sehari-hari

Patah Hati

Saya mau cerita kalau saya baru-baru ini remuk hatinya. Ceile….boleh ya curhat disini..

Berbeda saat saya putuskan untuk meninggalkan pasangan nikah saya di tahun 2021, di mana saya merasa bebas, girang dan gak ada ketakutan (lagi), patah hati kali ini meninggalkan saya jadi remuk redam.

Ibaratnya ni, saya seperti didorong dari tebing yang sangat terjal dengan tiba-tiba. Hati saya? Ya  berkeping-keping rasanya. 💔💔💔💔💔

Sebetulnya agak aneh sik, karena boleh dibilang saya gak cinta sama dia. Apakah karena kami sudah berhubungan lebih dari 3 tahun ya?Yang boleh dibilang cukup lama juga kan. ? Kayaknya sik bukan karena itu juga?.

Tapi karena saya merasa dikhianati. Duh, pemilihan kata-katanya dalam banget yak? Dia bukan menyeleweng dengan perempuan lain. Apa ya…saya koq merasa dikibuli emosi.

Jadi selama ini saya merasa kami baik-baik saja, tapi ternyata enggak? Lah? Kenapa gak dibicarakan dari dulu-dulu? Kenapa tiba-tiba meledak gak karuan begini? Bingung dan bengonglah saya.

Intinya dari kejadian patah hati ini saya belajar tentang konsep ‘orang baik vs orang gak baik’

Orang baik itu gak akan menyalahkan reaksi kita saat kita kasih tahu mereka kalau kita sedih/terluka karena tindakan mereka

Sementara orang gak baik akan menyalahkan reaksi kita, emosi kita saat kita kasih tahu mereka kalau kita sedih/ terluka karena tindakan mereka

Saat ini saya masih memunguti kepingan-kepingan hati yang berceceran. Saya jujur gak tahu kapan saya bisa percaya lagi sama seseorang. Gak tahu kapan saya akan bisa membuka hati saya lagi. Mungkin gak akan pernah lagi?

Ada rasa ketakutan tentang masa depan. Entah kenapa?Jelas ada rasa kehilangan yang sangat.

Saat ini saya ‘tahu’ dan ngerti banget akar permasalahan dan kenapa shit happened, tapi entah kenapa koq saya masih sedih berlarut-larut?

Lama amat sik. Kadang saya suka marah dengan diri saya sendiri. Ngapain sik kamu masih mikirin orang gak baik? Kan?

Padahal sudah sejuta utasan IG saya temui untuk bantu saya move on.

Ternyata patah hati di usia paruh baya itu sakit Rek! Lebih sakit daripada pas kita-kita masih muda dan bloon, eh, lugu maksudnya.

Ya pembaca coba tolong kirim kata-kata arif atau lelucon konyol buat menghibur saya, biar gak lama-lama jadi zombie…

Daur Ulang

Dulu sebelum saya pindah ke Amrik, saya pikir, ini negara maju pisanlah. Salah satunya dalam hal mengelola sampah. Saya pikir pastilah program daur ulang di Amrik canggih.

Canggih dalam arti sampah2 diharuskan untuk dibuat terpisah, ada tempat sampah masing-masing : yang organik, plastik, kertas, kaca, batere. Lalu juga masyarakat dibiasakan memisahkan sampah2 mereka, lokasi daur ulang ada di mana-mana.

Waktu saya tinggal di kota lumayan besar di negara bagian Ohio, ada rekan kerja yang cerita, kalau dia rajin mengumpulkan sampah kaleng. Karena dari sampah2 kalengan/logam ini, dia bisa bawa ke tempat daur ulang dekat dia tinggal, dan dapat uang, yang lumayan bisa dibelikan bensin.

Wah lumayan banget dong?

Nah waktu saya pindah ke kota tempat saya tinggal sekarang, saya cari-carilah tempat daur ulang sejenis. Memang ketemu, ada yang lumayan dekat dengan tempat tinggal saya. Semangat dong?

Waktu itu saya masih tinggal dengan suami yang suka minum. Jadi yang namanya kaleng2 bir, ya banyak banget. Jadilah saya bawa ke tempat Daru ulang. Halagh! Sebanyak2nya saya bawa material logam, saya ingat, yang tertinggi yang saya dapat itu cuma $7.

