sore), sulit untuk saya ataupun suami untuk mengantar & menjemput si kecil.
  4. Jadwal kegiatan sehari-hari : saya sungguh tidak puas dengan salah satu institusi penyelenggara camp, masa’ di jadwal kegiatan tercantum kunjungan ke lokasi X yang intinya cuma ruangan terbuka, atau cuma tercantum ‘nonton film’ (bukan di bioskop). Hal lain yang saya pelajari adalah meskipun penyelenggara camp sama dan harga camp sama, tapi di lokasi yang berbeda, jadwal jalan-jalan (field trip) akan sangat berbeda, karena si kepala camp di lokasi lah yang menentukan tujuan-tujuan field trip untuk lokasi mereka. Tahun kedua si kecil ikutan camp di lokasi sekolah, saya sempat bandingkan jadwal kegiatan di lokasi dia dan di lokasi lain. Waduh beda banget! untungnya lokasi yang kita pilih waktu itu menawarkan field trip yang lebih seru dibanding lokasi lainnya.
  5. Pengasuh camp : Paling males kalau ketemu pengasuh camp yang terlihat tidak ramah, tidak peduli dengan anak-anak. Pengalaman pribadi ketemu dengan pengasuh seperti ini, saya tidak sungkan sungkan mengutarakan keberatan/kejengkelan saya di survei yang mereka kirim di email.

Intinya ya kita sebagai orang tua harus pandai-pandai memilih camp, karena beberapa camp ada yang super komersil tapi kurang bermutu, ada camp yang terjangkau namun menawarkan aktifitas yang cukup beragam.

Kalau boleh milih sih ya..mending saya jadi ibu RT saja dan menghabiskan waktu dengan si kecil selama musim panas, apa boleh buat, saat ini belum memungkin kan.

Buat ibu-ibu yang tidak perlu repot memilih dan bisa menemani anak-anak selama musim liburan , bersyukurlah, enteng di kantong yang jelas.

Suka Duka Di Amrik : Pekerja Jam-Jam-an

Baru setelah berimigrasi ke Amerika, saya mengenal istilah pekerja jam-jaman dan pekerja gaji.

Pekerja jam-jaman yaitu pekerja yang dibayar berdasarkan jumlah jam yang si pekerja lakoni, ya biasanya pekerja buruhlah, seperti pegawai toko, pegawai bank,pegawai di rumah sakit, dll. Pekerja jam-an ini bisa pekerja paruh waktu, bisa juga pekerja penuh.

Karena sifatnya yang dibayar berdasarkan jumlah jam si pegawai bekerja, dari NOL jam hingga 40 jam (atau bisa lebih, tapi biasanya managemen perusahaan akan ‘ngomel’ kalau pegawai jam-jaman mereka lembur)- bayaran si pekerja ya bisa berbeda-beda setiap kali terima gaji.

Juga pekerja di haruskan mencatat saat mereka mulai kerja dan selesai kerja setiap harinya di timesheet.

Pekerja jam-jaman ini juga rentan terpotong jadwal kerjanya, terutama pekerja ritel. Kalau manager menilah penjualan pada hari itu tidak seperti yang diperkirakan, mereka harus segera memotong anggaran perusahaan yaitu dengan memotong jam kerja si pegawai yang dijadwalkan bekerja hari itu. Jadi kalau awalnya si pekerja di jadwalkan bekerja selama 4 jam, sangat mungkin kalau si pekerja yang ada cuma bekerja selama 2 jam saja.

Sementara pekerja gajian, yaitu mereka-mereka yang gajinya dihitung secara lumpsum per bulannya, dengan standar jam kerja 40 jam per minggu. Sepengetahuan saya pekerja gajian ini sebagian besar pekerja penuh, atau pekerja kontrak. Contohnya suami saya.

Sebagian besar pekerja jam-an menerima gaji setiap minggu atau setiap dua minggu sekali. Sedangkan pekerja gaji, sebagian besar di bayar setiap dua minggu sekali atau 2 kali sebulan : di awal bulan dan di tengah bulan (tanggal 15).

