amerika

Jalan-jalan : Gerbang Lengkung St. Louis

Setelah jalan-jalan di downtown St Louis, hari berikutnya kita pergi ke monumen. Gerbang Lengkung yang lokasinya juga di downtown, di pinggir sungai Missouri.

Salah satu yang bikin repot ke tempat turis seperti ini adalah masalah parkir. Yang jelas hindari parkir di tengah-tengah pusat kota sendiri, terutama saat ada turnamen baseball di Stadiun Busch. Harga parkir saat itu $25!

Jadilah kita pergi seakan-akan menjauhi pusat kota, lalu ambil jalan ke arah sungai, nah di sepanjang sungai ini ada beberapa gedung parkir yang relatif lebih kosong dan lebih murah dibanding di gedung parkiran di dalam gedung-gedung kantoran di pusat kota. Cukup bayar $5. Beda jauh kan?!

Dari situ kita berjalan ke lokasi, tidak jauh koq, paling-paling sekitar 1/2 kilo deh.S

Nah, di lokasi monumen, ada 2 pintu masuk, Selatan dan Utara. Untuk masuk, semua pengunjung diharuskan melewati detektor (seperti di lapangan terbang), jadi jangan keder kalau lihat antrian panjang, tapi relatif tidak lama.

Setelah tiba di dalam, antri lagi di gerbong tiket,kami cukup beruntung karena antrian tidak terlalu panjang. Saya lihat ada gerbang yang khusus untuk mereka-mereka yang sudah pesan lebih dulu, nah, kalau memang kalian yakin akan berkunjung ke monumen ini ada baguslah pesan tiket dulu lewat online, jadi tidak perlu antri terlalu lama.

Tiket bisa dibeli dengan paket menonton film, pilihan film yang ada saat itu adalah perjalanan Lewis & Clark atau film mengenai pembuatan monumen atau cuma beli tiket saja. Saat itu kami pilih tiket naik ke atas monumen tanpa embel-embel lainnya. Total 2 orang dewasa dan satu anak umur 8 tahun itu $25.

Yang kami tidak tahu adalah…..setelah selesai membeli tiket, waktu tunggu kami untuk naik tram ke atas monumen itu 2 jam lebih! Kami datang sekitar jam 10-an, giliran kami naik itu baru nanti jam 12:5 pm. Weleh???

Untung ada museum yang gratis buat pengunjung monumen. Jadilah selama 1 jam, kita habiskan berkeliling di museum.

Karena kita ogah ambil resiko telat masuk waktu giliran kita tiba, kita benar-benar cuma menunggu di dalam lobi. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak apa-apa juga koq kalau teman-teman ingin jalan-jalan seputar pusat kota setelah membeli tiket untuk kemudian balik lagi. Yakin waktu cukuplah.

Di lobi ini kita berfoto di mock-up tram yang nantinya akan kita naiki.

indiana (60)
indiana (62)

Akhirnya jam 12:25 pm tiba! Kita masuk dari pintu Selatan, di depan pintu ada papan penunjuk waktu (seperti di bandara udara), yang bisa digunakan pengunjung untuk mengecek giliran mereka untuk naik tram.

Antri lagi. Di sini, petugas bertanya ke setiap pengunjung ada berapa anggota di grup mereka. Lalu petugas akan membagikan kartu pada tiap-tiap grup pengunjung yang intinya mengacu nomor pintu atau tram yang pengunjung akan naikin. Intinya petugas harus membagi rata pengunjung dengan jumlah tram yang tersedia. Satu tram dapat memuat 5 orang.

Kami mendapat kartu nomor 4. Artinya kami harus  indiana (109)berdiri di depan pintu nomor 4 beserta pengunjung lain yang mendapat kartu yang sama.

Sambil menunggu, pengunjung di beri kesempatan untuk difoto, yang nanti boleh ditebus kalau mau, boleh juga tidak ditebus.

Setelah selesai di antrian ini, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga untuk ke ruangan keberangkatan. Disini bisa dilihat ada 8 pintu, dimana tram berada.

indiana (110)

 

indiana (112)

koq kecil ya pintunya?

Waduh..ternyata tramnya jauh lebih kecil dibanding mock-up. Pantas saja petugas tiket bertanya apakah kita ada yang menganut takut tempat terkukung (claustrophobia)

Kalau teman-teman kebetulan tinggi, ambil tempat duduk di tengah-tengah tram, karena memiliki ketinggian maksimal, yang jelas kalau Anda jangkung jangan duduk di kursi kedua dari pintu, karena bentuk tram yang melengkung, kursi di lokasi tersebut paling rendah langit-langitnya.

