hidup

Adaptasi Setelah Tinggal di Amrik

Adaptasi setelah tinggal di Amrik? wuiiih tak terhitung…ha…ha..ha..sampai sekarangpun – hampir sepuluh tahun – masih banyak hal-hal yang Saya ‘bandel’ ogah beradaptasi atau kurang bisa beradaptasi.

Contohnya :

Masalah kamar mandi, bilas berbilas. Tetap cenderung ke cara Indonesia, yaitu memakai air, dibanding memakai tisu. Tapi mau gimana lagi, disini ya tidak ada air lah.

Saking geregetan harus bilasan dengan air, sampai-sampai minta dikirimin gayung dari tanah air.

Jadilah Saya di tahun pertama kemana-mana bawa botol air kosong ; sampai sekarang masih sering dilakukan terutama kalau pergi piknik atau kemping di hutan.

Atau masalah makan nasi memakai garpu. Duh. Gak lah, tetap makan pakai sendok, meskipun ini sendok buat sup, pura-pura bego saja, yang penting sendok. Mau diketawain terserah, yang penting hati puas makan nasi pakai sendok.

Hal-hal lainnya yang Saya cukup berhasil (dan masih terus) beradaptasi adalah :

1. Nonton TV tanpa ada terjemahan bahasa Inggris.

Maklum kan di Indonesia, semua film-film berbahasa Inggris yang kita tonton selalu ada terjemahan bahasa Indonesia kan? Bulan-bulan pertama nonton film, agak-agak panik…Eng…terjemahannya mana ya? – Oh iya..ini kan di Amrik ya..bukan di Jakarta.

Jadilah konsentrasi penuh dengarin percakapan si bule. Sekarang ini, kalau ada pilihan ‘subtitle‘ di dvd, Saya selalu pasang. Maklum, antara mengerti lewat pendengaran dan mengerti lewat bacaan, Saya lebih cepat mengerti lewat bacaan.

2. Mengetahui lokasi dengan menggunakan arah kompas : Utara, Selatan, Timur dan Barat.

Hadweeeh…..secara Saya itu terbelakang kalau masalah 3 dimensi dan kebiasaan di Jakarta, cukup bilang ‘arah blok M’, arah kota, belok kiri, belok kanan, disini orang-orang bilang ‘dari arah utara, selatan dari kota X dsb. Terpaksalah Saya memaksakan diri untuk mengerti dimana SEBUT. Kalau boleh memilih sih, tetap pakai belok kiri, belok kanan dll…hi..hi..hi..

3. Menyetir di sebelah kanan dan mengerti penamaan jalan di Amrik.

Kalau di Indonesia, jalan-jalan tol itu dinamakan sesuai dengan nama wilayah ; Jalan tol Cawang-Tg. Priok, Jalan tol lingkar luar Kebon Jeruk dsb, disini jalan-jalan semua ditandai dengan nomor.
I-90, I265, US40, SR65 dsb.

Dimana I artinya Interstate, jalan yang menghubungkan negara bagian yang satu dengan negara bagian yang lain.

Kalau ada 2 digit nomor setelah huruf I, itu biasanya jalan bebas hambatan (freeway)antar negara bagian.

Semua negara bagian di Amerika boleh dibilang ‘disambung’ dengan jalan interstate ini,dari barat ke timur dan dari selatan ke utara.

Nah, kalau jalanannya bernomor 3 digit, itu biasanya jalan lingkar luar kota atau jalan cabang dari jalan utama yang 2 digit. Contoh di Kentucky, salah satu jalan interstate utama di sini itu I64, di I-64, jalanan bercabang menjadi I264. Gampangnya, kalau bingung kita ada dimana, lihat 2 nomor terakhir, jadi kita tahu kalau kita di jalan cabang dari I64.

Terus terang Saya masih keder menyetir di tengah kota. Maklum, pertama kali tinggal di Amrik itu di kota cilik, yang jalannya hanya liner dan 1 grid blok.

Waktu pindah ke Cleveland Ohio, asli bingung; tinggal di Louisville, Kentucky entah kenapa lebih bingung lagi….ha….ha…ha..parah!

Masalah jalan-jalan di Amrik ini nanti Insha ALLAH Saya bahas lebih heboh lagi yak.karena beda-beda di tiap kota.

4. Makanan

Tetap nasih favorit sepanjang masa. Bisa sih makan cereal buat sarapan, tapi yang ada satu jam kemudian peruk keroncongan, karena sudah lapar lagi!