Saya ini termasuk pekerja buruh, alias pekerja yang dibayar per jam, gaji dibayar oleh perusahaan setiap 2 minggu sekali. Tapi karena saya bekerja di dua tempat, saya jadinya terima bayaran setiap minggu, karena jadwal terima gaji saya yang satu dengan yang lain berselisihan.

Ada enak dan tidak enaknya jadi pekerja jam-jaman.

Yang paling tidak enak itu kalau lupa masukkan waktu kerja (clock in dan clock out) dan kelewat tenggat waktu perhitungan gaji. Kenapa? Karena beberapa perusahaan sangat ketat dalam hal pembayaran gaji ini, kalau sudah lewat tenggat masukkan timesheet ya terpaksa kamu dibayar apa adanya, kekurangan jam kerja akan dibayar di gaji berikutnya.

Contohnya saya.

Waktu mau mudik kemarin, saya pikir waktu saya balik saya tetap akan terima gaji cukuplah, karena meskipun saya tidak kerja, saya sudah punya jatah liburan, yang jumlah jam libur per mingggunya boleh dibilanag sama dengan jumlah jam kerja saya kerja.

Saya pikir lagi, karena saya pekerja paruh waktu, manager saya yang harus memasukkan jumlah jam libur saya ke timesheet saya – karena kalau ada libur di kalender, manager saya yang memang harus memasukkan libur kalender itu di timesheet saya supaya saya dibayar.

Waktu kembali ke tempat kerja setelah mudik, saya panik melihat jumlah kerja saya cuma seuncril dan ternyata jam liburan saya tidak tercatat. Ternyata saya salah asumsi, sayalah yang harus memasukkan jam libur saya ke timesheet, bukan manager.

Yaaaaah….apa daya, terpaksalah saya gigit jari selama lebih dari 2 minggu!

Hadweeeh, asli sengsara, karena berarti saya tidak bisa membayar tagihan ini itu seperti yang sudah saya jadwalkan.

Untunglah cuma saya yang pergi berlibur dan suami tidak ikutan, karena berarti kita  masih ada penghasilan dari suami yang bisa bantu untuk hidup sehari-hari…………..

Phew!!??!!

Pindahan Oh Pindahan

Sewaktu saya tinggal di Jakarta, seingat saya, saya cuma pindah rumah  3 kali : dari daerah Pasar Minggu ke daerah Condet, lalu ke daerah Pancoran, terakhir ke daerah Cibubur , semuanya dalam kota dan tidak pernah rasanya heboh-heboh amat. Seingat saya, kami selalu dapat bantuan, ayah ibu tetap kerja seharian, tahu-tahu kita pindah ke tempat baru.

Yang jelas namanya hidup ya, pindahan kadang tidak bisa dihindari – idealnya ketemu rumah yang sreg, terus tinggal di situ sampai kakek nenek deh ….

Nah, waktu saya imigrasi ke Amerika, terus terang hal-hal seperti ini tidak terbayang sebelumnya, maklum, tidak terbiasa hidup sendiri, semua-muanya cuma tahu beres, karena selalu tinggal dengan ortu. Baru di Amerika ini saya ‘ngeh’ dan belajar tahu ini itu masalah pindahan. Sejak saya di Amerika tahun 2005 hingga 2014, saya sudah merasakan pindahan itu 5 kali, sementara suami ada kali 10 kali pindahan!

Pindahan pertama kali lumayan gampang, cuma pindah dari apartemen 2 kamar ke rumah yang notabene lebih luas. Barang-barang yang kita miliki tidak terlalu banyak dan cuma perlu sewa satu truk Uhaul ukuran sedang.

Suami sendiri yang nyetir truk, yang ngepakin barang-barang ya kita berdua saja, masalah angkut barang-barang, ada dua teman suami yang bantuin kita gotong mebel-mebel yang lumayan berat: dari apartemen ke truk, dari truk ke rumah.

Setelah pindahan ini, pikirnya ya sudah dong, kita bakalan menetap di sini sampai tahunan, tidak kepikiran mau pindah ke tempat lain.

Itu tahun 2006.

