realita

Jurnal Pramenapouse

Badan agak berasa kurang enak. Saya pesan vitamin untuk saya ambil di Target. Sengaja saya pilih pick-up karena bisa irit waktu, tinggal ambil

Sampai di Target , ada satu mobil sudah di parkiran pick up gak berapa lama datang mobil lagi disebelah saya.

Saya sudah tandai kalau saya sudah di parkiran. Tunggu punya tunggu, petugas Target datang, layani mobil sebelah saya dan depan saya. Lha orderan saya kemana?

Tunggu lagi. Di App terlihat nota darti Target  Maaf Harus Menunggu. Akhirnya ada mobil baru datang. Petugas Target datang lagi, lagi2 saya hampir dicuekin. Untungnya saya panggil.

Halah ternyata ada kesalahan teknis. Orderan saya entah gimana hilang disisi mereka?

Tadinya saya mau marah2.  bitching. Tapi saya bilang ke diri saya sendiri. Bukan salah si petugas kan? Yang penting dia sudah ketemu order saya.

0-marah. 1- damai.❤️

Lanjut balik ke apartemen untuk kembali bekerja. Tiba2 ditengah-tengah bekerja, saya pengen nangis.

Entah apa karena saya memang sedang galau juga atau karena hormon atau kedua-duanya?

Thinking traps tiba2 memenuhi benak saya. Ini itu gak jelas. Saya tahan emosi ngawur hingga rapat mingguan dengan tim.

Setelah selesai rapat, saya bawa anjing saya jalan. 1 kilo. Cuma sekedar keliling 2 blok istilahnya. Tapi saya legowo

0-perasaan depresi 1-perasaan lega

530 an selesai kerja. Saya putuskan untuk membereskan dapur. Ah. Lega.

Hampir mau doom scrolling sambil nunggu webinar tentang investasi. Gak ah. Ambil 2 kotak Lego bunga yang sudah nangkring berbulan-bulan belum juga dibangun.

Sambil dengarkan webinar, sambil bangun Lego bunga.

0-nemumpulkan otak 1-mengasah otak.

Terasa sekali ada kepuasan di diri saya. Ketangkasan tangan saya terlatih sedikit. Pengetahuan bertambah sedkiti.

“Pelan2 ya sayang” bisik saya ke diri saya sendiri 

“Pelan2 kamu belajar mengatur tingkat intelensi emosi kamu supaya lebih baik”

Masih Belajar Jadi Dewasa

Astaga, sudah umur setengah abad lebih masih cerita soal masa pendewasaan?

Ya ho-oh. Karena baru sadar kalau yang namanya menjadi dewasa atau istilah bahasa Inggrisnya adulting itu ternyata gak sekali jadi yak?

Sungguh, saya itu baru-baru ini saja ngeh, kalau ternyata saya baru belajar menjadi dewasa dan matang (ceileee…pisang kali…) itu baru 20 tahun terakhir? Belajar matang pemikiran? Ini lebih baru lagi deh.

Pendewasaan pertama itu ya juga terpaksa ya? karena pindah ke Amrik, gak ada siapa2.

Eh tapi ya sebenarnya dewasa itu apa sih? Apa semata-mata mengerjakan apa2 sendiri? Belajar bertanggung jawab atas hidup sendiri ? Belajar menghadapi konsekuensi pilihan?

Kalau cuma dilihat dari misalnya, bisa masak sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, saya baru dewasa 20 tahun lalu.

Kalau dilihat dari kemampuan seseorang membiayai diri mereka sendiri, saya ibaratnya masih balita. Karena baru di tahun 2021 akhir saya bisa menghidupi saya sendiri setelah bertahun-tahun ngendon orang tua, lanjut dengan ngendon suami.

Satu hal yang saya sendiri takjub akan proses pendewasaan diri saya sendiri adalah saya perhatikan saya jadi lebih resourceful. Apa ya bahasa Indonesianya? Intinya saya berusaha memakai dulu apa yang saya miliki sebelum saya beli baru.

Mungkin ya karena kantong pas-pasan juga kali….tapi ni… memang saya kalau baca tentang betapa bejibunnya sampah konsumsi manusia, saya suka panik sendiri. Ditambah juga waktu merasakan sendiri pas pindahan , haduh, koq barang banyak sekali ya??