Susah Senang Hidup di Amerika : Belajar Dari Sesama Imigran

Kalau dulu di Jakarta, ya Saya gaulnya sesama pribumi tho? teman-teman boleh dibilang ‘kurang’ beragam, paling-paling beda suku. Nah setelah hijrah di Amerika, Saya menemukan dunia baru : Dunia Imigran.

Baru di Amerika Saya punya bertemu (dan sebagian menjadi berteman) dengan orang Pakistan, Bangladesh, Bulgaria, Turki, India, Ukrania, Kazhakstan, Malaysia, Jepang, Korea, Phillipina, Thailand, Burma, Laos, Vietnam, Rusia, Bosnia, Palestina, Libya, Irak, Iran dan banyak lagi.

Seru!

Saya perhatikan aksen mereka, perhatikan fitur wajah mereka, budaya mereka dan etos kerja mereka.

Beberapa dari mereka terus terang diam-diam Saya kagumi, Saya contoh dan jadikan panutan.

Ada teman dari Pakistan, waktu Saya kenal dia, dia ibu rumah tangga dengan 3 orang anak, sekarang dia bekerja di bank, dan nomor 1 di cabang untuk hal produk terjual. Saya kenal dia waktu tinggal di Bozeman, MT.  Karena dia, Saya coba bekerja di Macy, karena dia Saya gigih melamar ke perbankan.

Teman lain, dia dari Bulgaria, cantiknya minta ampun! Langsing, tinggi, hidung mancung, kulit mulus, tapi dia amat sangat tidak sombong dan tidak ‘merasa diri cantik. Setiap kali dia bekerja, dia selalu capai gol.  Dari dia Saya belajar untuk berani keluar dari comfort zone.

Waktu Saya mulai bekerja di bank, salah satu rekan yang sama-sama di pelatihan berasal dari Rusia.  Awal-awal pertama bekerja, Saya kelimpungan menjual produk, Manajer Saya lalu tunjukkan statistik pegawai mana yang sukses, salah satunya adalah si gadis Rusia ini.

Pikir Saya ‘Wow! Hebat sekali eu!? Dia kan sama-sama di pelatihan sama Saya?? Kalau dia bisa, Saya harus bisa ah!!’

Untungnya Saya ada kesempatan bekerja bareng dengan dia. Saya perhatikan cara dia berinteraksi dengan pelanggan. Hasilnya? Statistik tahun lalu, statistik bulan berjalan, statistik tahun berjalan Saya berhasil melewati statistik dia!!

Atau pelanggan di tempat kerja, ternyata dia salah satu master stylist di salon beken di kota.

Dan banyaaaaaaaaak lagi contoh-contoh lainnya!

Terus terang dari pengamatan pribadi – yang kemungkinan bias- menurut Saya pekerja imigran bekerja lebih keras dibanding pekerja pribumi, paling enggak Saya sendirilah.

Ada rasa ingin membuktikan diri, kalau Saya bukan cuma imigran bloon.

Ada rasa ingin membuktikan diri kalau Saya bukan imigran numpang ‘tenar’ hidup dengan bule yang cuma bisa hura-hura belanja belanji.

Terus terang teman-teman imigran ini membuat Saya bangga menjadi imigran.

Stereotype imigran yang notabene : parasit, ilegal, tidak bayar pajak, tidak berpendidikan dipupus habis oleh mereka-mereka.

 

Susah Senang Hidup di Amerika : Tidak boleh Sakit!

Setelah 30 tahunan tinggal di rumah orang tua, pulang kantor tinggal makan, kalau sakit ada teman atau keluarga yang mau bantu antar ke dokter………..terasa berat sekali tahun-tahun pertama Saya tinggal di Amerika.

Yang jelas, tidak ada pihak dari keluarga Saya yang berdomisili di Amerika, kalau tho ada itu nun jauh di bagian timur,  Saya di barat. Dari pihak suami, kedua orang tua suami sudah meninggal dunia, adik-adik suami yang sudah berkeluarga tinggal di Iowa dan yang lajang tinggal di Minnesota.

Saya juga tipenya bukan orang bergaul. Agak susah berteman ataupun berbasa basi. Tidak pernah minta teman atau keluarga untuk berkunjung bukan kenapa-kenapa, tahu sendiri kalau ongkos tidak murah.

Jadilah semua-muanya kita berdua lakoni. Yang paling ribet terus terang kalau salah satu dari Kami -terutama Saya- sakit.