 

Diperlukan waktu 4 menit untuk mencapai puncak monumen. Terus terang Saya agak-agak keder…terutama karena sepanjang perjalanan beberapa kali terdengar suara hentakan…(dasar udik!)

Waktu pintu tram terbuka..duh lega rasanya!!

indiana (115)

 

Dari jendela, pengunjung bisa melihat kota St. Louis dari kejauhan. Ada stadium Busch yang dipenuhi penonton berbaju merah (warna tim baseball St. Louis), kapal pengangkut barang, kereta api. Stadium Busch dari Puncak Gerbang Lengkungindiana (123)indiana (121)indiana (117)

Kita menghabiskan waktu kira-kira 30 menitan di lobi puncak monumen…lebih lama menunggu giliran daripada nangkring di atas ya? he…he..he..tapi lumayan seru koq!

Ini foto jendela-jendela di puncak dan sisi Selatan monumen dilihat dari bawah.

indiana (96)

kotak-kotak hitam itu jendela-jendela di lobi puncak monumen

indiana (59)

Adaptasi Setelah Tinggal di Amrik

Adaptasi setelah tinggal di Amrik? wuiiih tak terhitung…ha…ha..ha..sampai sekarangpun – hampir sepuluh tahun – masih banyak hal-hal yang Saya ‘bandel’ ogah beradaptasi atau kurang bisa beradaptasi.

Contohnya :

Masalah kamar mandi, bilas berbilas. Tetap cenderung ke cara Indonesia, yaitu memakai air, dibanding memakai tisu. Tapi mau gimana lagi, disini ya tidak ada air lah.

Saking geregetan harus bilasan dengan air, sampai-sampai minta dikirimin gayung dari tanah air.

Jadilah Saya di tahun pertama kemana-mana bawa botol air kosong ; sampai sekarang masih sering dilakukan terutama kalau pergi piknik atau kemping di hutan.

Atau masalah makan nasi memakai garpu. Duh. Gak lah, tetap makan pakai sendok, meskipun ini sendok buat sup, pura-pura bego saja, yang penting sendok. Mau diketawain terserah, yang penting hati puas makan nasi pakai sendok.

Hal-hal lainnya yang Saya cukup berhasil (dan masih terus) beradaptasi adalah :

1. Nonton TV tanpa ada terjemahan bahasa Inggris.

Maklum kan di Indonesia, semua film-film berbahasa Inggris yang kita tonton selalu ada terjemahan bahasa Indonesia kan? Bulan-bulan pertama nonton film, agak-agak panik…Eng…terjemahannya mana ya? – Oh iya..ini kan di Amrik ya..bukan di Jakarta.

Jadilah konsentrasi penuh dengarin percakapan si bule. Sekarang ini, kalau ada pilihan ‘subtitle‘ di dvd, Saya selalu pasang. Maklum, antara mengerti lewat pendengaran dan mengerti lewat bacaan, Saya lebih cepat mengerti lewat bacaan.

2. Mengetahui lokasi dengan menggunakan arah kompas : Utara, Selatan, Timur dan Barat.

Hadweeeh…..secara Saya itu terbelakang kalau masalah 3 dimensi dan kebiasaan di Jakarta, cukup bilang ‘arah blok M’, arah kota, belok kiri, belok kanan, disini orang-orang bilang ‘dari arah utara, selatan dari kota X dsb. Terpaksalah Saya memaksakan diri untuk mengerti dimana SEBUT. Kalau boleh memilih sih, tetap pakai belok kiri, belok kanan dll…hi..hi..hi..

3. Menyetir di sebelah kanan dan mengerti penamaan jalan di Amrik.

Kalau di Indonesia, jalan-jalan tol itu dinamakan sesuai dengan nama wilayah ; Jalan tol Cawang-Tg. Priok, Jalan tol lingkar luar Kebon Jeruk dsb, disini jalan-jalan semua ditandai dengan nomor.
I-90, I265, US40, SR65 dsb.

Dimana I artinya Interstate, jalan yang menghubungkan negara bagian yang satu dengan negara bagian yang lain.

Kalau ada 2 digit nomor setelah huruf I, itu biasanya jalan bebas hambatan (freeway)antar negara bagian.

Semua negara bagian di Amerika boleh dibilang ‘disambung’ dengan jalan interstate ini,dari barat ke timur dan dari selatan ke utara.

Nah, kalau jalanannya bernomor 3 digit, itu biasanya jalan lingkar luar kota atau jalan cabang dari jalan utama yang 2 digit. Contoh di Kentucky, salah satu jalan interstate utama di sini itu I64, di I-64, jalanan bercabang menjadi I264. Gampangnya, kalau bingung kita ada dimana, lihat 2 nomor terakhir, jadi kita tahu kalau kita di jalan cabang dari I64.

