cerita saya

Psikologi

Kalau saya boleh milih jurusan pas kuliah ni….saya sebetulnya tertarik sekali dengan psikologi.

Tepatnya ke masalah mental, kejiwaan seseorang dimana kepribadian seseorang terbentuk.

Saya suka mikir, eh kalau tiap bayi dikasih chip yan merekam kejadian yang dialami hingga mereka mencapai usia 18 tahun, bisa kali kita cari akar permasalahan seseorang?

Tapi apa daya, emak saya tipe emak Asia yang “kalau bukan insinyur bukan anak saya”, jadi ya saya masuk jurusan teknik Sipil. Asli berasa banget dungunya!

Tapi ya namanya jaman itu ya..mana bisa membangkang sama ortu, meskipun saya ada jiwa ngeyelnya tapi kalau yang namanya masalah sekolah, saya nurut deh

Nah, karena saya banyak mengalami masalah2 emosi, depresi, kesedihan berlarut-larut, kegagalan hubungan, saya kan jadi pakai jasa terapi, kembalilah saya ke kesenangan saya pas muda, ilmu psikologi.

Hal yang saya baru2 ini sangat tertarik adalah masalah wounded inner child.

Buat saya masalah ini menarik banget buat memahami pamdangan orang lain atau alasan kenapa seseorang berbuat sesuatu.

Konon dari yang saya baca dari isu wounded child berlanjut ke tipe attachment kita. Saya juga lagi baca audiobook buat lebih memahami dua topik ini dan ya lebih memahami diri sendiri juga sik.

Maklum ternyata saya bawaan oroknya itu self aware banget. Ada bagusnya ada enggaknya. Ini mah cerita  buat di tulisan berikutnya kalo ya?!🤭

Dan thank God akan teknologi cookie yang memantau kesukaan saya,  saya nemu reel ini , yang sebetulnya iklan dari app kesehatan mental.

Gak cukup saya repost, saya sampai screenshot satu satu. Kenapa gitu? Karena utasan ini berasa banget dengan apa yang saya sedang rasakan dan coba mengerti saat ini

Ya jujur koq saya akui saya wounded. Boleh dibilang ya kita semua atau minimal sebagian besar dari kita itu  terluka ya?

Ya gak apa2, bukan berarti kita gagal sebagai individu koq

Berarti kita manusia. Dan kita bisa koq menyembuhkan luka hati ini

Dan luka hati ini dialami baik perempuan maupun laki2 ya.

Tapi…tapi…luka hati bisa disembuhkan kalau kita sadar kita punya luka. Dan ada keinginan kuat untuk menyembuhkan.

Dari yang saya baca2, sebagian besar dari kita gak sadar akan luka hati ini.  Kita lebih pilih untuk berpura-pura gak pernah terluka. Lebih pilih untuk mengacuhkan. Yang paling “parah” sebagian besar dari kita lebih pilih untuk……menyalahkan pihak lain.😭

Yang terakhir itu yang paling menyesakkan deh.  Karena saat kita PILIH untuk menyalahkan orang lain, bukan hanya kita mengacuhkan luka kita sendiri, tapi kita juga menambah / menguak luka lama seseorang.

Yuk. Berhenti menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Belajar mindful, awareness jelas gak gampang.

Seperti juga IQ kecerdasan, IQ emosional mungkin juga gak semua orang akan setingkat “dewa” ya.

Tapi ni…kalau saya bilang sik, bedanya dengan IQ kecerdasan yang bisa MeNToQ, tingkat intelejensia emosional bisa lebih ditinggikan levelnya?

Eh sok tahu deh.

Kalau saya pribadi sik mau ya jadi orang dengan tingkat IQ emosi tinggi.

15 Tahun Bekerja

Jadi….kalau kita kerja di Amrik, banyak perusahaan2, terutama perusahaan besar yang kasih hadiah ke karyawan mereka saat karyawan sudah mencapai rentang kerja tertentu : 1 , 3, 5, 10, 15, 20, 25  dan seterusnya

Mungkin di Indonesia juga seperti itu ya? Saya gak tahu karena pas saya tinggal di Indo, seingat saya saya belum pernah kerja di satu perusahaan lebih dari 1 tahun?

Nah, saya kan kerja di dua tempat ni. Dua2 tempat saya sudah kerja cukup lama, 10 tahun lebih

Bulan ini , saya tahu saya akan dapat hadiah dari tempat kerja kedua, karena sudah 15 tahun bekerja.

