belajar

Hidup Sendiri Itu

Ternyata enak sekali!

Saya gak pernah mengira kalau ternyata, saya jadinya lebih milih hidup sendiri dibandingkan dengan hidup bersama seseorang.

Dan ternyata saya gak sendiri! Saya ketemu banyak utasan-utasan di IG yang berbagi sentimen yang serupa dengan saya.

Yang jelas saya merasa sangat bebas untuk mendekorasi tempat saya sesuka hati. Karena ternyata yang saya alami setelah dua kali hidup bersama seseorang, meskipun mereka bilang ‘Do whatever you like’ itu ternyata….bohong. Dalam arti mereka sebetulnya gak suka pilihan dekorasi kita dan itu lama-lama ya akan jadi resentment.

Hal lain yang saya sukai adalah saya bisa seenak dewe mau ngapain. Gak mau beberes? Ya gak apa2, gak ada yang marah. Gak ada yang rolling eyes. Berantakan pun ya berantakan karena saya seorang, bukan karena orang lain. Gak perlu marah dengan orang lain kalau ada jaket di lantai, cucian piring gak langsung dicuci.

Saya bukan tipe yang HARUS BERBERSIH saat itu juga, dan juga bukan tipe yang teratur. Tapi ya gak apa2, karena berantakan di tempat saya ya berantakan ya saya. Yang saya bisa toleransi. Saya tetap berbersih, karena saya juga bukan tipe yang bisa cuek lama-lama lihat cucian numpuk segunung, atau lihat lantai kotor. Ya pasti saya akan ngepel, nyapu, gosok-gosok bak mandi, dapur, kulkas dan lain lain.

Apalagi yang namanya masalah berbagi kamar tidur dan kamar mandi. 1000000% pilih sendiri! Betapa bahagianya saya, tidur di kasur ukuran Queen gak harus mepet2 (kecuali sama anjing saya), gak harus denger orang lain ngorok, gak harus ngungsi saat saya ngorok terlalu kencang, atau pas saya restless terbangun jam 4 pagi karena gejala perimenapos.

Kamar mandi? Bodo amat, makeup ini itu di sekitar sink, nanti juga saya akan bereskan. Itu 🚽saya gak perlu ‘geli’ bersihin 💩, wong yang pakai kan cuma saya sendiri. Gak perlu kegelian ada bekas cukuran jenggot misalnya. Atau bercak-bercak di cermin, ya saya langsung lap secepatnya.

Honestly it’s glorious.

Kepikiran misalnya saya harus tinggal sama orang lain lagi terus terang membuat saya mengernyitkan dahi. Ewww…ogah banget.

Kalau tho saya misalnya punya pasangan lagi, saya lebih pilih konsep together separately.

Aneh? Ternyata gak!? Banyak perempuan2 yang sepemikiran dengan saya.

Dan juga ternyata saya betah di apartmen saya.

Yang ada saya kayak utasan ini

Prakarya Bulan Februari

Halo pembaca!

Coba tebak si Ibu FOMO (Fear Of Missing Out) ikutan apa lagi bulan Februari ini?

Latihan otak kali ini , saya ikutan kelas bikin gantungan pot macrame.
Kenapa pilih kelas ini?

Karena memang saya sendiri sudah punya beberapa gantungan pot macrame yang saya pajang di pojokan tenang saya saat musim dingin, saya memang suka dengan gantungan pot ini.

Nah, kenapa juga gak sekalian ‘tahu’ gimana sik proses membuatnya?

Jadi kelas ini diadakan di toko tanaman Mahonia yang juga baru pindah lokasi dari pusat kota ke bagian timur kota yang notabene lebih dekat dengan tempat tinggal saya.

Harga kelas ini $52 , rata-rata harga kelas2 seni disini memang berkisaran di harga segitu sik. Durasinya biasanya 2 jam an. Kebetulan juga jadwal kelasnya di hari Minggu, di mana saya libur, jadi seneng banget lah ada kegiatan asah otak.