Terus terang Saya masih keder menyetir di tengah kota. Maklum, pertama kali tinggal di Amrik itu di kota cilik, yang jalannya hanya liner dan 1 grid blok.

Waktu pindah ke Cleveland Ohio, asli bingung; tinggal di Louisville, Kentucky entah kenapa lebih bingung lagi….ha….ha…ha..parah!

Masalah jalan-jalan di Amrik ini nanti Insha ALLAH Saya bahas lebih heboh lagi yak.karena beda-beda di tiap kota.

4. Makanan

Tetap nasih favorit sepanjang masa. Bisa sih makan cereal buat sarapan, tapi yang ada satu jam kemudian peruk keroncongan, karena sudah lapar lagi!

Hore! Upahku naik!

Tahun 2014, kalau tidak salah baca, Pemerintah Amerika menyetujui kenaikan upah minimum dari $7.25 per jam menjadi $10 per jam. Upah minimum baru ini efektif diberlakukan di tahun 2016. 

Sebagai pekerja biasa, yang sudah mengalami sendiri dibayar dengan upah yang berbeda-beda, Saya mengerti sekali betapa berita ini melegakan banyak hati pekerja-pekerja lainnya, terutama mereka-mereka yang hanya mengandalkan hidup sehari-hari dari satu penghasilan saja. 

Saya ngerti sekali betapa ‘upah’ minium sebelumnya itu tidak akan cukup untuk ‘hidup’ layak sehari-hari. 

Dulu sewaktu Saya awal-awal bekerja, Saya tidak ‘ngeh’ dengan kenaikan upah per jam. Di Jakarta, kenaikan gaji kan terlihat bulanan, misalnya dari Rp. 2,000,000 menjadi Rp 2,500,000, alias Rp 500.000 naik gajiku! Jadi waktu pertama kali Saya dapat kenaikan upah disini cuma 15 sen, Saya nelongso. Idih kecil amat sih?

Tanyalah Saya ke suami : Koq naik gaji disini kecil amat sih? (ps : ini ngomongin gaji buruh loh ya..kalau gaji kantoran ya lain lah). Lalu suami jelaskan, kalau itu kan hitungan per jam. Kalau ditotal kenaikan 15 sen itu relatif berarti lah di kantong. 

Berhitunglah Saya :

Upah awal $8.00 per jam, kerja 40 jam per minggu, di sini rata-rata perusahaan membayar pegawai 2 mingguan, berarti total upah yang Saya terima = $8.00 x 40 x 2 = $ 640.

Dengan upah baru $8.15 per jam, total bayaran Saya menjadi $8.15 X 40 x 2 = $ 652.

Total tambahan memang ‘hanya’ $12 – tapi untuk sebagian besar pekerja Amerika, $12 ini = tambahan uang belanja sehari-hari yang cukup signifikan. 

Itu cuma 15 sen perbedaan, kebayang perbedaan upah dengan $1.75 kenaikan. 

Banyak pihak yang melihat kenaikan upah ini sebagai tambahan beban, karena dijamin harga barang-barang akan naik, perusahaan tambah akan mengurangi fasilitas dan lain sebagainya.  

Saya melihatnya sebagai sesuatu yang patut di syukuri, mudah-mudahan kenaikan upah ini akan membuat banyak keluarga-keluarga menjadi lebih mandiri, tidak tergantung dengan subsidi pemerintah. 

IT’S TIME TO GIVE AMERICA A RAISE”

 

Setelah tiba di Amerika…..

Then what?

Pertama, karena status kita (ini asumsi kondisi masuk ke US secara legal ya) belum penduduk tetap (permanent resident), jadi kita belum langsung bisa kerja.

Dengan alat pengenal satu-satunya yang berlaku dan dihargai secara hukum Amerika adalah paspor Indonesia- memang agak sulit untuk ‘bergerak’.

Nah dengan keterbatasan itu, ini hal-hal yang bisa kita lakukan :

1. Kalau tinggal di apartemen bersama pasangan, minta supaya nama kita di masukkan dalam kontrak sewa menyewa. Kenapa? Karena ini bisa dijadikan bukti tinggal di USA yang akan banyak diminta oleh institusi-institusi lainnya.

2. Kalau tinggal di rumah, bisa gunakan tagihan listrik dan air (utility bills istilahnya) sebagai tanda bukti tinggal di Amerika. Pasangan kita harus menelpon perusahaan ybs untuk menambahkan nama kita di tagihan.