Selain malu dan rasanya bersalah banget kalau buang-buang barang, juga kepikiran, nanti kalau saya tiba-tiba meninggal, kasihan gak sih yang harus urus barang-barang saya??

Selain itu saya mau lebih sadar lingkungan juga lah. Jadi kombinasi antara kantong pas-pasan dan mau lebih sadar lingkungan, saya jadi lebih mawas diri kalau mau beli ini itu.

Jadi ya dari mulai hal yang keperluan seperti memasak, sampai hal sepele , seperti cari dekorasi, saya sebelum ngacir ke toko, celingukan dulu di sekitar rumah.

Kalau masalah dapur, saya minimal selalu sedia : nasi, telur, tahu, sayuran beku, kecap manis, kecap asin, garam merica, bawang putih bubuk, mi instan.

Kalau masalah hal-hal tersier, ‘untung’nya saya di masa lalu itu boros. Jadi saya punya banyak barang reblekan.

Minggu lalu sempat jalan sama anak saya, dia mau beli ini itu untuk bikin kostum Halloween dia, yang ada saya senewen ‘ngapain sik beli? Pakai yang ada dulu aja gak bisa?? ‘ Karena saya pun membuat kostum Halloween sendiri, tapi cuma beli 1 bahan baru, yang lainnya memakai bahan-bahan yang saya sudah miliki.

Hasilnya? Pahlawan khayalan dan dinobatkan sebagai pemenang kostum paling kreatif di kantor.

Contoh lain ni. Saya gatel ingin buat dekorasi di depan pintu, karena saat ini area depan pintu saya yang tadinya penuh dengan tanaman-tanaman rumah, sekarang agak kosong melompong.

Beli dekorasi? eMoH deh. Keluar duit lagi? (Jiwa pas-pasan saya bergejolak). Celingukanlah saya di apartemen.

Dan jadilah dekorasi sederhana dari bunga kering dan bunga kertas peninggalan entah tahun kapan.

Masih kurang puas. Maklum saya konon tipe maksimalis. Ya puter otak lagi.

Saya punya ide di kepala. Yang jelas pengen pakai lilin kecil gitu. Romantis kayaknya. Tapi selain lilin apa lagi dong?

Lihat utasan si ibu bule yang suka bertanam bunga dan bikin dekorasi dari bahan-bahan alami. Pine cone lucu juga? Bisa kali di dapat dari pas jalan-jalan di taman. Gak perlu keluar duit kan?

Jadilah saya bertekad untuk mencari pine cone , eh hari ni nemu dong! Dekat tempat tinggal lagi! Gak perlu jauh-jauh.

Dan kebetulan saya punya pot kaca yang tebal dan bagus , saya beli pas saya lagi hobi bikin terarium. Ini pot agak-agak terbengkalai gitu. Kasihan kan?!

Saya tatalah itu pine cone, eh kurang oke? Eh kan punya sisa pasir? Kan punya sisa rumput palsu? Kan punya gelas kaca pendek bekas yogurt?

Dan jadilah center piece lucu-lucuan di bawah ini…

Eh, ternyata menjadi dewasa…lucu juga?

Berteman

Barusan saya lihat utasan ini

Saya setuju sik dengan apa yang dikatakan si pembicara.

Kalau masalah2 sepele okelah ya, kita bisa cuma angkat bahu dan cengengesan saat ada teman yang “ribut”.

Tapi kalau sudah masalah prinsip? Saya jelas akan berpihak sik. Dan ini juga yang membuat saya menjauh dari ‘teman-teman’ di sini.

Hal prinsip itu seperti apa ya? Ya memang beda-beda pastinya untuk setiap orang ya.

Buat saya ni. Contoh hal prinsip adalah saat saya dengan bego nya cerita hal yang memalukan yang terjadi dengan saya, (dibaca pelecehan seksual) si pendengar dengan entengnya bilang ‘saya nanti jodohnya’ dengan si yang bikin malu saya?

Ya saya putus. Berarti pandangan hidup dia ya sudah beda banget dengan saya ya.

Contoh lain. Saya dikata-katain oleh anak umur 8 tahun. Saya kasih tahu ke orang tua, si ortu cuma bilang ‘Namanya juga anak-anak “

Ya selamat tinggal. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan ortu model seperti itu.

Saya memang tipe ‘setia’ , solider, entah itu sama pacar, saudara atau teman.