Ingat sekali waktu anak kami masih bayi, Saya kena demam, badan menggigil , tidak karuan tapi terpaksa tidak bisa istirahat karena si bayi tidak ada yang jaga, suami harus kerja.

Atau sewaktu Suami dioperasi lututnya dan harus dipapah masuk ke rumah karena belum bisa pakai tongkat.

Atau baru-baru ini saya kena infeksi bakteri di tenggorokan, sehari terkapar di tempat tidur; cucian piring wiss menggunung, makanan tidak ada yang masak, pakaian kotor tidak tercuci-cuci…..

Kalau anak sakit, dengan sangat terpaksa Saya harus tetap kerja, syukur Alhamdulillah suami bisa kerja dari rumah sambil mengawasi si kecil, jadi kita tidak kehilangan waktu kerja..keluarga lain bisa telpon ibu atau bapak atau mertua atau kakak atau ipar lainnya.

Kadang kalau Saya lagi ‘bengong’ sendiri, suka takjub juga melihat ke belakang sepak terjang si Eneng ini ‘surviving‘ di Amerika.

Ah…ternyata benar juga kata -kata mutiara ini:

inspirational-quote-stronger

 

Salah kaprah tentang Amerika : Sarana transportasi Umum

Lebih baik Saya mengaku saja, ternyata Saya sama naivenya tentang Amerika seperti kebanyakan orang-orang di Indonesia.

Terus terang di benak Saya, kota-kota di Amerika itu selalu hiruk pikuk, kendaraan lalu lalang. Taksi , Bus, kereta api pastilah ada. Terbayang naik subway mau kerja, sibuk nyetop taksi dll.

Mendaratlah Saya di Bozeman, Montana. Dari segi negara bagian Montana adalah negara bagian terluas keempat di antara 50 negara bagian di Amerika. Dari segi kota, Bozeman, juga kota terbesar keempat di Montana.

Tidak pernah terbersit di kepala Saya  kalau ada kota di Amerika yang tidak memiliki sarana transportasi umum.

Well, I was 100% wrong.

Di Bozeman, kami cuma memiliki satu mobil yang lebih banyak dipakai suami untuk kerja. Jadilah Saya harus menunggu saat suami pulang atau bersepeda ke supermarket terdekat. Untungnya tempat kami tinggal berdekatan dengan supermarket dan mal, jadi Saya bisa berjalan kaki atau bersepeda. Image

Yang berabe itu kalau cuaca tidak mendukung, Saya sendiri mengalami susahnya berwara wiri tanpa kendaraan. Bukan cuma sekali Saya harus menjemput anak dari sekolah dengan bersepeda padahal hujan turun dengan derasnya. Meskipun jarak sekolah dan tempat kami tinggal relatif dekat, tapi tetap saja kita berdua beresiko kedinginan. Mau bagaimana lagi..nasib.

Saya pikir itu cuma di Bozeman saja dong, karena tergolong kota kecil dan di negara bagian antah berantah. Lalu kami pindah ke Cleveland, Ohio. Kota Cleveland jauuuuuuuuh lebih besar dibanding kota Bozeman. Tapi dari segi transportasi umum tidak selalu lebih baik.

Memang lebih banyak bus di Cleveland, tapi kalau dibanding dengan Jakarta, mobilitas dengan transportasi umum boleh dibilang masih dibawah Jakarta.

Dalam arti, bus-bus tidak selalu melewati suburb , kalau di Jakarta, si metro mini mampir setiap 5 menit, di Cleveland, paling cepat 15 menit dan diatas jam tertentu, bus tersebut tidak selalu lewat rute yang sama. Di Jakarta, kita bisa lompat ke bus dengan berbagai tujuan dan transfer ke bus lain dengan mudah, di Cleveland, bisa ketiduran menunggu bis berikutnya datang.

Taksi tersedia, tapi ampun mahal deh ongkosnya. Pernah karena mobil kita mogok, kita harus panggil taksi…alah, jarak 15 mil, harus bayar $60+++.

Di Louisville, sami mawon. Bus umum memang tersedia, tapi sebagian besar rutenya berkisar downtown. Karena tempat kerja Saya lokasinya bukan di pusat bisnis, pernah Saya coba naik bus, walah…capek nunggu si bus dan banyak waktu terbuang percuma, tidak efisien.