3. Nah setelah ada bukti bertempat tinggal di Amerika, bisa ajukan aplikasi kartu identitas – ibarat KTP lah, judulnya State ID. Dengan memiliki ‘KTP’ ini akan memudahkan kita bertransaksi di tempat-tempat lainnya dari mulai perpustakaan, perbankan, kebun binatang dll.

Nah, Karena di KTP ini akan tercantum alamat kita di Amerika, makanya nomor 1 atau nomor 2 kudu dilakoni dulu. Selain kontrak apartemen dan tagihan air/listrik, surat masuk dengan nama dan alamat kita baru kadang juga bisa dijadikan bukti bertempat tinggal di Amerika.

Karena Saya di Jakarta sudah bisa mengendarai mobil sendiri, Saya tidak pernah memiliki KTP, tapi cukup SIM lokal.

Di beberapa negara bagian, ada yang membolehkan penduduk memiliki KTP dan SIM, tapi di beberapa negara bagian lain, si penduduk cuma boleh memiliki salah satu kartu identitas. Contohnya sewaktu kami tinggal di Ohio. SIM Saya masih berlaku hingga tahun 2014, dan kita tahu kita akan balik ke negara bagian asal (Montana). Jadi Saya ogah menyerahkan SIM Saya, tadinya Saya cuma mau ambil KTP setempat, eh ternyata hukum negara bagian Ohio tidak membolehkan satu orang memiliki 2 KTP dan SIM. Jadi ya Saya ogah ambil KTP/SIM Ohio, yang ada kemana-mana Saya kudu bawa surat dari apartemen yang menyatakan Saya penduduk lokal.

Di Kentucky, ternyata boleh-boleh saja. Lucu ya? Padahl Kentucky dan Ohio berbatasan.

4. Karena Saya  tidak punya uang sama sekali sewaktu baru pindah ke US, jadi kita langsung pergi ke bank suami untuk menambahkan nama Saya di rekening suami – asikk!!- dan dapat kartu debit supaya bisa belanja! hah!!

Nah, masalah bank ini, juga tergantung dari bank masing-masing, kartu identitas apa yang mereka syaratkan. Kalau di tempat Saya bekerja, untuk individu yang bukan warga negara Amerika dan tidak/belum memiliki nomor individu (social security number), bukti identitas yang diperlukan adalah : Paspor, KTP lokal, kartu kredit Visa atau Mastercard atau Discover atau American Express.

Bisa ditanyakan dulu ke bank yang bersangkutan, identitas apa yang mereka minta.

Urusan kartu identitas lokal sudah beres? sip. Langkah selanjutnya?

6. Amat sangat Saya sarankan untuk bisa mengemudi mobil di Amerika. Karena tidak semua kota-kota di Amerika memiliki fasilitas kendaraan umum yang memadai dan bisa diandalkan. Dan tergantung Anda tipe seperti apa? Saya tipe pembosan dan malas selalu tergantung dengan suami untuk diantar ke sana kemari, jadi Saya kudu punya SIM.

Karena Saya sudah biasa menyetir di Jakarta, Saya cukup belajar dengan suami membiasakan diri menyetir di jalur yang berbeda. Jelaslah Saya pernah masuk jalan yang salah…;-).

Untuk yang belum pernah menyetir mobil di Jakarta, monggo daftarkan ke sekolah mengemudi setempat.

Setelah PD mengemudi, mampir ke kantor DMV atau Department Motor Vehicle untuk mengambil bahan tes tertulis mengambil SIM. Pelajari dulu itu soal-soal di rumah supaya nanti sewaktu tes, bisa langsung lulus. Tiap-tiap DMV punya peraturan beda-beda. Kadang Anda bisa tes hingga 3 kali berturut-turut dalam sehari, ada yang hanya membolehkan tes 1 kali sehari.

Sudah PD mengemudi? sudah belajar tes tentang peraturan lalu lintas? Bisa daftarkan untuk tes di DMV setempat.

Nah ini juga berbeda di tiap negara bagian. Ada negara bagian yang calon pengemudi bisa ambil tes tertulis dan langsung tes mengemudi. Di negara bagian lain, karena jadwal yang ketat dan terbatasnya pegawai, si calon harus datang minimal dua kali.

Yang jelas tes tertulis harus lulus dulu baru Anda bisa ambil tes mengemudi.

Alhamdulillah Saya langsung lulus- karena sudah belajar lebih dulu!