Kalau teman saya misalnya lagi uring-uringan dengan seseorang, dan saya ngerti kenapa dia uring-uringan, ya saya gak bakal lah manis2 dengan si orang yang teman saya uring-uringan.

Itu saja sih yang minta dari hubungan saya dengan seseorang.

Dan ternyata dari utasan IG ini, ada juga yang sependapat dengan saya.

Netral ? Bull shit.

Ya udah yuk, kita jalan sendiri saja.

Cari Diskon di Amerika

Sejak tinggal sorangan dewe, yang namanya pengeluaran harus diperhatikan banget.

Saya mau mulai seri baru ah. Cari diskon di Amerika gitu…bukan ngumpulin kupon ini itu sik, cuma ya bagi2 tip yang saya sendiri terapkan sehari-hari saja.

Jadi banyak supermarket2 di Amrik punya program yang namanya Fuel Points. Biasanya supermarket2 besar sik. Yang saya tahu itu Giant Eagle di Ohio, Kroger di Ohio, Kentucky. Trader’s Joe dan Whole Food setahu saya tidak punya program ini ya.

Saya baru tahu fuel points ini waktu tunggal di OH, di negara bagian sebelumnya saya gak kenal istilah fuel points.

Jadi intinya ya setiap kali kita berbelanja di supermarket ybs, kita dapat poin.

Nah poin2 itu oleh supermarket dikonversi ke potongan harga bensin per galonnya, 100 poin = $0.10. Ihhh masa cuma 10 sen ? Sedikit sekali??! Memang sih kayaknya sedikit ya? Tapi kalau kita memang sering belanja di tempat yang sama, poin ini lama2 jadi bukit loh!

Kemarin saya dapat potongan sempati $0.60, harga bensin yang tadinya $2.79/galon, jadi cuma $2.19/galon kalau di kalıkan dengan kapasitas tangki 20 galon misalnya, kita irit $12 loh.

Selain belanja barang2 lebutuhan sehari-hari di supermarket, kadang supermarket kasih promo gitu, misalnya beli gift card dapat tambahan point 2x lipat, atau isi survey, dapat 50 point ekstra.

Coba saya pengen dengar cerita teman2 . Ada yang bisa kumpulkan point banyak gak?

Jalan-Jalan Ke Kebun Bunga Matahari

Setelah beberapa kali lihat foto teman2 di IG bergaya di kebun bunga matahari, hari Minggu tanggal 8 Agustus 3021, saya kesampaian ngeceng di kebum bunga matahari.

Seperti di Indo, di Amrik, yang namanya mengunjungi kebun (dan memetik buah sendiri) atau peternakan itu juga aktifitas wisata. Kalau di Indo, saya sempat ke perkebunan apel di Malang dan metik apel sendiri, di Amrik selain kebun buah2an seperti blueberries, strawberries, apel, pumpkin, kita juga bisa ke kebun bunga2 an, yang paling banyak itu adalah kebun bunga matahari dan lavender.

Di sekitar tempat saya tinggal yang pasti memang saya tahu kebun2 yang saya sebutkan diatas. Saya sendiri sudah pernah metik blueberries dan strawberries di Huber Farms, ambil pumpkin di IN.

Kalau kebun bunga matahari ya baru kali ini. Tahun2 sebelumnya saya telat melulu, si kebun sudah keburu tutup karena memang aktifitas2 seperti ini sifatnya musiman banget.

Makanya pas saya nemu artikel di FB tentang Country Pumpkin masih buka kunjungan ke kebun bunga matahari mereka dan ada buat hari Minggu jam 7:30 PM, ya saya langsung beli tiketnya.

Tiket buat ke kebun bunga matahari ini $8 per orang, kalau pengunjung mau petik bunga, ada tambahan $3.00 untuk 3 bunga matahari atau $6 untuk 6 bunga matahari

Saya pilih petik 3.

Lokasi pertanian ini lumayan jauh sik, sekitar 1.5 jam.

Sampai di lokasi, pengunjung naik gerbong di tarik traktor, duduk di tumpukan jerami, hay rides istilahnya untuk pergi ke area kebun matahari nya.

Sesampai kita di kebun matahari, pengunjung boleh jalan2 dan foto2 selama 1 jam an sebelum balik ke rumah utama.