Ternyata keadaan tidak memungkinkan kami untuk menetap di rumah kami, di tahun 2010, suami dapat kerja di negara bagian lain, Ohio. Berhubung dia harus berada di Ohio secepatnya, jadi dia langsung berangkat dengan mobil satu-satunya kami dengan pakaian dan barang-barang keperluan rumah tangga seadanya.  Rencananya saya dan anak (waktu itu dia umur 4 tahun), akan menyusul belakangan dimana suami akan minta cuti untuk pulang ke Montana, bawa kami semua ke Ohio.

Tapi, saya, setelah pikir ini itu, ditambah bawaan diri yang memang agak-agak petualang dan pemberontak, saya nekat bilang ke suami kalau dia tidak usah pulang karena saya sendiri yang akan bawa truk ke Ohio.

Suami amat sangat tidak setuju, tapi dia tahu bininya ini keras kepala dan tidak mau dibilangin sampai dia kejeduk sendiri- akhirnya setuju dengan rencana saya.

Jadilah si Jeng sibuk mengatur rencana kepindahan ke Ohio sorangan dewe.  Cerita kepindahan ku bisa dibaca disini dan disini.
Nah, sejak pindah ke Ohio itu, kami boleh dibilang ‘hobi’ pindahan, baik pindahan antar negara bagian maupun pindahan dalam kota, asli keblenger!!!

Tapi ya mau gimana lagi, kadang kita harus pindah karena pekerjaan, jadi ya lakoni aja.

Dari pengalaman ‘jutaan’ pindahan itu, jadilah di blog ini, saya mau berbagi tips pindahan untuk teman-teman:

Pertama : pilih perusahaan truk yang akan di sewa.

Yang beken di sini itu Uhaul, salah satu perbedaan truk Uhaul dengan truk-truk dari perusahaan lain adalah dek Uhaul lebih rendah, jadi memang agak lebih mudah untuk wara-wiri ke/dari truk.  Tapi Uhaul jauuuuuuuuuuuuh lebih mahal dibanding merek lain.  Berhubung saya orangnya agak-agak pelit, saya pilih truk dari BudgetSelain harga dasar lebih murah, selalu ada diskon untuk sewa dari Budget. Saya dapat kupon 20% , jadi untuk sewa truk saja, bedanya bisa $200 dibanding ambil dari Uhaul.

Masalah ukuran truk, baik Uhaul maupun Budget punya pilihan ukuran yang relatif sama. Harga truk akan tergantung dari ukuran yang dipilih, berapa lama truk akan disewa. Bensin dan resiko kecelakaan harus ditanggung sendiri.

Karena ukuran keluarga kami (& jumlah barang yang kami miliki), biasanya kami harus menyewa truk ukuran 16 kaki dan waktu yang kami ambil untuk pindahan antar negara bagian itu minimal 10 hari (berapa hari di perjalanan, berapa hari istirahat sebelum bisa bongkar truk di tempat baru). Selama pindahan kami (4 kali), rata-rata pengeluaran untuk sewa truk ini tidak kurang dari $1,000.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA Truk pindahan ukuran 16 kaki,muat 3 penumpang

Kedua : beli kotak-kotak penyimpan barang.

Ini bisa di beli dari Home Depot ,Lowe’s,dari perusahaan truk sendiri (untuk kotak-kotak baru) atau Craiglist, atau dari tempat kerja untuk kotak-kotak bekas. Pertama pindahan ini, saya coba ngirit dengan ambil kotak-kotak bekas dari tempat saya kerja. Memang gratis, cumaaaaaaaaaaaaa, waktu penempatan di truk, ini bisa jadi masalah.

Kenapa gitu? karena ukuran kotak tidak seragam dan lebih sulit untuk menumpuk kotak-kotak dengan stabil.  Dan juga seringkali kotak-kotak bekas ini sudah terlalu beat-up, jadi resiko jebol lebih besar.

Kotak-kotak yang dijual di Home Depot atau Lowe ini, biasanya ada beberapa ukuran : kecil, sedang, besar, super besar dan khusus untuk pakaian.