7. Dapat identitas lokal sudah. Beres-beres tempat tinggal sudah. Lihat-lihat tempat belanja keperluan sehari-hari sudah. Ngapain lagi dong? bosan? tapi belum bisa kerja? (karena belum dapat ijin kerja). Anda bisa :

a. Daftarkan diri ke ‘adult education class‘ yang di selenggarakan oleh Pemda setempat dan biayanya amat terjangkau. Dari mulai berkebun, memasak, bertukang, dan banyaaaak lagi. Di Louisville, Kentucky bisa dibaca disini,

Saya sendiri pernah ikutan beberapa kelas sewaktu tinggal di Bozeman, biasanya kelas-kelasnya diselenggarakan di malam hari. Lumayan biar ini otak tidak menganggur.

b. Menjadi sukarelawan alias volunteer. Biasanya perpustakaan, tempat ibadah, sekolah, musium, food bankcommunity center selalu ada lowongan untuk sukarelawan. Jangan salah, waktu yang kita habiskan sebagai relawan ini bisa dimasukkan ke dalam resume loh! untuk sekolah, kemungkinan agak lebih sulit karena mereka akan minta laporan latar belakang (background check) dari FBI – dan untuk itu mereka akan perlu SSN kita. (yang kemungkinan belum kita dapatkan)

Kayaknya itu saja deh yang Saya bisa tulis saat ini.

Semoga berguna ya!

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah Kaprah Tentang Amerika : Masyarakat Berpendidikan Tinggi & Berwawasan Luas

Di Jakarta, rekan-rekan kerja Saya itu rata-rata lulusan Universitas. Sarjana S1 lah istilahnya. Dari universitas beken pula. UI, ITB, Trisakti, Pelita Harapan, Pancasila, Pajajaran, Parahyangan, dan seterusnya. Selain universitas lokal, tidak sedikit rekan-rekan kerja yang lulusan universitas luar negeri. Saya juga tahu banyak teman-teman kuliah yang melanjutkan sekolah, untuk mendapat gelar Master. Pokoknya educated lah.

Entah darimana Saya dapatkan pola pikiran Saya, yang jelas di pikiran Saya itu orang-orang Amerika pastilah semua kuliahan. Katanya kan negara adikuasa, bisa ke bulan, polisi dunia; apa-apa kita ‘bercermin’ ke Amerika. Harusnya mereka pintar-pintar dong.

Kebetulan memang Suami Saya yang notabene orang Amerika itu termasuk nerd lah. Kacamata tebal, hobi membaca buku matematik di kamar mandi, dan kalau ditanya soal kimia-biologi, langsung nyerocos sampai membuat Saya ngantuk.

Jadilah waktu Saya hijrah ke Amrik, persepsi Saya itu orang Amerika pintar-pintar, tahu segalanya.

Kenyataannya?

Seperti layaknya Indonesia, orang-orang Amerika ada yang pinter, ada yang bego, ada yang bergelar doktor, ada yang jebolan SMA. Di kota kecil seperti Bozeman, Montana, rekan-rekan kerja Saya rata-rata jebolan SMA. Dan tidak seperti yang Saya asumsikan, mereka tidak ada niat untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, malah cenderung mereka merasa tidak perlu untuk berpendidikan tinggi meskipun di Bozeman ada MSU alias Montana State University.

Saya sempat bingung sendiri, karena mereka ‘bingung’ waktu mengetahui kalau Saya lulusan universitas. Lebih bingung lagi, waktu mendengar pertanyaan ‘Kamu koq bisa berbahasa Inggris?’ (emm…belajar di sekolah kan??!!) atau waktu teman dekat suami bilang ‘Indonesia itu India kan ya?’

Pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar ‘aneh’ lebih banyak lagi di lontarkan terutama waktu mereka tahu kalau Saya tidak merayakan hari Natal.

OMG. Kamu tidak bernatalan? Tidak membelikan hadiah untuk anak kamu (di hari Natal)??

Kamu harus berdoa lagi?  Kamu tidak makan dan minum seharian??

Islam? Apaan tuh?

Cuma sedikit sekali rekan-rekan yang tahu mengenai keberadaan agama lain (Islam tepatnya), sebagian besar cuma melongo.

Lho…apa mereka tidak mendengerkan stasiun berita mereka sendiri ya? FOX gitu? membaca buku? majalah? berita di internet?

Piye?

Baru perlahan-lahan Saya menyadari kalau asumsi Saya tentang orang-orang Amerika adalah salah. Untuk mereka-mereka yang tinggal di kota besar dan lebih beragam penduduknya, penduduk lokal terbiasa terekspos dengan keragamana, ketidakseragaman. Tapi di kota-kota kecil, ya sama seperti di Indonesia, agak-agak ‘kacamata kuda’, terbatas pengetahuan dan wawasan.

Bersyukurlah Saya waktu kecil sudah membaca buku-buku Ramayana, Mahabarata, Tom Sawyer, Moby Dick, Tintin, Lima Sekawan dll. Nonton Unyil, Little House on the Prairie, Sin Tia Eng Hiong, Sin Tiaw Hiap Lu. Belajar tentang Kristen, Buda, Hindu dan sejak kecil sudah sadar kalau tiap orang bisa berbeda keyakinan.