Di kebun ini, pengelola sengaja meletakkan ornamen2 tersebar di beberapa titik di kebun untuk pengunjung berfoto ria. Ada bangku raksasa, ada piano, ada bingkai, ada rumah kecil, kedai dan gerobak.

Saya yang meskipun kurang bisa bergaya plus gak ada yang motretin juga, sempetin lah motret sana sini.

Secara umum, saya pilih aktifitas seperti ini karena buat saya gak selalu di tiap negara bagian loh kita bisa mengunjungi kebun bunga matahari.

Juga biar ada acara keluar rumah, nikmati alam gitu. Lagian lihat bunga2 begini buat saya juga bikin hati sumringah.

10 Tahun Jadi Pramuniaga Toko

Bulan November ini, saya genap 10 tahun kerja di Gap Inc.

Saya ingat banget pertama kali saya kerja di toko saya cuma jadi pengarah pembeli yang antri panjang di depan kasir. Maklum, hari itu hari Jumat setelah Thanksgiving alias Black Friday. Disini Black Friday artinya belanja gede2an buat Natal.

Ngapain sik jadi mbak2 penjaga toko, gitu kali ya kata pembaca. Rendah amat? Haduh..kerja shift2 an? Ih ogah deh.

Buat saya, kerja di ritel, saya belajar buat jadi tahu diri. Belajar ngerti pengorbanan, bayangin musti kerja sampai malam hari, akhir pekan, liburan hari2 besar. Berat loh!

Tapi saya jadi “tahu”, jadi lebih ngeh. Ngeh kalau segimana banyaknya jam kerja yang kamu ambil, push $7.25 per jam , tidak akan bisa hidup layak.

Jadi juga jadi bisa lebih mensyukuri apa yang saya miliki. Untung ada pasangan yang gajinya mencukupi biaya hidup keluarga. Untung kerjaan saya ini bukan kerjaan utama.

Perayaan 10 tahun saya jadi pramuniaga toko, buat saya adalah perayaan pendewasaan, perayaan perjuangan hidup, perayaan kerja keras apapun itu jenis pekerjaan saya, perayaan menghormati pekerjaan orang lain apapun jenisnya.

Semoga kita semua tetap hormat pada sesama ya.

Jangan mentang2 kita di depan layar, jadi petantang petenteng, orang yang di belakang layar juga sama2 manusia loh!

Pelecehan Seksual

Iiih..ngeri amat judulnya.

Iya emang ‘ngeri’ dan tabu ya buat di omongin. Tapi saya pengen banget nulis ini biar teman-teman, terutama teman2 perempuan lebih sadar diri.

Berdasarkan hasil pencarian di Google, definisi pelecehan seksual versi wikipedia adalah sbb:

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang Tak Diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seksual.

Kebanyakan dari kita – termasuk saya – tahu terminologi ini, tapi waktu mengalami sendiri, kadang kita jadi meragukan ‘kebenaran’nya, dalam arti kita jadi meragukan apa iya, ini yang namanya pelecehan seksual.

Setelah mengalami sendiri, saya benar-benar jadi pengen mengerti luar dalam masalah pelecehan seksual ini.

Memang sering kali perilaku (baca pelecehan) yang kita alami cenderung tersamar, contohnya:

“Aww..kamu seksi banget deh pakai baju itu” banding kan dengan

“Emm.emm..emm…ini mah bukan keren lagi, tapi ‘hot’ banget, kalau kamu pakai baju itu, aku ajak kencan deh.

Kelihatannya kalimat diatas ‘baik2’ saja kan? Tapi kalimat kedua diucapkan dengan gelengan kepala sambil seakan2 bergairah? kepengen? birahi? dan kamu yang mendengar jadi gak nyaman, itu pelecehan namanya.

Atau misalnya kita ketemu teman2, trus saling peluk, cipika, cipiki. Itu biasa. Saya sendiri orangnya suka merangkul dan kasih ‘sun dari jauh. Tapi kalau tiap kali ketemu, ngeles pengen meluk, lagi dan lagi dan lagi, atau tiba-tiba sok imut angkat2 kita padahal kita gak minta, itu namanya pelecehan.

Atau ada teman kerja demen banget berbagi cerita ‘bobo-bobo siang atau malam’ mereka saat waktu kerja. Coba deh pikir, ngapain sih lo, cerita2 kalau ditawarin esek-esek sama A, B dan C dst? Maksudnya apa? Situ jagoan? Situ nawarin? Situ kepengen? Gak penting kan? lagian ini di tempat kerja, amat sangat tidak profesional banget.