Dari dua tempat kerja, hadiah2 yang saya pilih  Ipod,  kamera outdoor , perapian portable.

Kali ini saya mau lebih hati2 milih hadiah karena itu Ipod sama kamera sama perapian itu agak gak terpakai?

Dari sekian banyak pilihan2 hadiah, saya akhirnya pilih set pisau

Karena selain merek si pisau lumayan bagus, pasti lebih berguna sehari2 buat saya. Memang betul saya sudah punya pisau, yang berarti saya bisa hibahkan ke anak saya tho? 🥰

Jurnal Pramenapouse

Badan agak berasa kurang enak. Saya pesan vitamin untuk saya ambil di Target. Sengaja saya pilih pick-up karena bisa irit waktu, tinggal ambil

Sampai di Target , ada satu mobil sudah di parkiran pick up gak berapa lama datang mobil lagi disebelah saya.

Saya sudah tandai kalau saya sudah di parkiran. Tunggu punya tunggu, petugas Target datang, layani mobil sebelah saya dan depan saya. Lha orderan saya kemana?

Tunggu lagi. Di App terlihat nota darti Target  Maaf Harus Menunggu. Akhirnya ada mobil baru datang. Petugas Target datang lagi, lagi2 saya hampir dicuekin. Untungnya saya panggil.

Halah ternyata ada kesalahan teknis. Orderan saya entah gimana hilang disisi mereka?

Tadinya saya mau marah2.  bitching. Tapi saya bilang ke diri saya sendiri. Bukan salah si petugas kan? Yang penting dia sudah ketemu order saya.

0-marah. 1- damai.❤️

Lanjut balik ke apartemen untuk kembali bekerja. Tiba2 ditengah-tengah bekerja, saya pengen nangis.

Entah apa karena saya memang sedang galau juga atau karena hormon atau kedua-duanya?

Thinking traps tiba2 memenuhi benak saya. Ini itu gak jelas. Saya tahan emosi ngawur hingga rapat mingguan dengan tim.

Setelah selesai rapat, saya bawa anjing saya jalan. 1 kilo. Cuma sekedar keliling 2 blok istilahnya. Tapi saya legowo

0-perasaan depresi 1-perasaan lega

530 an selesai kerja. Saya putuskan untuk membereskan dapur. Ah. Lega.

Hampir mau doom scrolling sambil nunggu webinar tentang investasi. Gak ah. Ambil 2 kotak Lego bunga yang sudah nangkring berbulan-bulan belum juga dibangun.

Sambil dengarkan webinar, sambil bangun Lego bunga.

0-nemumpulkan otak 1-mengasah otak.

Terasa sekali ada kepuasan di diri saya. Ketangkasan tangan saya terlatih sedikit. Pengetahuan bertambah sedkiti.

“Pelan2 ya sayang” bisik saya ke diri saya sendiri 

“Pelan2 kamu belajar mengatur tingkat intelensi emosi kamu supaya lebih baik”

Luka

Saya baru sadar kalau akibat dari menikah dengan seseorang yang alkoholik kepribadian saya mengalami pergeseran yang saya tidak sepenuhnya sadari.  Saya menjadi seseorang yang codependent.

Memang sebelumnya saya sudah pernah mendengar istilah ini dari terapis pertama saya. Cuma saya pikir karena saya sekarang sudah lepas dari sang alkoholik, saya sudah bebas

Saya baru beneran kejeduk dinding tentang isu saya ya hari ini.

Ternyata enggak. Ya logikanya saya hidup bersama hampir 16 tahun, hidup sendiri baru 4 tahunan, saya memang agak naif kalau berpikir saya sudah reset.

Setelah minggu lalu saya terpicu dimana ibaratnya luka lama saya terkuak lagi,

setelah nangis2, curhat sama orang gak dikenal, curhat sama teman, curhat di 988 dan curhat sama terapis baru….

Si terapis baru ini nyuruh saya baca buku Codependent No More.

Saya memang sudah beli bukunya beberapa tahun lalu, tapi gak dibaca. Untunglah hari gini teknologi sudah canggih, buku yang sama tersedia dalam versi audiobook yang ternyata lebih cocok untuk kepribadian saya. (Mendengar vs membaca)

Saya baru mendengarkan sampai bab keenam, dan barulah saya sadar sesadar2nya efek pernikahan saya terhadap kepribadian saya.