Kotak kecil akan paling banyak di gunakan, terutama untuk mengepak barang-barang berat seperti : buku-buku, peralatan tukang, barang-barang pecah belah.

Secara pribadi saya tidak rekomendasi kotak ukuran besar, kecuali untuk simpan bantal, guling atau boneka-boneka. Karena tho meskipun ukurannya besar, kita tidak bisa memuati terlalu banyak, karena resiko jebol.

Pindahan terakhir kami menggunakan tidak kurang dari 100 kotak. (banyak!!!)

packingprogress-001 Lihat lemari kosong, lega rasanya!
newapart20141 tumpukan kotak-kotak siap diangkut! Truk siap di bongkar!

Ketiga : cari bantuan untuk mengangkut barang-barang

Kalau pindahan pertama dan kedua kita cukup angkat telpon dan minta bantuan teman-teman, pindahan berikutnya kita tidak bisa melakukan hal yang sama. Pertama karena suami orangnya risih minta tolong ke orang (gratisan), kedua, suami tidak di lokasi, saya boleh dibilang tidak ada teman laki-laki.

Waktu pindahan dari Ohio ke Montana, saya pilih perusahaan Mergenthaler – layanan yang saya pilih benar-benar cuma bantu angkut barang-barang besar dari rumah ke truk.

Untuk memilih ‘layanan kuli angkut’ ini boleh dibilang yang paling rumit dan tidak murah!

Perusahaan-perusahaan seperti Margenthaler ini banyak jenisnya di Amerika. dan layanan servis mereka beragam : dari mulai layanan penuh : pengepakan barang, pengangkutan, pembongkaran, pemindahan atau bisa pilih satu layanan tertentu saja.

Yang membuat rumit itu karena masing-masing perusahaan punya kebijakan sendiri yang membuat harga bisa beda.

Secara umum pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka ajukan adalah :

  • jenis barang-barang yang akan diangkut – jadi kita harus memberi tahu mereka satu per satu barang-barang yang akan mereka angkut : berapa banyak kotak, mebel apa saja, tempat tidur ukuran apa, dsb
  • berapa jauh mereka harus transpor barang-barang kita (kalau memang kita mau mereka untuk transpor barang-barang kita)
  • apakah ada barang-barang yang unik : piano, kotak penyimpan barang berharga ukuran besar
  • berapa besar asal properti kita dan berapa besar properti baru kita – dan tipenya : rumah atau apartmen
  • apakah ada barang-barang lain yang harus diangkut yang tidak berada di lokasi yang sama

Waktu pindahan kedua kami di Kentucky, saya telpon 3 perusahaan jasa angkut barang. Dua dari tiga perusahaan ini selain saya tahu dari melihat di jalan, saya juga tahu mereka karena mereka klien di tempat saya kerja .

Pilihan saya waktu itu Two Men and a Truck, Margaret Moving dan Edward Neutz Sons & Daughters.

Yang satu bertanya sangat detail mengenai kepindahan kami : apartemen awal kami di lantai berapa dan apartemen tujuan di lantai berapa, konon ini membuat perbedaan harga yang signifikan untuk mereka. Ada juga yang mengenakan biaya transportasi lebih dari 1 jam.

Semuanya memang tergantung dari ‘sreg’ atau tidaknya kita ya. Intinya harga layanan ini berdasarkan jumlah orang-orang yang mereka kirim dan berapa lama mereka bekerja.

Yang jelas, saya belajar dari pengalaman bongkar barang-barang waktu pindahan dari Montana ke Kentucky, saya tidak lagi pilih perusahaan abal-abal alias bukan franchise, bukan kenapa-kenapa, karena saya perhatikan mereka cuma bermodal otot, tapi tidak ada strategi, yang ada waktu pembongkaran bisa jadi lebih lama, meskipun awalnya mereka kenakan harga relatif lebih murah per jamnya, yang ada saya jadi BT.

Pindahan dari Bozeman ke Cleveland, kita pakai 3 orang , 1 orang membungkus mebel-mebel sebelum diangkut, yang 2 memindahkan barang-barang dari rumah ke truk. Seingat saya mereka selesai dalam waktu 3-4 jam.