Duh. Pedih amat, sementara 6 kaleng bir ya harganya sama , segitu juga. Gak balik modal banget dong ya? Jangankan beli bensin.

Dah dari situ, saya baru ngeh, jadi ternyata program daur ulang itu gak semua dijalankan pemerintah setempat. Negara bagian seperti CA, NY, lebih banyak program daur ulangnya.

Sementara di kota saya, yang namanya pembuangan daur ulang makin lama makin sedikit lokasinya. Dulu ada 3 lokasi di area kode pos saya +/- 5 mil, satu lokasi malah ada asisten yang bantu penduduk unloading, sekarang cuma ada 1.

Dan juga, si sampah itu gak dipisah-pisah loh. Asli wis saya bingung. Jadi tempat daur ulang disini ya cuma kotak-kotak sampah raksasa , di mana penduduk bisa buang karton, plastik, kaca, kertas.

Asli tiap kali saya ke lokasi, saya koq miris, ini nanti siapa gitu yang akan memilah-pilah?

Dengar-dengar juga, banyak program daur ulang itu cuma cuap-cuap doang. Kampanye lah. Green Washing istilah disini.

Maksudnya? Ya sampah2 gak di daur ulang. Jatuh-jatuhnya ke tempat pembuangan sampah biasa. Bingung kan?

Kota saya sendiri sediakan tempat sampah khusus daur ulang, yang sama Pemda diambilnya beda hari dengan sampah biasa. Tapi ya itu, tetap gak dipilah-pilah.

Saya pribadi tetap coba memilah sampah sik, antara sampah organik dan sampah non organik. Idealnya sampah organik mau dijadikan kompos, tapi berhubung tinggal di apartemen, ya gak ada terlalu maksimal fungsinya.

Di dekat tempat saya tinggal ada supermarket yang sediakan tiga tempat sampah berbeda untuk pengunjung nya : foam, kantong-kantong plastik dan kertas.

Saya ya usahakan kalau ada sampah plastik bawa ke situ. Kalau kertas, saya bawa ke tempat kerja untuk di shred. Masalah apa benar didaur ulang..nah itu gak tahu deh……

Hidup Sendiri Itu

Ternyata enak sekali!

Saya gak pernah mengira kalau ternyata, saya jadinya lebih milih hidup sendiri dibandingkan dengan hidup bersama seseorang.

Dan ternyata saya gak sendiri! Saya ketemu banyak utasan-utasan di IG yang berbagi sentimen yang serupa dengan saya.

Yang jelas saya merasa sangat bebas untuk mendekorasi tempat saya sesuka hati. Karena ternyata yang saya alami setelah dua kali hidup bersama seseorang, meskipun mereka bilang ‘Do whatever you like’ itu ternyata….bohong. Dalam arti mereka sebetulnya gak suka pilihan dekorasi kita dan itu lama-lama ya akan jadi resentment.

Hal lain yang saya sukai adalah saya bisa seenak dewe mau ngapain. Gak mau beberes? Ya gak apa2, gak ada yang marah. Gak ada yang rolling eyes. Berantakan pun ya berantakan karena saya seorang, bukan karena orang lain. Gak perlu marah dengan orang lain kalau ada jaket di lantai, cucian piring gak langsung dicuci.

Saya bukan tipe yang HARUS BERBERSIH saat itu juga, dan juga bukan tipe yang teratur. Tapi ya gak apa2, karena berantakan di tempat saya ya berantakan ya saya. Yang saya bisa toleransi. Saya tetap berbersih, karena saya juga bukan tipe yang bisa cuek lama-lama lihat cucian numpuk segunung, atau lihat lantai kotor. Ya pasti saya akan ngepel, nyapu, gosok-gosok bak mandi, dapur, kulkas dan lain lain.

Apalagi yang namanya masalah berbagi kamar tidur dan kamar mandi. 1000000% pilih sendiri! Betapa bahagianya saya, tidur di kasur ukuran Queen gak harus mepet2 (kecuali sama anjing saya), gak harus denger orang lain ngorok, gak harus ngungsi saat saya ngorok terlalu kencang, atau pas saya restless terbangun jam 4 pagi karena gejala perimenapos.