Pertama bukan tempatnya, gak peduli kita kerja dimana, mau di kantor elit, mau di toko seks,tempat kerja ya tempat kerja.

Kedua topik BBS bukan topik untuk dibagikan ke publik.

Ketiga: itu bisa dikategorikan pelecehan , terutama kalau yang mendengar merasa gak nyaman.

Pada dasarnya apapun tindakan kita, apa itu cuma kata-kata, maupun perbuatan, kalau tujuannya esek-esek, dan yang mendengarkan gak kepengen, trus kita tetap melakukan hal yang sama, itu pelecehan.

Ini saya ambil contoh2 lain yang dikategorikan pelecehan seksual dari wikipedia:

Saya pribadi orangnya bukan tipe yang dikit2 ngadu. Dikit2 marah. Dikit2 sensi. Atau tipe putri yang pengen dijunjung tinggi.

Biasanya pertama-tama, saya melengos aja atau menjauhkan diri, kalau terlibat dalam pembicaraan BBS. (dibaca : Maaf saya tidak tertarik dengan percakapan ini).

Masih juga nyerempet2, saya ketusin. Apaan sik?

Tetep ngeyel? saya blok.

Eh…masih ndableg? Saya lapor.

Karena sekarang, saya merasa sangat tidak nyaman berinteraksi dengan ybs’. Karena saya ‘geli’ alias jijik sama kelakuan si peleceh.

Yang jelas ya yang saya belajar dari pengalaman ini adalah:

  1. Jangan sungkan2 bilang blak2 an : Saya tidak suka omongan anda
  2. Jangan sungkan2 bilang blak2 an : Tolong jangan sentuh / peluk saya, saya tidak suka
  3. Bahkan ceplosin : Perkataan kamu tidak senonoh.
  4. Kalau kita merasa tidak nyaman akan perlakuan seseorang, seringkali adalah karena perlakuan ybs ya tidak pada tempatnya. Percaya sama insting kita sendiri.
  5. Hampir di semua tempat kerja, ada bagian pelaporan yang kita bisa isi dan kirim ke bagian sumber daya manusia.
  6. Mengerti kalau cuma karena kita pakai baju yang terlihat seksi, bukan berarti kita artinya kita membolehkan orang2 colek2, memelototi kita atas bawah penuh hasrat gak jelas
  7. Kalau kita gak yakin apakah komentar kita ‘menyempet’, mending gak usah dilontarkan sekalian, karena interprestasi orang bisa beda
  8. Pelecehan seksual tidak pandang bulu : perempuan -laki, perempuan-perempuan, laki-laki, tua-muda

Kenapa harus lapor? Karena pelecehan seksual adalah tindakan yang salah dan harus diberhentikan supaya tidak terulang lagi baik terhadap kita sendiri maupun orang lain.

Terus terang saya merasa takut, merasa ‘ragu’ (saya melaporkan ini benar tidak ya), itu wajar. Saya sampai harus menelpon temen saya buat ‘temani’ saya bikin laporan.

Jangan mundur. Kita bukan cari sensasi, bukan cari kompensasi.

Kita melakukan hal yang benar.

Jaga diri. Jaga hati.

UPDATE

Saya akhirnya melaporkan ke manager saya langsung kelakuan ybs ( selain juga melaporkan online ke bagian SDM. Karena 2 hari berturut2 ybs lagi2 nyentuh saya, dimana saya sudah jelas2 bilang Saya tidak mau. Saya tidak suka kelakuan kamu. (NO/STOP/I DON’T LIKE IT)

Buat saya, artinya ybs tidak menghormati saya sebagai rekan kerja. Dia menganggap enteng saya..

Tolong ya pembaca baik lelaki maupun perempuan, NO MEANS NO.

Hormati ruang pribadi seseorang.

Jangan lewati batas sopan santun.

Diingatkan Untuk Bersyukur

Belakangan ini saya koq merasa Yang Maha Kuasa ‘menegur’ saya dengan mengirimkan sinyal-sinyalNya lewat kejadian-kejadian kecil yang saya alami sehari-hari.