Ada 4 peserta total dan satu pengarah. Si gantungan macrame digantung di struktur yang seperti rak jaket gitu, kreatif juga memakai gantungan jaket jadi buat kegiatan seperti ini.

Ada total 16 tali yang panjangnya kira-kira 2 meter ya. Pertama-tama kita ambil 4 tali, dan dari 4 tali ini kita mulai membuat knot, jumlah knot nya 10. Setelah selesai 10 knot, kita ambil 4 tali berikutnya, buat 10 knot sampai semua tali terangkai dengan jumlah yang sama.

Setelah itu, ambil jarak kira-kira 8 inci ke bawah, mulai rangkaian baru. Setelah selesai 4 rangkaian, ambil jarak 4 inci ke bawah lagi, kali ini cukup buat satu knot. Di sini kita akan membuat ruang untuk meletakkan pot yang bersangkutan.

Dari tali yang terikat dengan 1 knot tadi, kita lalu akan menyambung semua tali menjadi satu kesatuan, tidak lagi, terpisah empat bagian. Kita sambunglah tali yang satu ke samping ke tali lainnya, juga cukup dengan 1 knot.

Setelah selesai semua tali tersambung, instruktur melilit bagian bawah tali-tali, tandanya gantungan kita selesai!

Peserta juga di kasih satu pot keramik untuk gantungan ini.

Seru gak?

Saya sih senang ya. Pertama , karena saya gak pernah belajar macam-macam jenis ikatan (knot) , kedua ya karena saya punya rumah baru untuk tanaman saya di musim semi besok!

Selain mengasah otak dengan hal baru, saya juga mendapat barang yang pastinya akan saya pakai!

1 Februari 2026

Sudah masuk bulan kedua di tahun 2026 ni, apa kabar teman2 semua?

Sebetulnya saya banyak cerita, cuma belum ada si mood. Sabar ya, mudah2 an nanti saya bisa cerita ramai lagi.

Saya gak tahu ni, apa teman2 tahu.
Buat saya, menulis adalah bagian dari coping mechanism saya baik itu saat saya sedang sedih, bahagia, putus asa atau senang.

Dengan menulis saya ibaratnya mencurahkan perasaan dengan cara aman? At least saya pikir aman? Ha…ha…ha ternyata ada yang menuduh kalau saya cari click bait, likes & engagement.

Anyway,

Tulisan kali ini saya cuma mau cerita kalau saya sungguh sedang kewalahan akan pengeluaran2 besar yang lumayan bertubi2.

Awalnya di bulan November 2025, beli mesin cuci dan mesin pengering baju, habis $750

Lalu di bulan Desember 2025, anjing saya makan brownies coklat, saya harus bawa ke rumah sakit darurat, habis $1,000.

Masih di bulan Desember 2025, saya ganti 2 ban mobil yang sudah menipis tread nya, keluar $380

Eh bulan Januari, telpon saya jatuh ke toilet, rusak. Harus beli telpon baru, keluar $450

Dan sekarang……kayaknya saya salah makan sesuatu yang keras, yang ada gigi palsu saya goyah…hadweh…..kayaknya bisa kena $2000 ini…

Gileeee….apa saya harus buka Go Fund Me yak??

Berteman

Barusan saya lihat utasan ini

Saya setuju sik dengan apa yang dikatakan si pembicara.

Kalau masalah2 sepele okelah ya, kita bisa cuma angkat bahu dan cengengesan saat ada teman yang “ribut”.

Tapi kalau sudah masalah prinsip? Saya jelas akan berpihak sik. Dan ini juga yang membuat saya menjauh dari ‘teman-teman’ di sini.

Hal prinsip itu seperti apa ya? Ya memang beda-beda pastinya untuk setiap orang ya.

Buat saya ni. Contoh hal prinsip adalah saat saya dengan bego nya cerita hal yang memalukan yang terjadi dengan saya, (dibaca pelecehan seksual) si pendengar dengan entengnya bilang ‘saya nanti jodohnya’ dengan si yang bikin malu saya?