Saya sebenarnya tergolong hobi memakai moda transportasi umum, wong sejak SMP, Saya sudah menggunakan bis untuk pulang koq dan bukan tipe peminta-minta terhadap suami. Minta dibelikan mobil, misalnya. Yah wong ngerti sendiri kalau kami belum mampu membeli mobil baru, jadi ya Saya tidak pernah rewel. Lagipula waktu itu Saya tidak bekerja, jadi mobil kedua ya belum dianggap perlu. Meskipun agak-agak merasa terkukung karena harus bergantung pada mobil suami, ya mau gimana lagi, masa mau minta dibelikan teman? gak mungkin kan??!!

Sayang memang, entah kenapa kota seukuran Louisville, tidak digalakkan penggunaan sarana transportasi umum.

Karena kan tidak semua orang mampu memiliki kendaraan pribadi….tapi itulah kenyataan disini, kadang kendaraan pribadi menjadi suatu keharusan , bukan lagi kemewahan.

 

 

 

 

 

Fasilitas Kerja : Indonesia vs. Amerika

Ha. Enak Indonesia kemana-mana! Di Indonesia selalu ada supir kantor yang siap membawa pegawai ke mana saja. Hampir semua pekerja kantoran di Jakarta, Indonesia ya pekerja penuh waktu yang artinya ada asuransi kesehatan yang dibayar kantor, semua pekerja bergaji bulanan (plus bonus). Makan siang mau berapa jam juga cuek, wong dibayar koq. Sakit? koq bingung ya istirahat di rumah, gaji tidak akan berkurang koq.

Hamil? tenang. Cuti melahirkan 3 bulan – gaji tetap mengalir. Setelah bekerja 1 tahun penuh, dijamin mendapat jatah liburan, 12 hari setahun dibayar.

Di Indonesia dunia Saya itu dunia pekerja kantoran. Jam 9 pagi hingga 5 petang. Saya selalu bekerja penuh waktu, hampir tidak pernah tahu yang namanya kerja paruh waktu – kecuali Ibu Saya sendiri yang bekerja 2 pekerjaan dan salah satunya adalah kerja paruh waktu.

Baru di Amerika Saya kenal dengan yang namanya pekerja jam-jaman. Yang hanya dibayar berdasarkan lamanya kita bekerja dikurangi makan siang. Yang hanya dibayar kalau kita bekerja, kalau kita absen bekerja karena alasan apapun, ya hilanglah penghasilan hari itu.

Waktu Saya kerja pertama kali, Saya agak-agak bingung waktu tahu kalau jatah makan siang 1 jam dan itu tidak dibayar. Heh? serius??

Kalau kita bekerja penuh 8 jam sehari, kita dapat 2, 15 menit istirahat yang dibayar. Dan untuk beberapa jenis pekerjaan, hal ini termasuk kemewahan, karena tidak selalu pekerja mendapat istirahat.

Di Amerika akhir-akhir ini sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan-perusahaan besar sibuk mengurangi biaya kepegawaian mereka. Salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah tidak lagi mempekerjakan pegawai penuh waktu.

Kenapa? Karena pekerja penuh waktu itu = asuransi kesehatan harus ada, ada fasilitas hari sakit, ada fasilitas cuti hamil yang semuanya harus dibayar oleh perusahaan.

Terus terang baru kali ini Saya bekerja paruh waktu mendapat fasilitas asuransi kesehatan dan mendapat fasilitas libur dibayar. Sebelumnya sebagai pekeja paruh waktu Saya harus cukup puas dengan upah jam-jaman.

Kadang kalau kita tidak mengalami sendiri tidak terbayang ‘apa sih bedanya mendapat paid sick days atau paid holidays? Why it’s such a big deal?

It is a big deal.(well, for our family at least)

Contohnya waktu suami tergelincir di es dan harus dioperasi lutut, saat itu hanya dia yang bekerja. Setelah operasi dia harus tinggal di rumah selama seminggu. Untungya suami pekerja penuh waktu. Jadi kita tidak perlu bingung karena gaji dia tetap akan dibayar penuh oleh perusahaan meskipun dia sakit.

Atau waktu si kecil liburan musim semi. Ongkos camp itu $120 per minggunya, kalau Saya cuma ‘tidak bekerja’ berarti Saya kehilangan kira-kira $200++.Artinya meskipun Saya tidak bayar $120, tapi Saya kehilangan $200++ alias masih ‘bolong’ $180++.

Nah Saya dapat cuti dibayar, berarti Saya irit $120 dan tidak harus pusing mikir minggu ini tidak dapat bayaran.