Jadi teman-teman, tidak usah tidak berkecil hati karena tidak berjiwa ala Amerika.

Kita tidak kalah pendidikan dan wawasan koq. Yang penting hayo belajar terus!!!

 

Susah Senang Hidup di Amerika : Belajar Dari Sesama Imigran

Kalau dulu di Jakarta, ya Saya gaulnya sesama pribumi tho? teman-teman boleh dibilang ‘kurang’ beragam, paling-paling beda suku. Nah setelah hijrah di Amerika, Saya menemukan dunia baru : Dunia Imigran.

Baru di Amerika Saya punya bertemu (dan sebagian menjadi berteman) dengan orang Pakistan, Bangladesh, Bulgaria, Turki, India, Ukrania, Kazhakstan, Malaysia, Jepang, Korea, Phillipina, Thailand, Burma, Laos, Vietnam, Rusia, Bosnia, Palestina, Libya, Irak, Iran dan banyak lagi.

Seru!

Saya perhatikan aksen mereka, perhatikan fitur wajah mereka, budaya mereka dan etos kerja mereka.

Beberapa dari mereka terus terang diam-diam Saya kagumi, Saya contoh dan jadikan panutan.

Ada teman dari Pakistan, waktu Saya kenal dia, dia ibu rumah tangga dengan 3 orang anak, sekarang dia bekerja di bank, dan nomor 1 di cabang untuk hal produk terjual. Saya kenal dia waktu tinggal di Bozeman, MT.  Karena dia, Saya coba bekerja di Macy, karena dia Saya gigih melamar ke perbankan.

Teman lain, dia dari Bulgaria, cantiknya minta ampun! Langsing, tinggi, hidung mancung, kulit mulus, tapi dia amat sangat tidak sombong dan tidak ‘merasa diri cantik. Setiap kali dia bekerja, dia selalu capai gol.  Dari dia Saya belajar untuk berani keluar dari comfort zone.

Waktu Saya mulai bekerja di bank, salah satu rekan yang sama-sama di pelatihan berasal dari Rusia.  Awal-awal pertama bekerja, Saya kelimpungan menjual produk, Manajer Saya lalu tunjukkan statistik pegawai mana yang sukses, salah satunya adalah si gadis Rusia ini.

Pikir Saya ‘Wow! Hebat sekali eu!? Dia kan sama-sama di pelatihan sama Saya?? Kalau dia bisa, Saya harus bisa ah!!’

Untungnya Saya ada kesempatan bekerja bareng dengan dia. Saya perhatikan cara dia berinteraksi dengan pelanggan. Hasilnya? Statistik tahun lalu, statistik bulan berjalan, statistik tahun berjalan Saya berhasil melewati statistik dia!!

Atau pelanggan di tempat kerja, ternyata dia salah satu master stylist di salon beken di kota.

Dan banyaaaaaaaaak lagi contoh-contoh lainnya!

Terus terang dari pengamatan pribadi – yang kemungkinan bias- menurut Saya pekerja imigran bekerja lebih keras dibanding pekerja pribumi, paling enggak Saya sendirilah.

Ada rasa ingin membuktikan diri, kalau Saya bukan cuma imigran bloon.

Ada rasa ingin membuktikan diri kalau Saya bukan imigran numpang ‘tenar’ hidup dengan bule yang cuma bisa hura-hura belanja belanji.

Terus terang teman-teman imigran ini membuat Saya bangga menjadi imigran.

Stereotype imigran yang notabene : parasit, ilegal, tidak bayar pajak, tidak berpendidikan dipupus habis oleh mereka-mereka.

 

Susah Senang Hidup di Amerika : Tidak boleh Sakit!

Setelah 30 tahunan tinggal di rumah orang tua, pulang kantor tinggal makan, kalau sakit ada teman atau keluarga yang mau bantu antar ke dokter………..terasa berat sekali tahun-tahun pertama Saya tinggal di Amerika.

Yang jelas, tidak ada pihak dari keluarga Saya yang berdomisili di Amerika, kalau tho ada itu nun jauh di bagian timur,  Saya di barat. Dari pihak suami, kedua orang tua suami sudah meninggal dunia, adik-adik suami yang sudah berkeluarga tinggal di Iowa dan yang lajang tinggal di Minnesota.

Saya juga tipenya bukan orang bergaul. Agak susah berteman ataupun berbasa basi. Tidak pernah minta teman atau keluarga untuk berkunjung bukan kenapa-kenapa, tahu sendiri kalau ongkos tidak murah.

