Saya pribadi gak terlalu heboh masalah kram perut, tapi saya tahu ada teman yang bisa sampai kesakitan saat kram.
Kalau kita pilih mau hamil, beda lagi “penderitaan” yang akan kita alami. Mual2, tekanan darah melejit, jerawatan, rambut rontok, bahkan ada yg harus istirahat di tempat tidur selama hamil.
Saat melahirkan? Widih itu yang namanya kontraksi, berasa retak-retak badan dan berasa semua remuk berkepinh-keping.
Selesai melahirkan beres?
Salah besar!
Saya malah mengalami pendarahan yang gak berhenti-henti karena pemakaian alat kontrasepsi selama 1 tahun lebih. Sampai sempat anemia.
Astaga, sudah umur setengah abad lebih masih cerita soal masa pendewasaan?
Ya ho-oh. Karena baru sadar kalau yang namanya menjadi dewasa atau istilah bahasa Inggrisnya adulting itu ternyata gak sekali jadi yak?
Sungguh, saya itu baru-baru ini saja ngeh, kalau ternyata saya baru belajar menjadi dewasa dan matang (ceileee…pisang kali…) itu baru 20 tahun terakhir? Belajar matang pemikiran? Ini lebih baru lagi deh.
Pendewasaan pertama itu ya juga terpaksa ya? karena pindah ke Amrik, gak ada siapa2.
Eh tapi ya sebenarnya dewasa itu apa sih? Apa semata-mata mengerjakan apa2 sendiri? Belajar bertanggung jawab atas hidup sendiri ? Belajar menghadapi konsekuensi pilihan?
Kalau cuma dilihat dari misalnya, bisa masak sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, saya baru dewasa 20 tahun lalu.
Kalau dilihat dari kemampuan seseorang membiayai diri mereka sendiri, saya ibaratnya masih balita. Karena baru di tahun 2021 akhir saya bisa menghidupi saya sendiri setelah bertahun-tahun ngendon orang tua, lanjut dengan ngendon suami.
Satu hal yang saya sendiri takjub akan proses pendewasaan diri saya sendiri adalah saya perhatikan saya jadi lebih resourceful. Apa ya bahasa Indonesianya? Intinya saya berusaha memakai dulu apa yang saya miliki sebelum saya beli baru.
Mungkin ya karena kantong pas-pasan juga kali….tapi ni… memang saya kalau baca tentang betapa bejibunnya sampah konsumsi manusia, saya suka panik sendiri. Ditambah juga waktu merasakan sendiri pas pindahan , haduh, koq barang banyak sekali ya??
Selain malu dan rasanya bersalah banget kalau buang-buang barang, juga kepikiran, nanti kalau saya tiba-tiba meninggal, kasihan gak sih yang harus urus barang-barang saya??
Selain itu saya mau lebih sadar lingkungan juga lah. Jadi kombinasi antara kantong pas-pasan dan mau lebih sadar lingkungan, saya jadi lebih mawas diri kalau mau beli ini itu.
Jadi ya dari mulai hal yang keperluan seperti memasak, sampai hal sepele , seperti cari dekorasi, saya sebelum ngacir ke toko, celingukan dulu di sekitar rumah.
Kalau masalah dapur, saya minimal selalu sedia : nasi, telur, tahu, sayuran beku, kecap manis, kecap asin, garam merica, bawang putih bubuk, mi instan.
Kalau masalah hal-hal tersier, ‘untung’nya saya di masa lalu itu boros. Jadi saya punya banyak barang reblekan.
Minggu lalu sempat jalan sama anak saya, dia mau beli ini itu untuk bikin kostum Halloween dia, yang ada saya senewen ‘ngapain sik beli? Pakai yang ada dulu aja gak bisa?? ‘ Karena saya pun membuat kostum Halloween sendiri, tapi cuma beli 1 bahan baru, yang lainnya memakai bahan-bahan yang saya sudah miliki.
Hasilnya? Pahlawan khayalan dan dinobatkan sebagai pemenang kostum paling kreatif di kantor.
Contoh lain ni. Saya gatel ingin buat dekorasi di depan pintu, karena saat ini area depan pintu saya yang tadinya penuh dengan tanaman-tanaman rumah, sekarang agak kosong melompong.
Beli dekorasi? eMoH deh. Keluar duit lagi? (Jiwa pas-pasan saya bergejolak). Celingukanlah saya di apartemen.
Dan jadilah dekorasi sederhana dari bunga kering dan bunga kertas peninggalan entah tahun kapan.