Untuk pindahan di Kentucky, berhubung ukuran rumah dan jumlah barang-barang berkembang, perusahaan yang kami pilih : Two Men and a Truck mengirim 3 + 1 orang untuk membantu kepindahan kami.

Terus terang saya cukup puas dengan pilihan kami, meskipun secara teknis ada 4 orang yang membantu , kami hanya di kenakan biaya untuk 3 orang. Kerja mereka juga lumayan efisien dan santun. Mereka datang jam 8.30-an, selesai mengangkut barang-barang kami dari apartemen lama jam 12-an. Total biaya yang kami harus bayar itu $910 (berikut tip untuk 4 orang)

Keempat : tetapkan waktu pindahan

Karena itu akan berefek ke harga sewa truk dan harga jasa kuli! Sabtu dan Minggu harga bantuan angkut bisa $30-$50 lebih mahal dibanding hari biasa.

Kadang karena jadwal kerja, kita mau tidak mau harus pilih akhir pekan, kalau memang ini jadi pilihan ya siap-siap buka kantong lebih dalam..;-)

Kelima : beli peralatan tambahan.

Hah? apaan tuh?

Setelah 5 kali pindahan saya lumayan paham akan pentingnya pernak-pernik tambahan yang diperlukan :

  • Dolly atau dongkrak angkut – meskipun waktu kita sewa truk, sebagian besar perusahaan menyediakan dolly di truk ybs, tidak ada salahnya kalau kita juga punya Kenapa gitu? dengan punya dolly sendiri, ini memudahkan kita memindahkan kotak-kotak dari ruang-ruang ke satu ruang tertentu yang nantinya akan memudahkan pengangkutan akhir ke truk. (lebih efisien)
  • Tali : bisa tali rafia, bisa tali tambang biasa, bisa tali elastis (bungee) : gunanya untuk membuat jala laba-laba di dalam truk, supaya dalam pengangkutan, kotak-kotak yang sudah tersusun di dalam truk tidak goyang ke sana ke mari .
  • Penahan pintu : ya menahan pintu supaya selalu terbuka, jadi tidak repot harus bolak balik buka tutup pintu selama pengangkutan barang-barang dari truk ke rumah dan sebaliknya.
  • Padding – seperti juga dolly, padding biasanya disediakan dari perusahaan truk, tapi jumlahnya terbatas – terutama kalau kita tidak menyewa jasa kuli. Jadi tidak ada salahnya untuk sedia tambahan – padding ini bisa berupa selimut atau bantal lama yang sudah tidak terpakai lagi.

Tips-tips lain yang kali berguna :

  • Ruang pengemudi dan penumpang relatif sempit, isi dengan minuman dan makanan kecil untuk perjalanan, dan koper ukuran sedang yang muat di taruh dibagian kaki penumpang di paling pinggir, untuk ganti di perjalanan atau ganti di hari-hari awal di tempat baru
  • Pakai pakaian yang tidak nyesal kalau sobek atau kotor selama di perjalanan, maklum akan banyak berhenti dan atau angkut ini itu
  • Gunakan sprei lama untuk melindungi kasur dari kotor selama di truk/pengangkutan- jadi biarpun si sprei ini sobek misalnya dalam perjalanan, kita rela untuk membuang.
  • Kalau mau nyetir truk sendiri, jangan lupa lengkapi penumpang dengan DVD player supaya tidak bosan
  • Isi gas waktu penunjuk gas tidak kurang dari 1/4 kapasitas – terutama kalau pindah antar negara bagian, karena pompa bensin tidak selalu berdekatan di Interstate.
  • Hindari mundur – terutama kalau nyetir truk besar
  • Kumpulkan kotak-kotak yang sudah rapi di satu tempat tertentu – ini akan menghemat waktu pengangkutan dari apartemen/rumah ke truk
  • Jangan sungkan sumbangkan barang-barang yang tidak pernah terpakai lagi, aturannya kalau kita sudah tidak pernah pakai barang yang bersangkutan selama 1 tahun , ya wis sumbangkan saja, daripada menuh-menuhin truk.  Lokasi sumbangan bisa ke Goodwill, Salvation Army, toko-toko barang bekas lainnya. Kalau buat buku-buku, bisa dijual lagi di toko buku Half Price Book Store, lumayan dapat uang beli kopi
  • Beli satu kotak plastik ukuran sedang yang disini barang-barang kepeluan selama hari-hari pertama di tempat baru : sabun, sampo, sisir, barang-barang pribadi lainnya yang bisa dipakai sekeluarga, piring, gelas kertas, sendok, garpu plastik, pisau, talenan, makanan kaleng, pembuka kaleng, 2 gulung paper towel, 3 gulung toilet paper. Simpan kotak ini paling dekat dengan bukaan di truk, jadi mudah diambil dimana perlu.