Maunya sih ya, Saya dan suami dua-duanya dapat kerja yang mendapat fasilitas penuh….

Insha ALLAH some day….

enjoy-the-little-things-for-one-day-you-may-look-back-and-realize-they-were-the-big-things-15

Untuk Apa Sekolah?

Tiga tahun pertama Saya tinggal di Amerika, terus terang Saya terlena. Suami kerja berpenghasilan cukup untuk kami bertiga.  Tahun pertama Saya pindah, Saya langsung mendapat kerja ‘kantoran’. Gaji $9 per jam buat Saya sih cukup saja, tidak ada rasa perlu menambah wawasan.

Lalu kami sekeluarga pindah ke negara bagian lain.  Pikir Saya , sip, disini lebih banyak jenis pekerjaan, kota lebih besar, pastinya banyak dong lowongan pekerjaan dan Saya PD kalau Saya bisa dapat kerja ‘lebih baik’ dibanding pramuniaga toko.

Setelah settling down setelah pindahan, semangatlah Saya mengirim lamaran. Saya ogah lamar jadi pramuniaga lagi, kata Saya, masa sih jadi pramuniaga terus, ini kan di kota besar. Jadilah Saya lamar ke tempat lain. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Berlembar-lembar lamaran Saya kirim tidak ada SATUPUN yang nyangkut.  Mulailah Saya panik….. heh?

Setelah daftar lamaran Saya hampir satu halaman penuh, Saya mengalah, Saya putuskan untuk melamar kembali jadi pramuniaga di tempat yang sama.  Dipanggil untuk wawancara – senang nya! tapi……………….setelah itu NIL. Tidak ada kabar sama sekali??!!

Not even for holiday helpers???!!

Celingak celinguk Saya perhatikan teman-teman Indonesia yang punya pekerjaan bagus, mereka semua mengenyam pendidikan di Amerika.

Ah….pahitnya kenyataan. Barulah Saya menyadari kalau Saya tidak memiliki modal apapun. Tidak ada pendidikan Amerika.  Bahasa Inggris Saya pas-pasan, hanya bahasa Inggris percakapan sehari-hari, bukan bahasa Inggris akademik…………..

Dari kepindahan Saya ke Ohio, terbukalah mata Saya. Saya tidak bisa lagi mengandalkan suami semata-mata. Mengandalkan ‘keberuntungan’. Persaingan dalam mencari pekerjaan semakin ketat setiap tahunnya. 20 tahun yang lalu, berbekal ijazah SMA cukup untuk mendapat kerja, sekarang?

Sayangnya Saya melewatkan kesempatan bersekolah ketika di Ohio.  Nah setelah Saya pindah ke Kentucky, salah satu hal yang langsung Saya cari itu adalah keberadaan Community College ataupun kursus-kursus lainnya.

Untuk bekal di hari esok.

Susah senang hidup di Amerika

Terus terang Saya bukan tipe orang ‘berencana’ , Saya lebih ke tipe ‘Just do it!’ tidak mikir panjang lebar, tidak mikir tentang masa depan.

Saya juga bukan orang yang cerdas dalam bidang akademik, biasa-biasa saja. Di SMA termasuk 5 besar di kelas, tapi kalau dibanding Kakak Saya atau sepupu Saya, duh jauh lah….

Nah sewaktu menikah dan hijrah ke Amerika, terus terang tidak mikir nanti mau bekerja di mana? nanti di Amerika mau jadi apa dll. Cuma mikir senang punya Suami.

Kebetulan Suami waktu itu punya pekerjaan bagus, kita tinggal di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk lah. Kenapa juga harus repot mikir kerja?

Bulan-bulan pertama, karena bosan di rumah, Saya iseng-iseng jadi sitter, lalu setelah mendapat ijin kerja resmi, Saya coba lamar ke perusahaan jual beli Timeshare, langsung diterima. Di situ Saya bekerja selama 3 bulan , karena Saya ingin membesarkan si anak. Untungnya ya saat itu penghasilan suami cukup untuk kita bertiga. Dari hasil uang bekerja selama 3 bulan, bisa Saya tabung untuk beli tiket mudik.

Setelah anak berumur 1 tahun lebih, Saya mulai bosan di rumah melulu, Suami suruh Saya melamar kerja di salah satu department store karena sedang musim liburan mereka butuh banyak pekerja tambahan. Jadilah Saya lamar, dan Alhamdulillah diterima. Kerja di malam hari setelah suami pulang kantor, jadi anak tetap dijaga kita berdua.