Kamar mandi? Bodo amat, makeup ini itu di sekitar sink, nanti juga saya akan bereskan. Itu 🚽saya gak perlu ‘geli’ bersihin 💩, wong yang pakai kan cuma saya sendiri. Gak perlu kegelian ada bekas cukuran jenggot misalnya. Atau bercak-bercak di cermin, ya saya langsung lap secepatnya.

Honestly it’s glorious.

Kepikiran misalnya saya harus tinggal sama orang lain lagi terus terang membuat saya mengernyitkan dahi. Ewww…ogah banget.

Kalau tho saya misalnya punya pasangan lagi, saya lebih pilih konsep together separately.

Aneh? Ternyata gak!? Banyak perempuan2 yang sepemikiran dengan saya.

Dan juga ternyata saya betah di apartmen saya.

Yang ada saya kayak utasan ini

Prakarya Bulan Februari

Halo pembaca!

Coba tebak si Ibu FOMO (Fear Of Missing Out) ikutan apa lagi bulan Februari ini?

Latihan otak kali ini , saya ikutan kelas bikin gantungan pot macrame.
Kenapa pilih kelas ini?

Karena memang saya sendiri sudah punya beberapa gantungan pot macrame yang saya pajang di pojokan tenang saya saat musim dingin, saya memang suka dengan gantungan pot ini.

Nah, kenapa juga gak sekalian ‘tahu’ gimana sik proses membuatnya?

Jadi kelas ini diadakan di toko tanaman Mahonia yang juga baru pindah lokasi dari pusat kota ke bagian timur kota yang notabene lebih dekat dengan tempat tinggal saya.

Harga kelas ini $52 , rata-rata harga kelas2 seni disini memang berkisaran di harga segitu sik. Durasinya biasanya 2 jam an. Kebetulan juga jadwal kelasnya di hari Minggu, di mana saya libur, jadi seneng banget lah ada kegiatan asah otak.

Ada 4 peserta total dan satu pengarah. Si gantungan macrame digantung di struktur yang seperti rak jaket gitu, kreatif juga memakai gantungan jaket jadi buat kegiatan seperti ini.

Ada total 16 tali yang panjangnya kira-kira 2 meter ya. Pertama-tama kita ambil 4 tali, dan dari 4 tali ini kita mulai membuat knot, jumlah knot nya 10. Setelah selesai 10 knot, kita ambil 4 tali berikutnya, buat 10 knot sampai semua tali terangkai dengan jumlah yang sama.

Setelah itu, ambil jarak kira-kira 8 inci ke bawah, mulai rangkaian baru. Setelah selesai 4 rangkaian, ambil jarak 4 inci ke bawah lagi, kali ini cukup buat satu knot. Di sini kita akan membuat ruang untuk meletakkan pot yang bersangkutan.

Dari tali yang terikat dengan 1 knot tadi, kita lalu akan menyambung semua tali menjadi satu kesatuan, tidak lagi, terpisah empat bagian. Kita sambunglah tali yang satu ke samping ke tali lainnya, juga cukup dengan 1 knot.

Setelah selesai semua tali tersambung, instruktur melilit bagian bawah tali-tali, tandanya gantungan kita selesai!

Peserta juga di kasih satu pot keramik untuk gantungan ini.

Seru gak?

Saya sih senang ya. Pertama , karena saya gak pernah belajar macam-macam jenis ikatan (knot) , kedua ya karena saya punya rumah baru untuk tanaman saya di musim semi besok!

Selain mengasah otak dengan hal baru, saya juga mendapat barang yang pastinya akan saya pakai!

1 Februari 2026

Sudah masuk bulan kedua di tahun 2026 ni, apa kabar teman2 semua?

Sebetulnya saya banyak cerita, cuma belum ada si mood. Sabar ya, mudah2 an nanti saya bisa cerita ramai lagi.

Saya gak tahu ni, apa teman2 tahu.
Buat saya, menulis adalah bagian dari coping mechanism saya baik itu saat saya sedang sedih, bahagia, putus asa atau senang.

Dengan menulis saya ibaratnya mencurahkan perasaan dengan cara aman? At least saya pikir aman? Ha…ha…ha ternyata ada yang menuduh kalau saya cari click bait, likes & engagement.

Anyway,

Tulisan kali ini saya cuma mau cerita kalau saya sungguh sedang kewalahan akan pengeluaran2 besar yang lumayan bertubi2.