Hah. Heboh ya?  Banget! dan yang pasti, pindahan itu selain menguras tenaga juge menguras kantong, karena tidak pernah murah (kecuali ada yang bayarin ya). Dan meskipun kami sudah pindahan berkali-kali, tetap saja stres waktu kami harus melakukannya lagi.

Yah wis, sampai disini dulu cerita dari saya,  mudah-mudahan cerita saya kali ini bisa membantu teman-teman yang mau pindahan….

blog4-002

Setelah tiba di Amerika…..

Then what?

Pertama, karena status kita (ini asumsi kondisi masuk ke US secara legal ya) belum penduduk tetap (permanent resident), jadi kita belum langsung bisa kerja.

Dengan alat pengenal satu-satunya yang berlaku dan dihargai secara hukum Amerika adalah paspor Indonesia- memang agak sulit untuk ‘bergerak’.

Nah dengan keterbatasan itu, ini hal-hal yang bisa kita lakukan :

1. Kalau tinggal di apartemen bersama pasangan, minta supaya nama kita di masukkan dalam kontrak sewa menyewa. Kenapa? Karena ini bisa dijadikan bukti tinggal di USA yang akan banyak diminta oleh institusi-institusi lainnya.

2. Kalau tinggal di rumah, bisa gunakan tagihan listrik dan air (utility bills istilahnya) sebagai tanda bukti tinggal di Amerika. Pasangan kita harus menelpon perusahaan ybs untuk menambahkan nama kita di tagihan.

3. Nah setelah ada bukti bertempat tinggal di Amerika, bisa ajukan aplikasi kartu identitas – ibarat KTP lah, judulnya State ID. Dengan memiliki ‘KTP’ ini akan memudahkan kita bertransaksi di tempat-tempat lainnya dari mulai perpustakaan, perbankan, kebun binatang dll.

Nah, Karena di KTP ini akan tercantum alamat kita di Amerika, makanya nomor 1 atau nomor 2 kudu dilakoni dulu. Selain kontrak apartemen dan tagihan air/listrik, surat masuk dengan nama dan alamat kita baru kadang juga bisa dijadikan bukti bertempat tinggal di Amerika.

Karena Saya di Jakarta sudah bisa mengendarai mobil sendiri, Saya tidak pernah memiliki KTP, tapi cukup SIM lokal.

Di beberapa negara bagian, ada yang membolehkan penduduk memiliki KTP dan SIM, tapi di beberapa negara bagian lain, si penduduk cuma boleh memiliki salah satu kartu identitas. Contohnya sewaktu kami tinggal di Ohio. SIM Saya masih berlaku hingga tahun 2014, dan kita tahu kita akan balik ke negara bagian asal (Montana). Jadi Saya ogah menyerahkan SIM Saya, tadinya Saya cuma mau ambil KTP setempat, eh ternyata hukum negara bagian Ohio tidak membolehkan satu orang memiliki 2 KTP dan SIM. Jadi ya Saya ogah ambil KTP/SIM Ohio, yang ada kemana-mana Saya kudu bawa surat dari apartemen yang menyatakan Saya penduduk lokal.

Di Kentucky, ternyata boleh-boleh saja. Lucu ya? Padahl Kentucky dan Ohio berbatasan.