Seperti yang terjadi hari ini :

Tidak seperti biasanya, saya enggan pulang ke apartemen waktu istirahat makan siang. Jadilah saya pergi ke salah satu rumah makan cepat saji ala Amerika, kebetulan ada sisa kartu hadiah dari acara anak di sekolah sebulan lalu.

Saya pilih pesan lewat kendara lewat, setelah pesan, setelah selesai memesan, saya melaju ke jendela berikutnya untuk membayar pesanan. Sang kasir yang melayani melihat stiker “B” di sisi mobil – stiker sekolah anak saya. Katanya :

‘Anak saya juga sekolah di B!’

O ya? Senang dia disana?’ tanya saya

‘Ya. B sekolah yang bagus Sebelum di B anak saya sekolah di C!’

(C itu sekolah dekat dengan tempat tinggal saya, dari segi kualitas sekolah B lebih baik)

Ya. Betul sekali! dan juga banyak aktifitas seru! Kelas berapa anakmu?’.

‘Kelas 4’

Wah sama dong dengan anak saya. Siapa gurunya?’

‘Saya tidak tahu. Terlalu sekali ya saya sebagai ibu, koq bisa tidak tahu? Waktu saya habis untuk bekerja, kakak saya semua yang urus anak-anak saya, jadi saya tidak tahu apa-apa.’

************************************************************************************************************************************************************

Setelah percakapan saya dengan Ibu kasir ini, saya menghela nafas panjang. Saya baru saja berinteraksi langsung dengan seorang perempuan yang harus bekerja demi keluarganya hingga dia hampir tidak punya waktu untuk anak-anaknya sendiri.

Ah Beruntungnya saya tidak perlu bekerja seharian dan masih punya waktu untuk si kecil.

Bahwa saya bisa menemani anak saya setelah dia pulang sekolah, mengantar anak saya di pagi hari dan sekali-sekali bisa datang ke acara sekolah anak saya.

Kadang kita lupa untuk berterima kasih, lupa melihat ke ‘bawah’, lupa untuk menghargai apa yang kita miliki.

Bulan November di Amerika -dimana warga Amerika merayakan hari libur ‘Thanksgiving‘ yang jatuh di hari Kamis minggu terakhir -boleh dibilang bulan untuk kita belajar berterima kasih, (dan memberi).

Yuk, mari bersyukur dan berterima kasih sama-sama!

Pelajaran Dari Al Anon

Halo.

Tulisan kali ini masih tentang perang saya dengan masalah alkohol di keluarga saya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya cerita bagaimana reaksi saya saat pertama kali membaca literatur di pertemuan Al Anon.

Pembaca akan lihat beberapa foto dengan cuplikan kalimat-kalimat yang saya baca yang ‘mengena’ sekali dengan diri saya pribadi (semua kalimat-kalimat yang saya warnai artinya saya alami sendiri sebagai kerabat pecandu alkohol)

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya yang bukan pecandu, malahan pihak yang lebih membutuhkan bantuan. Logikanya kan, si pecandu dong yang harus ditolong, mereka kan yang kecanduan, bukan saya???

Ternyata saya salah, yang saya tidak sadari adalah bagaimana kecanduan alkohol adalah penyakit yang memberikan dampak gangguan emosi ke pihak-pihak disekeliling si pecandu itu sendiri.

Kalau dipikir-pikir ya benar juga. Sementara si pecandu sih senang-senang saja minum setiap hari, lupa akan kesusahannya, kita yang tidak mabok, melihat kelakuan ybs jadi stres dan emosi.

wpid-wp-1444528807024.jpg

wpid-wp-1444529549018.jpg

Disitulah saya menyadari kalau saya boleh dibilang sudah ‘terjerumus’ ke kondisi yang tidak sehat. Apa-apa yang saya lakukan selama ini sebagai usaha saya untuk mencegah si pecandu untuk menghentikan kebiasaannya juga bisa saya baca di literatur yang saya dapatkan. Dan ternyata apa yang saya lakukan bukanlah langkah yang efektif, malah membuat si pecandu semakin kecanduan.

 wpid-wp-1444528891741.jpg wpid-wp-1444528857001.jpgwpid-wp-1444528937181.jpg

Kadang semakin saya membaca, saya semakin ‘ngeri’ karena saya menjadi sadar seberapa parahnya kondisi yang saya alami .

Langkah yang harus saya ambil selanjutnya adalah mengubah perilaku sendiri – aneh ya kalau dipikir pikir.