Ya saya putus. Berarti pandangan hidup dia ya sudah beda banget dengan saya ya.

Contoh lain. Saya dikata-katain oleh anak umur 8 tahun. Saya kasih tahu ke orang tua, si ortu cuma bilang ‘Namanya juga anak-anak “

Ya selamat tinggal. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan ortu model seperti itu.

Saya memang tipe ‘setia’ , solider, entah itu sama pacar, saudara atau teman.

Kalau teman saya misalnya lagi uring-uringan dengan seseorang, dan saya ngerti kenapa dia uring-uringan, ya saya gak bakal lah manis2 dengan si orang yang teman saya uring-uringan.

Itu saja sih yang minta dari hubungan saya dengan seseorang.

Dan ternyata dari utasan IG ini, ada juga yang sependapat dengan saya.

Netral ? Bull shit.

Ya udah yuk, kita jalan sendiri saja.

Mengakui Kesalahan Itu Susah Ternyata

Minggu ini di kerjaan, saya deal sama masalah nyebelin dengan institusi keuangan lain, katakanlah bank S

Pertama saya hubungi mereka karena ada kasus transfer uang yang nama penerima tidak sesuai. Mereka jawab dengan “Nasabah kami menyatakan tidak ada isu”.

Saya harus tekankan lagi ke mereka kalau nama penerima berbeda, mereka dengan ogah2an bilang. “Ya gimana dong, nasabah bilang gak ada masalah koq?”

Yang ada saya Google nama nasabah dan telpon sendiri. Setelah saya jelaskan detail, si konsumen setuju untuk mengecek lebih dalam, dan benar saja, transfer memang sengaja dialihkan ke akun lain.

Jadilah saya minta dokumen resmi dari Bank S. Bolak balik email, perwakilan Bank S tiba2 bilang. “Untuk apa dokumen tsb?”.

Lah bingung lag saya. Ya mbok ya bilang kalau situ gak paham prosedur seperti ini? Jadilah saya jelaskan panjang lebar , bahkan saya kasih contoh bentuk dokumen.

Tunggu punya tunggu, koq dokumen gak dikirim2 ya? Jadilah saya tanya lagi. Kapan dokumen akan di kirim. Dijawab. Transaksi tidak pernah terkirim?!?!

Hadweeeuhhh…capeee deh..jadilah saya harus kasih screenshot kalau transaksi ya sudah tercatat di sisi saya.

Tunggu sehari, akhirnya dokumen dikirim. Hadwwwuhhhh…pengusiannya ajakadul gak karuan! Bagian2 yang harus disini, banyaj yang masih kosong.

Yang ada saya harus bikinkan langkah2 bagaimana mengisi dokumen. Satu hari lagi lewat begitu saja. Bank S kirim lagi dokumen, dan masiiiiiihhhb juga salah .

Saya jawab lagi kalau pengisian dokumen tidak benar . Lah ..si Bank S ngotot, jawab kalau mereka sudah mengisi seperti apa yang saya mau. Jadilah saya screenshot, highlighted kesalahan mereka yang segambreng!

Setelah sekian ribu komunikasi bolak balik, akhirnya dokumen terisi dengan benar…..

Disitu saya ngeh. Eh..perwakilan Bank S gak ada kata2 “maaf” sama sekali padahal jelas2 dia salah…..

Apa keq bilang. Mohon maaf atas kesalahan pengetikan. Mohon di kaji ulang dan beri tahu kalau ada yang perlu di perbaiki?

Kejadian kedua.

Ada kredit internal masuk ke akun nasabah yang kasusnya saya kerjakan. Saya gak ngerti kenapa koq ada credit ya? Jadilah saya tanya ke rekan kerja yang memasukkan kredit. Ini buat apa ya?