4. Karena Saya  tidak punya uang sama sekali sewaktu baru pindah ke US, jadi kita langsung pergi ke bank suami untuk menambahkan nama Saya di rekening suami – asikk!!- dan dapat kartu debit supaya bisa belanja! hah!!

Nah, masalah bank ini, juga tergantung dari bank masing-masing, kartu identitas apa yang mereka syaratkan. Kalau di tempat Saya bekerja, untuk individu yang bukan warga negara Amerika dan tidak/belum memiliki nomor individu (social security number), bukti identitas yang diperlukan adalah : Paspor, KTP lokal, kartu kredit Visa atau Mastercard atau Discover atau American Express.

Bisa ditanyakan dulu ke bank yang bersangkutan, identitas apa yang mereka minta.

Urusan kartu identitas lokal sudah beres? sip. Langkah selanjutnya?

6. Amat sangat Saya sarankan untuk bisa mengemudi mobil di Amerika. Karena tidak semua kota-kota di Amerika memiliki fasilitas kendaraan umum yang memadai dan bisa diandalkan. Dan tergantung Anda tipe seperti apa? Saya tipe pembosan dan malas selalu tergantung dengan suami untuk diantar ke sana kemari, jadi Saya kudu punya SIM.

Karena Saya sudah biasa menyetir di Jakarta, Saya cukup belajar dengan suami membiasakan diri menyetir di jalur yang berbeda. Jelaslah Saya pernah masuk jalan yang salah…;-).

Untuk yang belum pernah menyetir mobil di Jakarta, monggo daftarkan ke sekolah mengemudi setempat.

Setelah PD mengemudi, mampir ke kantor DMV atau Department Motor Vehicle untuk mengambil bahan tes tertulis mengambil SIM. Pelajari dulu itu soal-soal di rumah supaya nanti sewaktu tes, bisa langsung lulus. Tiap-tiap DMV punya peraturan beda-beda. Kadang Anda bisa tes hingga 3 kali berturut-turut dalam sehari, ada yang hanya membolehkan tes 1 kali sehari.

Sudah PD mengemudi? sudah belajar tes tentang peraturan lalu lintas? Bisa daftarkan untuk tes di DMV setempat.

Nah ini juga berbeda di tiap negara bagian. Ada negara bagian yang calon pengemudi bisa ambil tes tertulis dan langsung tes mengemudi. Di negara bagian lain, karena jadwal yang ketat dan terbatasnya pegawai, si calon harus datang minimal dua kali.

Yang jelas tes tertulis harus lulus dulu baru Anda bisa ambil tes mengemudi.

Alhamdulillah Saya langsung lulus- karena sudah belajar lebih dulu!

7. Dapat identitas lokal sudah. Beres-beres tempat tinggal sudah. Lihat-lihat tempat belanja keperluan sehari-hari sudah. Ngapain lagi dong? bosan? tapi belum bisa kerja? (karena belum dapat ijin kerja). Anda bisa :

a. Daftarkan diri ke ‘adult education class‘ yang di selenggarakan oleh Pemda setempat dan biayanya amat terjangkau. Dari mulai berkebun, memasak, bertukang, dan banyaaaak lagi. Di Louisville, Kentucky bisa dibaca disini,

Saya sendiri pernah ikutan beberapa kelas sewaktu tinggal di Bozeman, biasanya kelas-kelasnya diselenggarakan di malam hari. Lumayan biar ini otak tidak menganggur.

b. Menjadi sukarelawan alias volunteer. Biasanya perpustakaan, tempat ibadah, sekolah, musium, food bankcommunity center selalu ada lowongan untuk sukarelawan. Jangan salah, waktu yang kita habiskan sebagai relawan ini bisa dimasukkan ke dalam resume loh! untuk sekolah, kemungkinan agak lebih sulit karena mereka akan minta laporan latar belakang (background check) dari FBI – dan untuk itu mereka akan perlu SSN kita. (yang kemungkinan belum kita dapatkan)

Kayaknya itu saja deh yang Saya bisa tulis saat ini.

Semoga berguna ya!