Masih kurang puas. Maklum saya konon tipe maksimalis. Ya puter otak lagi.
Saya punya ide di kepala. Yang jelas pengen pakai lilin kecil gitu. Romantis kayaknya. Tapi selain lilin apa lagi dong?
Lihat utasan si ibu bule yang suka bertanam bunga dan bikin dekorasi dari bahan-bahan alami. Pine cone lucu juga? Bisa kali di dapat dari pas jalan-jalan di taman. Gak perlu keluar duit kan?
Jadilah saya bertekad untuk mencari pine cone , eh hari ni nemu dong! Dekat tempat tinggal lagi! Gak perlu jauh-jauh.
Dan kebetulan saya punya pot kaca yang tebal dan bagus , saya beli pas saya lagi hobi bikin terarium. Ini pot agak-agak terbengkalai gitu. Kasihan kan?!
Saya tatalah itu pine cone, eh kurang oke? Eh kan punya sisa pasir? Kan punya sisa rumput palsu? Kan punya gelas kaca pendek bekas yogurt?
Dan jadilah center piece lucu-lucuan di bawah ini…
Saya setuju sik dengan apa yang dikatakan si pembicara.
Kalau masalah2 sepele okelah ya, kita bisa cuma angkat bahu dan cengengesan saat ada teman yang “ribut”.
Tapi kalau sudah masalah prinsip? Saya jelas akan berpihak sik. Dan ini juga yang membuat saya menjauh dari ‘teman-teman’ di sini.
Hal prinsip itu seperti apa ya? Ya memang beda-beda pastinya untuk setiap orang ya.
Buat saya ni. Contoh hal prinsip adalah saat saya dengan bego nya cerita hal yang memalukan yang terjadi dengan saya, (dibaca pelecehan seksual) si pendengar dengan entengnya bilang ‘saya nanti jodohnya’ dengan si yang bikin malu saya?
Ya saya putus. Berarti pandangan hidup dia ya sudah beda banget dengan saya ya.
Contoh lain. Saya dikata-katain oleh anak umur 8 tahun. Saya kasih tahu ke orang tua, si ortu cuma bilang ‘Namanya juga anak-anak “
Ya selamat tinggal. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan ortu model seperti itu.
Saya memang tipe ‘setia’ , solider, entah itu sama pacar, saudara atau teman.
Kalau teman saya misalnya lagi uring-uringan dengan seseorang, dan saya ngerti kenapa dia uring-uringan, ya saya gak bakal lah manis2 dengan si orang yang teman saya uring-uringan.
Itu saja sih yang minta dari hubungan saya dengan seseorang.
Dan ternyata dari utasan IG ini, ada juga yang sependapat dengan saya.
Jadi ni..salah satu gak enaknya tinggal di negara 4 musim, adalah masalah pengungsian tanaman dari teras ke dalam ruang
Nah masuk bulan Oktober tahun ini, suhu udara cepat menurun. Jadilah saya harus masukkan tanaman2 saya ke dalam ruang. Tahun lalu saya telat masukkin tanaman2 saya, yang ada banyak yang mati…😭. Ugh. Nyesel banget. Makanya tahun ini saya lebih was was memperhatikan cuaca
Masalahnya ruang yang kena matahari di apartemen saya itu cuma sedikit sekali. Harus putar otak cara penempatannya supaya semua tanaman bisa masuk.
Kebetulan kapan itu, saya lihat tetangga atas saya mau buang rak/meja. Terus saya bilang. Eh mau dibuang ya? Buat saya saja boleh?. Dan ternyata mereka membolehkan. Saya tahu banget rak tersebut akan saya gunakan untuk menaruh tanaman2 saya.
Dan ternyata rak yang gak seberapa besar itu muat untuk kurleb 12 pot tanaman. Tanaman2 lainnya ada yang saya gantung, ada yang saya taruh di kursi lipat (yang juga di ambil dari tempat sampah apartemen) , taruh di bangku dekorasi.
Untuk mengakali sedikitnya sinar matahari , saya memang pakai grow light. Ini juga harus diakali penempatannya. Yang jelas ruang vertikal benar2 saya manfaatkan, ya untuk gantung tanaman maupun menggantung lampu2.
Saat ini boleh dibilang “hutan” kecil saya sudah komplit. Hampir semua tanaman2 yang harus masuk, sudah masuk. Lampu2 sudah ditempatkan sedemikian rupa supaya semua tanaman mendapatkan cahaya tambahan selain cahaya matahari dari pintu teras.