Awalnya di bulan November 2025, beli mesin cuci dan mesin pengering baju, habis $750

Lalu di bulan Desember 2025, anjing saya makan brownies coklat, saya harus bawa ke rumah sakit darurat, habis $1,000.

Masih di bulan Desember 2025, saya ganti 2 ban mobil yang sudah menipis tread nya, keluar $380

Eh bulan Januari, telpon saya jatuh ke toilet, rusak. Harus beli telpon baru, keluar $450

Dan sekarang……kayaknya saya salah makan sesuatu yang keras, yang ada gigi palsu saya goyah…hadweh…..kayaknya bisa kena $2000 ini…

Gileeee….apa saya harus buka Go Fund Me yak??

Masih Belajar Jadi Dewasa

Astaga, sudah umur setengah abad lebih masih cerita soal masa pendewasaan?

Ya ho-oh. Karena baru sadar kalau yang namanya menjadi dewasa atau istilah bahasa Inggrisnya adulting itu ternyata gak sekali jadi yak?

Sungguh, saya itu baru-baru ini saja ngeh, kalau ternyata saya baru belajar menjadi dewasa dan matang (ceileee…pisang kali…) itu baru 20 tahun terakhir? Belajar matang pemikiran? Ini lebih baru lagi deh.

Pendewasaan pertama itu ya juga terpaksa ya? karena pindah ke Amrik, gak ada siapa2.

Eh tapi ya sebenarnya dewasa itu apa sih? Apa semata-mata mengerjakan apa2 sendiri? Belajar bertanggung jawab atas hidup sendiri ? Belajar menghadapi konsekuensi pilihan?

Kalau cuma dilihat dari misalnya, bisa masak sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, saya baru dewasa 20 tahun lalu.

Kalau dilihat dari kemampuan seseorang membiayai diri mereka sendiri, saya ibaratnya masih balita. Karena baru di tahun 2021 akhir saya bisa menghidupi saya sendiri setelah bertahun-tahun ngendon orang tua, lanjut dengan ngendon suami.

Satu hal yang saya sendiri takjub akan proses pendewasaan diri saya sendiri adalah saya perhatikan saya jadi lebih resourceful. Apa ya bahasa Indonesianya? Intinya saya berusaha memakai dulu apa yang saya miliki sebelum saya beli baru.

Mungkin ya karena kantong pas-pasan juga kali….tapi ni… memang saya kalau baca tentang betapa bejibunnya sampah konsumsi manusia, saya suka panik sendiri. Ditambah juga waktu merasakan sendiri pas pindahan , haduh, koq barang banyak sekali ya??

Selain malu dan rasanya bersalah banget kalau buang-buang barang, juga kepikiran, nanti kalau saya tiba-tiba meninggal, kasihan gak sih yang harus urus barang-barang saya??

Selain itu saya mau lebih sadar lingkungan juga lah. Jadi kombinasi antara kantong pas-pasan dan mau lebih sadar lingkungan, saya jadi lebih mawas diri kalau mau beli ini itu.

Jadi ya dari mulai hal yang keperluan seperti memasak, sampai hal sepele , seperti cari dekorasi, saya sebelum ngacir ke toko, celingukan dulu di sekitar rumah.

Kalau masalah dapur, saya minimal selalu sedia : nasi, telur, tahu, sayuran beku, kecap manis, kecap asin, garam merica, bawang putih bubuk, mi instan.

Kalau masalah hal-hal tersier, ‘untung’nya saya di masa lalu itu boros. Jadi saya punya banyak barang reblekan.

Minggu lalu sempat jalan sama anak saya, dia mau beli ini itu untuk bikin kostum Halloween dia, yang ada saya senewen ‘ngapain sik beli? Pakai yang ada dulu aja gak bisa?? ‘ Karena saya pun membuat kostum Halloween sendiri, tapi cuma beli 1 bahan baru, yang lainnya memakai bahan-bahan yang saya sudah miliki.

Hasilnya? Pahlawan khayalan dan dinobatkan sebagai pemenang kostum paling kreatif di kantor.

Contoh lain ni. Saya gatel ingin buat dekorasi di depan pintu, karena saat ini area depan pintu saya yang tadinya penuh dengan tanaman-tanaman rumah, sekarang agak kosong melompong.