Idealnya kondisi seperti ini berlangsung selamanya ya……..tapi seperti yang kita tahu nothing last forever. Di awal tahun 2009, suami pulang memberi kabar buruk, dia di pecat. Memang beberapa bulan sebelumnya dia sempat bercerita tentang perubahan manajemen di kantornya.  Tapi Saya tidak berpikir sampai seburuk ini lah.

Penghasilan utama hilang. Rumah kita masih dalam cicilan. Bagaimana membayar listrik? air? membeli makanan sehari-hari? Asuransi kesehatan hilang – karena Saya kerja paruh waktu dan tipe pekerjaan Saya tidak menyediakan fasilitas asuransi untuk sebagian besar pegawainya.

Runtuh rasanya dunia ini. Rasa takut dan panik menyelimuti pikiran Saya. Langsung hari itu juga Saya pergi menghadap ke bagian kepegawaian Saya. Alhamdulillah, ada rekan kerja yang mengundurkan diri, sehingga Saya bisa langsung ambil posisinya yang kebetulan penuh waktu. Resikonya Saya tidak bisa bersama anak Saya setiap hari. Tapi apa mau dikata, itu pilihan yang harus Saya ambil.

Masalah kedua, asuransi kesehatan, yang jelas, si kecil karena masih di bawah 5 tahun, HARUS ada asuransi, karena tiap tahunnya dia harus cek ke dokter. Buru-buru Saya lamar asuransi kesehata pemerintah untuk semua, tapi di atas kertas keluarga kami masih ‘tergolong tidak miskin’ untuk medicare karena kami masih memiliki rumah dan 1 mobil. Jadilah asuransi untuk Saya dan suami ditolak, tapi untungnya asuransi untuk anak, mereka punya batasan tersendiri, dan si anak masuk kategori layak mendapat asuransi dari pemerintah (CHIP) yang notabene akan membayar semua ongkos dokter si anak.

Minggu-minggu pertama terus terang berat sekali kita mengatur pengeluaran dibanding pemasukan yang tidak seberapa. Baru di minggu ketiga, kita bisa bernafas agak lega, karena suami sudah bisa mendapat unemployment insurance yang bisa dipakai untuk membayar cicilan rumah.

Suami tidak bisa langsung mendapat pekerjaan baru, karena di saat yang sama Amerika sedang dilanda resesi. Pengurangan pegawai, terjadi dimana-mana. Tempat kita tinggal itu sangat terbatas pilihan bekerja. Boleh dibilang cuma ada 2 tempat utama orang-orang disini bekerja, salah satunya ya tempat suami bekerja dulu.

Di bulan September, Saya masukkan anak ke HeadStart yang notabene program pra sekolah gratis untuk keluarga menengah bawah.

Saya bersyukur sekali akan adanya kedua program ini, Headstart dan Asuransi kesehatan untuk anak (CHIP). Paling tidak kami tidak perlu khawatir si kecil tertinggal pendidikannya dan kami tidak bingung dalam membayar ongkos dokter.

Dari pengalaman Saya ini, barulah Saya menyadari kalau Saya ‘HARUS’ bekerja, tidak bisa selamanya bergantung kepada Suami, tidak bisa bergantung pada sanak keluarga, teman-teman.

Bahwa hidup Saya disini tidak akan selalu indah, bertaburan uang, bergelimangan harta.

Ketika Ayah Pergi Menghadap Sang Pencipta

Hari Kamis tanggal 15 April 2014 sekitar jam 3.30 waktu bagian timur Amerika, Saya sedang bekerja,  waktu telpon berdering.  Saya angkat, terdengar suara anak-anak di latar belakang, agak sulit mendengar si pembicara di seberang karena suara di sekitar tempat kerja. Setelah berhalo-halo beberapa saat, akhirnya Saya bisa mendengar si pembicara.

‘Hello, mm..May I speak to D**** Suri?’ – Iya ini Saya sendiri. Maaf ini dari siapa ya?

‘Mbak, ini Ks ‘ – ternyata sepupu Saya yang tinggal di negara bagian NY-detik itu juga hati ini tercekat, langsung Saya ‘tahu’ berita apa yang akan Saya dengar.