Saya jujur ngeh banget dengan salah satu tabiat saya yang nyebelin, dan ngeh kalau itu gak baik dan harus berubah. Tapi saya gak ngeh apa akar dari tabiat saya tsb.

Nah buku ini membantu saya mengenali akar permasalahan.

Jujur ya. Perkataan abusive yang saya terima selama di perkawinan saya sayangnya masih terngiang-ngiang hingga saat ini.

Dan kalau pas lagi teringat kembali, ya saya nangis lagi.

Beda dengan luka fisik, luka batin gak obat “nyata”. Ibarat penyakit , saya ngerasa ini koq sudah jadi seperti kanker. Ngendon di dalam diri saya. Kadang2 suka kambuh dan kambuhnya bisa parah dan lebih menyakitkan.

Kadang saya suka mikir, apa benar saya kuat dan bisa sembuhkan luka ini?

Masih Belajar Jadi Dewasa

Astaga, sudah umur setengah abad lebih masih cerita soal masa pendewasaan?

Ya ho-oh. Karena baru sadar kalau yang namanya menjadi dewasa atau istilah bahasa Inggrisnya adulting itu ternyata gak sekali jadi yak?

Sungguh, saya itu baru-baru ini saja ngeh, kalau ternyata saya baru belajar menjadi dewasa dan matang (ceileee…pisang kali…) itu baru 20 tahun terakhir? Belajar matang pemikiran? Ini lebih baru lagi deh.

Pendewasaan pertama itu ya juga terpaksa ya? karena pindah ke Amrik, gak ada siapa2.

Eh tapi ya sebenarnya dewasa itu apa sih? Apa semata-mata mengerjakan apa2 sendiri? Belajar bertanggung jawab atas hidup sendiri ? Belajar menghadapi konsekuensi pilihan?

Kalau cuma dilihat dari misalnya, bisa masak sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, saya baru dewasa 20 tahun lalu.

Kalau dilihat dari kemampuan seseorang membiayai diri mereka sendiri, saya ibaratnya masih balita. Karena baru di tahun 2021 akhir saya bisa menghidupi saya sendiri setelah bertahun-tahun ngendon orang tua, lanjut dengan ngendon suami.

Satu hal yang saya sendiri takjub akan proses pendewasaan diri saya sendiri adalah saya perhatikan saya jadi lebih resourceful. Apa ya bahasa Indonesianya? Intinya saya berusaha memakai dulu apa yang saya miliki sebelum saya beli baru.

Mungkin ya karena kantong pas-pasan juga kali….tapi ni… memang saya kalau baca tentang betapa bejibunnya sampah konsumsi manusia, saya suka panik sendiri. Ditambah juga waktu merasakan sendiri pas pindahan , haduh, koq barang banyak sekali ya??

Selain malu dan rasanya bersalah banget kalau buang-buang barang, juga kepikiran, nanti kalau saya tiba-tiba meninggal, kasihan gak sih yang harus urus barang-barang saya??

Selain itu saya mau lebih sadar lingkungan juga lah. Jadi kombinasi antara kantong pas-pasan dan mau lebih sadar lingkungan, saya jadi lebih mawas diri kalau mau beli ini itu.

Jadi ya dari mulai hal yang keperluan seperti memasak, sampai hal sepele , seperti cari dekorasi, saya sebelum ngacir ke toko, celingukan dulu di sekitar rumah.

Kalau masalah dapur, saya minimal selalu sedia : nasi, telur, tahu, sayuran beku, kecap manis, kecap asin, garam merica, bawang putih bubuk, mi instan.

Kalau masalah hal-hal tersier, ‘untung’nya saya di masa lalu itu boros. Jadi saya punya banyak barang reblekan.

Minggu lalu sempat jalan sama anak saya, dia mau beli ini itu untuk bikin kostum Halloween dia, yang ada saya senewen ‘ngapain sik beli? Pakai yang ada dulu aja gak bisa?? ‘ Karena saya pun membuat kostum Halloween sendiri, tapi cuma beli 1 bahan baru, yang lainnya memakai bahan-bahan yang saya sudah miliki.

Hasilnya? Pahlawan khayalan dan dinobatkan sebagai pemenang kostum paling kreatif di kantor.

Contoh lain ni. Saya gatel ingin buat dekorasi di depan pintu, karena saat ini area depan pintu saya yang tadinya penuh dengan tanaman-tanaman rumah, sekarang agak kosong melompong.

Beli dekorasi? eMoH deh. Keluar duit lagi? (Jiwa pas-pasan saya bergejolak). Celingukanlah saya di apartemen.