Beli dekorasi? eMoH deh. Keluar duit lagi? (Jiwa pas-pasan saya bergejolak). Celingukanlah saya di apartemen.

Dan jadilah dekorasi sederhana dari bunga kering dan bunga kertas peninggalan entah tahun kapan.

Masih kurang puas. Maklum saya konon tipe maksimalis. Ya puter otak lagi.

Saya punya ide di kepala. Yang jelas pengen pakai lilin kecil gitu. Romantis kayaknya. Tapi selain lilin apa lagi dong?

Lihat utasan si ibu bule yang suka bertanam bunga dan bikin dekorasi dari bahan-bahan alami. Pine cone lucu juga? Bisa kali di dapat dari pas jalan-jalan di taman. Gak perlu keluar duit kan?

Jadilah saya bertekad untuk mencari pine cone , eh hari ni nemu dong! Dekat tempat tinggal lagi! Gak perlu jauh-jauh.

Dan kebetulan saya punya pot kaca yang tebal dan bagus , saya beli pas saya lagi hobi bikin terarium. Ini pot agak-agak terbengkalai gitu. Kasihan kan?!

Saya tatalah itu pine cone, eh kurang oke? Eh kan punya sisa pasir? Kan punya sisa rumput palsu? Kan punya gelas kaca pendek bekas yogurt?

Dan jadilah center piece lucu-lucuan di bawah ini…

Eh, ternyata menjadi dewasa…lucu juga?

Berteman

Barusan saya lihat utasan ini

Saya setuju sik dengan apa yang dikatakan si pembicara.

Kalau masalah2 sepele okelah ya, kita bisa cuma angkat bahu dan cengengesan saat ada teman yang “ribut”.

Tapi kalau sudah masalah prinsip? Saya jelas akan berpihak sik. Dan ini juga yang membuat saya menjauh dari ‘teman-teman’ di sini.

Hal prinsip itu seperti apa ya? Ya memang beda-beda pastinya untuk setiap orang ya.

Buat saya ni. Contoh hal prinsip adalah saat saya dengan bego nya cerita hal yang memalukan yang terjadi dengan saya, (dibaca pelecehan seksual) si pendengar dengan entengnya bilang ‘saya nanti jodohnya’ dengan si yang bikin malu saya?

Ya saya putus. Berarti pandangan hidup dia ya sudah beda banget dengan saya ya.

Contoh lain. Saya dikata-katain oleh anak umur 8 tahun. Saya kasih tahu ke orang tua, si ortu cuma bilang ‘Namanya juga anak-anak “

Ya selamat tinggal. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan ortu model seperti itu.

Saya memang tipe ‘setia’ , solider, entah itu sama pacar, saudara atau teman.

Kalau teman saya misalnya lagi uring-uringan dengan seseorang, dan saya ngerti kenapa dia uring-uringan, ya saya gak bakal lah manis2 dengan si orang yang teman saya uring-uringan.

Itu saja sih yang minta dari hubungan saya dengan seseorang.

Dan ternyata dari utasan IG ini, ada juga yang sependapat dengan saya.

Netral ? Bull shit.

Ya udah yuk, kita jalan sendiri saja.

Cari Diskon di Amerika

Sejak tinggal sorangan dewe, yang namanya pengeluaran harus diperhatikan banget.

Saya mau mulai seri baru ah. Cari diskon di Amerika gitu…bukan ngumpulin kupon ini itu sik, cuma ya bagi2 tip yang saya sendiri terapkan sehari-hari saja.

Jadi banyak supermarket2 di Amrik punya program yang namanya Fuel Points. Biasanya supermarket2 besar sik. Yang saya tahu itu Giant Eagle di Ohio, Kroger di Ohio, Kentucky. Trader’s Joe dan Whole Food setahu saya tidak punya program ini ya.

Saya baru tahu fuel points ini waktu tunggal di OH, di negara bagian sebelumnya saya gak kenal istilah fuel points.

Jadi intinya ya setiap kali kita berbelanja di supermarket ybs, kita dapat poin.

Nah poin2 itu oleh supermarket dikonversi ke potongan harga bensin per galonnya, 100 poin = $0.10. Ihhh masa cuma 10 sen ? Sedikit sekali??! Memang sih kayaknya sedikit ya? Tapi kalau kita memang sering belanja di tempat yang sama, poin ini lama2 jadi bukit loh!