Siap-siap Saya kuatkan batin ini, Saya tanya langsung ‘Siapa Kis, gak apa2, kasih tahu saja’

‘Opa Awang, Mbak..Ayah Mbak udah meninggal. Maaf ya Mbak’

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Saya coba tahan air mata, Saya pikir Saya bisa kuatkan hati, karena 20 menit lagi Saya bisa pulang koq. Tenang, tenang kata Saya dalam hati. Tapi ternyata Saya tidak kuat…….segera setelah telpon Saya letakkan, keluarlah air mata ini….

Sambil terisak-isak Saya telpon Manager Saya dan Saya kabarkan berita yang baru Saya terima….

Tanpa menunggu Manager Saya datang ke ruang teller, Saya kabur ke ruang istirahat untuk menangis sedu sedan sendiri, tidak ada orang yang bisa Saya peluk.

Segera Saya telpon suami diantara tangisan Saya. ‘I am going home now‘ – kata Suami.

Pulang ke apartemen, Saya minta Suami supaya ajak anak Saya bermain di tempat teman, Saya tidak mau si kecil melihat Saya menangis, berduka. Helpless.

Meninggalnya anggota keluarga kita di saat kita di negara lain adalah salah satu hal yang tersulit bagi imigran seperti Saya.

Beberapa dari kita cukup beruntung untuk bisa langsung membeli tiket pesawat di hari berikutnya, malah mungkin di hari itu juga, sehingga bisa mengantar almarhum/almarhumah ke tempat peristirahatan terakhir.

Sayangnya Saya tidak seberuntung itu. Kendala finasial maupun non finansial terpaksa mengharuskan Saya untuk merelakan kepergian Ayah dari jauh.

Ini kenyataan pahit dan menyakitkan yang harus Saya (dan Saya yakin  banyak teman-teman imigran lainnya mengalami hal yang serupa dengan Saya) hadapi.

Saya boleh dibilang masih beruntung karena memiliki teman-teman baik yang langsung berangkat ke rumah duka setelah Saya telpon lewat Skype hari itu juga. Dari lensa kamera teman baik Saya, Saya bisa ‘melihat’ Ayah dimakamkan.

Saya masih beruntung karena memiliki banyak sekali teman-teman di sosial media yang mengucapkan doa atas kepergian Ayah. Masih beruntung karena ada teman-teman di sini yang bersedia mengaji untuk Ayah.

Banyak ‘andai, andai’ berkecamuk di kepala Saya.

Andai ada dermawan yang mau membelikan tiket untuk Saya pulang.

Andai Saya seperti si X yang bisa pulang setiap tahun.

Andai…Andai….Andai…..

Pada akhirnya seribu andai-andai tidak akan merubah apapun tentang kondisi Saya. Saya harus merelakan kepergian Ayah. Merelakan ketidakberdayaan Saya.

Cercaan, cemoohan, cibiran orang-orang akan ketidakberadaan Saya di saat-saat seperti ini adalah resiko.

Selamat jalan Ayahku.

Maafkan segala kesalahan Saya. Cuma doa yang Saya bisa berikan untuk Ayah.

Untuk teman-teman imigran yang senasib seperti Saya, tabahkan hati, kenyataan memang tidak selalu mengenakkan.

Untuk teman-teman imigran yang lebih beruntung, bersyukurlah,  karena mengantarkan orang tua kita ke tempat peristirahatan terakhir itu adalah kehormatan’………………………..

 

mydadnme

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Askes oh Askes (di Amerika)

Mungkin ini karena pengalaman orang tua waktu di Jakarta, mereka kena tipu agen asuransi. Jadilah Saya sekarang agak-agak alergi kalau dengar kata asuransi.

Di Amerika, hidup tanpa asuransi boleh dibilang tidak mungkin. Dari mulai asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi rumah, asuransi mobil, panjang deh daftarnya.

Ini Saya mau cerita pengalaman pribadi mengurus klaim dengan asuransi kesehatan Saya.

Tahun lalu itu Saya berasuransi dengan Aetna lewat perusahaan tempat Saya kerja. Saya sendiri jarang ke dokter, tapi memang tahun 2013 sekeluarga agak lebih sering sakit, meskipun tidak parah, tapi cukup membuat kita khawatir sehingga kudu pergi ke dokter.

Salah satu kunjungan dokter yang Saya lakukan itu di akhir tahun 2013, tepatnya tanggal 31 Desember. Seperti biasa laporan dari asuransi Saya terima kira-kira satu bulan setelah kunjungan ke dokter. Waktu Saya buka. lah??!! Kaget, karena di laporan tertera kalau kunjungan Saya tidak akan dibayar asuransi karena Saya tidak memiliki asuransi saat kunjungan!!!!