Jadilah semua-muanya kita berdua lakoni. Yang paling ribet terus terang kalau salah satu dari Kami -terutama Saya- sakit.

Ingat sekali waktu anak kami masih bayi, Saya kena demam, badan menggigil , tidak karuan tapi terpaksa tidak bisa istirahat karena si bayi tidak ada yang jaga, suami harus kerja.

Atau sewaktu Suami dioperasi lututnya dan harus dipapah masuk ke rumah karena belum bisa pakai tongkat.

Atau baru-baru ini saya kena infeksi bakteri di tenggorokan, sehari terkapar di tempat tidur; cucian piring wiss menggunung, makanan tidak ada yang masak, pakaian kotor tidak tercuci-cuci…..

Kalau anak sakit, dengan sangat terpaksa Saya harus tetap kerja, syukur Alhamdulillah suami bisa kerja dari rumah sambil mengawasi si kecil, jadi kita tidak kehilangan waktu kerja..keluarga lain bisa telpon ibu atau bapak atau mertua atau kakak atau ipar lainnya.

Kadang kalau Saya lagi ‘bengong’ sendiri, suka takjub juga melihat ke belakang sepak terjang si Eneng ini ‘surviving‘ di Amerika.

Ah…ternyata benar juga kata -kata mutiara ini:

inspirational-quote-stronger

 

Salah kaprah tentang Amerika : Sarana transportasi Umum

Lebih baik Saya mengaku saja, ternyata Saya sama naivenya tentang Amerika seperti kebanyakan orang-orang di Indonesia.

Terus terang di benak Saya, kota-kota di Amerika itu selalu hiruk pikuk, kendaraan lalu lalang. Taksi , Bus, kereta api pastilah ada. Terbayang naik subway mau kerja, sibuk nyetop taksi dll.

Mendaratlah Saya di Bozeman, Montana. Dari segi negara bagian Montana adalah negara bagian terluas keempat di antara 50 negara bagian di Amerika. Dari segi kota, Bozeman, juga kota terbesar keempat di Montana.

Tidak pernah terbersit di kepala Saya  kalau ada kota di Amerika yang tidak memiliki sarana transportasi umum.

Well, I was 100% wrong.

Di Bozeman, kami cuma memiliki satu mobil yang lebih banyak dipakai suami untuk kerja. Jadilah Saya harus menunggu saat suami pulang atau bersepeda ke supermarket terdekat. Untungnya tempat kami tinggal berdekatan dengan supermarket dan mal, jadi Saya bisa berjalan kaki atau bersepeda. Image

Yang berabe itu kalau cuaca tidak mendukung, Saya sendiri mengalami susahnya berwara wiri tanpa kendaraan. Bukan cuma sekali Saya harus menjemput anak dari sekolah dengan bersepeda padahal hujan turun dengan derasnya. Meskipun jarak sekolah dan tempat kami tinggal relatif dekat, tapi tetap saja kita berdua beresiko kedinginan. Mau bagaimana lagi..nasib.

Saya pikir itu cuma di Bozeman saja dong, karena tergolong kota kecil dan di negara bagian antah berantah. Lalu kami pindah ke Cleveland, Ohio. Kota Cleveland jauuuuuuuuh lebih besar dibanding kota Bozeman. Tapi dari segi transportasi umum tidak selalu lebih baik.

Memang lebih banyak bus di Cleveland, tapi kalau dibanding dengan Jakarta, mobilitas dengan transportasi umum boleh dibilang masih dibawah Jakarta.

Dalam arti, bus-bus tidak selalu melewati suburb , kalau di Jakarta, si metro mini mampir setiap 5 menit, di Cleveland, paling cepat 15 menit dan diatas jam tertentu, bus tersebut tidak selalu lewat rute yang sama. Di Jakarta, kita bisa lompat ke bus dengan berbagai tujuan dan transfer ke bus lain dengan mudah, di Cleveland, bisa ketiduran menunggu bis berikutnya datang.

Taksi tersedia, tapi ampun mahal deh ongkosnya. Pernah karena mobil kita mogok, kita harus panggil taksi…alah, jarak 15 mil, harus bayar $60+++.

Di Louisville, sami mawon. Bus umum memang tersedia, tapi sebagian besar rutenya berkisar downtown. Karena tempat kerja Saya lokasinya bukan di pusat bisnis, pernah Saya coba naik bus, walah…capek nunggu si bus dan banyak waktu terbuang percuma, tidak efisien.