Setelah diskusi panjaaaaang, akhirnya dia setuju kalau kredit tidak seharusnya masuk ke akun ini. Dia salah membaca data intinya.

Dan lagi2, tidak ada ucapan. Oh, benar juga ya. Aku salah. Kredit ini gak seharusnya masuk akun ini?

…………………

Sepertinya koq jaman sekarang yang namanya mengakui kesalahan itu langka banget ya???

Dari hal2 sepele dan sehari2 seperti salah sebut nama tempat misalnya, sampai hal2 yang lebih serius, di hubungan, di tempat kerja, buat sebagian besar orang ternyata mengakui kesalahan itu GAK BANGET?

Padahal loh ya, yang namanya membuat kesalahan itu ya wajar.

Dari melakukan kesalahan, kita belajar. Kita jadi lebih ngerti, lebih sadar.

Dan juga ya, mental kita beneran harus di latih buat own our mistakes, gak usah nyalahin orang lain (melulu)

Bener gak sih?

Menurut teman2 gimana?

Belajar Berbusana

Saya senang sama yang namanya mode, tapi bukan masalah mode2 pakaian yang trendi di peragaan busana sik, lebih ke gimana cara berbusana yang apik, sesuai tempat dan waktu.

Almarhum ibu saya dulu itu wanita karir, setiap pagi saya melihat beliau memilih baju, tas, sepatu, perhiasan.

Saya ingat banget beliau paling hobi beli sepatu. Dan dia senang bahan2 kulit untuk sepatu dan juga tas2nya. Barang2 beliau tidak selalu bermerek ya, meskipun beliau ya punya beberapa tas Gucci dan Christian Dior.

Setelah saya dewasa, saya ternyata jadi senang memperhatikan masalah pakaian, fashion lah.

Yang jelas saya telat banget masalah ini, saya ingat teman dekat saya pas kuliah, dia sudah ke penjahit sendiri dan tahu mau dijahitkan model baju seperti apa. Saya jaman segitu mah gak tahu yang namanya cara berbusana keren atau sesuai proporsi badan kita.

Kalau lihat cara saya berpakaian pas saya muda sih…malu2in deh. 🤣🤣🤣

Semakin berumur, dan juga karena saya kerja di toko pakaian wanita, saya jadi tahu sedikit lebih banyak tentang cara berpakaian, istilah2 dalam bergaya busana mengkombinasikan warna, pola dll.

Ada 2 prinsip PAKEM dibawah ini yang saya adaptasi dalam hal berbusana saya sehari2

1. Gaya berbusana setiap orang beda2.

Coba belajar memahami proporsi tubuh kita dan apa yang nyaman kita pakai.

Contoh. Saya paling ogah yang namanya pakai legging atau hoodie, atau celana cargo.

Menurut saya gak feminin.

Tapi banyak teman2 yang kalau pakai semua yang saya sebut di atas dan kelihatan oke. Saya mah ogah. Tapi kalau teman2 nyaman ya gak apa2 juga

Atau saya tuh seneng banget gaya celana gombrang (wide legs) cuma ternyata gak semua celana gombrang cocok buat saya kadang saya jadi kayak Aladin, atau saya jadi “tenggelam”. Jadi saya harus pinter2 milih.

Baju terusan aka Jumper dengan bawahan melebar

Saya juga pengeeen banget bergaya pakai celana paperbag istilahnya. Celana yang pakai ikat pinggang trus kruwil2 di pinggang nya

Berkali2 nyoba. Gak bagus di proporsi badan saya, karena saya endut dibagian perut atas. ya sudahlah…nasib

2. Berpakaianlah sesuai waktu dan tempat atau acara

Beberapa orang ada yang menganut paham Berpakaianlah Sesuai Umur. Meskipun saya mengerti alasan dibalik pernyataan itu, saya pribadi gak terlalu setuju.

Saya lebih penganut prinsip berpakaian sesuai waktu dan tempatnya/acaranya.

Contoh.