Bingung dong?? Langsunglah Saya obrak abrik berkas-berkas askes dari kantor. Di situ tertera kalau ‘Saya terlindungi oleh asuransi hingga Desember 31, 2013. Saya telpon ke bagian kepegawaian kantor, di konfirmasi kalau data yang Saya miliki benar. Saya telpon asuransi, jawaban pertama ‘Di data kami, asuransi Anda hingga Desember 30, 2013. Akan Kami selidiki lebih lanjut.’

Keesokan harinya Saya terima pesan dari Asuransi kalau data yang mereka miliki adalah benar. Desember 30 1013 hari terakhir Saya terasuransi.

Telpon lagi ke kepegawaian, lagi-lagi dijawab kalau Saya harus diasuransi hingga Desember 31 2013 dan mereka tidak menemukan hal yang mengatakan berbeda.

Telpon Asuransi lagi, kali ini dijawab oleh Supervisor, ternyata masalahnya adalah ‘premi’ yang mereka terima hanya sampai tanggal 30 Desember 2013. Oleh si Supervisor, dia berjanji akan melanjutkan kasus Saya ke departemen yang berwenang (masalah pembayaran premi). Agak sedikit legalah Saya.

Dua minggu berikutnya Saya terima tagihan dari dokter, halagh?? Saya masih harus membayar penuh?

Waktu Saya lihat slip gaji, memang di minggu terakhir 2013, bayaran asuransi Saya tidak seperti biasanya. Jadilah Saya coba email HR kantor untuk menanyakan kenapa bayaran asuransi berbeda. Dijawab kalau itu dikarenakan mereka harus membagi bayaran 2 hari di tahun 2013 dan 3 hari di tahun 2014. Jadi kesimpulan Saya, Saya sudah bayar premi dong.??

Telpon lagi ke pegawaian kantor. Kali ini Saya jelaskan kalau ada masalah di pembayaran premi. Pegawai yang menjawab kali ini sepertinya lebih mengerti duduk masalah. Dia berjanji akan mengirim email ke asuransi ,data terbaru Saya. Ok. Saya pikir beres dong?

Dua minggu berikutnya, telpon lagi ke Asuransi……loh..di data mereka masih tertera ‘asuransi tidak dibayar!!’ haduhhhhhhhh………
Hampir gila rasanya!! masalah sederhana begini koq susah sekali ya dibereskan??

Akhirnya kemarin, 14 Maret, Saya dapat email dari asuransi yang memberitahukan kalau ada penjelasan baru mengenai status kunjungan tanggal 31 Desember. Akhirnya tagihan Saya dari $203 , turun menjadi $78.72.

Gila kan? Dari pengalaman ini Saya belajar, kalau menyangkut asuransi, kita harus berani protes karena mereka belum tentu benar dalam memproses klaim kita!!!

Salah kaprah tentang Amerika : Buang sampah sembarangan masih nyata disini

Beberapa teman-teman di Indonesia selalu beranggapan negara Amerika itu negara yang maju, tertib, dan ‘lebih’ dalam segala hal.

Ada benarnya, ada tidak benarnya.

Contoh : Masalah buang sampah sembarangan.

Di Amerika super bersih?

Nah!!

Contoh : ini foto popok bekas yang dibuang begitu saja di perparkiran tempat Saya kerja. Gimana ya orang tua yang enaknya membuang popok ini? Jijik?

Image

Lah ya iyalah, siapa juga yang tidak jijik dengan kotoran manusia (meskipun kotoran bayi, namanya kotoran juga kan? Tapi bukan berarti boleh-boleh saja di buang di tempat umum tho?
Saya bisa ngomong begini, karena Saya juga pernah harus mengganti popok di tengah jalan, dikemanakan popok kotor itu? Ya Saya bungkus kantong plastik dan simpan di mobil sampai kita ketemu tempat sampah dong. Kalau Saya saja jijik dengan kotoran anak sendiri bagaimana dengan orang lain?

Sama seperti negara-negara lainnya, Amerika punya masalah dengan orang-orang yang tidak membuang sampah pada tempatnya.

Membuang sampah pada tempatnya itu tergantung didikan keluarga dimana kita dibesarkan. Didik deh anak dari usia balita untuk membuang sampa pada tempatnya.

Tidak susah koq, dan jadilah contoh buat anak-anak kita, sebagai orang dewasa juga jangan buang sampah sembarangan dong..mau di Indonesia, mau di Amerika!