Saya sebenarnya tergolong hobi memakai moda transportasi umum, wong sejak SMP, Saya sudah menggunakan bis untuk pulang koq dan bukan tipe peminta-minta terhadap suami. Minta dibelikan mobil, misalnya. Yah wong ngerti sendiri kalau kami belum mampu membeli mobil baru, jadi ya Saya tidak pernah rewel. Lagipula waktu itu Saya tidak bekerja, jadi mobil kedua ya belum dianggap perlu. Meskipun agak-agak merasa terkukung karena harus bergantung pada mobil suami, ya mau gimana lagi, masa mau minta dibelikan teman? gak mungkin kan??!!

Sayang memang, entah kenapa kota seukuran Louisville, tidak digalakkan penggunaan sarana transportasi umum.

Karena kan tidak semua orang mampu memiliki kendaraan pribadi….tapi itulah kenyataan disini, kadang kendaraan pribadi menjadi suatu keharusan , bukan lagi kemewahan.

 

 

 

 

 

Fasilitas Kerja : Indonesia vs. Amerika

Ha. Enak Indonesia kemana-mana! Di Indonesia selalu ada supir kantor yang siap membawa pegawai ke mana saja. Hampir semua pekerja kantoran di Jakarta, Indonesia ya pekerja penuh waktu yang artinya ada asuransi kesehatan yang dibayar kantor, semua pekerja bergaji bulanan (plus bonus). Makan siang mau berapa jam juga cuek, wong dibayar koq. Sakit? koq bingung ya istirahat di rumah, gaji tidak akan berkurang koq.

Hamil? tenang. Cuti melahirkan 3 bulan – gaji tetap mengalir. Setelah bekerja 1 tahun penuh, dijamin mendapat jatah liburan, 12 hari setahun dibayar.

Di Indonesia dunia Saya itu dunia pekerja kantoran. Jam 9 pagi hingga 5 petang. Saya selalu bekerja penuh waktu, hampir tidak pernah tahu yang namanya kerja paruh waktu – kecuali Ibu Saya sendiri yang bekerja 2 pekerjaan dan salah satunya adalah kerja paruh waktu.

Baru di Amerika Saya kenal dengan yang namanya pekerja jam-jaman. Yang hanya dibayar berdasarkan lamanya kita bekerja dikurangi makan siang. Yang hanya dibayar kalau kita bekerja, kalau kita absen bekerja karena alasan apapun, ya hilanglah penghasilan hari itu.

Waktu Saya kerja pertama kali, Saya agak-agak bingung waktu tahu kalau jatah makan siang 1 jam dan itu tidak dibayar. Heh? serius??

Kalau kita bekerja penuh 8 jam sehari, kita dapat 2, 15 menit istirahat yang dibayar. Dan untuk beberapa jenis pekerjaan, hal ini termasuk kemewahan, karena tidak selalu pekerja mendapat istirahat.

Di Amerika akhir-akhir ini sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan-perusahaan besar sibuk mengurangi biaya kepegawaian mereka. Salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah tidak lagi mempekerjakan pegawai penuh waktu.

Kenapa? Karena pekerja penuh waktu itu = asuransi kesehatan harus ada, ada fasilitas hari sakit, ada fasilitas cuti hamil yang semuanya harus dibayar oleh perusahaan.

Terus terang baru kali ini Saya bekerja paruh waktu mendapat fasilitas asuransi kesehatan dan mendapat fasilitas libur dibayar. Sebelumnya sebagai pekeja paruh waktu Saya harus cukup puas dengan upah jam-jaman.

Kadang kalau kita tidak mengalami sendiri tidak terbayang ‘apa sih bedanya mendapat paid sick days atau paid holidays? Why it’s such a big deal?

It is a big deal.(well, for our family at least)

Contohnya waktu suami tergelincir di es dan harus dioperasi lutut, saat itu hanya dia yang bekerja. Setelah operasi dia harus tinggal di rumah selama seminggu. Untungya suami pekerja penuh waktu. Jadi kita tidak perlu bingung karena gaji dia tetap akan dibayar penuh oleh perusahaan meskipun dia sakit.

Atau waktu si kecil liburan musim semi. Ongkos camp itu $120 per minggunya, kalau Saya cuma ‘tidak bekerja’ berarti Saya kehilangan kira-kira $200++.Artinya meskipun Saya tidak bayar $120, tapi Saya kehilangan $200++ alias masih ‘bolong’ $180++.

Nah Saya dapat cuti dibayar, berarti Saya irit $120 dan tidak harus pusing mikir minggu ini tidak dapat bayaran.

Maunya sih ya, Saya dan suami dua-duanya dapat kerja yang mendapat fasilitas penuh….

Insha ALLAH some day….

enjoy-the-little-things-for-one-day-you-may-look-back-and-realize-they-were-the-big-things-15