Sesuai waktu :

Di musim dingin, ya saya gak akan pakai celana pendek, atau rok pendek meskipun dilapis dengan stocking misalnya. Saya tetap risih, dan juga menurut saya gak praktis.

Sesuai tempat/acara

Ada acara di taman terbuka dimana ada permainan yang bakalan lari2 ke sana ke mari, ya saya pilih pakai celana panjang supaya gak ribet. Saya antisipasi saya bakal jongkok lah, lari lah, duduk di rumput lah, ada angin, serangga dll.

Kalau saya pakai rok, males kan kalau sedikit2 harus pegangin rok pas ada angin kencang? Atau sibuk tepok nyamuk sana sini?

Pakai celana panjang atau jeans masih bisa kelihatan keren koq.

Di tempat kerja, tempat ibadah

Meskipun saya suka pakai rok pendek, cuma kenyataannya kadang saya harus jongkok, itu ya bisa2 pakaian dalam kelihatan. Saya ya gak mau lah.

Belum lagi saya kudu jalan dari gedung parkir ke gedung tempat kerja. Saya mikir keselamatan dan praktis.

Kadang kita pergi ke lebih dari satu tempat yang bertolak belakang jenisnya. Kayak minggu lalu saya ikutan tur setelah dari situ mau hiking, gak mungkin deh saya pakai baju terusan pas hiking?

Lebih baik saya bawa baju ganti deh, daripada saltum.

Buat mgeceng di castle lucu , tapi buat hiking di hutan gak cocok kaliii

Dari dua prinsip itu, saya pakai buat milih baju yang akan saya pakai.

Kalau teman2 gimana tips nya memilih pakaian sehari2?

Tahu, Terong dan Setengah Abad

Judulnya kan?! Ibarat lalu lintas di Jakarta jaman 90’an pas jalan tol Cawang Priok lagi dibangun. Simpang siur, gak karuan.

Jadi gini….minggu lalu saya resmi berumur setengah abad saja. Kalau di pikir2, sudah banyak ya? 1,2,3,4,5,6,7,9…………….sampai 50!

Seperti biasa, saya ambil libur dari tempat kerja. Dulu2 tiap saya ultah, saya lagi liburan sama anak dan pasangan, dan biasanya kita jalan2 ke alam , hiking ke air terjun.

Kali ini, Alhamdulillah saya masih bisa jalan2 ke alam. Meskpun gak lama2 seperti dulu, ya saya tetap senang, wong kesampaian lihat air terjun gitu loh. Dan gak cuma satu.

Cerita tentang jalan2 saya ke air terjun di blog yang lain ya..sekarang mau cerita masalah judul dulu ini…

Setengah abad.

Tadinya saya mau adain pesta heboh, cuma terus keluar moody nya, jadi gak jadi deh pestanya. Padahal sudah beli baju, beli suvenir, mikir makanan, cuma ya itu lagi gak mood.

Jadi ngapain dong?

Merenung gitu deh..ceile…sok arif banget deh…ha..ha..haa

Selama saya libur, saya sibuk beberes tempat tinggal saya dan  mikir…saya sudah “mencapai” apa ya hidup selama ini?

Saya juga sengaja potret diri, satu foto bener2 tanpa riasan wajah gitu, foto yang satu lain pake dembul. Tapi dua2nya gak pake filter. Biar inget pernah muda gitu….1🤪

Balik ke perenungan diri….Pertama2 yang terlintas adalah. Saya hidup gak ada suami, anak saya sejak mencari jati diri, tinggal di apartemen kecil 75 meter persegi, mobil umur 10 tahun dan bukan mobil keren, muka gak mulus, jerawatan kayak anak ABG.

Teman2 seumuran, baik itu teman2 SMA,  kuliah, kerja pas di Jakarta rata2 sudah pada “jadi” , mentereng semua. Kalau lihat di sosmed, foto2 mereka di luar negeri, anak2 pun masuk sekolah luar negeri.