Tapi perlahan-lahan saya mulai mengerti tentang penyakit kecanduan ini.

Yang jelas, kecanduan alkohol adalah penyakit.

Alcoholism is an illness

Alcoholism is an illness

Seperti halnya penyakit-penyakit lain, penyakit kecanduan alkohol memerlukan mental yang kuat untuk orang-orang yang terkena dampaknya. Untuk ‘menyembuhkan’ penyakit ini, kita-kita yang terkena dampaknya haruslah yang menjadi pihak yang lebih ‘waras’ dan lebih kuat. Karena memang penyakit ini melelahkan emosi mereka yang berhubungan langsung dengan si pecandu.

wpid-wp-1444608664350.jpeg

Pertama kali saya baca literatur ini, saya protes dalam hati, karena banyak hal yang ditulis di literatur boleh dibilang ‘aneh’ karena seakan-akan kita ‘lepas tangan’ terhadap kondisi si pecandu.

wpid-wp-1444529038497.jpg

Contohnya

wpid-wp-1444529068378.jpg

Ini saya alami sendiri, dan sulit sekali buat saya untuk tidak turun tangan ‘membereskan’ masalah. But it is what it is.

Saya sebagai pihak bukan pecandu, harus berhenti ‘menolong’ pecandu dan membiarkan pecandu menghadapi konsekuensi tindakan mereka.

Kalau sebelumnya saya ‘percaya’ dengan apa-apa yang pecandu janjikan (contoh : iya, saya akan kurangi minum) , saya di sarankan untuk memilih jalan membuat kesepakatan.

wpid-wp-1444529684575.jpg

Yang jelas, saya harus mengakui kalau di keluarga saya, salah satu anggota keluarga kami menghadapi penyakit kecanduan alkohol. Dan kalau saya mau keadaan menjadi lebih baik, sayalah yang harus berubah terlebih dahulu dan saya harus cari bantuan.

wpid-wp-1444528958368.jpg

wpid-wp-1444608876810.jpeg

Para Al Anon selalu diingatan akan 3C tentang penyakit ini :

I can not Control the alcohol

I did not Cause the alcohol

I can not Cure the alcohol

wpid-wp-1444608881360.jpeg

Bergabung Dengan Al Anon

Dua tulisan saya sebelumnya saya bercerita kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol. Sudah dua minggu ini saya bergabung di pertemuan Al-Anon, dimana saya bertemu muka dengan orang-orang yang mengalami masalah yang sama dengan saya : mereka hidup dengan pecandu alkohol, baik itu pasangan mereka, orang tua mereka, ataupun kerabat lainnya. (kakak, adik)

Dari membaca literatur yang disediakan di pertemuan, saya tercekat. Kenapa?

Karena saya seakan-akan membaca tentang diri saya sendiri, seakan-akan saya sedang bercermin.karena banyak sekali hal-hal yang di tulis di buku/pamflet saya rasakan / alami sendiri.

Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata perasaan yang saya rasakan tidak ‘aneh’ , boleh dibilang lumrah dan ‘nyata’.

Langkah berikutnya yang harus saya lakoni adalah menjalani apa yang grup Al Anon sebut sebagai 12 Langkah (12 Steps):

12steps

Jujur, hingga saat ini , saya masih belum bisa menerapkan satu langkahpun dari 12 langkah diatas. Saya masih dalam kondisi marah, kecewa, frustrasi dan lelah baik fisik maupun mental.

Harapan saya adalah dengan datang ke pertemuan Al Anon, saya perlahan-lahan bisa menerapkan langkah-langkah diatas.

Saya satu-satunya ‘anggota’ Al Anon yang orang ‘asing’ alias bukan bule dan bukan pembicara bahasa Inggris asli dan bukan penganut agama Kristen. (diakhir pertemuan, selalu ditutup dengan doa, yang terkesan kristiani – saya sendiri tidak masalah, karena saya tahu kepada siapa saya mengucap doa, it is what it is)

Buat saya datang ke pertemuan ini adalah untuk ‘kesehatan mental’ saya pribadi, perjalanan saya untuk berlaku ‘waras’ dan legowo baru dimulai.

Lain kali saya akan cerita lebih banyak tentang hal-hal yang saya temukan saat membaca buku-buku Al Anon.

20151008_192221

Doakan saya selalu.

xoxo