Dan jadilah dekorasi sederhana dari bunga kering dan bunga kertas peninggalan entah tahun kapan.

Masih kurang puas. Maklum saya konon tipe maksimalis. Ya puter otak lagi.

Saya punya ide di kepala. Yang jelas pengen pakai lilin kecil gitu. Romantis kayaknya. Tapi selain lilin apa lagi dong?

Lihat utasan si ibu bule yang suka bertanam bunga dan bikin dekorasi dari bahan-bahan alami. Pine cone lucu juga? Bisa kali di dapat dari pas jalan-jalan di taman. Gak perlu keluar duit kan?

Jadilah saya bertekad untuk mencari pine cone , eh hari ni nemu dong! Dekat tempat tinggal lagi! Gak perlu jauh-jauh.

Dan kebetulan saya punya pot kaca yang tebal dan bagus , saya beli pas saya lagi hobi bikin terarium. Ini pot agak-agak terbengkalai gitu. Kasihan kan?!

Saya tatalah itu pine cone, eh kurang oke? Eh kan punya sisa pasir? Kan punya sisa rumput palsu? Kan punya gelas kaca pendek bekas yogurt?

Dan jadilah center piece lucu-lucuan di bawah ini…

Eh, ternyata menjadi dewasa…lucu juga?

Berteman

Barusan saya lihat utasan ini

Saya setuju sik dengan apa yang dikatakan si pembicara.

Kalau masalah2 sepele okelah ya, kita bisa cuma angkat bahu dan cengengesan saat ada teman yang “ribut”.

Tapi kalau sudah masalah prinsip? Saya jelas akan berpihak sik. Dan ini juga yang membuat saya menjauh dari ‘teman-teman’ di sini.

Hal prinsip itu seperti apa ya? Ya memang beda-beda pastinya untuk setiap orang ya.

Buat saya ni. Contoh hal prinsip adalah saat saya dengan bego nya cerita hal yang memalukan yang terjadi dengan saya, (dibaca pelecehan seksual) si pendengar dengan entengnya bilang ‘saya nanti jodohnya’ dengan si yang bikin malu saya?

Ya saya putus. Berarti pandangan hidup dia ya sudah beda banget dengan saya ya.

Contoh lain. Saya dikata-katain oleh anak umur 8 tahun. Saya kasih tahu ke orang tua, si ortu cuma bilang ‘Namanya juga anak-anak “

Ya selamat tinggal. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan ortu model seperti itu.

Saya memang tipe ‘setia’ , solider, entah itu sama pacar, saudara atau teman.

Kalau teman saya misalnya lagi uring-uringan dengan seseorang, dan saya ngerti kenapa dia uring-uringan, ya saya gak bakal lah manis2 dengan si orang yang teman saya uring-uringan.

Itu saja sih yang minta dari hubungan saya dengan seseorang.

Dan ternyata dari utasan IG ini, ada juga yang sependapat dengan saya.

Netral ? Bull shit.

Ya udah yuk, kita jalan sendiri saja.

Pojokan Kalem

Jadi ni..salah satu gak enaknya tinggal di negara 4 musim, adalah masalah pengungsian tanaman dari teras ke dalam ruang

Nah masuk bulan Oktober tahun ini, suhu udara cepat menurun. Jadilah saya harus masukkan tanaman2 saya ke dalam ruang. Tahun lalu saya telat masukkin tanaman2 saya, yang ada banyak yang mati…😭. Ugh. Nyesel banget. Makanya tahun ini saya lebih was was memperhatikan cuaca

Masalahnya ruang yang kena matahari di apartemen saya itu cuma sedikit sekali. Harus putar otak cara penempatannya supaya semua tanaman bisa masuk.

Kebetulan kapan itu, saya lihat tetangga atas saya mau buang rak/meja. Terus saya bilang. Eh mau dibuang ya? Buat saya saja boleh?. Dan ternyata mereka membolehkan. Saya tahu banget rak tersebut akan saya gunakan untuk menaruh tanaman2 saya.

Dan ternyata rak yang gak seberapa besar itu muat untuk kurleb 12 pot tanaman. Tanaman2 lainnya ada yang saya gantung, ada yang saya taruh di kursi lipat (yang juga di ambil dari tempat sampah apartemen) , taruh di bangku dekorasi.