Temen2 seumuran di sini pun gak kalah mentereng nya. Rata2 menjinjing tas Louis Vuitton,  foto mesra sama pasangan, wara wiri di tempat kekinian.

Livin’ a dream lah pokoknya

***menghela nafas*****

Sambil merenung, eh koq saya kelaparan, buka kulkas, makan apa ya? Ada sisa tahu, sebatang terong ungu dan nasi sebakul.

Jadilah saya masak si tahu dan terong dengan bumbu pedas.

Setelah perut saya kenyang, saya koq kagum sendiri.

Saya bisa masak dengan bahan2 apa adanya loh…memang tidak selalu patut masuk Instagram, tidak selalu ikut resep, tapi saya sudah berkurang  membuang2 makanan, atau beli bahan2 makanan kebanyakan

Mobil saya memang mobil tua,  tapi lunas dan saya sendiri yang bayar angsuran mobil sejak saya ambil mobil itu.  

Tempat tinggal saya memang kecil,  tapi saya bayar sewa sendiri murni dari penghasilan saya

Bayar telpon, internet, listrik, air, asuransi mobil, biaya ke dokter saya sendiri yang bayar

Saya bekerja di perusahaan yang berreputasi baik, masuk kerja dari mulai bawah sampai pelan-pelan naik tingkat dalam waktu 10 tahun

Saya gak lagi bertahan di hubungan yang toxic, saya gak lagi membenarkan kelakuan menyakitkan seseorang terhadap saya

Saya punya tabungan, hutang saya kurang dari 1% tabungan total saya, saya belajar mengelola uang

Saya juga belajar melihat sesuatu dari semua sisi, belajar mengerti kalau kadang things are not what we see

Saya belajar cukup menggelengkan kepala saat saya tidak setuju dan gak perlu kasih penjelasan panjang lebar tinggi sama siapapun akan pilihan hidup saya

Saya belajar kalau saya gak merasa perlu kepo, fomo atau keeping up with the joneses

Saya belajar untuk bilang Biarin saja. Belajar buat unbothered

Saya belajar menghargai hal2 kecil di hidup. Berbekal tahu dan terong saya bisa masak makanan enak. Kembang sepatu dan melati kembali berbunga setelah berhasil melewati musim dingin, teras apartemen saya jadi foto iklan, kolam renang gratis di musim panas, dapat halaman depan luas di depan apartemen tanpa pusing harus motong rumput dan masih banyak lagi hal2 kecil yang bikin saya senang

Umur sudah setengan abad, yuk belajar gak usah berisik tentang dapur orang lain.

Belajar buat gak usil, gak norak.

Yuk…Mari!

Xoxo

Lulus Sekolah!

Hari ini, Selasa 25 April 2023, saya menghadiri acara kelulusan salah satu teman Indo disini, dimana dia resmi selesai sekolah menjadi Licensed Nurse Practitioner (LPN)

Teman kita ini Gen-X loh ya, dan dia sekolah lagi sembari kerja juga. Dia sekolah hampir tiap hari sampai jam 10 malam, terus akhir pekan disini clinical seharian.

Terus terang saya mah gak sanggup deh, menjalani kerja dan sekolah lagi umur segini. Wong kadang konsentrasi kerjaan saja sudah susah?!

Teman2 Indonesia lainnya disini boleh dibilang jadi ‘saksi’ perjuangan teman kita saat sekolah. Sering kalau kita ajak kongkow2, temen kita jawab “Gak bisa, g harus belajar”, atau “Gak bisa g clinical”, “Gak bisa g ada kelas”.

Saya cuma bisa geleng2 kepala deh. Gile, kuat banget ya mental dan fisik teman kita ini!

Bayangkan saja deh. Sekolah lagi pas umur sudah tidak muda lagi, kapasitas otak sudah gak seperti umur 20 an kan. Lalu ada kendala bahasa. Bahasa Inggris percakapan dan bahasa Inggris akademis beda loh! Kalau situ pikir “alah, yang penting bisa cas cis cus tho?, Salah bamget!