Tanaman2 saya selain berwarna hijau, ada yang daunnya berpigmen putih dan merah jambu hingga keunguan /merah anggur. Saya juga isengnya kumat, menyelipkan boneka2 binatang kecil di sela2 tanaman2 saya. Whimsical banget lah.
Yang pasti saya tu senang banget dengan “hutan” kecil saya. Setiap kali saya tengok, hati saya adem dan bahagia.❤️
Padahal cuma kecil banget gitu loh.
Eh ternyata yaaaa.., dari segi regulasi emosi, memiliki pojokan kalem itu bagus untuk membantu kita menenangkan sistem saraf kita loh. Kebetulan koq nemu utasan di IG di bawah ini.
Jadi ternyata tanpa saya sadari “hutan” kecil saya itu pojokan kalem saya juga!
Sejak tinggal sorangan dewe, yang namanya pengeluaran harus diperhatikan banget.
Saya mau mulai seri baru ah. Cari diskon di Amerika gitu…bukan ngumpulin kupon ini itu sik, cuma ya bagi2 tip yang saya sendiri terapkan sehari-hari saja.
Jadi banyak supermarket2 di Amrik punya program yang namanya Fuel Points. Biasanya supermarket2 besar sik. Yang saya tahu itu Giant Eagle di Ohio, Kroger di Ohio, Kentucky. Trader’s Joe dan Whole Food setahu saya tidak punya program ini ya.
Saya baru tahu fuel points ini waktu tunggal di OH, di negara bagian sebelumnya saya gak kenal istilah fuel points.
Jadi intinya ya setiap kali kita berbelanja di supermarket ybs, kita dapat poin.
Nah poin2 itu oleh supermarket dikonversi ke potongan harga bensin per galonnya, 100 poin = $0.10. Ihhh masa cuma 10 sen ? Sedikit sekali??! Memang sih kayaknya sedikit ya? Tapi kalau kita memang sering belanja di tempat yang sama, poin ini lama2 jadi bukit loh!
Kemarin saya dapat potongan sempati $0.60, harga bensin yang tadinya $2.79/galon, jadi cuma $2.19/galon kalau di kalıkan dengan kapasitas tangki 20 galon misalnya, kita irit $12 loh.
Selain belanja barang2 lebutuhan sehari-hari di supermarket, kadang supermarket kasih promo gitu, misalnya beli gift card dapat tambahan point 2x lipat, atau isi survey, dapat 50 point ekstra.
Coba saya pengen dengar cerita teman2 . Ada yang bisa kumpulkan point banyak gak?
Masih topik yang sama dan masih ada sangkut pautnya dengan tulisan saya sebelumnya,
Hijrah ke Amrik berati juga…..
Kemungkinan besar kita akan kehilangan momen2 penting di keluarga besar di Indonesia, dari mulai perkawinan, kelahiran anak dan kematian.
Lagi2 ya, ini salah satu dari sekian banyak hal yang saya tidak pikirkan.
Buat saya yang kenyataan paling memilukan gak bisa pulang saat itu juga adalah saat kematian orang tua.
Tahun 2010, Ibu saya kena stroke saya cuma bisa manyun, jangankan mudik, saat itu pasangan saya baru mulai kerja kembali setelah setahun tidak bekerja.
2014, Bapak meninggal, saya terima kabar pas lagi kerja, sepupu saya di NY telpon buat kasih tahu. Nangis lah saya di tempat. Pulang ke apartmen, lagi2 saya cuma bisa nangis di kamar.
2019, ibu meninggal, saya cuma bisa doakan dari jauh.
Bukan cuma masalah gak bisa menghantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhir yang bikin pahit, pilu dan pedih, siap2 juga diomongin sama keluarga besar.
‘Dasar anak gak tahu diri, masa orang tua sakit gak bisa ditengok?
‘Sudah lupa sama keluarga/budaya ya? Masa segitu gak ada duitnya ?? ‘
‘Memang suaminya kerja apa sih?’
Yang nyebelinnya lagi , yang berisik itu orang2 berada loh..yang bisa jalan2 keluar negeri cuma buat ikutan lomba lari, nengokin anaknya yang sekolah/tinggal di luar negeri.