Untuk mengakali sedikitnya sinar matahari , saya memang pakai grow light. Ini juga harus diakali penempatannya. Yang jelas ruang vertikal benar2 saya manfaatkan, ya untuk gantung tanaman maupun menggantung lampu2.

Saat ini boleh dibilang “hutan” kecil saya sudah komplit. Hampir semua tanaman2 yang harus masuk, sudah masuk. Lampu2 sudah ditempatkan sedemikian rupa supaya semua tanaman mendapatkan cahaya tambahan selain cahaya matahari dari pintu teras.

Tanaman2 saya selain berwarna hijau, ada yang daunnya berpigmen putih dan merah jambu hingga keunguan /merah anggur. Saya juga isengnya kumat, menyelipkan boneka2 binatang kecil di sela2 tanaman2 saya. Whimsical banget lah.

Yang pasti saya tu senang banget dengan “hutan” kecil saya. Setiap kali saya tengok, hati saya adem dan bahagia.❤️

Padahal cuma kecil banget gitu loh.

Eh  ternyata yaaaa.., dari segi regulasi emosi, memiliki pojokan kalem itu bagus untuk membantu kita menenangkan sistem saraf kita loh. Kebetulan koq nemu utasan di IG di bawah ini.

Jadi ternyata tanpa saya sadari “hutan” kecil saya itu pojokan kalem saya juga!

Teman2 ada yang punya pojokan kalem juga?

Cari Diskon di Amerika

Sejak tinggal sorangan dewe, yang namanya pengeluaran harus diperhatikan banget.

Saya mau mulai seri baru ah. Cari diskon di Amerika gitu…bukan ngumpulin kupon ini itu sik, cuma ya bagi2 tip yang saya sendiri terapkan sehari-hari saja.

Jadi banyak supermarket2 di Amrik punya program yang namanya Fuel Points. Biasanya supermarket2 besar sik. Yang saya tahu itu Giant Eagle di Ohio, Kroger di Ohio, Kentucky. Trader’s Joe dan Whole Food setahu saya tidak punya program ini ya.

Saya baru tahu fuel points ini waktu tunggal di OH, di negara bagian sebelumnya saya gak kenal istilah fuel points.

Jadi intinya ya setiap kali kita berbelanja di supermarket ybs, kita dapat poin.

Nah poin2 itu oleh supermarket dikonversi ke potongan harga bensin per galonnya, 100 poin = $0.10. Ihhh masa cuma 10 sen ? Sedikit sekali??! Memang sih kayaknya sedikit ya? Tapi kalau kita memang sering belanja di tempat yang sama, poin ini lama2 jadi bukit loh!

Kemarin saya dapat potongan sempati $0.60, harga bensin yang tadinya $2.79/galon, jadi cuma $2.19/galon kalau di kalıkan dengan kapasitas tangki 20 galon misalnya, kita irit $12 loh.

Selain belanja barang2 lebutuhan sehari-hari di supermarket, kadang supermarket kasih promo gitu, misalnya beli gift card dapat tambahan point 2x lipat, atau isi survey, dapat 50 point ekstra.

Coba saya pengen dengar cerita teman2 . Ada yang bisa kumpulkan point banyak gak?

Toilet Naik Derajat

Hari ini saya pergi ke Homegoods, ceritanya mau cari mangkok ramen eh, malah nemu bidet. Sudah lama kepengen banget cari bidet cuma gak jadi beli. Soalnya gak murah juga.


Tapi ini koq saya sanggup beli lah. $24.99 dan juga lokal..maksudnya kalau gak pas di toilet saya, saya bisa kembalikan tanpa repot.
Belilah saya. Ternyata butuh beli selang tipe yang berbeda, karena selang toilet saya tidak fleksibel, gak bisa di bengkokkan.


Sudah itu saja sih.


Setelah selang diganti, jadilah toilet saya sekarang lebih beradab.

Wuih…rasanya asli lebih bersih.

Merek bidet yang saya beli itu Poddi.

Isinya cuma 2 bagian; selang buat saluran air ke bidet dan bagian bidet nya sendiri yang cukup diselipkan di bawah dudukan toilet.

Tombol pengatur bidet, kalau diputar ke kiri buat pipis, kanan buat poo.

Gampang koq masangnya.

Teman saya yang bule nanya.

“Kalau fungsinya buat hemat toilet paper setelah di siram air, gimana mengeringkan?”

Saya jawabnya. Buat saya sik lebih ke lebih bersih pas bab ya?

Menurut teman2 gimana?

Pilih bidet atau pilih toilet paper?