Belum lagi karena mata kuliah yang diambil dekat dengan ilmu kedokteran, berarti harus menghapal nama2 organ tubuh, penyakit…

Atau ada yang mikir “masa sih lulus saja susah?” Ihhh..coba situ yang sekolah lagi??!

Terus masalah bayaran kuliah yang tidak murah. Biaya Satu kelas itu = harga tas merek loh. Kelas ya dapat ilmu bermanfaat, beli tas dapat gengsi di IG.

Nah hari ini, semua “siksaan” sudah lewat!

Hari ini teman kita dapat diploma!

Saya pribadi lebih kagum sama hal2 seperti ini ya (lulus sekolah, promosi kerjaan, penghargaan di tempat kerja) dibanding hal2 material (lihat saya punya tas merek terkenal/mobil mahal loh)

Lebih bermutu gitu.

Ini sekilas foto2 kita pas di acara kelulusan

Bangga gak sik punya teman seperti Ibu LQ ini??!

Mudah2an teman2 pembaca ikutan bangga ya dan termotivasi buat seperti teman kita ini!!

Beberes Rumah

Hari ini saya minta libur dari kerja di toko. Pengen santai saja gitu pas hari Sabtu. Dari hari Senin sampai Jumat bangun pagi buat kerja, sekali2 pengen bersantai ria

Cuaca sudah mulai dingin, maklum deh sudah bulan Oktober, semalam ada peringatan kalau Sabtu pagi suhu akan jatuh ke bawah 0°C.

Ya sudah mumpung ada waktu, saya niatin mau ubah tataan ruang biar tanaman2 saya di teras bisa masuk ke dalam rumah

Beginilah hasil sebelum dan sesudah

Ruang TV dan Sofa

Ruang TV dan sofa yang tadinya menghadap ke pintu teras, saya ubah jadi menghadap dinding yang tanpa bukaan. Jarak TV dan sofa memang jadi lebih dekat, tapi tetap nyaman.

Pojokan Sepeda
Jadi dinding penuh tanaman

Di musim semi/panas, sepeda sengaja saya twruh menghadap ke pintu teras, biar ngeliat ke luar. Tapi dinding ini satu2nya dinding di apartemen saya yang kena sinar matahari. Jadi tanaman2 saya harus di dinding ini.

Tempat Olah Raga / Ngaso
Jadi tempat sepeda

Jadi sepeda saya pindahkam ke sisi yang sama dengan TV. Sengaja saya tempatkan sepeda dekat dengan TV biar saya bisa sepedaan sambil nonton TV atau pasang App fitness di TV.

Trus meja dengan pernak pernik dikemanain dong. Meja berikut karpet tutul2 saya pindahkan ke dekat dinding sebelah ruang kerja saya. Mudah2 an bisa bikin kaki agak2 hangat kan..

Ruang kerja
Ruang kerja, beda di karpet dan meja di kiri

Eng ing eng…

Seperti inilah tampak ruang TV saya dari arah dapur

Tempat saya tinggal itu kalau di Indo rumahtipe 75 meter persegi. Kalau buat saya sih cukup2 saja ya, gak repot bersihin, dan beberes.

Untuk mindah2 an barang, berikut ngepel, bersihin debu saya selesaikan 4 jam.

Kalau menurut kalian mending punya rumah kecil atau rumah gede?

Belajar Menembak

Setelah berkali2 ngomongin buat belajar menggunakan senjata api, hari ini saya mengiyakan ajakan teman saya untuk pergi ke arena menembak (shooting range)

Sebelumnya, teman saya sudah mengajari saya tentang hal2 mendasar tentang senjata api. Cara mengisi peluru, cara mengkokang, ukuran peluru, cara menggenggam. cara melihat target dan yang paling penting mengunci senjata saat tidak digunakan.