Saya gak bilang kondisi itu berlaku buat semua imigran Indo di luar negeri loh ya. Seperti yang saya bilang di tulisan saya sebelumnya, banyak juga orang2 Indo yang gak ada masalah buat angkat koper saat itu juga saat ada musibah di kampung halaman, ada hajatan atau sekedar berlebaran/bernatalan atau merayakan hari besar lainnya dengan keluarga besar di Indo.
Saya salah satu contoh yang gak bisa.
Realita berikutnya
Kita benar2 hidup sendiri tanpa keluarga.
Maksudnya? Gak semua punya pasangan yang punya keluarga besar misalnya. Tidak ada mertua, atau kakak/adik ipar.
Kita benar2 nikah dengan si bule tanpa ada keluarga tambahan lainnya
Ini berat juga loh. Apalagi kalau kita pas di Indo biasa dikelilingi dengan sepupu, Oom, tante segambreng.
Beratnya dimana gitu?
Contoh. Buat pasangan yang memilih untuk mempunyai anak, siap2 pas melahirkan kamu gak ada yang nolong. Gak semua pasangan bersifat kebapakan, banyak juga yang cuek atau gak ngerti mengurus anak.
Atau saat pasangan sakit dan harus masuk rumah sakit atau kena musibah lain padahal anak masih kecil dan kita tidak bekerja. Artinya kehilangan penghasilan.
Saya baru ngeh kalau orang-orang bule lokal pun bisa dibilang lebih beruntung. “I am moving in with my mom_sister/brother..
Ada tempat untuk menampung saat “jatuh” itu ternyata privileged banget.
Dan gak bohong waktu saya sadar kalau saya gak punya siapa2, ya pedihlah.
Mudah2an setelah baca tulisan realita seperti ini, orang2 gak comel lagi ya bisa lebih empati.
Hari Minggu kemarin, saya bebersih kulkas, waduh koq kosong banget ya! Telur tinggal 3 biji, wortel tinggal segenggam, , sayuran hijau tinggal satu jenis. Wah sudah waktunya belanja ini!
Saya itu paling malas yang namanya pergi belanja keperluan dapur ataupun keperluan sehari2. Kenapa? Apa lagi sejak tinggal sendiri dan sejak inflasi. Amit-Amit! Mahalnya minta ampun!
Tapi ya kadang harus kan?
Nah ya sekalian ya saya cerita saja disini kalau belanja itu apa saja.
Biasanya saya kalau belanja itu ke Costco, tempat belanja khusus member, iuran tahunannya $60, saya pilih belanja disini bukan karena keren, tapi karena dekat rumah, harus relatif lebih murah dan ada fasilitas pompa bensin yang asli paling murah di kota saya.
Biasanya saya belanja disini itu buat beli barang-barang tahan lama dan buat bahan-bahan makanan yang pasti saya perlukan.
Barang-barang keperluan rumah tangga yang saya biasanya beli di Costco itu :
Sabun cuci piring
Sabun mesin cuci piring
Tisu kamar Mandi
Tisu dapur
Pembalut
Sabun cair tangan
Sabut pembersih (sponge)
Pel Lantai
Pembersih debu lantai
Sabun cuci baju
Sabun Mandi
Kalau Bahai-bahan makanan yang saya pastikan beli itu:
Telur 5 lusin – hampir setiap hari saya makan telur dan tahu sendir dong, orang Indonesia, kalau ada nasi dan telur, ya survive lah!
Beras = iya beras melati ada loh di Costco dan lebih murah dibanding toko Asia lokal
Wortel 5 lbs, buat bikin sup2 an, bakwan, nasi goreng, bihu goreng
Tahu , meskipun bukan tahu pong, atau tahu Sumedang, saya tetap demen sama tahu
Sayuran hijau – kadang bayam, 2 ikat, kadang buncis beku, yang penting ada sayuran hijau
Kaldu kaleng
Santan kelapa
Minyak goreng, biasanya saya beli 2 jenis. Minyak alpukat dan minyak zaitun
Mentega beli yang merek Costco saja
Dada ayam atau paha ayam 6 kantong, satu kantongnya isi 4 -5
Kalau segambreng barang-barang diatas saya beli sekaligus, itu bisa habis $300. Asli pediiih pas bayar!
. Ih mbak kaya amat? Bukaaaan!! Ini mah harus, bukan masalah kaya! Tapi ya kan menghabiskan uang sebesar itu gak tiap bulan ya?
Biasanya saya sik 4 bulan sekali baru belanja besar lagi. Jadi ya saya pasrahkan saja lah…( sambil tetep nangis dalam hari…😭)
Nah, selain barang-barang diatas, kadang ada bahan-bahan makanan tambahan yang saya beli buat persediaan darurat, alias pas malas masak, atau malas ke supermarket atau pas cuaca jelek gak bisa keluar.