Kemarin saya dapat potongan sempati $0.60, harga bensin yang tadinya $2.79/galon, jadi cuma $2.19/galon kalau di kalıkan dengan kapasitas tangki 20 galon misalnya, kita irit $12 loh.

Selain belanja barang2 lebutuhan sehari-hari di supermarket, kadang supermarket kasih promo gitu, misalnya beli gift card dapat tambahan point 2x lipat, atau isi survey, dapat 50 point ekstra.

Coba saya pengen dengar cerita teman2 . Ada yang bisa kumpulkan point banyak gak?

Cintaku Selamanya : Krupuk

Sebagai orang Indonesia asli, cinta saya sama krupuk itu tidak akan pernah padam deh.

Setiap kali saya pergi ke kota besar (an) , saya pasti ngacir ke supermarket Asia dan cari krupuk.

Krupuk favorite #1 itu krupuk kampung atau krupuk aci ya istilahnya?

Krupuk2 lain saya bisa tahan diri gak beli segambreng, tapi kalau sudah ketemu krupuk aci, saya bawaannya mau borong semua deh.

Dan ternyata di banyak negara Asia lainnya krupuk itu eksis. India, Jepang, Korea, China, Phillipina, Vietnam mereka juga punya krupuk.

Saya baru ngeh ini pas pindah ke Cleveland tahun 2010, di blok yang sama dengan apartmen tempat saya tinggal, ada warung take out makanan China, nah kalau pesan makanan, mereka selalu bungkusin krupuk yang kalau di Indo tuh kayak krupuk di bubur ayam gitu. Kecil2 dan warna warni.

Kadang kalau pas krupuk Indonesia habis dan saya pengen banget makan krupuk, saya pergi ke mini supermarket India dekat rumah, mereka punya yang namanya fryum. Yang penting ada kriuk2nya deh.

Di Philipina mereka juga sebutannya kropek. Mirip banget kan?!

Teman2 paling suka krupuk apa ni? Krupuk udang Sidoarjo? Krupuk Aci, krupuk kampung warna warni? Krupuk mie? Krupuk kuning? (Sampai sekarang, gak pernah nemu krupuk kuning ih!? Itu loh krupuk asinan abang2 keliling…)

Kemarin pulang dari Cleveland, di oleh2 in sama teman Indo segambreng krupuk bermacam2 jenis…senangnyaaaaa!!!

Teman2 ada yang krupuk maniak juga seperti saya? Cerita2 dong!

Krupuk asli Indonesia
Krupuk terfavorit saya
Jenis2 Krupuk dari negara lain

10 Tahun Jadi Pramuniaga Toko

Bulan November ini, saya genap 10 tahun kerja di Gap Inc.

Saya ingat banget pertama kali saya kerja di toko saya cuma jadi pengarah pembeli yang antri panjang di depan kasir. Maklum, hari itu hari Jumat setelah Thanksgiving alias Black Friday. Disini Black Friday artinya belanja gede2an buat Natal.

Ngapain sik jadi mbak2 penjaga toko, gitu kali ya kata pembaca. Rendah amat? Haduh..kerja shift2 an? Ih ogah deh.

Buat saya, kerja di ritel, saya belajar buat jadi tahu diri. Belajar ngerti pengorbanan, bayangin musti kerja sampai malam hari, akhir pekan, liburan hari2 besar. Berat loh!

Tapi saya jadi “tahu”, jadi lebih ngeh. Ngeh kalau segimana banyaknya jam kerja yang kamu ambil, push $7.25 per jam , tidak akan bisa hidup layak.

Jadi juga jadi bisa lebih mensyukuri apa yang saya miliki. Untung ada pasangan yang gajinya mencukupi biaya hidup keluarga. Untung kerjaan saya ini bukan kerjaan utama.

Perayaan 10 tahun saya jadi pramuniaga toko, buat saya adalah perayaan pendewasaan, perayaan perjuangan hidup, perayaan kerja keras apapun itu jenis pekerjaan saya, perayaan menghormati pekerjaan orang lain apapun jenisnya.

Semoga kita semua tetap hormat pada sesama ya.

Jangan mentang2 kita di depan layar, jadi petantang petenteng, orang yang di belakang layar juga sama2 manusia loh!