Seperti teman2 tahu, di Amerika yang namanya memliki senjata api adalah hal yang biasa. Mantan suami saya punya senjata, kebanyakan teman2 laki saya yang bule pun punya senjata.

Jadi pergi ke arena menembak adalah hal yang lumrah. Biasanya arena menembak juga merangkap toko senjata api dengan segala asesorinya dan kelas menembak.

Kami pergi ke arena menembak Range USA Louisville dan menyewa tempat untuk 1 jam. Untuk menyewa booth menembak, pengunjung membawa senjata dan peralatan menembak lainnya seperti peluru, penutup telinga dan kacamata pelindung (yang juga bisa di beli di toko).

Teman saya meminjamkan penutup telinganya, sementara dia cukup makai penutup telinga karet. Untuk kacamata pelindung, pelayan toko berbaik hati memberikan satu kepada kami tanpa biaya.

Kenapa gitu musti pakai penutup telinga dan kacamata pelindung?

Saat menembak, suara tembakan itu lumayan keras, apalagi suara dari senjata api berukuran besar (bukan pistol kecil). Jadi penutup telinga untuk melindungi pendengaran kita.

Kacamata pelindung, untuk melindungi mata kita kena pantulan casing dari peluru yang ditembakan.

Teman saya bawa 2 pistol (handguns).:Ruger Mark IV .22 dan the 9mm Glock G43.

Ruger Mark IV .22mm
9 mm Glock 43

Senjata yang saya gunakan adalah Ruger Mark IV. Peluru pistol ini lebih kecil dibanding Glock 43.

Awal mulai menembak, saya agak2 keder juga, tengsin kan kalau tembakan nyasar jauh dari target?

Belum lagi casing terpental balik ke badan saya beberapa kali. Dan casing itu panas loh! Haduh! Ada beberapa kali saya menjerit gara2 casing masuk ke baju!🙈

Setelah beberapa kali, saya mulai terbiasa dan malah jadi demen ya?

Saya sempat mencoba Glock 43, tapi saya kurang suka, karena lebih berat dan momentum tiap kali  abis menembak itu lebih besar dibanding Ruger Mark IV.  Kalau saya memegang pistolnya kurang erat/stabil, yang ada berasa banget terpentalnya.

Setelah selesai, teman saya tanya gimana pendapat saya menembak pertama kalinya?

Saya jawab. Kalau saya ternyata bisa menikmati, lebih dari yang saya sangka.

Dia bilang buat pemula saya gak bego2 amat…😆 . Tembakan saya lumayan gak nyasar sana sini.

Dia bilang cara saya menggenggam masih harus di perbaiki dan saya gak boleh dar der dor (rapid firing) kalau di arena menembak. 🤔

Kesimpulannya?

Saya gak suka suara ledakan tiap kali senjata ditembakkan, asli saya kagetan melulu.

Kalau mau latihan menembak lagi saya pastikan pakai baju leher tinggi,  karena kapok kena casing panas. Oh iya lupa, kalau latihan menembak gini, selalu pakai sepatu tertutup ya, karena ya itu, casing bisa terpental ke badan kita. Contohnya ya saya hari ini, boncel2.

Boncel gara2 casing panas terpental dinding kena ke badan

Mau latihan menembak lagi? Mau banget! Ada rasa puas tiap kali peluru ditembakkan. Apalagi melihat kalau sasaran kita kena.

Bekas peluru2 yang nyasar di luar sasaran, pasti hasil tembakan saya😆

Konon badan kita setelah menembak itu mengeluarkan hormon oxytocin yang membantu meringankan perasaan stres dan gelisah. (Sumber? Google)

Mau punya senjata sendiri? Mungkin satu hari iya. Tapi lebih buat keamanan bukan buat olah raga.

Cerita saya sekedar buat berbagi pengalaman loh ya, tolong jangan di pakai buat ngebahas yang “serem2”

Saya pribadi gak ada masalah dengan kepemilikan senjata api yang bertanggung jawab.

Sekian dulu cerita saya kali ini, sampai lain kali