Biasanya yang saya beli itu:
Jamur kalengan – saya suka banget sama jamur, kalau beli segar, koq lebih sering dibuangnya ya? Ya sudah beli kalengan saja
Kentang parut kering – untuk makan pagi
Sosis beku
Pangsit
Sardin kaleng – asli pas kepepet , cukup mengenyangkan. Sama pacar saya, pasti diledekin kalau saya bilang saya makan sardin kaleng
Selain Costco, saya juga pergi ke supermarket biasa, seperti Kroger, Walmart buat beli yang receh-receh, yang ukurannya gak buat orang sekampung.
Mau lihat harga2 barang yang saya sebut diatas? Bisa lihat disini.
Eh tulisan ini bukan buat nampang loh ya, ini sekedar memberikan gambaran nyata hidup sehari-hari di Amrik.
Ini harga2 di Costco di kota saya, skala sedang. Saya sendiri Alhamdulillah bukan di kategorikan miskin, tapi bukan kategori 2% juga🤪. Meskipun anak saya selalu bilangnya Kamu kere Mom.
Harga-harga barang ini saya foto setelah inflasi….pedih banget loh lihat kenaikan harca…(contoh sardin kaleng sebelum inflasi $6.99 sekarang $9.99..pedih kan?!?!)
Jam 2.20 an, hari ini lagi asik2 dengerin lagu di TV, eh koq lampu kamar mandi kedip2 ya? Beberapa detik kemudian..blas…mati.
Lhaaa…mati listrik??? Yang bener?! Sejak tinggal di sendiri, saya gak pernah ngalami mati listrik. Memang Alhamdulillah daerah saya lumayan jarang kena mati listrik meskipun habis kota habis kena badai..
Memang semalam, kota saya kena hujan besar dengan angin kencang 80 mil/jam. Saya pas lagi gak di rumah. Badainya cuma 20 -30 menit.
Tapi pas kita keluar, berasa gimana kencangnya itu angin. Pagi2 pas kita jalan olah raga ke taman dekat rumah..wuih pohon2 tumbang di sekeliling taman.
Ini pohon batangnya kelihatan besar loh, tapi tumbangGak kena si lampu,🫢
Lha..badai kemarin koq mati lampunya sekarang? Yang paling repot masalah isi kulkas kan??!
Saya keluar, tetangga juga pada keluar, nanyain hal yang sama.
Cek peta mati listrik . Waduh..memang sekomplek dan sekitar kita mati. Pas saya text buat cek kondisi..jawabannya
Haaaa??!! Listrik baru nyala lagi hari Rabu??? Gimana makanan2 ??
Cek tempat anak tinggal. Oh ternyata tempat mereka gak mati. Ya sudah berarti bisa kasih makanan ke dia.
Cek tempat kerja (ada kulkas soalnya). Mereka aman. Ok. Langsung aku text bos. Kasih tahu kondisi.
Cek teman yang suaminya kerja di perusahaan listrik. Dia mau bawain aku cooler gede buat masukkin makanan, buat bawa ke tempat teman saya di kota yang listriknya gak mati.
Langsung ngepak laptop buat kerja, baju buat kerja di tempat kedua.
Jam 4 lampu nyala!!! Pas temen saya juga dateng dengan cooler nya!! Seperti ya mati lampu daerah kita buat memperbaiki daerah2 yang lebih parah.
Puiiih…Alhamdulillah banget!! Saya jadi gak usah ngerepotin orang ngungsi ke sana ke mari.
Saya text teman kerja yg juga tinggal di Louisville. Ya ampun dia juga kena mati lampu dan belum nyala lagi!
Saya tawarin dia buat kerja di tempat saya kalau dia mau (kita kerja dari rumah).
Karena saya berasa banget paniknya pas listrik mati. Bingung makanan. Bingung mau kerja gimana. Bingung tidur gimana?
Sekali lagi Alhamdulillah bangettt..mati listrik tempat aku gak lama2.
Beneran ih…hidup sendiri itu susah juga ya?!!
Belajar dari teman saya, dia bilang kalau dia langsung beli es beberapa kantong yang lalu dia taruh di kulkas, buat mendinginkan makanan sementara.
Repot banget yaaa kalau listrik mati!
Semoga temen2 gak ada yang harus mengalami mati listrik lama.!